
Aku tak menyangka kalau tindakanku dianggap kejam. Razor muntah beberapa kali Gata terbunuh oleh Bad Hero dengan cara seperti itu. Tsukuyomi mencoba menenangkannya. Meskipun mereka menghadapi banyak perang mitologi sebelumnya, mereka tidak akan pernah ingin terbiasa dengan hal seperti ini. Kami pun beristirahat di puing-puing bekas kami bertarung tadi. Tsukuyomi mendatangiku dari belakang.
"Bagaimana dengan Razor?" Tanyaku melihat api unggun didepanku.
"Sudah baikan. Meskipun sedang tidak ingin ditemui siapapun sekarang." Jawabnya. Lenggang 10 detik.
"Bolehkah saya duduk di samping tuan?" Tanyanya dan aku bisa menebak wajahnya tersenyum ketika dia bertanya. Aku pun bergeser ke kiri memberi ruang untuk duduk. Tsukuyomi pun duduk di sampingku kananku.
"Ada yang ingin kau bicarakan? Kau tidak perlu-perlu repot, kita memiliki sambungan empati bukan?" Kataku mencoba mencari topik.
"Saya rasa lebih nyaman berbicara dengan cara normal seperti ini. Dan ini juga lebih manusiawi." Katanya, meskipun aku tidak menatapnya ketika berbicara aku masih bisa membayangkan wajahnya ketika tersenyum.
"Sebenarnya kita akan kemana tuan?" Tanya Tsukuyomi. Dia bukan tipe orang yang kehabisan topik ketika berbicara. Sama seperti dia.
"Wilayah utara. Daerah kutub. Ada seseorang yang ingin kutemui. Dia mungkin akan banyak membantu. Oleh karena itu kita harus melewati kota Black Market ini." Jawabku.
"Apa yang membuat tuan percaya kepadanya meminta bantuan kepadanya? Perang Mitologi telah dimulai, tidak menjamin dia menjadi tidak menjadi Ousama dan ikut berpartisipasi." Aku tahu Tsukuyomi mencoba memperingatkanku. Aku cukup lega meskipun aku sudah bertindak kejam di depannya tadi dan dia masih mencemaskanku.
"Tidak masalah bagiku. Lagi pula jika aku mati bukankah itu sudah sering kau alami sebagai Spirit Of Legend ?" Kataku. lenggang 15 detik.
"Sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur. Besok kita harus berangkat sebelum orang-orang melihat bekas pertarungan kita ini." Kataku kepada Tsukuyomi.
Tsukuyomi pun menarikku untuk tidur di pahanya. Aku yang menyuruhmu tidur. Aku pun menatap wajahnya yang cantik dari bawah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku. Meskipun begitu ini membuatku nyaman.
"Tidak bisakah saya di beri kesempatan untuk memanjakan anda. Sesekali saja. Anda juga perlu istirahat setelah pertarungan tadi. " Pintanya. dia mulai mengelus-elus rambut putihku yang seperti landak. Dan aku tidak tega untuk menolaknya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, saya akan rahasiakan ini dari Razor." Katanya. Tapi itu tidak membuatku tenang meskipun aku memiliki sifat tenang-undead-ku. Karena Razor sedang menguping pembicaraan kami dari awal Tsukuyomi datang ke sini. Maka kuserahkan penjagaan malam ini kepada Gata.
Matahari pun terbit. Siluet mulai terlihat di ufuk timur. Aku pun bangun dan melihat Tsukuyomi sedang tertidur dengan posisi duduk masih memapah kepalaku di pahanya. Aku harap dia tidak kesemutan ketika terbangun nanti. Aku pun bangun dengan hati-hati agar tidak membangunkannya tapi tangan kirinya memegang pipiku dan itu yang membuatku tak bisa bangun dari posisiku.
Tsukuyomi akhirnya terbangun ketika aku mengubah posisi kepala ku. "Kau bergadang demi menggantikanku untuk berjaga di malam hari? " Tanyaku.
"Sesekali anda setidaknya mengandalkan Slave anda....." Katanya sedikit cemberut dan itu sangat imut.
"Baiklah..... biarkan aku bangun." Aku pun bisa ke posisi duduk.
Kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju utara. Perjalanan kami tempuh dengan jalan kaki. Gata dan Razor memutuskan untuk mengikuti kami dengan wujud roh tak terlihat supaya tidak terlihat mencolok. Sedangkan Tsukuyomi memutuskan untuk tetap terlihat. Akan terasa aneh jika seorang anak kecil barjalan sendirian seperti gelandangan.
