
(Sudut pandang : Alice)
beberapa hari yang lalu ketika bertarung melawan Smith.
"Keruntuhan Panthera?" Ulangku. Cukup aneh mendengarnya sebagai salah satu tujuan Apocalypse.
"Jika Panthera runtuh, maka para pemain dari TSO tidak akan punya kesempatan melawan kami para Apocalypse. Kesempatan mereka untuk menang juga semakin kecil." Kata Regila. Ada benarnya juga. Melawan musuh yang lemah kemudian membuatnya menjadi lebih lemah lagi adalah salah satu kunci dalam perang antar klan atau guild di TSO.
"Kalian ingin menyatakan perang kepada seluruh server... tidak, kepada seluruh dunia? Untuk apa?" Tanyaku.
"Untuk melanjutkan peperangan." Kata Regila.
Tapi kami sudah memutuskan hubungan kami dengan Apocalypse... maka dari itu....
"Baiklah, kuterima tawaranmu itu. Tapi dengan syarat. Jika syarat ini tidak kau penuhi maka aku menolak." kataku. Smith bereaksi ketika aku mengajukan syarat dengan mengerutkan dahinya. Tapi Regila dengan cepat mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada Smith untuk tenang.
"Sebutkan syaratnya." Kata Regila.
"Ratu Panthera dan Gen adalah milikku. Jika Apocalypse menyentuhnya, aku tidak akan segan untuk berbalik untuk menyudutkan kalian." Kataku.
"Tunggu dulu! Apa yang anda lakukan?!!" Tanya Olivia yang terkejut karena aku menerima tawaran mereka.
"Ini cara tercepat untuk mencari Gen." Jawabku singkat.
"Dengan bergabung dengan musuh bebuyutan beliau?! Dimana harga dirimu sebagai seorang istrinya?!!" Tanya Olivia sekali lagi. Dengan cepat kucengkram leher Olivia untuk diam.
"Jika itu bisa menyelamatkan Gen maka aku akan menghianatinya berkali-kali jika perlu. Kau itu anjing peliharaanku, Olivia Marrison. Maka dari itu jangan menggurui ku!" Kataku dengan nada kesal. Kemudian ku bisikkan sesuatu kepada Olivia. Olivia begitu terkejut mendengarnya.
Ku dorong Olivia untuk menjauh dariku. "Bagi siapapun yang tidak setuju dengan caraku kalian bisa mengikuti Olivia." Tak kusangka semunya langsung berjalan ke sisi Olivia tanpa ragu.
"Aku tidak tahu entah kalian itu bodoh atau bagaimana bisa memihak kepada pribumi pendek akal itu." Kataku dengan senyum menghina.
"Ini hanya masalah metode saja, Alice. Camkan ini baik-baik. Aku mengikuti perintahmu adalah diluar kewajibanku. Yang boleh memerintahku adalah Tuan Gen seorang. Kau bahkan belum tentu bisa mengalahkanku satu lawan satu seperti beliau. Karena itu aku berhenti." Kata Ikaris.
"Begitu juga dengan kami." Kata Enkidu mewakili para Slave yang ikut denganku.
"Sebelum kalian menjadi milik Gen aku lah yang memberi kalian kesempatan di kehidupan kedua kalian ini. Dan ini rasa terima kasih kalian kepadaku? Berbalik ke arahku?" Tanyaku sedikit sarkastik.
"Kau sepertinya salah akan beberapa hal, Alice. Kami para slave hanya mengikuti kontrak kami dengan tuan kami. Jika kau berencana menghianati tuan kami maka kami tanpa ragu akan melindungi tuan kami bahkan sampai ke tahapan membunuhmu. Itu adalah kebanggaan kami sebagai slave." Kata Abimanyu.
"Tunggu!! Kalian pikir bisa pergi begitu saja?!!! " Bentak Smith yang bersiap-siap melempar kapal raksasanya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Ini akan menjadi hiburan dan tantangan bagi Apocalypse. Pergilah. Lakukan yang menurut kalian benar." Kata Regila.
Tanpa menunggu lama, Ikaris men teleport semuanya dan pergi dari tempat ini.
"Jadi bagaimana? Rencananya?" Tanyaku.
"Aku tidak menyangka kau bakal setuju dengan usulan kami." Kata Regila terkesan.
"Jujur saja, aku tidak tahu guild Apocalypse mau di arahkan kemana dan aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli apa yang akan terjadi dengan Panthera. Selama Valon ditemukan dalam keadaan selamat itu sudah cukup." Kata Alice.
"Kau memang wanita yang menyeramkan." Kata Regila.
...****************...
(Sudut pandang : Olivia Marrison.)
Ikaris memutuskan untuk berteleport menuju ke dalam gedung hitam pondasi dinding Panthera. Kami sebisa mungkin menghilangkan hawa keberadaan kami.
