
"Oh..dia melihat kita tadi? Jadi nostalgia ya. Imutnya melihat adik kelas yang sedang jatuh cinta saat itu." Kata Alice.
"Kalau kau mengunci pintu tadi. Mungkin ini tidak akan terjadi. Kau tahu kan dia tipe pencemburu." Jelasku. Yah kami saat kami mesra, Yuna melihat kami.
" Hmm..... baiklah aku mengaku salah." Kata Alice. Aku pun beranjak meninggalkan ruangan Alice. Aku langsung mengenakan kembali pakaianku.
"Ingin mengejarnya?" Tanya Alice sebelum aku menutup pintu.
"Aku hanya ingin udara segar. Disini pengap." Jawabku singkat lalu menutup pintu kamar.
Aku langsung merasakan perubahannya. Selain rasa cemburunya yang luar biasa sama sepertinya, Dia juga mudah ditebak ketika sedang marah. Yuna pasti berada di taman kerajaan. Sama seperti dia kalau sedang marah padaku ataupun sedih. Jarak antara ruangan Alice dengan taman cukup dekat. Aku pun masuk ke dalam pekarangan taman. Tak heran dia begitu tenang di sini.
Tapi yang kulihat, Yuna sedang menduduki Kraven yang berada dibawahnya. Tombak teracungkan ke leher Kraven.
"Barusan marah denganku. Kau langsung menarik laki-laki lain. Secemburu itu kah kau dengan Alice?" Kataku bersedekap.
Yuna langsung melihatku dengan tatapan ketakutan. Kraven dengan cepat berubah menjadi wujud roh dan menghilang meninggalkan aku dan Yuna di taman.
"Te-tentu saja tidak.... Saya tidak cemburu sedikitpun. Maaf saat itu tidak mengetuk pintu. Aku hanya sedikit terkejut." Kata Yuna memalingkan wajahnya yang memerah.
Nih perempuan.....semabuk apa cintanya kepadaku sampai-sampai mengintip kamar pribadi suami-istri yang sedang berduaan?! Aku ingin marah, tapi tanpa alasan yang jelas aku memakluminya.
Kami pun saling diam di taman. Hanya ada suara angin yang meniup daun-daun dan bunga-bunga. Aku sesungguhnya juga bingung harus menanggapi perasaan Yuna dengan seperti apa? Yuna jelas-jelas menyukaiku.
"Kalau tuan ada perlu, seharusnya tuan tinggal memanggil saya saja. Tidak perlu mendatangi saya." Katanya.
Wah.... setelah kejadian tadi sempat-sempatnya ngelawak. Dari reaksimu tadi aku saja bingung menanggapinya harus seperti apa. Ini pertama kalinya aku mati kutu.
"Aku hanya ingin-....." Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Yuna sudah menyelakku. Sungguh wanita yang menyebalkan.
"Saya tahu. Anda mungkin tahu kalau ini akan terjadi. Mungkin saya saja yang belum bisa menerima keadaan saja. Saya pun juga bingung bagaimana menanggapi hubungan kita sekarang. Saya tidak membahas tentang kontrak Ousama dan Slave. Hubungan yang jauh lebih rumit dari itu. Saya juga paham posisi anda dengan Alice. Maka dari itu saya ingin meminta sesuatu yang sangat egois kepada anda?"
Aku jelas mati kutu jika sudah seperti ini. Aku bahkan tak mampu mengucap satu huruf pun dari alfabet dari A sampai Z.
__ADS_1
"Bolehkah.....saya....mencintai dan menyukai anda sebagai seorang wanita?" Kelopak bunga langsung berterbangan tertiup angin kutub yang dingin dan nyaman.
"Saya mungkin cemburuan, saya mungkin tidak pandai mengontrol emosi, saya mungkin-...." Sebelum kalimat itu selesai kupegang telapak tangannya. Aku bisa menebak Yuna langsung terkejut karena reaksiku. Yuna menghadapku secara perlahan. Mata kami pun bertemu.
"Iya memang begitulah dirimu." Kataku blak-blakan. Yuna menatapku dengan tatapan untuk orang yang ngajak berkelahi.
"Setidaknya sangkalah perkataan saya." Katanya.
"Makanya jangan sulit-sulit." Kataku.
"Aku jujur saja. Alasan kenapa aku tidak mau menatap matamu ketika pertama kali bertemu, Alasan kenapa aku berusaha mengusir mu dari awal adalah karena kau mengingatkanku kepada wanita yang sangat istimewa bagiku........... Aku jelas bukan membahas Alice. Kau sangat mirip dengan wanita itu. Karena itu aku bimbang, karena itu aku diam, karena itu aku mati kutu ketika di depanmu."
