
(Sudut pandang : Naava)
"Woi! tidak lucu woi! Melawan makhluk-makhluk terprogram yang tidak takut mati dan jumlah mereka tidak ada habisnya keluar dari 6 artefak itu." Gumam Riza. Kalimat itu juga sempat terbesit di pikiranku.
"Level mereka juga lumayan, level 50. Ini tidak akan berakhir dengan mudah." Ucap Alice mencoba memperingati.
"Tenang saja, Barrier nya tidak akan membiarkan mereka masuk hidup-hidup." Kataku mencoba menghibur dan memperindah suasana. Baru 3 detik aku selesai mengatakannya beberapa Gog Magog berhasil menerobos Barrier meskipun dengan banyak sekali luka lecet di seluruh tubuhnya.
"Pasukan Drone penembak jarak jauh! Skiet!" Aku memerintahkan seluruh pasukan pengguna Drone penembak untuk menembaki Gog Magog yang lolos dari Barrier. Setidaknya masih terkendali untuk saat ini. Killhunger yang masih di posisinya juga ikut menembaki Gog Magog yang lolos. Aku bersyukur kalau tembakan dari drone kami masih mempan
"Lebih baik kalian buka barrier-nya. Itu akan mempercepat perang kita." Kata Regila memberikan penawaran.
"Kau pikir aku akan melakukannya? Sudah kubilang bukan, Apocalypse tidak akan dapat apapun kecuali debu dan darah." Balas ku. Tiba-tiba pola para pasukan Gog Magog berubah. Yang awalnya mencoba menerobos masuk melalui barrier
, kini berubah menjadi mengincar ke 2 pilar Barrier.
"Apa yang kau lakukan?!" Sergahku cepat-cepat.
"Jika kau tidak akan membukakan pintu untuk kamu maka kami yang akan membukanya dengan paksa." Kata Regila. Dia bermaksud menghancurkan pilarnya.
"Hhuuuuuaaaaaahhh!!!!!" Tiba-tiba dari alat komunikasi ku terdengar suara teriakan keputusasaan yang membuat gendang telingaku pecah.
Iya itu suara Neema.
"Jangan berteriak ketika kau menghidupkan alat komunikasimu!" Bentak ku kepada Neema melalui alat komunikasi.
"Kakak! Jangan biarkan mereka menghancurkan pilarnya! Perbaikannya akan sangat lama jika sampai hancur dan biaya perbaikannya akan jauh lebih besar dari merenovasi seluruh Panthera." Kata Neema. Para Gog Magog sudah memanjati 2 pilar yaitu pilar 30 dan 29 dan mulai menghancurkannya.
"Buka barriernya." kataku kepada Neema.
__ADS_1
"Kau gila membiarkan makhluk-makhluk itu masuk?!!" Sergah Alice mencengkram pundakku.
"Itu lebih baik daripada pilar itu hancur. Perbaikannya akan sangat lama. Panthera menjadi tidak terlindungi." Ujarku.
"Neema, buka barrier pelindung antara pilar 30 dengan 29 di bagian selatan sesuai aba-aba ku." Perintahku melalui alat komunikasi.
"Kau yakin itu solusinya?" Tanya Neema dengan ragu.
"Mereka mencoba membuka barrier-nya dengan paksa. Jika kita membukanya kemungkinan makhluk-makhluk itu akan langsung tertuju kepada pasukan. Ingat ya! Sesuai aba-aba ku." Kataku melalui alat komunikasi. Entah kenapa aku bisa dengan cepat mengatur situasi.
"Siapa diantara kalian yang memiliki kekuatan fisik seperti tanker?" Tanyaku kepada rombongan Gen.
"Riza, Mori,dan Shizuku." Ucap Yuna.
Awalnya aku tidak yakin melihat fisik yang perempuan tapi aku sudah tidak banyak waktu lagi untuk protes maupun mengomel.
"Kau bisa menyerahkannya kepada kami,Ratu Panthera." Ucap Mori. Dengan cepat wanita yang bernama Shizuku merubah tubuhnya menjadi monster kuda.
"Ayo." Kata Shizuku mengulurkan tangannya ke Mori. Mori dengan cepat meraih tangannya dan menaiki bagian punggung kudanya dan berlari menuju ke pasukan belakang. Riza dengan cepat berubah menjadi naga dan terbang menuju ke belakang untuk memberitahu pasukan yang ada dibelakang.
"Aku dan Ikaris akan memberi kalian waktu untuk menyelesaikan strateginya." Kata wanita berambut hijau itu.
"Aku sangat mengapresiasi itu. " Jawabku dengan senang hati. dengan cepat wanita itu dan Ikaris berlari seperti kilat dan mulai menyerang dan menyerbu barisan Gog Magog yang berhasil lolos dari barrier dengan kecepatannya. Benar-benar luar biasa.
"Untuk petarung tipe pengguna kecepatan akan menghadapi musuh-musuh yang berhasil lolos dari pasukan tanker." Kataku.
"Jenghis, Abi, Nishimiya, Yukki, Tenzin, Olivia, dan aku yang akan melakukannya." Kata Yuna. Orang-orang yang namanya disebut Yuna setuju dengan mengangguk dan kembali ke barusan pasukan untuk mengatur formasi.
