
(Sudut pandang : Naava)
Setelah semua orang masuk ke dalam kereta dan menuju ke medan perang. Aku pun pergi ke penjara bawah tanah yang berada dekat dengan lokasi penambangan. Aku terpaksa menunggu sekitar 5 menit untuk kereta selanjutnya.
Apakah ini akan menjadi kemenangan untuk Panthera atau tidak, aku bahkan masih tidak bisa memprediksi nya. Lawan kami adalah Dynasty Kegelapan. Meskipun kami memiliki teknologi yang canggih dan sumber daya alam yang melimpah. Apakah kami bisa mengimbangi..... tidak. Apakah kami setidaknya bisa bertahan? Meskipun begitu setidaknya mendapat bantuan sekitar 1-2 % saja sudah sangat membantu. Karena itu....
Tanpa kusadari kereta sudah berada di depanku. Aku pun masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Pemberhentian selanjutnya adalah penjara bawah tanah Panthera.
Ini kedua kalinya aku memasuki penjara bawah tanah milik kerajaan Panthera. Kali pertama aku kemari aku benar-benar terkejut sekaligus merasa pengap di bawah sini. Tidak ada narapidana yang dipenjara di dalam sini. Itu dikarenakan peraturan dan hak para warga Panthera dijaga secara seimbang. Karena itu juga warga Panthera menjadi sangat loyal kepada kerajaan. Kemungkinan yang menjadi narapidana disini adalah orang luar dan itu pun sudah ratusan tahun yang lalu. Sehingga yang tersisa disini hanyalah nama dan kenangan bagi yang mengingat mereka.
Penjara dibuat seperti lorong yang panjangnya mungkin bisa sampai 30-40 meter. Di setiap sisi kiri dan kanan lorong terdapat sel-sel tahanan yang lebarnya kurang lebih 5 x 5 meter untuk setiap selnya. Di lorong paling ujung terdapat satu sel yang menghadap pintu masuk. Aku berjalan mendekati sel itu.
Didalam sel itu tidak ada orang satu pun. Hanya ada sebuah kubus berwarna emas yang sudah berdebu. Penjara tanah empat sudut. kubus yang diberikan Gen kepadaku sebelum kami berpisah di kepulauan Assassin. Kubus itu yang menjadi batu pijakan menuju ke tahta Panthera dan salah satu kenapa Chad lengser.
"Baiklah... " Aku menempelkan sidik tanganku ke papan scan yang berada di dekat bibir pintu bagian kanan. Papan scan pun menerima aksesku. Pintu jeruji terbuka dengan sendirinya. Aku pun berjalan mendekati kubus itu. Kuangkat kubus tersebut dan aku menemukan semacam potongan kertas di salah satu rusuk kubus tersebut. Karena aku penasaran aku menarik kertas tersebut dan membuka isinya. Disitu tertulis
Jika kau ingin membuka kubus ini, putar saja salah satu sisi kubus penjara ranah 4 sudut itu.
__ADS_1
Aku tahu kalau ini tulisan tangan dari Gen. Tulisan tangan kidal nya yang menurutku unik. Aku masih mengingat nya ketika kami sama-sama menyamar menjadi murid akademi assassin di kepulauan Assassin saat itu.
"Ya ampun, sempat-sempatnya dia menulis ini. Tenang saja, aku akan membawamu pulang." Kataku mencium kertas itu dengan lembut dan menyimpannya ke saku rok ku.
kuputar bagian salah satu sisinya seperti sebuah rubik. Kubus emas itu perlahan bercahaya semakin terang. Kubus itu tiba-tiba membesar dan hampir membuat sel penjara yang melingkupnya hampir hancur. Aku bahkan sampai terpental keluar dari sel penjara yang kulihat sekarang seperti kardus yang terkena air. kertas yang diberikan tadi sempat keluar dari sakuku. Kupungut kembali kertas itu tapi aku sempat melihat ada tulisan yang ada di sisi lain dari bagian yang kubaca tadi yang bertuliskan :
Oh iya aku kelupaan!! Hati-hati, kubusnya akan melebar ******sampai sekitar 1 x 1 meter****** ketika kau sudah memutar salah satu sisinya. Pastikan kau membukanya di tempat yang luas.
"Kenapa kau menulis hal penting seperti ini di sebalik kertasnya dasar?!!" gerutuku dengan kesal. Kuremukan kertas pesan itu hingga terlihat seperti sampah lalu memasukkannya ke dalam sakuku dengan kasar.
