Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Perubahan Rencana yang Mendadak


__ADS_3

(Sudut pandang : Yuna)


Aku begitu terkejut begitu mendengar suara ledakan dari arah istana. Ketika aku melihat istana dari balkon aku begitu terkejut dengan apa yang telah kulihat.


"I-I-Ifrit?! .... " Gumamku melihat sesosok makhluk raksasa berapi yang menghancurkan kubah atap istana. Tapi penampakan itu tidak bertahan lama. Wujud Ifrit pun menghilang. Orang-orang di radius sekitar 1-3 km dari istana berhamburan berlari dengan rasa takut dan ngeri mereka. Akses untuk masuk ke dalam istana pun juga ditutup dan langsung dijaga ketat oleh para penjaga dan prajurit.


Ini buruk.


Riza, apa saja yang kau lihat dari atas? Bagaimana situasinya? Kataku melalui telepati. Sebenarnya aku cukup panik melihat kejadian ini tapi aku mencoba untuk tetap tenang.


Seperti yang bisa kau lihat dari bawah. Kemunculan Ifrit dan kekacauan dalam radius 1-4 km. Dan..... Kata Riza terputus melalui telepati.


Dan?.... Ulangku menunggu kepastian dari Riza.


Aku melihat ada 2 wanita yang berlari menuju ke daerah belakang istana. Keduanya berambut panjang. Yang satu berwarna hitam mengenakan pakaian putih dan yang satunya berambut biru tua. Apa yang harus kulakukan?


Kata Riza. 2 Wanita? Apakah salah satu dari mereka adalah wanita yang menjadi tunangan Tuan Gen? Tunggu kalau begitu seharusnya mereka bersama. Riza bilang 2 wanita.


Untuk saat ini kita kembali dulu ke penginapan. Beritahu yang lain. kataku melalui telepati. Aku pun segera masuk ke dalam kamar dan meninggalkan balkon. Kuambil 1 gulungan rune yang ada di kantong pinggangku. Kulemparkan rune ke udara. Rune tersebut terbuka dan terbakar oleh api biru terang.


"magic skill : Open mind." Setelah merapal kalimat tersebut. Sambungan empatiku tersambung ke 5 tetua dan juga Yukki.


Kita mundur dari operasi ini. Segeralah kembali ke penginapan dan pastikan untuk tidak terlihat.


Kataku kepada mereka.


Baik. Kata mereka bersamaan. Setelah menunggu sekitar 30 menit semua orang sudah berkumpul ke penginapan. Tapi aku melihat wajah Tenzin yang tampak pucat seperti baru saja melihat hantu yang mengerikan. Aku ingin menanyakan alasannya tapi aku mengurungkan niatku. Untuk saat ini prioritas kami adalah membawa tuan kami pulang.


Sebelum kami mengadakan rapat strategi, Shizuka memasang magic skill untuk meredam suara kami sehingga suara kami tidak akan keluar ataupun tembus. Shizuka juga menempelkan beberapa rune didekat pintu untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


"Setidaknya dengan ini percakapan kita tidak akan terdengar dari luar." Kata Shizuka.


"Kenapa Nyonya menarik kami kembali? Kami bahkan belum sempat menemukan apapun. " Tanya Mori.


"Aku tahu kalian memang memiliki sumpah setia kalian atas nama kebanggaan Assassin kalian kepada Tuan Gen. Tapi aku tidak mau mengambil resiko atas hidup kalian. Sebelum Tuan Gen belum mengizinkan kalian mati maka aku juga tidak. Jenghis, bagaimana? " Jawabku.


"Jika di radius 1-2 km hampir tidak ada penjaga. Para pasukan Panthera sepertinya meletakkan Baraknya di dalam istana." Kata Jenghis.


"Itu akan mempersulit kita jika ketahuan." Kata Shizuku.


"Senjata yang mereka bawa juga sangat canggih. Di ruang pos latihan menembak milik mereka aku sempat melihat kalau senjata jarak jauh mereka dapat mengeluarkan dampak setara dengan magic skill tingkat 3." Kata Nishimiya.


"Tidak hanya itu. Di dalam istana juga seperti labirin. Penuh dengan jalan persimpangan. Dan hampir tidak ada jendela. Aku cukup beruntung mendapati pintu yang kosong tanpa penjagaan." Kata Mori.


"Dimana jalur pintu itu?" tanyaku.


"Kau bisa menggunakan ini untuk menunjukkannya." Kata Shizuku. Sebuah kertas perkamen dilempar oleh Shizuku. Itu adalah perkamen denah jalur istana.


"Lebih baik kita punya daripada tidak." Balas Shizuku. Mori segera menandai setiap pintu yang jarang ada penjaga yang lewat menggunakan tanda silang.


"Penjaga juga berkeliling disetiap lorong. Jarak mereka adalah setiap 45 detik. Cukup sempit untuk memasuki celahnya." Kata Yukki.


