
Sudah sekian lama aku tidak merasakan kemarahan dan kekesalan seperti ini. Aku sangat ingin terjun ke bawah sana untuk membunuh mereka secara langsung. Tapi aku ingin mengetes beberapa koleksi baruku.
"Chary, Scylla." Ku perintahkan Charybdis dan Scylla untuk keluar dari bayanganku.
Mereka berdua muncul di depanku dengan posisi berlutut memberi hormat.
"Lakukan apapun yang kalian suka kepada mereka berempat. Tapi jangan hancurkan tubuh mereka. Aku perlu memberikan santunan ramah kepada Poseidon menggunakan mayat mereka." Ujarku dingin.
"Sesuai keinginan anda, tuanku." Ujar mereka berdua bersamaan.
Luka bekas tombak trisula yang ada di dada ibu Miyuki telah sembuh kembali. Padahal aku belum sempat menyembuhkannya baik itu dengan potion ataupun dengan kristal healing.
Ibu Miyuki mencoba untuk bangkit. Aku membantu untuk memapahnya.
"Aku baik-baik saja. Aku senang kau marah untukku nak." Dahi kami pun bersentuhan. Rasanya sangat menenangkan. Diam-diam kubuka status milik Ibu Miyuki. Ternyata ibu Miyuki memiliki beberapa status yang menarik. Salah satunya adalah kemampuan regenerasi dari iblis Ifrit. Jadi monster besar yang ibu Miyuki gunakan bentuknya sebelumnya adalah Ifrit....
"Meskipun kau sedingin dan sekejam ayahmu, setidaknya ada beberapa sifat yang kau bawa dari kami. Terutama dari ibu yang mengandungmu." Kata Miyuki dengan bangga mengusap rambutku dengan lembut.
"Oh iya, wajahnya sangat mirip ya dengan Emiya. Aku baru sadar. Kalau dilihat sekilas tidak terlalu terlihat tapi jika diperhatikan kau sangat mirip dengannya." Kata ibu Hisao.
"Itu wajar bukan? Aku adalah anaknya. Dan juga anak dari kalian juga." Ucapku dengan perasaan senang.
Aku kembali menatap ke arah Amphitrite
"Untuk saat ini aku ingin kalian berdua untuk beristirahat. Serahkan para duyung ini kepadaku." Kataku berjalan mendekati tebing.
"Hati-hati nak." pinta ibu Miyuki. Kujawab dengan anggukan mantap ku.
__ADS_1
Aku, Chary, dan Scylla berteleport menggunakan bayangan menuju ke atas permukaan air laut. Kami bisa berdiri di atas permukaan air berkat skill Charybdis dan Scylla yang juga sama-sama bisa berdiri di atas air. Aku pun membuka console dan tidak sengaja menemukan skill yang unik pada mataku ini.
Walaupun levelnya masih rendah tapi ketika membaca data informasinya terdengar sangat Over Power. Hmm... tidak ada salahnya untuk mencobanya.
"Perubahan rencana. Selain Amphitrite kalian boleh menghadapinya. Dia milikku. Pisahkan mereka." Seketika Rhodes, Triton, dan Benthesikime ditarik ke dalam laut dengan paksa. Mungkin Scylla dan Charybdis menggunakan tentakel mereka untuk menarik mereka ke dalam laut.
Wajah Amphitrite seketika berkerut mengetahui tidak ada satupun anaknya yang bersamanya.
"Kau apakan mereka?" Tanya Amphitrite dengan nada tinggi.
"Entahlah. Siapa yang peduli. Daripada mengkhawatirkan anak-anakmu sebaiknya kau khawatirkan dirimu dahulu, nimfa laut." Ku ganti pisau badikku menjadi keris. Mata kami pun bertemu.
Amphitrite memacu kuda Hippocampus yang ia tunggangi untuk melaju. Tapi entah kenapa sebelum sampai Amphitrite dan kudanya seperti terpeleset atau tersandung sehingga terguling-guling di permukaan air laut dengan sangat kencang.
Tubuh Amphitrite terguling dan berhenti tepat di depanku dengan posisi mengambang di atas permukaan laut. Wajah Amphitrite begitu ketakutan seolah kehilangan harapan. Pupil matanya bergetar, mulutnya bergetar hebat dan hampir tidak bisa berucap sedikitpun.
Kuangkat tubuh Amphitrite dengan menarik salah satu tali bagian pundak gaun biru nya. Bahkan tubuhnya terkulai lemas tidak bisa bereaksi.