Kubus pun terbuka seperti origami yang dibongkar. Aku melihat seorang pria yang terbelenggu leher, tangan, dan kakinya dengan posisi berlutut dan merentangkan tangannya seolah dirinya sedang disalib. Bahkan pedang yang ditusukkan Gen masih menancap di dadanya. Aku tahu seberapa sakitnya itu dan dengan menahan pedang itu tertancap lebih dari 5 menit saja sudah membuat hatiku panas.
"Dengan sebongkah batu Oovrloed dari tambang kami sebagai DP untuk kepalaku." Ujarku dengan nada sarkastik. Pria itu kemudian menatapku dengan cermat.
"Heh, semenjak terakhir kita bertemu kau tampak seperti kucing liar yang bisa ditemukan dijalanan. Aku suka dari caramu menatap sekarang. Apa yang kau inginkan?" Tanya pria tersebut setelah terkekeh.
"Aku ingin meminjam kekuatanmu sebagai pem-yn dari TSO untuk melawan Apocalypse, Killhunger." Kataku. Ya ampun istilah dari para Alter benar-benar membuat lidahku keseleo.
__ADS_1
"Hahahahaha. Kalian para pribumi bahkan tidak bisa menyebut kata " pemain" dengan benar. Baiklah aku Terima tawaranmu." katanya dengan mantap. Permisi, seharusnya bukan itu yang kau katakan?! Dan tanpa kusadari wajah telihat seperti orang gila yang lilung setelah mendengar jawaban dari Killhunger.
"Kenapa?" Tanya Killhunger dengan polos.
"Itu kalimatku, woi!!! Bagaimana kau bisa menerima tawaran ku dengan secepat itu?! Kau bahkan belum mendengarkan apa yang bisa kutawarkan!" Bentak ku dengan kesal. Killhunger melihatku dengan senyuman miring seolah reaksi ku adalah reaksi yang wajar. Apakah dia mempermainkanku?
"Keadaan sudah berubah. Itu saja. Alasan pertama aku setuju adalah, aku tidak ingin berbeda kubu dari Valon the Dragnel. Kau lihat kan apa yang dia lakukan kepadaku seperti saat ini? Aku bahkan hampir tidak bisa bernapas di setiap waktunya dikarenakan pedang yang menusukku ini. Dengan aku berada dikubu Valon dia pasti juga bakal memperalat ku seperti mesin pembunuh. Dengan begitu aku bisa bebas melakukan hobiku sebagai PK. Dan yang terakhir, aku belum dibayar oleh pihak Apocalypse. Karena itu, sepertinya ini kesempatan yang tepat untuk membuat mereka membayarku."
Jelas Killhunger. Mendengar alasan terakhirnya membuatku terkejut. Jadi dia juga pernah berurusan dengan para Apocalypse?!
"Kau pernah berhubungan dengan mereka?" Tanyaku.
"Itu tepat sebelum aku datang ke kepulauan Assassin untuk membunuhmu. Di dataran Es, milik Alice..... aku gagal membunuhnya. Tapi wanita Elf itu bilang akan tetap membayarku meskipun aku gagal. Tapi bahkan sampai saat ini aku belum mendapat apapun. Meskipun dia tidak menyelamatkanku setidaknya dia membayarku. Jadi bagaimana? Cukup meyakinkan?" Tanyanya. Aku masih ragu, aku takutnya dia memiliki niatan tersembunyi. Tapi jika kami tidak mendapat bantuan dari Alter maka kami yang akan tamat.
"Untuk saat ini. Aku bisa mempercayaimu." Kataku. Kucabut pedang yang menancap di dada Killhunger. Penjara ranah 4 sudut pun runtuh. Rantai-rantai yang membelenggu Killhunger pun terlepas darinya. Killhunger pun masih di posisi berlutut seolah dia memberiku hormat.
"Terima kasih telah mempercayaiku. My Queen." Katanya. Entah itu untuk akting atau tidak tapi yang jelas dia menunduk kepadaku. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Sudah sekitar 11 menit yang lalu sejak aku dan rombongan Yuna berpisah. Sebaiknya aku segera ke medan perang.
__ADS_1
"Aku akan memberitahu rencanaku untuk mencegah adanya korban jiwa di pihak Panthera. Aku akan memberitahumu di dalam kereta. Sekarang ayo ikuti aku." Kataku mulai berjalan menuju keluar dari area lorong penjara.
"Baiklah Ratu Panthera." Respon Killhunger mengekoriku dari belakang. Kami pun segera masuk ke dalam kereta.