Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Roda Dharma


__ADS_3

(Sudut pandang : Naava)


Kami akhirnya sampai di unit kesehatan. Unit kesehatan tidak kalah asri dan indah dari taman istana. Banyak sekali tanaman sulur yang menghiasi pagar dan atap, terdapat air mancur yang dimana airnya juga bisa diminum dan sangat memuaskan dahaga. Meja-meja berbentuk kubus putih dan kursi-kursi berbentuk tabung tersusun rapi dengan lukisan-lukisan kuno berwarna emas yang menghiasi setiap permukaannya, terdapat banyak dokter dan tabib-tabib yang sedang menguji obat herbal terbaru di sudut-sudut ruangan.


Di unit kesehatan juga menjadi tempat penelitian dan pengembangbiakan tanaman-tanaman obat. Tanaman-tanaman herbal tersebut ditempatkan dibalik tabir transparan tertata secara rapi dengan skat berupa tembok berwarna putih dan diletakkan di sisi ruangan. Tepat dipojok paling kiri aku melihat sosok yang sangat kukenal yang sedang mengenakan pakaian seperti ilmuan. Dia kemudian mencopot kacamatanya dan membungkuk hormat dengan gaya yang begitu dibuat-buat kepadaku.


"My koningin." (Ratuku.) Kata orang itu sambil membungkuk hormat. Kujitak kepalanya untuk membuatnya berhenti membungkuk. Kami pun tertawa bersama-sama.


"Hentikan....hentikan." Kataku. Kami pun melakukan tos layaknya sahabat yang sangat akrab. Dia adalah adik perempuanku bernama Neema. Dia tidak tertarik dengan politik dan tahta kerajaan tapi dia cukup pintar untuk mengetahui pemerintahan dan politik. Neema sangat suka akan perkembangan teknologi dan juga pengobatan sehingga ayahku memberikan jabatan kepala unit kesehatan dan teknologi diumur 11 tahun karena saking jeniusnya Neema. Bahkan para ilmuwan dan dokter juga sangat menghormatinya.


"Jadi, pemeriksaan rutinan lagi? Untuk raja kita yang imut ini?" Tanya Neema.


"Ya, begitulah." Kataku bersandar di dekat meja. Aku sempat melihat beberapa cetakan biru di atasnya. Sebuah replika tangan buatan.


"Hei.....Kau ingin membuatkan tangan baru untuk Gen?" Tanyaku.


"Agghh!!! Dimana kau menemukannya?!" Neema tampak panik setelah rahasia cetakan birunya kuungkap, seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan ompolnya.


Neema langsung menyaut semua cetakan birunya dan menyimpannya di meja pribadinya. Aku sempat terkekeh melihat kelakuan adikku yang tidak bisa menyimpan rahasia ataupun kejutan untukku.


Neema menghembuskan napas berat.


"Sebenarnya aku ingin memberitahumu ketika dia benar-benar sudah normal kembali sebagai hadiah atas kesembuhannya. Tapi karena aku terlalu sibuk mengurus dan memantau kemajuan Teknologi dan pengobatan aku sampai lupa kalau data cetakan biru itu belum aku bereskan." Kata Neema dengan nada menyesal yang dibuat-buat. Aku tidak bisa menyalahkannya. Karena Neema lah Panthera menjadi semakin lebih baik. Dia selalu membuat penemuan baru, datang ke berbagai distrik untuk memantau perkembangan teknologi yang dia sebar ke berbagai tempat, mengadakan rapat, dan membuat anggaran. Tapi aku bersyukur Neema menyukai kesibukan.


"Tak apa. Anggap saja aku tidak melihat apapun tadi." Kataku. Kami berjalan menuju sebuah lab khusus dimana lab itu digunakan hanya khusus untuk Gen. Aku yang menyuruh Neema untuk membuatnya. Kugendong Gen dari kursi melayang ke atas ranjang untuk melakukan scanning full body terlebih dahulu.


Neema kemudian mengotak-atik komputer untuk mengecek hasil scaning.


"Hmm......tekanan darah : normal, lengan kanan yang terpotong : tidak ada infeksi, organ perut : normal, reaksi pupil mata terhadap cahaya : normal. Semuanya normal kak, secara kondisi fisik. Tapi secara mental masih saja hancur." Kata Neema. Ya, laporan yang sama hasilnya di setiap pengecekan.


"Jadi begitu." Kataku dengan sedikit kecewa. Tidak ada perkembangan.


"Tapi dia belum bisa melakukan apapun kan? Setidaknya suplai tubuhnya dengan vitamin dan protein yang cukup untuk membantu kondisi mentalnya tetap stabil." Neema memberikan kepadaku makanan suplemen untuk Gen.

__ADS_1


"Terima kasih Neema." Aku mendekati Gen dan memeluknya. Kugendong dia kembali ke kursi melayangnya.


"Tunggu sebentar kak. Aku ingin bertanya, apakah pria itu pupil matanya memang seperti itu?" Tanya Neema.


"Apa maksudmu?" Tanyaku tidak paham.


"Aku baru menyadarinya. Kalau ada sebuah aliran manna yang begitu deras yang mengaliri matanya sehingga mengakibatkan pupil matanya berubah."


