Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Apocalypse Mulai Mengibarkan Panji Perang


__ADS_3

(Sudut pandang : Yuna)


Jangankan melihat aura wanita ini, melihat wajahnya saja sudah membuatku kesal. Dan kurasa dari wajah wanita ini juga mengatakan hal yang sama secara tidak langsung kepadaku. Kami seolah pernah bertemu walaupun baru pertama kali ini kami bertemu.


"WOI DEWI MALAM SIALAN!!!! TURUNKAN TOMBAKMU!!!! JADI NEGOSIASI TIDAK SIH??!!!! " Bentak Riza yang berada di samping. Sebenarnya aku masih ingin menggorok leher wanita ini karena beberapa fakta, salah satunya dia adalah tunangan dari Tuan Gen. Aku tahu pasti Tuan Gen punya rencana untuk wanita ini, tapi kenapa harus wanita ini?!!!


Dengan menghembuskan napas berat, ku turunkan tombakku. Aku pun kembali ke mode biasa. Gaun surgawiku lenyap seperti pasir yang berkilau tertiup angin. Aku pun turun dari ranjangnya. Keadaan pun mulai kembali tenang walaupun ada hawa canggung karena tindakanku barusan.


"Aku berhenti, kau-...ADOOH!" Sebelum menyelesaikan kalimatku, Riza menyambar tombakku dan memukulkan gagangnya ke ubun-ubunku dengan sengat keras. Suara pukulannya sampai menggema ke seluruh ruangan ini.


"Astaga, kenapa kau melakukannya reptil?!! Kau tidak perlu sampai memukulku!!!" Kataku dengan kesal sambil menyambar tombakku kembali.


"Bersyukurlah aku hanya sampai memukulmu! Kalau kau lebih jauh dari ini aku sudah jelas akan melemparkan keluar dari istana! Jadi fokuslah pada misi negosiasi ini! Bukankah itu tujuan kita?!" Kata Riza dengan berbisik dan dengan nada kesal.


"Mengenai kelakuan rekan kami. Kami mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah bersikap tidak sopan. Dan sudah lama tidak bertemu denganmu, Naava." Kata Jenghis membungkuk.


Melihat dari ekspresi Naava, dia nampak tidak marah tapi dia memberikan tatapan tidak sukanya kepadaku. Selama negosiasi ini lancar aku akan menahan diri sebisa mungkin untuk tidak memukul wajahnya.


"Biasanya jika ada yang bersifat tidak sopan terhadap kepala pemerintah Panthera akan di berikan hukuman yang berat, atau lebih buruk seperti kematian. Tapi karena aku sudah mengenal Jenghis dan Riza yang merupakan bawahan dan slave dari tunangan ku maka aku menganggap peristiwa ini tidak pernah terjadi. Jadi bersyukurlah, gadis kecil." Kata Naava dengan nada sombong. Wah!!! Nyari mati nih perempuan...


"Jadi ada apa ini? Jika Neema saja sampai seyakin ini membawa kalian kemari, itu pasti jelas ada hubungannya dengan Gen." lanjut Naava.


"Mengenai kedatangan kami, kami sebagai perwakilan dari Tuan Gen. Kami ingin kerajaan Panthera menjadi bagian dari kekuasaan beliau." Kata Riza. Naava menaikkan salah satu alisnya dengan sedikit bingung di raut wajahnya.


"Jika kami menikah itu sudah jelas kan? Tapi kenapa kalian...." Kata Naava terpotong seolah menyadari sesuatu.


"Beralinasi, ya? Agar kalian bebas bergerak di Panthera. Jadi begitu. Baiklah." Kata Naava.


"Kami juga mendengar Tuan kami berada di sini selama 4 tahun ini. Bisakah kami bertemu dengan beliau?" Tanya Jenghis. Seketika raut wajah Naava nampak seperti merasa bersalah. Aku mulai curiga dan tidak dapat menahan amarahku.

__ADS_1


"Mengenai itu... " Sebelum Neema menyelesaikan kalimatnya.


"Dimana kau menyembunyikan beliau?" Tanyaku dengan ketus. Dengan cepat Riza menahanku agar tidak menyerangnya lagi.


"Gen di culik oleh dua orang wanita tepatnya pagi ini. Kami saat ini melakukan pencarian sesegera mungkin tapi kami masih belum mendapatkan laporan apapun dari tim pencarian dan tim pelacak kami. " Jelas Neema. Aslinya aku semakin marah dengan pihak Panthera. Tapi mengingat mereka adalah aset untuk Tuan Gen maka aku menahannya. Dan juga, terdapat sesuatu yang membuat kami teringat.


"Wanita dengan rambut biru tua panjang dan yang satunya berambut hitam? Bagaimana bisa?" Tanyaku.


