
(Sudut pandang : Yuna)
Kami pun menunggu hingga tengah malam untuk menemui sang Ratu Panthera. Alasan kami memilih malam hari adalah agar kami bisa berbicara empat mata dengannya tanpa adanya pengaruh dari pihak ketiga.
Ketika kami sudah sampai dilorong para penjaga hanya memiliki jeda 45 detik sebelum penjaga berikutnya lewat tapi karena kami menggunakan wujud roh maka kami bisa melewatinya dengan sangat mudah. Itu juga salah satu alasan kenapa aku tidak mengajak para tetua untuk ikut menyusup.
Lagi pula jika kami ketahuan maka ribuan tentara akan mengepung kami dari segala sisi layaknya lebah-lebah yang marah dan itu akan sangat merepotkan. Kami sudah masuk ke dalam istana begitu dalam. Tapi kami belum menemukan ruangan dari sang Ratu. Seperti kata para tetua Assassin, tempat ini seperti labirin. Tapi aku merasakan sensasi yang berbeda ketika masuk ke dalam istana ini.
Banyaknya gambar-gambar kuno dan juga tulisan kuno di setiap layar hologram yang di tampilkan di dinding. Tanpa sengaja kami menemukan langit-langit yang hancur dan hangus. Tempat dimana Ifrit keluar. Sebelum kami sampai ke tempat itu banyak sekali garis-garis pembatas dengan bertuliskan "Hati-hati! Tempat distorsi manna. Selain yang diizinkan dilarang melewati garis."
"Aku mencium banyak sekali mayat-mayat dan abu dari manusia yang terbakar disini. Benar-benar membuatku bernostalgia." Kata Riza memeriksa abu di tepi lantai.
"Disaat kau menjadi tunggangan Son Goku huh? Sudah berapa millenium berlalu dan kau masih mengingatnya." Kataku melihat ke arah langit-langit istana yang berlubang.
"Begitulah." Kata Riza.
" Yuna, aku sudah menemukannya. Tepat di lorong sebelah kanan. Salah satu pasukanku melaporkan ada 1 wanita yang berbaring di ruangan bagian kiri." Kata Jenghis. Akhirnya kami menemukannya. Kami pun segera kembali ke wujud roh dan menuju ke arah yang Jenghis maksud. Kami pun sampai di depan daun pintu. Tidak ada penjaga.
"Ini aneh. Kenapa tidak ada penjaga? Jika ini ruangan sang Ratu seharusnya tidak mungkin di biarkan tidak terjaga seperti ini." Kataku curiga.
"Kau benar. Tapi pasukanku bilang hanya disini satu-satunya ruangan yang berisi wanita. Sisanya adalah prajurit yang berpatroli dan yang sedang dalam giliran tidur." Kata Jenghis. Kurasa kita tidak ada pilihan lain selain memasuki ruangan ini untuk memastikannya.
Kami pun menembus pintu dengan mudah. Tidak ada penghalang seperti rune. Di dalam ruang begitu redup. Hanya ada sebuah lentera aneh yang menerangi ruangan dengan cahaya redup berwarna oranye.
Kami pun kembali ke wujud fisik kami. Tepat setelah kami menggunakan fisik kami puluhan anak panah melesat ke arah kami secara bersamaan. Kugunakan manna ku untuk membuat tudung sehingga semua anak panah tersebut hancur karena menghantam pelindungku terlalu keras. Tiba-tiba cahaya diatas kami muncul seperti matahari kecil.
Wanita yang berbaring di ranjang kami pun dengan cepat mengarahkan senapannya ke arah kami. Jenghis dan Riza terkejut seolah wanita yang didepan mereka itu bukan wanita yang kita cari.
Jenghis dengan gerakan yang sangat cepat menebas senapan yang ada di tangan wanita itu hingga senapan tersebut tertancap di dinding.
"Kau bukan Naava. Dimana dia?" Kata Jenghis menodongkan pedangnya ke arah batang leher wanita tersebut. Dengan cepat ku singkirkan pedang Jenghis dari wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Kata Jenghis dengan heran kepadaku.
"Ingat tujuan kita kemari. Kita kemari untuk berbicara kepada Ratu Panthera." Kataku. Jenghis seolah mendapatkan kesadarannya kembali dan menyarungkan pedangnya kembali.
"Siapa kalian? Sama dengannya aku juga tidak menyangka kalau kalian yang akan menyusup kemari. Apakah kalian rekan dari dua wanita itu?" Kata wanita yang berada diatas ranjang tersebut dengan heran. Sekarang giliran Riza yang terkejut.
"Wanita berambut hitam panjang dan wanita berambut biru tua panjang?" Celetuk Riza. Wanita yang ada diatas ranjang pun menatap Riza dengan cukup lama. Tapi aku berusaha memegangi Riza agar tidak gegabah dan langsung menyerang wanita yang menatapnya dengan curiga.
__ADS_1
"Jadi begitu ya. Dilihat dari reaksinya kalian bahkan juga terkejut. Sepertinya kalian tidak ada hubungannya. Lalu apa mau kalian kemari? Apa yang kalian inginkan dari kakakku?" Kata wanita tersebut.
"Kami ingin berbicara dengan Ratu Panthera." Kataku baik-baik.
"Jika aku bilang tidak bisa? Bagaimana? Apakah kalian akan membunuhku?" Tanyanya. Aku sempat bingung untuk menjawabnya. Tapi demi mendapatkan negara ini maka aku mau tak mau harus mengatakannya.
"Tunangan dari kakakmu adalah ke-... ehem... Ousama kami." Seketika wanita yang ada di depan kami terkejut. Wanita itu pun mengambil kacamatanya seolah dia tidak bisa melihat kami dengan jelas. Setelah cukup lama menatap kami menggunakan kacamatanya wajahnya kembali tenang.
"Sepertinya kalian berkata jujur. Energi manna kalian memang sama dengan yang dimiliki oleh tunangan kakakku. Jadi kalian ingin bertemu dengan kakakku. Apakah untuk membunuhnya? " Katanya.
"Kau terlihat seperti orang pintar tapi kenapa kosa kata yang keluar darimu selalu kata " membunuh"? " Hardik Riza.
"Hey, Riza... " Kataku mencoba memperingati Riza. Ya ampun mulut pedasnya selalu saja berulah.
"Lah kalian sendiri saja wanita yang dimiliki tunangan kakakku. Kalian pasti kesal kan melihat laki-laki yang kalian layani malah bertunangan dengan wanita lain? Karena itu aku menggunakan kata-kata " membunuh"." Seketika kami bertiga mengeluarkan wajah merah.
"Bodoh, bukan begitu konsepnya!"
"Bodoh, bukan begitu konsepnya!"
"Bodoh, bukan begitu konsepnya!"
"Mulut mungkin bisa berbohong tapi hati tidak. Sampai sekarang pun aku juga tidak tahu alasan ilmiahnya. Tapi tetap tidak bisa." Kata Wanita itu. Riza hampir saja marah dan berucap pedas tapi dengan cepat kuinjak kakinya agar dia terfokus pada rasa sakitnya.
"Bolehkah kami tahu alasannya?" Tanyaku baik-baik.
"Bukannya aku tidak membolehkan. Tapi.... " katanya terhenti. Aku mungkin keterlaluan dalam bertanya terlalu jauh tapi wanita yang kami ajak bicara tidak merasa begitu.
"Ikut aku." Katanya. Dia mengambil mantel putih dengan motif garis-garis seperti corak khas Panthera dan beranjak dari ranjang menuju pintu keluar.
"Ayo." Kataku menyuruh Jenghis dan Riza untuk mengikutinya.
Kami bertiga berjalan mengeekori si wanita berkacamata itu.
"Kita mau kemana eh.... " Kata Jenghis terhenti.
"Oh iya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Neema, aku adik dari kak Naava." Kata Neema.
"Izinkan kami memperkenalkan diri juga. Aku Yuna, ini Jenghis, dan ini Riza." Kataku.
