Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Perencanaan Invasi


__ADS_3

Pihak developer sungguh cerdik dan licik. Mereka menghilangkan jejak kami para pemain yang terjebak di game TSO sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Dengan mengirim tubuh kami juga ke dalam game juga. Tapi dengan apa? Apakah perangkat kerasnya? Jika dipikir lebih jauh maka tidak akan habisnya. Tapi itu juga menjadi keuntunganku tersendiri.


Dengan terbawanya tubuh pemain ke dalam game maka tidak akan yang menemukan mayatnya jika pemain tersebut mati karena kehabisan HP.


"Meskipun begitu, kita tidak perlu khawatir dengan tubuh asli kita. Akan merepotkan jika tubuh dan pikiran kita berada di tempat yang berbeda." Kata Alice.


"Yah, dengan begini. Aku bisa memastikan mereka benar-benar mati." Kumunculkan Shadow Bad Hero dan Jester. Mereka membungkuk dihadapanku.


"Oh iya aku hampir lupa menanyakan ini. Apakah ini skill barumu yang kau buat dari item cheat : Big Bang? Setahuku tidak ada skill untuk membangkitkan mayat menjadi pasukan atau sekutu." Tanya Alice penasaran. Dia menatap lamat-lamat Jester dan Bad Hero.


"Aku juga tidak tahu. Karena skill ini tiba-tiba saja ada dilayar console." Kataku membuka jendela menu.


Alice bingung melihatku seperti orang yang terkena penyakit katarak.


"Apa yang kau lakukan? skill menatap yang baru juga." Kata Alice menaikkan satu Alisnya.


"Jangan bodoh. Aku sedang membuka jendela menu dengan pikiranku." Jawabku. masih melihat-lihat dan mengotak-atik jendela menuku.


Alice tahu aku tidak bertindak bodoh. Telunjuk tangan kanannya menggeser sesuatu secara vertikal di udara kosong. Console dan jendela menu pun keluar. Sama seperti ketika kami bermain sebelum terjebak di game. Aku bahkan sempat terdiam.


"Kenapa hanya aku?" Tanyaku sedikit kesal.


Alice juga tidak tahu harus berkata apa. Ini di luar perkiraan kami. Tapi tidak ada untungnya juga kalau aku kesal. Entah itu baik atau tidak selama aku bisa membunuh seluruh anggota Apocalypse maka aku tidak mempedulikan apapun lagi.

__ADS_1


1 bulan telah berlalu. Selama sebulan itu aku masih belum menemukan anggota Apocalypse yang lain. Jika begini terus tidak akan ada kemajuan. Aku sudah mengirim semua Slave dan mata-mata terbaikku untuk mencari keberadaan mereka. Jika dilihat dari keadaannya sudah jelas mereka sekarang lebih sulit untuk dilacak. Apa lagi 2 anggota Apocalypse sudah terbunuh di tanganku, jelas itu membuat mereka lebih berhati-hati lagi.


Setelah mengurus seluruh administrasi, laporan-laporan, dan beberapa keluhan yang ada di kerajaan kusempatkan untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku dan catatan lama. Kubaca beberapa buku yang berkaitan dengan jenis Magic Skill, Material Art, dan lain-lain yang bisa digunakan untuk menemukan mereka. Dan hasilnya nihil. Di semua buku perpustakaan hanya menjelaskan secara rinci setidaknya Magic Skill tingkat 3. Dan Magic Skill tingkat 3 jika dibandingkan dengan sistem leveling TSO hanya berlevel sekitar 20-35.


Magic Skill dan Material Art di TSO juga di kelompokkan sesuai tingkatannya. Dari yang paling rendah yaitu tingkat 1 hingga paling tinggi yaitu tingkat 7. Dan ras manusia di dunia ini paling jauh hanya bisa mencapai tingkat 3. Cukup rendah jika di dalam game TSO.


Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan metode lain. Kubuka dokumen negara yang mana hanya pihak kerajaan saja yang boleh membacanya. Ada laporan eksternal dan internal. Kubuka dulu laporan eksternal. Sesuai dengan peta yang ada TSO, yang membedakan hanyalah keberadaan negara-negara dan kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh peta. Di TSO jarang ada pemain yang mau membuat kerajaan. Meskipun memiliki kekuatan militer yang sangat besar tapi pengetahuan mereka tentang bernegara dan kemampuan akademik mereka haruslah tinggi.


Walaupun aslinya mudah seperti mengerjakan PR anak SD. Kuperiksa semuanya tanpa ada yang kulewatkan. Setelah membaca laporan dan berkas-berkas selama 3 jam akhirnya aku menemukan peluang besar.