"Aku akan ada di garis depan memimpin. Sisanya aku ingin kalian yang memberikan komando kepada divisi Drone penembak untuk menembaki musuh-musuh di radius 100 meter didekat Barrier untuk mengurangi jumlah mereka." Jelasku sambil melemparkan alat komunikasiku kepada Alice. Alice pun menerimanya. Saat aku ingin kembali ke barusan Alice menahan pundakku. Wajahnya tersenyum dengan sangat tulus kepadaku.
__ADS_1
"Akhirnya kau tidak hanya terlihat seperti ratu sungguhan." Kata Alice yang akhirnya mengakuiku.
"Jangan menghinaku dengan pujian itu, ok? Kau dibagian belakang. Bantu mengkomando pasukan Drone bersama dengannya." Jawabku dengan tersenyum juga.
"Tentu." Jawab Alice dengan antusias. Wanita dari kembaran saudari nya yang bisa menjadi monster kuda tadi memanggil peliharaannya yang berupa kadal sebesar traktor. Setelah menaikinya dia mengulurkan tangannya untuk mengajakku naik. Kami pun kembali ke barisan pasukan. Semua pasukan dengan cepat menyesuaikan arahan ku tadi. Aku pun dengan cepat turun dari kadal tunggangan dari wanita tadi di barisan depan bersama dengan Mori, Shizuku, dan Riza.
Dari barisan depan aku bisa melihat bagaimana wanita berambut hijau dan Ikaris membantai Gog Magog yang lolos.
"Hey, Ikaris kau bisa lihat wajah jelek mereka?" Tanya si rambut hijau sambil berseluncur menggunakan ratusan tombak rantainya sebagai alat meluncur dan menusuk para Gog Magog menggunakan rantai-rantai yang dia panggil dari portal.
"Yah begitu lah Enki, mereka belum saja mengenai ekorku." Jawab Ikaris yang berubah menjadi Qirin versi mini dan menyeruduk dan menyetrum Gog Magog yang ada didekatnya menggunakan jilatan petir-petir yang ada di sekujur tubuhnya. Para pasukan ku yang melihatnya langsung terkesan dan takjub melihat cara mereka berdua bertarung. Aku pun memeriksa tingkat kerusakan pilarnya dari gelang yang kupakai. Sudah sampai 60% total kerusakannya. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.
Aku menoleh ke arah belakang yang dimana Yuna sudah berubah menjadi wujud dewi nya, Dewi Bulan. Dengan cadar putih dan gaun sutra surgawi berwarna biru putih dengan jahitan emas. Tombak dan Pedangnya berputar-putar memutari tubuhnya. Meskipun kesal untuk mengakuinya, Yuna memang terlihat sangat cantik dan manis seperti yang ada di dongeng legenda. Jenghis bersiul cukup nyaring sehingga kereta kudanya datang dari bawah tanah. Kereta yang ditarik 3 kuda besar berwarna putih.
Mori mengetukkan palu perangnya ke tanah pijakan nya dan tiba-tiba tubuhnya terbakar hebat oleh api berwarna biru terang. Setelah api itu redup dan menghilang, Mori sudah diselimuti dan mengenakan zirah dengan motif iblis monyet berwarna putih yang menutupi sekujur tubuhnya dan mengeluarkan aura yang luar biasa.
"Kapanpun instruksi mu, Naava." Kata Riza yang berubah menjadi manusia kembali di sampingku. Aku pun mengangguk. Jika ini akhir dari Panthera maka ini akhir harus menjadi akhir yang paling mulia di sejarah.
"Sekarang Neema!" Perintahku kepada Neema, Barrier antara pilar 29 dan 30 telah di nonaktifkan. Para Gog Magog dengan sangat ganas, beringas, dan bersemangat mungkin menyerbu kami.
Regila dengan teman golemnya sudah berada di atas udara untuk menghindari pasukan Gog Magog yang mengamuk.
"KURANGI JUMLAH MEREKA!! TEMBAK!!!!" Dengan suara lantang Alice memerintahkan para pengguna Drone untuk menembak. Tidak hanya memerintah saja, Alice juga ikut mengeluarkan ribuan portal emas dan menembakkan senjata-senjata seperti pedang, tombak, kapak, pisau ke arah Gog Magog. Itu kemampuan yang sama seperti yang dimiliki Gen untuk menghujani Killhunger di danau kepulauan assassin. Dengan sekejap banyak mayat Gog Magog yang bergeletakan karena terkena serangan jarak jauh kami. Jumlah mereka berkurang.
"DAPER KRYGERS!!!!! VIR PANTHERA!!!!!! " Teriakku kepada seluruh pasukan yang berarti (PARA PEJUANG PEMBERANI! UNTUK PANTHERA!)
"VIR PANTHERA!!!!!! " Para pasukan juga meneriakan kalimat yang sama.
Dengan bersamaan kami menyerbu pasukan Gog Magog sesuai dengan formasi yang sudah kami susun tadi.
__ADS_1