
Ibu Miyuki berada di dalam dada monster hitam raksasa berbentuk humanoid raptile dengan tinggi sekitar 80-90 meter bertanduk seperti kambing gunung, punggungnya bersirip berupa duri-duri yang menjulang seolah seperti ada beberapa gunung di punggung monster itu, memiliki ekor kadal yang panjang dan bersirip. Tubuhnya seperti terbuat dari batu obsidian dan jaringan urat-urat ototnya mengeluarkan warna seperti lava.
"Terlihat keren bukan?" Tanya Ibu Miyuki.
Ibu Miyuki kemudian memerintahkan Ifrit untuk menarik ekor Scylla sehingga Scylla bisa turun dari tebing gunung Olympus kemudian menghantamkannya kembali ke tebing gunung. Aku dan ibu Hisao yang berada di bawahnya terkena imbas berupa hujan bebatuan akibat hantaman tadi.
Ibu Hisao kemudian menoleh ke arah kerajaan Atlantis di mana Amphitrite, Triton, Rhodes, dan Benthesikime mengangkat kedua tangan ke langit. Tubuh mereka berpendar mengeluarkan aura putih kebiruan.
"Eh Gen... nak. Sepertinya kau tidak akan suka dengan yang mereka lakukan pada lautnya." Kata ibu Hisao mencoba memberiku peringatan.
Aku segera melihat ke arah dinding es yang kubuat untuk membelah lautan tadi. Air laut diluar dinding dibuat mengamuk oleh mereka berempat. Mereka berencana untuk menghancurkan dinding esnya dan menenggelamkan kami.
"Benar-benar merepotkan." Ucapku. Poseidon pun mengetukkan trisulanya kembali ke tanah dengan seketika air laut berhasil mendobrak dinding es yang kubuat hingga hancur. Air laut mulai mengapit kami.
"Ini sangat mirip ketika Moses menutup laut Merah ketika Ramses II mencoba mengejarnya." Ucapku yang tiba-tiba nostalgia setelah sekian lama membaca buku sejarah.
"Ini bukan saatnya untuk sesi pelajaran sejarah, Gen!" Seru ibu Hisao. Ku tarik semua Shadow Army ku ke dalam bayangan ku kecuali Obsidian Gydra dan Cetus untuk membantu ibu Miyuki dalam menangani Scylla.
"Jangan hancurkan mayatnya kalau bisa!" Setuju kepada mereka bertiga.
Kulempar Celurit Madura ku ke udara. Ku rangkul pinggang ibu Hisao sehingga kami berdua bisa berteleport bersama.
Air laut pun mulai menyatu kembali. Kami cukup bersyukur karena lemparan ku cukup tinggi sehingga air laut tidak mengenai kami. Saat aku ingin melemparkan celurit ku ke tebing tiba-tiba kami seperti ditimpa bayangan yang sangat besar dan lebar.
Aku dengan cepat menoleh ke atas ternyata Charybdis sudah membuka mulutnya dan berusaha untuk menerjang kami seperti ular yang mencoba mematok mangsanya.
__ADS_1
Charybdis pun menelan kami bulat-bulat dan seperti nya mencoba membawa kami ke kedalaman laut.
Ku keluarkan pedang Enuma Elish ku. Dengan sangat dahsyat kuledakkan Charybdis menjadi potongan-potongan daging yang berceceran. Efek ledakan Enuma Elish kali ini membuat kawah di tengah laut. Beruntung kami berdua mendapat pijakan tanah.
"Kau memang suka merusak alam ya... " Ujar ibu Hisao dengan nada sarkastik melihat area sekitar. Air laut mengalir seperti air terjun menuruni bibir kawah yang kubuat.
"Setidaknya dengan ini satu monster mitologi hancur dan buruknya aku tidak bisa memasukkannya ke dalam koleksi ku karena dia hancur tak bersisa." Kataku.
"Terdengar seperti kabar baik bagiku. Sekarang bagaimana kita naik ke atas?" Balasnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat kencang.
"Kali ini apalagi?!" Kata ibu Hisao dengan nada protes. Kami pun saling membelakangi. Saling menjaga titik buta masing-masing.
Dari samping kami tepatnya di balik cucuran air laut yang menuruni kawah, muncul monster raksasa mirip seperti gurita raksasa, bermata empat, bersisik dan bercangkang berupa lempengan tanah, dan delapan ujung tentakelnya berupa kepala naga.