"Apakah mereka tidak mengejar kita?" Tanyaku sedikit khawatir.
"Tujuan mereka adalah Panthera. Kurasa mereka tidak punya ketertarikan untuk mengejar kita." Jawab Ikaris.
"Nah, sekarang bagaimana? Kita sendirian sekarang." Kata Abimanyu.
"Tapi bagaimana kalau mereka menganggap kita musuh. Pertarungan harus kita hindari sebisa mungkin." Kata Enkidu.
"Kurasa itu tidak perlu dikhawatirkan karena mereka mengenaliku. Itu disaat dimana Tuan Gen mengalahkanku di depan mereka." Jawab Ikaris.
"Baiklah, kalau begitu. Olivia Marrison, bisakah kau melacak jejak manna mereka?" Tanya Enkidu.
"Jika radius pencarian tidak lebih dari 3 km aku bisa. Tapi sepertinya... " Kulihat betapa luasnya Panthera dari lubang akibat kerusakan yang diakibatkan Smith. Jika seluas itu sangat mustahil.
"Tunggu dulu! Ikaris, kau kan bisa membawa kami untuk berteleport ke sana." Celetuk Abimanyu.
"Tidak bisa. Karena sebelumnya ketika aku mengantar Naava kemari 4 tahun lalu, aku tidak mengantarnya hingga ke dalam. Aku bisa berteleport jika aku pernah ke tempat tersebut. Maka dari itu ketika 4 tahun lalu aku cukup kesulitan mengantar gadis Panthera itu kemari." Jelas Ikaris.
"Maka pilihan kita hanyalah menyusup." Kataku bersamaan dengan Enkidu dan Abimanyu berubah menjadi wujud roh tak kasat mata.
...****************...
(Sudut pandang : Tenzin)
__ADS_1
Beberapa hari kemudian tepat ketika malam Yuna menyusup. Kami para tetua hampir tidak bisa tidur karena terlalu tegang memikirkan apa yang terjadi di Istana.
Aku bahkan sampai mondar-mandir mengelilingi kamar. Entah ini sudah putaran ke berapa. Aku bahkan sampai tidak ingat. Tapi tiba-tiba aku tersandung oleh sesuatu sehingga membuat moncong ku mencium lantai dengan sangat keras.
"Astaga, Mori haruskah kau melakukan itu?" Tanyaku dengan sebal.
"Maaf, tapi aku hanya tidak tahan saja untuk mengerjaimu." Kata Mori mengorek telinganya.
"Aku harap mereka baik-baik saja." Kata nona Yukki dengan cemas melihat ke arah jendela.
" Yang anda khawatirkan itu dewi, Nona Yukki. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Jawab Nishimiya. Tanpa kami sadari, waktu sudah menunjukkan waktu fajar. Cahaya matahari masuk dengan begitu lembut melalui jendela.
"Sudah pagi. Sekarang kita tentukan siapa yang mencari makanan ke pasar." Kata Shizuka.
"Owh astaga!" Keluhku.
"Tenzin tidak bisa keluar. Para penjual yang ada di pasar akan ketakutan melihat wajah serigala jadi-jadian miliknya." Kata Mori. Seketika mereka semua tertawa serentak.
"Woi!" Keluhku.
"Baiklah, kita mulai. Hompimpah alaiyung gambreng!!" Semua tangan pada posisi memperlihatkan punggung telapak tangan mereka kecuali Mori dan Tenzin.
"Kenapa selalu aku dengan kau yang tersisa dalam permainan konyol ini?!! " Keluhku.
"Itu kalimatku, sialan! Batu, gunting, ker-!!!... Woi Mori, lihat! Ufo!" Kataku untuk mengelabui Mori. Mori yang tidak sadar aku mengubah pilihanku yang awal nya batu menjadi gunting.
"Mana?! Eh?! Gak ada kayak gituan, bodoh! Lah!!!" Tangan Mori membentuk kertas.
"Aku menang! Auuuuu!....." Kataku.
"Cih! Curang...Tapi karena aku orangnya baik, aku akan senang hati keluar mencari sarapan. Tenzin kau ingin apa? Dedak atau tulang bekas? " Kata Mori meraih kantong uangnya dan berjalan menuju pintu.
"Aku bukan hewan, dasar kera sialan!" Hardik ku. Semua orang yang ada di kamar tertawa melihat kelakuan kami.
Ketika Mori membuka pintu Mori semua terkejut siapa yang ada di balik pintu tersebut.
"Kau.... " Kata Mori terputus.
"Ada apa Mori?" Tanya Yukki. Ketika Mori memperlihatkan siapa yang ada di balik pintu kami sangat syok dan terkejut.
"Kau.... Ikaris?" Kata Yukki.
__ADS_1
"Kami ingin memberitahu kalian sesuatu yang penting." Kata Ikaris beserta dengan seorang gadis berpakaian terbuka di belakangnya. Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat.