Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Penyihir Wanita Pantai


__ADS_3

(Sudut Pandang : Yuna)


Jadi begitu rupanya, Pusaka milik Hassan. Sebagai organisasi pembunuh bayaran pertama di muka bumi ini sudah jelas nama organisasi itu sangat terkenal. Pihak tentara salib bahkan para kabalis menyewa jasa mereka demi melakukan pembunuhan. Assassin. Nama yang berasal dari dari pendiri benteng Alamut di Irak, Hassan Bin Sabbah yang berarti pengikut Hassan (Hasyasyin). Mereka tidak memiliki senjata atau pusaka magis sebagai pusaka legenda mereka, tapi cukup dengan nama mereka sebagai pusaka legenda mereka yaitu Assassin.


"Jadi begitu. Namamu dan nama organisasimu sendirilah yang menjadi pusakamu, Hassan." Kataku mencoba untuk memahami pusaka Hassan.


"Itu benar tuan putri. Kamilah pahlawan dalam bayangan, Assassin." Kata salah satu Hassan yang berada di kananku. Tiba-tiba di langit terdapat banyak kilauan ada dilangit. Itu jelas bukan bintang. Bagaimana bisa bintang bisa menjadi lebih terang dan mendekat seiring berjalannya waktu. Dengan cepat hujan panah menghujani para Assassin di sekitar kami. Ledakan terjadi secara bertubi-tubi ketika anak-anak panah membentur apa saja yang dia tabrak.


"Kenapa kau lama sekali, Kraven?!" Omel Alice melihat ke arah kanan kami. Semua anak panah itu jelas milik Kraven. Kraven tiba-tiba muncul di sisi kanan kami.


"Maaf, ibu ratu. Rune milik musuh begitu sulit dihancurkan. Perlu sekitar 15 menit agar bisa membuat lubang yang cukup besar untuk melubangi rune ini." Jelas Kraven. Kepulan asap pun mengepung kami. Aku masih saja bingung. Darimana Kraven mendapatkan anak panah sebanyak itu? Dia bahkan tidak membawa satu anak panah pun.


"Kau adalah slave class : Shooter kan? Cobalah untuk mendeteksi Ousama dari Hassan atau pembuat rune ini." Perintah Alice kepada Kraven.


"Dia lumayan hebat. Meskipun aku tahu dia ada disini tapi aku tidak bisa menemukan tempat dia bersembunyi. Lawan kita kali ini cukup tangguh." Kata Kraven. Dia menepuk kedua telapak tangannya dan membenturkan kedua telapak tangannya ke tanah. Dengan perlahan ada sekitar 4-10 pedang yang keluar dari tanah.


"Aku tidak pernah tahu kalau ada seorang alchemist yang bisa menggunakan busur panah." Kataku heran milhat proses pembuatan pedang milik Kraven yang menggunakan transmutasi pada tanah dan mengubahnya menjadi pedang. Kraven hanya tersenyum kepadaku.

__ADS_1


Kepulan asap masih sangatlah tebal mengelilingi kami. Para Assassin mengambil kondisi dan kesempatan ini untuk menyerang kami. Ku lempar 2 tombak yang ada di kedua tanganku ke arah 2 assassin yang menyerang langsung dari depanku. Kedua tombak itu menembus dada mereka. Kuambil tumpukan pedang Kraven yang masih tertancap di tanah. Kuambil satu pedang lalu menebas udara kosong sehingga kepulan asap yang menghalangi pandangan kami tersapu habis. Kutarik pedang satu lagi menggunakan tangan kiriku.


Para Assassin mulai menyerbu kami ketika asap sudah menghilang. Kualirkan Manna di pedang tangan kiriku. Kutebas 4 orang assassin yang berada didepanku. Kraven memanah mereka para assassin satu persatu menggunakan tumpukan pedangnya yang tersisa untuk di jadikan anak panahnya. Alice juga menembakkan berbagai macam senjata dari portal Treasure Of Babylon.


Sudah sekitar 30 menit kami bertahan melawan ribuan Assassin dan mereka sama sekali tidak berkurang. Siapapun Ousama mereka, pasti memiliki pasok Manna yang dia memiliki sangatlah banyak. Jika kami tidak segera menemukannya maka kami akan dikalahkan lebih dulu oleh para Assassin.