"Tidak, ketika pertama kali bertemu pupil matanya tidak membentuk roda darma seperti ini. Lebih seperti mata kucing yang berwarna merah." Jawabku. Neema kemudian membuka kembali dokumen-dokumen di computernya. Karena aku penasaran aku dan Gen mendekati layar computernya. Dari abjad A-Z tidak ditemukan satu pun gejala yang serupa yang dialami oleh Gen.


"Data tidak tersedia. Gejala ini jelas sangat langka sampai-sampai computerku tidak memiliki datanya. Bisa jadi gejala ini dialami 1 : 100 juta dari semua orang yang ada di dunia ini." Kata Neema.


"Apakah akan berarti buruk?" Tanyaku khawatir.


"Entahlah. Tapi ini akan menjadi PR yang menantang bagiku. Tidak ada gejala dan penyakit yang tidak kuketahui. Aku akan memastikan untuk membongkar gejala mata anak ini." Kata Neema dengan begitu bersemangat.


...****************...


Dilembah kuil Izanami.


Kami bersyukur memiliki rekan yang bisa menjadi tunggangan sehingga mobilitas kami cukup lancar. Riza lah yang menjadi tunggangan kami. Kami masih mengintai dari atas untuk memastikan apakah tidak ada bahaya di lembah kuil Izanami.


Sudah 30 menit mengawasi dari atas kami pun memutuskan untuk mendarat. Ternyata benar-benar diluar nalar. Daerah sekitar kuil benar-benar berantakan dan hancur. Kraven dan tuan Gen benar-benar bertarung setelah aku diteleport paksa ke Kepulauan Assassin.


"Ini benar-benar luar biasa." Mori sampai kesulitan mencari kosa kata yang bagus untuk apa yang dia lihat.


"Memang seharusnya begitu. Apalagi ini pertarungan antara slave dengan OVERLORD." Yukki pun memeriksa aliran air yang seperti anak sungai.


Aku berjalan mendekati Kuil Izanami. Kuil milik Bibiku. Patungnya juga cukup tinggi bisa dihitung sekitar 50 meter. Aku penasaran berapa lama waktu pembuatan patung ini? Dan sejak kapan bibi memiliki wajah menyeramkan seperti itu?! Wajahnya sangat cantik dan memukau. Mungkin karena entitasnya sebagai Ratu Iblis pertama yang membuatnya didesain seperti ini.


"Yuna, kau mau kemana?" tanya Riza yang mengetahui bahwa kaki tinggal beberapa meter menuju tangga kuil.


"Aku ingin mengecek apa yang ada di dalamnya." Kataku memasuki mulut pintu kuil.

__ADS_1


Didalam hanya diterangi oleh cahaya lilin. Didalam kuil hanya terdapat 4 tiang penyangga dengan gambar-gambar kuno berwarna hijau giok. Tepat diujung tengah kuil terdapat patung Ratu iblis Izanami dan Izanagi yang berdampingan. Jika dilihat dari kilauan permukaan kedua patung itu sepertinya patung itu terbuat dari emas. kutepuk tanganku dengan lembut untuk berdoa.


"salam bibi, ayah. Bantu aku dalam membantu Tuan Gen." doaku dalam hati. Aku segera keluar dari kuil dan berkumpul bersama yang lain.


"Bagaimana? Ada petunjuk?" Tanyaku.


"Ada. tapi hanya itu hanya genangan darah yang sudah kering. Disana." Kata Shizuka menunjuk ke arah belakangnya. Tenzin mengendus-endus bau darah tersebut.


"Ini milik paduka." Katanya dengan yakin.


"Bisakah kau pandu kami?" Tanyaku.


"Hmm...ini akan cukup sulit. Tapi saya akan lakukan yang terbaik." Tanpa peringatan. Tiba-tiba muncul lingkaran sihir berwarna ungu tepat dipijakan kami. Lingkaran sihir itu tiba-tiba bersinar terang.


Ledakan dahsyat terjadi. Tapi kami berhasil selamat dari ledakan itu.


"Astaga, aku meleset." Kata suara wanita yang tepat didepan kami. Shizuka segera berubah menjadi monster kuda, Mori mengaktifkan armor Hanumannya, Shizuku juga segera mengeluarkan reptil albino miliknya.


"Tak kusangka kalian akan selama ini untuk mencari Valon." Kata wanita itu. Kami hanya bisa melihat siluetnya karena asap bekas ledakan tadi masih mengepul tebal. Yukki mengibaskan pedangnya sehingga asap pun menghilang.


Seorang wanita berambut cokelat gelap dengan topi penyihir dan berpakaian seksi dari abad pertengahan yang membawa buku aneh berdiri di depan kami.


"Benar-benar membosankan." Kata wanita itu dengan berkacak pinggang.


"Kalau tidak salah kakakku menyebutmu Regila." Kata Yukki.


"Kau anggota Apocalypse?" Tanyaku.


"Ah, tepat sekali. Kalian gadis yang cukup pintar. Aku yakin Valon pasti melatih kalian supaya menjadi peliharaan yang layaknya untuknya." Kata wanita itu. Semuanya menggeram tidak suka termasuk aku.


"Dengan mengirim kepala kalian ke Panthera pasti akan membuat Valon keluar dari Panthera dengan sendirinya. Aku tidak sabar akan seperti apa ekspresinya." Kata wanita itu kegirangan.


"Ide yang bagus. Tapi jangan kau kira bisa mendapatkan kepala kami dengan mudah." Kutarik pedang dan tombakku untuk masing-masing tanganku.

__ADS_1


__ADS_2