Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Malam Pertamaku di Panthera (Bagian II)


__ADS_3

(Sudut pandang : Tatsumaki Gen)


"Tidak hanya di medan perang, kau juga sangat agresif ya di ranjang." Kata Naava mendesah kelelahan. Keringatnya hampir membasahi seluruh tubuhnya.


Aku kemudian mendudukkan Naava dan membuatnya duduk bersandar ke tubuhku dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Naava hanya bisa pasrah karena terlalu lelah.


"Ingin kau apakan lagi tubuhku?" Tanya Naava dengan kelelahan. 4 tahun terakhir ini rambut Naava sudah panjang hingga mencapai punggungnya. Tapi style rambutnya masih saja sama dengan mengucir rambut ke salah satu sisi rambutnya.


"Kau butuh katalis pengikat agar kau tidak jatuh di tangan pria lain. Dan sekarang baru terpikirkan olehku." Kataku berbisik ke telinga Naava. Naava bahkan hampir kehilangan kesadarannya dan hampir tidak bisa diajak bicara karena terlalu lelah setelah melakukan hubungan intim denganku. Baguslah dia tidak akan banyak bergerak.


Ku sibakkan rambut Naava yang menutupi lehernya. Kubekap Naava untuk memastikan dia tidak menjerit kemudian aku menggigit pangkal lehernya hingga berdarah. Aku cukup bersyukur Naava hanya mengerang beberapa kali dengan lemas ketika aku menggigit lehernya.


Di pangkal leher belakangnya terbentuk tato segel kutukan berbentuk 3 cakar yang berbentuk seperti pusaran angin. Ternyata benar yang dikatakan Riza. Setiap aku menandai para wanitaku dengan gigitan maka akan muncul segel kutukan yang akan mengikat mereka dan memberikan mereka kekuatan yang sama sepertiku. Satu tiket menuju penaklukan dan perburuan berikutnya.


Setelah selesai melakukan hubungan intim dengan Naava, aku dengan segera memakai kembali pakaianku. Sudah sekitar 2 jam melakukannya dan sekarang Naava tertidur karena kelelahan menghadapi pedang suci ku tadi.


Tepat sebelum aku memasang dan memakai kembali pakaian bagian atasku aku sempat melihat tato yang ada di sekujur tubuhku melalui pantulan cermin yang ada di kamar Naava. Gata sudah mati ketika melawan Karna, tato perlambangan dari Hassan sang pendiri Assassin juga masih ada. Alice tidak membawanya ke Panthera.


Kemudian aku melihat tato bergambar jam pasir dan bumi di belakangnya. Tato segel kontrak dari Kraven. Jam pasir adalah perlambangan dari dirinya yang berasal dari masa depan sedangkan untuk gambar bumi.... aku tidak memiliki tebakan akan gambar itu.


Kraven tahu persis apa yang terjadi di masa laluku. Dia bahkan bisa menyebut nama wanita itu dengan sangat tepat dan benar. Apakah dia juga menjelajah ke timeline kejadian itu juga ketika aku masih di dunia Prime?


Mengetahui fakta dari para dewa Olympus dan perkataan ibuku juga hampir sulit dipercaya. Aku tidak menyangka kalau Multiverse dan dunia parallel itu ada. Terdapat banyak alam semesta, dunia, dan realita yang tidak terbatas di luar sana. Aku kemudian melihat ke arah langit malam yang indah dari balik jendela.


"Padahal kalian sendiri membenci hipotesismu dengan Schrodinger, Einstein. Kurasa Hugh Everett memenangkan taruhannya jika mereka masih hidup dan mengalami ini." gumamku dengan sedikit terkekeh.


"Entah itu karena teori Inflasi Abadi atau karena teori Quantum Decoherence." Lanjut ku bergumam.


Aku kemudian memperhatikan tato segel kontrak Kraven yang ada di punggungku yang berjejeran dengan segel kontrak milik Yuna. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan kesalahan yang sudah terjadi di masa lalu. Yang sudah terjadi maka tetap terjadi. Begitulah cara kerja mekanisme takdir dan alam semesta.

__ADS_1


Aku pun menghapus segel kontrak Kraven dari tubuhku.


...****************...


(Sudut pandang : Yuna.)


"Aku tahu kau di luar sana, Kraven. masuklah." Pintaku kepada Kraven yang akhirnya menampakkan wujudnya. Kraven melepas tudung dari kepalanya. Dia banyak berubah penampilan dari 4 tahun terakhir aku melihatnya.


"Lama tidak bersua, ibu." Kata Kraven dengan membungkuk hormat kepadaku.