"Meskipun kau cemburuan itu tidak masalah, maskipun kau mudah terluka itu juga tidak masalah. Justru itulah yang membuatmu terlihat menarik." Kataku. Akhirnya secara tidak langsung aku menjawab perasaan Yuna.
Kami pun berciuman hingga terjatuh. Yuna berada di atasku. Jika aku bukan Undead aku pasti sudah meleleh menjadi bubur. Sudah lama aku tidak merasakannya.
"Saya akan menanggapi jawaban tuan adalah "iya"" Kata Yuna mengelus-elus rambutku. Dari wajahnya terpancar wajah kebahagian.
Keesokan harinya aku sudah memulai menduduki kursi hakim dan singgsana. Administrasi kerajaan sangat mudah sekali dikerjakan seperti PR anak SD. Saat waktu senggang aku bertemu Alice. Dia sedang di gazebo taman belakang kerajaan.
"Kau cukup nakal juga ya. Setelah berhasil merayu 2 wanita. Kau juga mengambil mahkotanya dalam waktu 1 hari." Alice berkata sarkas kepadaku. Tatapannya seperti mencoba menggodaku.
"Kau memujiku?" Tanyaku singkat.
"Tentu saja. Aku memujimu. Bagaimana? Lancar?" Tanya Alice.
"Aku tidak menyangka kau tipe orang yang akan menanyakan hubungan in......" Kataku.
"Bukan itu, manis! Maskudku pemburuan anggota Apocalypse?" Tanyanya.
Lah,salah siapa yang ngubah topik pembicaraan secepat itu? Terus nih perempuan tahu darimana kalau aku bermesraan denga Yuna kalau enggak dari ngintip?! Level kecemburuan mereka sama cuma beda kategori.
"Sejauh ini baru Bad Hero saja. Setahuku di kerajaan Blizzard hanya ada Jester si Badut." Jawabku.
__ADS_1
Alice tiba-tiba menjadi murung dan sedih.
"Kau tidak perlu sejauh itu demi menebus kesalahanmu. Kenapa kau masih memaksakan dirimu?" Tanya Alice air matanya mulai menetes.
"Kemungkinan besar kita para pemain TSO terjebak adalah kejahatan dan teror dari Apocalypse." Jawabku.
"Pihak developer menginginkan ini, Genta!" Tangis Alice pun pecah.
"Aku melakukan ini bukan karena asumsi itu. Aku hanya ingin merasakan kepuasan dengan menghancurkan apa yang kubangun dengan susah payah. Meskipun itu harus mengotori tanganku sendiri. Sama seperti dia yang hanya untuk melindungiku dan mencintaiku. Setidaknya aku hanya punya ambisi itu saat ini." Jawabku.
"Meskipun juga akan berujung dengan neraka kedengkian orang-orang terhadapmu?" Tanyanya. Alice pun memelukku dengan erat-erat.
"Ya." Jawabku singkat.
"Meskipun kau tahan akan semua itu. Orang-orang yang peduli terhadapmu tidak akan tahan melihatmu seperti itu......" Kata Alice tersiak.
Aku bukan pahlawan, aku bukan orang yang baik, aku bukan orang yang bisa dipercaya. Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari yang namanya kesalahan. Karena itu aku tidak akan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Apapun hasilnya, apapun caranya selama itu memuaskan hatiku maka itu sudah cukup. Itulah yang namanya ego manusia.
Keesokan harinya pada tengah malam aku bersiap untuk memburu Jester, sendirian. Shasa mengetahui tujuanku. Dia membuntutiku sejak aku mempersiapkan pemburuan ku.
"Yang Mulia ingin kemana selarut ini? Bukankah semua pekerjaan kerajaan sudah anda kerjakan?" Kata Shasa muncul dari depanku. Seorang Assassin memang hebat.
"Kau cukup setia juga dengan ratu lamamu. Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu jika kau menghalangiku. Meskipun Alice yang memerintah mu untuk melakukan itu." Ancamku.
"Justru sebaliknya. Aku disini ingin membantu anda Yang Mulia." Katanya.
"Dasar wanita pendendam. Aku lumayan suka. Tapi aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam urusan pribadiku." Kataku berjalan melewati Shasa.
"Aku membantu anda tidak lain hanya untuk membalaskan dendam Clove. Aku tidak peduli aku tewas di saat pembalasan dendam ini. Aku akan bertanggung jawab atas diriku sendiri. Jadi tolong Yang Mulia! Tolong biarkan saya ikut." Katanya sampai bertekuk lutut dihadapanku.
Wanita ini sudah tertelan dengan balas dendam terlalu dalam. Aku tidak bisa membantunya.
"Lakukan sesukamu." Jawabku.
__ADS_1