Tiba-tiba salah satu shadow army ku keluar dan mencengkram leher Amphitrite dari belakang untuk mengangkatnya.
"Terima kasih, Serena." Yap, yang membantuku adalah Serena. Karena setahuku hanya dia satu-satunya yang rela untuk kujadikan Shadow Army-ku. Mungkin karena itu dia bisa bergerak sebelumku perintah.
"Ku-.... ku-.... ku!.... kumohon..... ja...ngan.....!" Ucap Amphitrite dengan sangat terbata-bata. Sepertinya masih belum cukup kuat skill ku yang ini.
Salah satu skill bawaan dari mataku. Mata Dharma.
Dharmacakra kalau tidak salah melambangkan ajaran kebenaran (dharma) dari Buddha Gautama, jalan yang menuntun kepada Nirvana, sejak zaman Buddhisme awal.
__ADS_1
Saat ini jalur di mata Dharma ku masih berjumlah 1 pasang. Dan jumlah paling tinggi nya adalah 4 pasang.
jalur adalah cabang yang terdapat di pinggiran roda dharma menandakan kemampuan seorang Buddhis untuk menyerap semua ajaran Buddha melalui konsentrasi dan meditasi yang terdiri dari Kedelapan jalan kebenaran yaitu adalah pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencarian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.
Dan salah satu kemampuan yang barusan kupraktekkan kepada Amphitrite adalah salah satu efek berlawanan dari "perbuatan benar" yang ada di 8 jalan kebenaran.
Cara kerja simpelnya seperti ini :
Amphitrite mencoba menyerangku, menyerangku adalah salah satu perbuatan yang salah dan tidak dibenarkan dari sudut pandangku. Dengan menggunakan kemampuan dari mata Dharma, aku membuatnya melakukan perbuatan yang benar sehingga daripada menyerang dan menyakitiku dia Amphitrite lebih memilih menjatuhkan dirinya sehingga dirinya yang terjatuh dan memilih diam.
Kemampuan ini bahkan jauh lebih mengerikan dari skill pasif Aura keputusasaan yang sudah berlevel tinggi. Hukum-hukum dalam fisika seolah runtuh jika aku menggunakan mata ini. Benar-benar kemampuan yang mengerikan.
"Kenapa kau ini? Kau meminta pengampunan? Ini yang terjadi jika kau menantang orang yang salah. Status kalian sebagai dewa membutakan kalian sehingga kalian bersifat congkak dan akan berakhir dengan kehancuran diri kalian sendiri." Ujarku membantah permintaan Amphitrite untuk mengampuninya.
".... Ja... ngan...!" Pinta Amphitrite dengan matanya sudah berlinangan air mata.
Kutusukkan kerisku secara perlahan ke ulu hati Amphitrite. Amphitrite dengan kesakitan mencoba menjerit tapi karena dia terlalu lemah untuk melawan kemampuan mata Dharma ku maka Amphitrite cuma bisa mengeluarkan suara mendecit seperti tikus.
Darah keemasan mulai berlinangan dari dadanya. Darah dari para dewa-dewi Yunani, Darah Ichor.
Amphitrite pun tewas. Matanya terbuka lebar seperti melotot. Dari salah satu sudut mulutnya terdapat beberapa tetesan darah Ichor-nya.
Level ku tanpa kusadari meningkat hingga level 118. Aku masih belum tahu apa penyebabnya aku bisa melebihi kapasitas dari level maksimal tapi ini justru membuatku bersemangat. Berarti ada level yang selama ini belum pernah ku capai.
Skill baru ada yang terbuka lagi. Gila memang. Biasanya di sebuah cerita tokoh utama harus latihan keras untuk bisa menembus batasan mereka, Ya itu kalau tokoh utama.
Kekuatan dan skillku meningkat drastis hanya dengan menambah jumlah pengalaman dan korban peperangan dan pertempuranku. Dan siapa saja yang berhasil ku taklukan dan kukendalikan, kekuatan mereka menjadi milikku juga. Benar-benar cara peningkatan dari seorang yang memiliki peran antagonis.
__ADS_1
"Sepertinya aku berhasil mendapatkan skill dari Naava kali ini. Ternyata level skillnya melebihi Yuna dan Alice." Gumamku dengan senang.
Aku pun mengekstrak jiwa Amphitrite menggunakan kekuatan necromancy milik Naava sehingga membuatnya menjadi entitas Divine Army.