Kepulauan Assassin. Di pimpin oleh seorang wanita yang berkedudukan paling tinggi dan paling berkuasa di sana dengan gelar yang mereka sebut Grand Master . Pemimpin mereka bernama Rin. Konon dia pernah membantai seluruh pasukan Kerajaan Pantera yang berada di bawah kekaisaran tanah sendirian ketika melakukan ekspedisi tanpa izin dari para Assassin. Pasukan assassin juga tidak kalah luar biasa. Mereka bahkan membunuh para petinggi dan pejabat bahkan bangsawan yang memiliki tingkat keamanan yang sangat berbahaya tanpa diketahui. Bahkan beritanya mereka aksi mereka baru diketahui setelah 10 tahun semenjak pembunuhan. Jika aku berhasil membuat mereka tunduk kepadaku maka akan lebih mudah untuk melacak para anggota Apocalypse.


Tapi tidak ada catatan atau berkas mengenai letak Kepulauan Assassin. Mereka begitu ketat dalam pemeriksaan di dalam pulau, itu berlaku untuk para turis, para musafir yang sekedar mampir untuk beristirahat, dan para pedagang.


"Hassan." Kataku.


"Iya, tuan?" Jawab Hassan yang segera berteleport ke depanku dengan berlutut.


"Aku punya misi untukmu." Kulempar satu lembar kertas ke arah Hassan. Hassan pun menangkapnya.


"Ini misi yang cocok untukmu. Cari tahu apa saja tentang Kepulauan Assassin. Tak perlu laporan tertulis. Berikan saja melalui pesan sambungan empati." Perintahku.


"Di mengerti tuanku." Jawab Hassan.

__ADS_1


"Jika diperlukan untuk perang besar-besaran. Maka bawa Jenghis Khan. Wanita itu sudah gatal menunggu perintah untuk berperang. Pergilah." Kataku. Entah atas dasar apa pemanggilan Jenghis Khan sebagai kelas Chariot memiliki jenis kelamin wanita. Wanita berwajah seperti orang Korea dengan rambut pirang cerah panjang dan sedikit bergelombang, bermata orange cerah, mengenakan pakaian terusan berwarna putih dan biru laut, dan menggunakan pelindung dan sarung tangan dan pelindung kaki, memakai lempengan baja berwarna perak cerah berhiaskan tulisan-tulisan mongolia, dan selalu membawa pedang yang bilah pedangnya berbentuk seperti stick es krim dan tombak panjang.


Bahkan saat aku berkedip Hassan sudah tidak ada di depanku. Slave kelas assassin memang luar biasa. Nah saatnya menunggu di dekat pelabuhan. Aku tidak perlu melibatkan para prajurit untuk ekspedisi. Karena itu aku pergi sendiri. Kubuka pintu kantorku. Aku menemukan Riza yang sedang bersandar di tembok dan bersedekap melipat tangan.


Kulewati Riza tanpa mempedulikannya. " Kau mana tuan?" Tanya Riza. Jika aku anak biasa aku jelas sudah ketakutan karena nadanya yang sangat tajam dan dingin.


Sepertinya percuma untuk berbohong kepadanya. Dia pasti mendengar pembicaraanku dengan Hassan.


"Kepulauan Assassin." Jawabku singkat. Aku pun melanjutkan jalanku.


"Aku ikut." Kata Riza menyusulku.


"Aku memintamu untuk melindungi Alice dan Yuna. Mereka sedang mengandung." Kataku.


"Ap-...a?" Tanya Riza terkejut. Seperti mendengar suara guntur di siang hari yang cerah.


"Kenapa?" Tanyaku dengan polosnya. Mungkin seperti bocah yang tidak berdosa. Wajah Riza sangat memerah. Entah karena marah atau karena terkejut. Aku tidak mengharap keduanya.


Riza pun menunduk dengan wajahnya yang masih memerah. Ok, aku tidak menunggu reaksinya atau apapun. Aku langsung melanjutkan jalanku. Tapi diluar perkiraanku, Riza memelukku dari belakang. Meskipun tidak sehangat Yuna tapi aku tetap saja terkejut.


"Tuan jika kita berhasil kembali. Aku menginginkan hadiah." Katanya membisik. Seharusnya aku tidak memberi tahunya.


"Aku tidak menjanjikannya. Tapi akan kuusahakan." Jawabku singkat, setidaknya itu jawaban netral untuk mengulur waktu.

__ADS_1


__ADS_2