__ADS_1
"Kenapa kau dengan mudah mempercayai kami? Jika secara politik kami ini adalah mata-mata dari negara lain. Kau yakin percaya kepada kami sampai seperti ini? " Tanya Riza.
Neema kemudian memperlihatkan kami sesuatu dari plat putih yang ia bawa dari kamar tadi. plat putih itu memproyeksikan semacam gambar bergerak. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut tapi apa yang sedang dia perlihatkan kepada kami. Itu adalah kejadian dimana kami menyusup dan mengalahkan drone-drone perbatasan dan prajurit yang kami ancam untuk membuka gerbang.
"Ini pasti ulah kalian." Kata Neema. Tiba-tiba plat putih itu menganalisis wajahku dan mencocokkannya dengan wajahku saat aku di perbatasan.
"Sesuai." Kata notifikasi dari plat putih itu.
"Iya. Tapi kenapa?" Tanyaku.
"Tidak ada satupun yang terbunuh dari pihak kami. Dan meskipun aku sudah tahu dari kamera pengawas tapi laporan dari para penjaga pos di sana mengatakan kalau kekacauan itu berasal dari kesalahan teknis dari drone-drone di pos mereka. Dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa kalian kemari bukan untuk memerangi kami. Karena itu aku percaya kepada kalian. Aku yakin di penginapan yang kalian pesan masih ada rekan-rekan kalian yang menunggu disana." Jelas, Neema.
Mendengar penjelasan Naava membuatku semakin yakin bahwa keputusanku itu sudah tepat untuk tidak berkonflik dengan Panthera. Mereka pandai, mempunyai teknologi yang maju, dan bisa diajak untuk bicara.
"Pantas saja anggota kami tidak merasakan adanya rune." Kata Riza.
"Fungsinya sama seperti rune tapi ini lebih praktis dan tidak perlu membuang manna. Kita sampai." Kami berdiri didepan pintu raksasa dengan dijaga prajurit yang menggunakan perlengkapan yang sama seperti yang kami lawan di perbatasan.
"Putri Neema, mereka... " salah satu prajurit mengkhawatirkan dan curiga akan kehadiran kami.
"Mereka tamuku. Buka pintunya." Mendengar perkataan Neema, prajurit tersebut membukakan pintu raksasa didepan kami.
Kami pun masuk. Ruangannya benar-benar luas. Lebih luas dari kamarku yang ada di istana milik Alice. Di ujung terdapat ranjang yang lebarnya 5x7 meter yang ditiduri seorang wanita. Tepat ketika kami mendekat aku merasakan sesuatu yang menjengkelkan dari wanita tersebut.
"Neema, siapa me-....!!!" Wajah wanita yang ada diranjang itu tiba-tiba menegang melihatku seolah ingin mengajakku berkelahi.
Saking jengkelnya tanpa sadar aku menggunakan wujud Tsukuyomi ku dan memunculkan tombak di tangan kananku dan menyerangnya. Wanita itu juga sepertinya merasakan hal yang sama sepertiku. Dia mengepalkan tangannya dan muncul energi emas yang membentuk sarung tangan transparan dan menepis hukuman tombak ku dan menggunakan tinju satunya untuk mengarahkannya ke wajahku.
"BODOH!!! APA YANG KAU LAKUKAN DASAR DEWI TAK BERGUNA??!!! KITA SUDAH SEJAUH INI!!!" Hardik Riza. Jenghis hanya bisa pasrah dan tepuk jidat.
Seketika para prajurit Panthera mengepung kami dan menodongkan senjata-senjata mereka ke arah kami. Tapi Neema dengan tenang menyuruh mereka mundur. Dia tahu kalau kejadian ini diluar kendali mereka baik itu pihakku maupun pihak Panthera.
"Kakak juga! Mereka berniat berbicara dengan kakak bukan untuk bertarung! " Kata Neema mencoba menenangkan Naava.
"Apakah kita pernah bertemu?"
"Apakah kita pernah bertemu?"
kata kami secara bersamaan.
__ADS_1