"Bagaimana kalian bisa tahu?" Tanya Neema.


"Riza tidak sengaja melihat mereka ketika mengintai Istana ini. Tepatnya ketika ada serangan Ifrit." Jawabku.


"Tapi anehnya, aku tidak melihatnya membawa seseorang baik itu di gendongannya maupun dimana pun. Mereka hanya berdua. Dan bagaimana Tuan Gen bisa diculik?! Padahal tuan Gen..." Kata Riza.


Dengan perlahan, Neema menjelaskan kondisi Tuan Gen selama 4 tahun terakhir. Aku bahkan sampai berlutut mendengarnya karena kedua kaki yang tiba-tiba melemas, air mataku berlinangan tanpa kusadari ketika mendengar penjelasannya. Tuan Gen mengalami koma yang diakibatkan trauma akan rasa sakit yang berlebihan dan diluar batas normal, beliau juga kehilangan tangan kanannya, beliau juga hanya berkata "Aaa", duduk, tidur, dan makan. Sekarang aku paham kenapa Tuan Gen tidak kunjung kembali saat itu. Jadi itu alasan kenapa beliau ada di Panthera. Aku justru seharusnya berterima kasih karena sudah merawat beliau selama 4 tahun ini.


"Baiklah... untuk saat ini... " Kataku terbata-bata menahan isak tangis.


"Aku tahu, ini salahku karena lengah. " Kata Naava juga dengan berlinangan air mata. Wajahnya di penuhi rasa takut, kecewa, dan menyesal. Dan aku tidak bisa menyalahkannya.


Tiba-tiba terdengar suara semacam sinyal dari gelang milik Neema. Neema pun segera memproyeksikan dengan hologram raksasa supaya kami bisa melihatnya.


"Sesuatu telah memasuki atmosfer Panthera. Ada sekitar 3....tidak 7 benda asing yang jatuh ke arah Panthera." Beberapa detik setelah Neema memberi tahu. Suara ledakan terdengar begitu keras dan dahsyat. Kami pun segera berlari ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah benda asing menabrak kubah pelindung Panthera lah yang menyebabkan bunyi ledakan tersebut. Tapi kubah pelindung Panthera dapat menahannya.


"Astaga, entah kenapa aku mulai suka tempat ini." gumamku.


"Jangan senang dulu. Masih ada 6 benda asing yang mendarat di luar kubah." Kata Jenghis.

__ADS_1


6 benda asing itu mendarat dengan sangat keras dan kencang seperti bintang jatuh sehingga membuat daerah sekitar menjadi hancur dan dilahap api. Getaran dari 6 benda asing itu membuat gempa bumi yang cukup keras.


"Ayolah! 4 tahun yang lalu bukit bergeser sekarang 6 monumen kuno yang jatuh dari langit. Mau berapa kali Panthera mengeluarkan dana untuk perbaikan?!! " Keluh Naava.


"Evakuasi warga untuk pergi ke ruang pengungsian dibawah bangunan istana segera!" Perintah Naava. Neema tanpa mempertanyakan pun segera mengirimkan perintah tersebut ke seluruh unit prajurit yang ada.


Di dekat pelindung aku melihat ada 3 orang yang berjalan ke arah pelindung. Aku tidak mengenali salah satu dari mereka tapi aku sangat tahu dengan yang satu yang berada di tengah dan juga orang di samping kirinya.


"Bukankah itu Regila?! Bukankah kau sudah membunuhnya? Tubuhnya berada di dalam perut Taro lo!" Protes Riza.


"Itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan orang yang berada ditengah." Kataku. Riza, Jenghis, Neema, dan Naava pun menaruh perhatian ke orang yang kumaksud.


"Bu-bu-bukankah itu?!!" Riza Terbata-bata.


"Istri pertama dari Tuan kami. Ratu Alice dari Dynasty Air Utara." Kataku.


"Kenapa dia berada di pihak Apocalypse?!" Kata Jenghis heran.


"Tuan tidak akan menyukainya jika beliau tahu ini." Kata Riza. Tiba-tiba suara Alice terdengar jelas di telinga kami.


"Untuk perwakilan Panthera, kami meminta kalian untuk membuka barriernya. Jika tidak maka darah penduduk kalian yang akan menjadi bayarannya." Kata Alice. Apa dia sudah gila?!! Sampai bergabung dengan musuh bebuyutan Tuan Gen hanya untuk menaklukan Panthera?!


"Dia hanya menggeretak?" Tanya Neema kepadaku.


"Tidak, mereka mungkin segan. Tapi tidak akan keberatan. Lebih baik kita siapkan pasukan untuk berjaga-jaga." Kataku.


"Untuk apa tepatnya?" Tanya Naava.


"Untuk berperang." Jawabku.

__ADS_1


__ADS_2