"Oh iya, Tuan belum memberi kontrak nama kepada saya." Kata Tsukuyomi memecah kelenggangan.
" Apakah itu diperlukan? Memanggilmu dengan nama "Tsukuyomi" kurasa sudah cukup." Kataku singkat.
"Jika tuan tidak memberikan saya kontrak nama, maka legenda saya, kemampuan khusus saya tidak dapat saya sembunyikan dari Ousama atau bahkan Slave yang lain. Hanya tuan yang berhak mengetahuinya. Pemanggilan nama juga berpengaruh penting dalam menambah kekuatan dalam perang mitologi." Jelasnya. Kurasa itu cukup masuk akal. Itu sama saja seperti mengumbar informasi tentang legenda Spirit Of Legend kepada pihak lawan.
"Yuna? Apa artinya?" Tanyanya antusias.
""Nomor 1" dalam bahasa Yunani kalau tidak salah. Karena kau adalah Slave yang menjalin kontrakku yang pertama maka kunamai Yuna. Apakah kurang bagus?" Kataku menjelaskan.
Yuna langsung memelukku dari belakang. Itu sudah jadi kebiasaannya semenjak kami sudah mulai akrab. Aku pun membiarkannya. Kalau bukan karena aku mengingat dia, aku sudah pasti tidak tahan di peluknya.
"Tuan bahkan lebih perhatian dibandingkan Ousama-ku yang sebelumnya. Aku menyukainya." Pujinya kepadaku. Dan itu membuatku juga senang.
"Razor, perlukah aku mengganti namamu juga? Minta saja." Tanyaku kepada Razor yang tidak terlihat. Aku berani menebak wajahnya sedang merah sekarang.
__ADS_1
"Tuan pintar menggoda wanita juga ternyata. Boleh saja. Tapi jangan menghilangkan nama "Razor" nya." Razor pun menampakkan wujudnya. Dan tebakanku benar, wajahnya Semerah apel.
"Dari Sally ya? nama itu" Tanyaku.
"Yah, karena kami para Dewa-dewi tak bisa dilibatkan dalam perang. Supaya identitas ku tetap terjaga, Sally memanggilku dengan nama Razor." Jelasnya melihat ke langit.
"Baiklah Razor. Aku tidak akan memaksamu untuk mengganti namamu." Kataku. Karena nama juga termasuk dari harapan orang lain kepadamu setiap kau mengucapkan namanya.
"Tapi aku tidak keberatan sih tuan....menggantinya. Lagi pula tuan sudah membalaskan kematian Sally. Aku pikir Sally akan menyukai nama baruku." Secara tidak langsung dia cemburu kepada Yuna. Wajahnya seperti memohon nama yang bagus.
"Riza. Cukup indah bukan?" Tanyaku. Demi memastikan saja.
"Demi menghormati Sally aku tidak mengubah namamu terlalu jauh dari nama pemberian Sally. Kurasa nama Riza lebih feminim di dengar." Jelasku.
Wajahnya langsung cerah. Senyumnya membuatku merasa puas. Dia jelas menyukainya.
"Tapi tentu saja. Saya tetap yang pertama, Riza. Kau berhutang pada Ousama-ku." Kata Yuna. Sepertinya akan terjadi perang lebih dahsyat di bandingkan tadi.
"Hanya masalah urutan menjadi Slave saja kau besar-besarkan. Aku juga Slave-nya. Apalagi kita sama-sama wanita sedangkan Ousama kita laki-laki. Jadi wajar lah aku menginginkannya juga." Oke Riza mulai ikut memelukku dan aku tidak bisa melihat apapun karena di peluk oleh 2 wanita yang sedang bertengkar. Aura kedewataan mereka pun keluar dan rasanya sangat mengerikan.
Entah dari dulu hingga sekarang aku sepertinya memiliki kutukan yang membuat para wanita idaman untuk terus menempel kepadaku. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia ini.
"Aku tidak masalah kalian punya urusan pribadi. Tapi tolong jangan libatkan aku. Sesak nih." Tegasku kepada mereka. Mereka pun langsung melepaskan pelukan mereka dariku.
"Baiklah, Sekitar 1 km lagi kita akan menemui laut." Kata Gata tiba-tiba muncul dihadapan ku. Yang ternyata kita harus menyebrang laut untuk mencapai Benua kutub Utara.
"Riza, ini peranmu. lakukan." Perintahku kepada Riza.
__ADS_1
Riza langsung berubah menjadi naga. Gata berubah menjadi tak terlihat lagi. Kami pun langsung menunggangi Riza dalam bentuk naganya.
Riza pun meluncur dengan kecepatan penuh menembus angin menuju Utara.