Tubuhnya semakin kekar dan berotot. Rambut putihnya sengaja di buat ke belakang. Memakai pakaian ketat tanpa lengan berwarna hitam dengan motif bergaris berwarna putih, memakai mantel gurun berwarna krem dan sudah compang camping, di pinggangnya terpasang ekor jubah berwarna hitam dengan motif garis berwarna emas dan sudah compang camping. Memakai celana hitam berbahan sama seperti atasannya, terdapat banyak sekali ikatan sabuk di paha kiri dan kanannya dan memakai sepatu boot berwarna hitam dengan lapisan baja di ujungnya. Mengenakan sarung tangan tanpa jari berwarna hitam dan pelindung punggung lengan bawah dan di kedua kakinya untuk melindungi tulang keringnya. Kraven juga membawa dia pedang berwarna emas yang ia bawa di punggung nya. Tapi....


"Kau tampak berantakan, Kraven." Kataku dengan nada menyindir kondisi anakku sendiri. Terdapat banyak sekali tato merah darah yang menyala-nyala di sebagian tubuhnya. Di bagian wajah terdapat satu melintang dari bawah mata hingga ke leher. Ditangan kanannya juga ada dari sikut hingga ke lengan atas.


"Apakah karena efek hukuman berupa kutukan yang disebabkan penghianatan-mu terhadap Ousama-mu?" Tanyaku dengan nada sarkas.


"Saya tidak bisa membantahnya. Tapi tenang saja, ibu. Karena aku bukan Slave yang sebersih dan sesuci ibu dan yang lain. Karena itu kutukan ini tidak terlalu berefek kepadaku." Jelas Kraven.


"Tidak sesingkat umur ayah jika rencana ini sampai gagal. Jadi bagaimana? Apakah Panthera berhasil bertahan?" Tanya Kraven menoleh ke arah luar jendela.


"Iya. Dan kami diselamatkan oleh Tuan Gen. Kau berhasil membuatnya untuk terlindungi dengan membuat beliau koma selama 4 tahun terakhir di sini. Dan saat Apocalypse mengetahui keberadaan tuan Gen kau baru memberitahuku secara abstrak tempat dimana Tuan Gen berada sebagai upaya perlindungan tambahan untuk beliau." Jelasku membongkar rencana Kraven.


"Saya tidak menyangkalnya. Seperti biasa, ibu selalu tahu rencanaku." Ujar Kraven dengan memuji.


"Sebagai tambahan, aku juga yang membantu pihak dari Ibu Alice dalam mencari ayahku dengan waktu yang bersamaan. Dengan meninggalkan beberapa barang pribadiku dan darah milik ayahku di kuil izanami." Jelas Kraven. Aku pun memperhatikan kepala Kraven yang kehilangan aksesoris yang cukup krusial di kepalanya.


"Bandana kepalamu." Kataku memastikan.


"Iya, benar sekali ibu." Kata Kraven.

__ADS_1


Aku membuang napas berat ku.


"Apapun yang terjadi di masa depan maka akan tetap ditakdirkan untuk terjadi, Kraven. Mensyukuri apa yang telah terjadi justru adalah yang terbaik untuk kita." Kataku mencoba memberi peringatan kepada Kraven.


"Akan ku ingat nasehat itu dengan baik. Dan sepertinya ayahku juga sudah membuat keputusan tentang masa lalunya." Kata Kraven berbalik menuju beranda balkon.


"Jika kau bisa menyusup kemari maka kau seharusnya juga bisa lolos dari sini juga kan, nak?" Tanyaku dengan nada mengejek Kraven. Kraven pun menoleh dengan senyum tipis kepadaku.


"Ibu benar dan aku tidak menyukai kedua cara itu. Untuk rencana selanjutnya akan ku kabari lagi jika ada kesempatan. Sampai jumpa." Kraven melambaikan tangannya seperti anak kecil kemudian menghilang menjadi kilauan cahaya.


...****************...


(Sudut pandang : Tatsumaki Gen.)


Setelah selesai berurusan dengan Naava, aku pun keluar dan kembali ke kamar Yuna.


Di dalam kamar Yuna, aku melihat Yuna yang sedang duduk di atas kasur melihat ke arah balkon. Yuna yang mengetahui keberadaan segera menoleh ke arahku dan memberikan senyuman manisnya kepadaku ketika mata kami bertemu.


"Aku kira kau sudah tidur." Tanyaku berjalan mendekati ranjang. Yuna menggeleng dengan lembut.


"Saya cukup kesulitan untuk tidur selama anda menghilang." Kata Yuna. Yah, itu namanya rindu.


"Begitu ya, aku senang kau mengkhawatirkan ku." Aku mulai membelai wajah Yuna dengan lembut dan mendorongnya untuk berposisi tidur.


"Tuan ingin melakukannya?" Tanya Yuna.


"Dengan satu syarat. Kau mulai sekarang tidak boleh berbicara formal baik itu ketika kita sendiri maupun didepan umum. Ini untuk menyetarakanmu dengan Alice dan Naava. Jika kau tidak mau maka aku tidak akan melakukan sampai kapanpun." Kataku.


"Baiklah. Kalau itu maumu Gen." Setelah mendengar perkataan itu aku cukup senang.

__ADS_1


"Bagus." Kataku dan mulai melakukan adegan ranjang yang menggairahkan lagi dengan Yuna untuk kedua kalinya.


__ADS_2