"Astaga, ini Charybdis yang asli!" Seruku. Monster itu mengaum dengan sangat ganas. Karena 6 tentakelnya digunakan untuk berpegangan di bibir kawah maka cuma 2 tentakel naga saja yang bisa dia gunakan untuk melawan kami.
"Aagghh! Kemarilah, Binatang purba jadi-jadian!" Kata ibu Hisao menggeram dibarengi memasang sikap bertarung.
Charybdis dengan marah menggunakan satu tentakelnya untuk menebas kami dan membuat kami berpencar.
Kubuka portal Babylon Treasure lalu ku tembakkan 1 tombak seukuran torpedo ke tentakel yang barusan digunakan Charybdis untuk menebas kami barusan. Tombak itu menancap dan menusuk tentakel Charybdis ke bawah. Ibu Hisao dengan sangat kencang dan keras melompat dan menghantamkan pukulannya ke arah tombak raksasa itu sehingga mata tombak nya menembus tentakel nya dan menancap ke tanah.
Tentakel satunya kemudian menyerang ibu Hisao tapi ibu Hisao menyadarinya dan segera melompat dan mendarat di sampingku. kepala naga diujung tentakel itu kemudian menggigit tombak yang menancap di tentakel pertama tadi kemudian mencabutnya.
Tombak yang digigit itu kemudian dilempar kembali ke arah kami. Dengan sigap, ibu Hisao menepisnya dengan gerakan kungfu satu tangan sehingga tombak itu terpental dan menancap di dinding kawah.
__ADS_1
Kedua kepala naga itu menyemburkan air yang sangat deras dari mulut mereka ke arah kami. Kulempar celurit ku udara sehingga dan berteleport. Kedua tentakel naga itu menyemburkan kembali air tekanan tinggi ke arah kami berdua yang masih di udara.
Kutepis semburan air super kencang itu dengan celurit ku. Semburan mereka sangat keras sampai-sampai aku hampir melepaskan pegangan ku dari celurit yang ku pegang.
Ibu Hisao yang tidak mau tinggal diam menggunakan punggung ku untuk ia jadikan pijakan untuk melompat dan jatuh dengan posisi menukik lalu mendaratkan tendangan yang super keras dan kencang ke salah satu tentakel berkepala naga itu. Kupentalkan semburan air itu kembali ke arah tentakel satunya.
Kami berdua pun berteleport kembali ke pijakan tanah.
"Kenapa tidak kau habisi makhluk ini seperti sebelumnya?" Tanya ibu Hisao membunyikan jari-jarinya.
"Tidak sempat. Yang lebih penting dari itu, apakah ibu Miyuki baik-baik saja di atas sana?" Tanyaku.
"Wanita itu tahan banting. Santai saja." Kata ibu Hisao. Yah kuharap juga begitu.
Monster Charybdis cukup kesakitan karena kedua tentakelnya kami buat babak belur sehingga perlu waktu untuk meregenerasi. Monster Charybdis pun membuka mulutnya lebar-lebar seolah mencoba memperlihatkan gigi-giginya yang tajam dan besar.
Angin mulai bertiup kencang seolah angin disekitar kami disedot oleh Charybdis dan semakin lama semakin kencang.
"Oh lihat si besar ini." Ujar ibu Hisao dengan nada mengejek.
"Monster beringas yang payah." Kubuka ratusan portal Babylon Treasure di dekat mulutnya lalu ku tembakkan isinya secara bersamaan ke dalam mulutnya. Ledakan besar terjadi di mulutnya sehingga membuat monster Charybdis merengek dan mengaum kesakitan.
"Sekarang sempat?" Tanya ibu Hisao.
"Lebih dari sempat." Ku keluarkan Exile dan Serena dari bayangan ku. Ini harus kubunuh dengan lembut sehingga aku bisa mengekstrak roh dari Charybdis untuk kujadikan sebagai koleksi Shadow Army milikku.
__ADS_1
"Serang secara bersamaan!" Perintahku. Exile menggunakan avatar budha miliknya untuk menggenggam Charybdis. Serena memanah seluruh Tentakel Charybdis yang berpegangan di bibir kawah dengan panah es nya. 2 tentakel berkepala naga tadi yang baru saja beregenerasi mencoba menyemburkan air laut ke arah kami tapi Serena dengan tepat menembakkan anak panahnya ke semburan air itu sehingga air dan kepala naga tentakel itu ikut membeku.
"Mari kita lihat apakah kau setangguh Cetus atau tidak. Tahan ini jika kau bisa!" Kubuka ribuan portal Babylon treasure di sekitar Charybdis lalu menembakinya tanpa ampun.