Semakin lama mendengar laporan mereka semakin membuat peluang kami semakin sempit. Aku tidak akan heran jika kerajaan ini menutup diri dari dunia luar. Mereka bisa saja meratakan Satu Dynasty Angin jika mereka menginginkannya. Aku heran saja kenapa mereka belum melakukannya. Tapi jika Tuan Gen menikahi Ratu negeri ini maka kerajaan ini akan menjadi miliknya. Itu akan menguntungkan.


Tiba-tiba semua pemikiranku menjadi teralihkan karena Tenzin lagi. Dia sebenarnya kenapa sih?!!


"Tenzin, apakah kau ada sesuatu untuk dikatakan?" Tanyaku. Tapi Tenzin tidak merespon perkataanku.


"Woi, nyonya berbicara padamu, jawablah." Kata Mori menepuk bahu Tenzin. Dengan cepat Tenzin menangkap tangan Mori dan mendorongnya hingga jatuh. Satu tangannya bersiap untuk mencakar wajah Mori. Semua orang segera mengambil posisi untuk melindungiku. Tapi Mori memiliki badan yang besar sehingga dengan cepat membanting Tenzin ke arah dinding.

__ADS_1


"Kau ini kenapa?!" Bentak Mori. Tenzin pun terbangun dari halusinasinya.


"Apa... apa yang terjadi?" Tanyanya dengan keadaan linglung.


"Kau menyerangku, tolol! Kau ini sebenarnya kenapa?!!" Kata Mori menampar Tenzin. Tapi kesannya seperti tamparan orang jahil. Tapi Tenzin seketika mengeluarkan wajah ketakutan lagi seolah dia baru saja mengingat sesuatu yang buruk.


"Kau pasti melihat Ifrit saat itu." Kata Riza mencoba memastikannya. Semua tetua begitu terkejut.


"Kau sampai sejauh itu?! Itu daerah paling dalam lo dalam istana." kata Yukki.


"Benar-benar mengerikan, Mori! Dan wanita itu menatapku dengan matanya yang berkilat seperti jilatan api." Kata Tenzin mencengkram kerah baju Mori.


"Wanita? Seperti apa penampilannya?" Tanya Riza penasaran.


"Berambut hitam panjang sama seperti Nyonya Yuna. mengenakan mantel berwarna putih. Matanya berwarna merah seperti api." Kata Tenzin mencoba untuk duduk. Aku pun menyuruh semua orang untuk kembali ke posisi semula.


"Wanita itu memiliki aura yang sama seperti paduka Gen. Penuh dengan hawa membunuh, kelam, bahkan aku bisa mencium bau darah dan mayat hangus dari wanita itu." Jelas Tenzin.


"Ciri-cirinya sama dengan salah satu wanita yang kulihat berlari tadi. Kupikir mereka berusaha untuk lari dari Ifrit. Mereka orang yang sama." Kata Riza.


"Kalau begitu kita ubah rencananya. Aku, Riza, dan Jenghis yang akan memasuki istana malam ini." Kataku. Para tetua Assassin menunjukkan ekspresi ingin menolak rencanaku.


"Kami adalah slave. Kami bisa merubah wujud kami menjadi tak kasat mata yaitu wujud roh sehingga masalah bersembunyi tidak masalah bagi kami. Dan juga kekuatan slave memiliki standar yang tinggi dibandingkan para manusia pada umumnya." Jelasku.


"Baiklah. Menyusup dengan jumlah orang sedikit mengurangi resiko ketahuan." Kata Yukki.


"Aku akan menemui ratu itu juga secara terang-terangan." Kataku. Kali ini Riza dan Jenghis ikut terkejut.


"Hah?! Kenapa?!! Bukankah kita kesini untuk menjemput Tuan Gen dari mereka?!! Kau yakin laki-laki yang kau cintai dinikahi oleh wanita selain dirimu?!!" Kata Riza Mengguncang-guncang bahuku.

__ADS_1


"Aku juga tidak menyukainya. Tapi aku memikirkan sisi lainnya. Jika Tuan Gen menikahinya maka kerajaan ini akan menjadi milik beliau. Itu akan memperkuat Kerajaan Tuan Gen juga. Mereka punya senjata, teknologi, dan SDA dan SDM yang melimpah dan berkualitas. Demi Tuan Gen meskipun bertentangan dengan keinginanku maka tetap akan kulakukan. " Kataku. Tekadku sudah bulat. Lagipula kami sendiri disini. Jika sampai terjadi konflik maka kesempatan untuk mendapat Panthera akan hilang. Seketika perkataanku seolah masuk akal. Tapi Riza melihatku dengan wajah yang masih sama terkejutnya. Riza kemudian menghembuskan napas beratnya.


"Kalau kau sampai bilang begitu maka baiklah." Kata Riza.


__ADS_2