"Tak kusangka kalau pertarungan jangka panjang akan membuatku kehabisan Manna. Maaf Gen mengambil manna-mu terlalu banyak." Alice mulai ambruk. Dia menopang tubuhnya dengan salah satu lututnya. Apa yang terjadi? Tidak mungkin Tuan Gen berhenti mensuplai Manna-nya. Atau jangan-jangan.... Tuan Gen kehabisan Manna?! Itu mustahil! Seorang OVERLORD memiliki Pasok Manna diluar akal dan nalar. Karena itu mereka bisa melanggar peraturan, salah satunya adalah jumlah slave yang mereka miliki.


Keadaan jauh lebih gawat dari yang kukira. Karena aku seorang reinkarnasi dari roh legenda berupa roh seorang dewi, maka aku masih bisa menggunakan dan menghasilkan Manna-ku sendiri dari tubuh fana ini. Tapi kenapa Kraven tidak ikut kehabisan Manna seperti Alice? Apa karena dia slave yang berasal dari masa depan?


"Jadi kau yang mengambil kontrak Assassin?" Tanyaku. Wanita itu tersenyum.


"Oh, aku kira dia slave liar tanpa Ousama. Ternyata ada pemiliknya. Maafkan kakak ya." Jawabnya. Tapi bagaimana bisa?! Slave bisa berpindah tuan dengan sepihak? Seharusnya itu tidak bisa di lakukan.


"Untuk selera Kaisar Blizzard yang baru, kalian cukup imut juga. Bagaimana kalau kalian menemani kakak cantik ini untuk menari sebentar?" Dari cara menyebut dirinya sendiri dengan panggilan "kakak" sudah membuat telingaku geli.


"Apa tujuanmu melakukan serangan?" Tanyaku. Bukannya menjawab dengan serius tapi wanita ini malah tersenyum geli.

__ADS_1


"Mungkin karena ingin menyatakan perang, iseng, atau bahkan perdamaian." Wajahnya mengeluarkan tampang serius. Dia mengangkat mengangkat plat putih tersebut kemudian menekannya menggunakan ibu jarinya.


Kraven dengan cepat membidik wanita tersebut dengan anak panah pedangnya. Tapi anak panahnya meledak sebelum mencapai wanita tersebut. Sebuah lingkaran sihir berwarna ungu melindunginya dari panah tersebut. Dia bahkan tidak perlu merapal mantra seperti Tuan Gen untuk menggunakan sihir pertahanan.


Kraven menembakkan lebih banyak anak panah lagi. Kumanfaatkan setiap tembakkan anak panahnya untuk mendekati wanita tersebut. Wanita itu mengetuk 2 kali plat putih itu lagi. Tiba-tiba semua anak panah Kraven lenyap dan kembali mengarah kepadaku. Ku tangkis semuanya dengan sekali tebas. Ternyata dia juga menguasai banyak tipe sihir. Menguasai banyak sihir dan mengaktifkannya tanpa rapalan sudah termasuk bakat yang langka. Tapi beruntungnya aku sudah cukup dekat untuk menyerangnya. Kami pun bertarung di atas atap. Ketika aku ingin menebasnya dia menekan plat putih itu lagi dan dengan cepat bergerak sangat cepat dan menghindari seranganku. Bahkan tidak cuma satu seranganku,tapi serangan bertubi-tubi dariku. Kraven menembakkan tombak kali ini ke arahnya.


"Kau lumayan juga." Puji wanita itu dengan santainya. Kulempar pedangku kearah tombak yang meleset milik Kraven dan masih meluncur di udara. Pedangku pun terbentur. Benturan pedangku membuat tombak itu berputar dan berubah arah ke arah wanita itu. Tombak itu mengirisnya di bagian pinggang kirinya. Wanita ini sangat kuat dan tangguh.


"Tak kusangka kau akan melempar pedangmu demi menjadi media pantulan tombak tadi untuk menyerang kakak. Sangat kreatif." Katanya mengetuk plat putih itu lagi. Lukanya sembuh secara instan. Sepertinya dia bukan Magic Caster sembarangan. Dia bahkan hampir menguasai seluruh jenis Magic Skill. Dan aku juga belum tahu sampai Magic Skill tingkat berapa yang sudah dia kuasai.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku.


"Olivia Marrison. Aku dikirim kemari untuk menghabisi kalian semua." Kata Olivia dengan mantap.



(Ilustrasi : Olivia Marison)

__ADS_1


__ADS_2