
(4 tahun kemudian).
Sudut pandang : Naava.
Mahari mengetuk pintu kamarku. Aku pun segera membukakan pintu untuknya. Mahari membawa perlengkapan perawatan untuk Gen. Dia juga membawakannya makanan untuk sarapan kami.
"Bagaimana keadaannya, Yang Mulia?" Tanya Mahari meletakkan makanan dan alat perawatan untuk Gen di meja.
"Masih sama seperti kemarin tapi setidaknya tidak separah ketika Gen pertama kali tiba di Panthera." Kataku menggenggam lembut telapak tangan kiri Gen. Rambutnya menjadi hitam dari 2 tahun lalu, dia juga tidak bisa berbicara selain berkata "aaa", dan hanya bisa duduk dan tidur. Aku sangst bersyukur Gen masih bisa makan melalui mulut. Padahal kami sudah mengerahkan seluruh tenaga dan peralatan medis terbaik kami tapi kami belum bisa menyembuhkan Gen.
Apa yang dia lakukan sebenarnya di lembah Kuil Izanami?
Dan siapa yang bisa membuatnya menjadi seperti ini?
Ketika hari pertama Gen di Panthera dia sempat mengalami kejang-kejang dan hentakan beberapa kali. Bahkan beberapa dokter kami sempat terluka karena Gen yang tiba-tiba menyerang mereka seperti orang terkena gangguan mental. Setelah seminggu mencari penyakitnya kami akhirnya menemukan sesuatu. Gen mengalami depresi yang luar biasa dan trauma secara bersamaan hingga membuatnya koma. Karena itu Gen tidak bisa berbicara, berdiri, dan melakukan aktivitas fisik lainnya. Sampai saat ini kami juga belum menemukan obat untuknya.
__ADS_1
Setelah menyuapi Gen, sekarang giliranku untuk membasuh tubuhnya. Bisa dibilang mandi. Alasannya tidak langsung menggunakan air dari bak adalah ditakutkannya kalau Gen mengelami hentakan lagi.
Aku mulai melepas pakaian Gen dan memberikannya kepada Mahari untuk segera dicuci. Mahari pun segera keluar dari kamar untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Aku melihat banyak sekali corak tato di sekujur tubuh Gen ketika membasuh tubuhnya. Di punggungnya terdapat beberapa tato yang entah kenapa selalu menarik perhatianku. Tato bulan, Singa, monyet, rantai, prajurit perang, pembunuh senyap, busur panah, dan yang terakhir sekaligus yang sudah kabur adalah tato raksasa. Tato ini adalah segel-segel kontrak yang Gen dapat dari dia membuat kontrak dengan para slave.
Tato yang kabur itu adalah segel kontraknya dengan Gata yang bertarung hingga mati dengan slave milikku. Itu juga sama denganku dimana tato matahari di punggung telapak tanganku menjadi kabur karena kematian Karna.
Aku pun segera memakaikan Gen pakaian yang baru. Pakaiannya adalah pakaian adat Panthera yang biasa dipakai oleh penduduk biasa. Memakai kaus berwarna abu-abu gelap dengan syal tak berjahit, dan menggunakan bulu tebal dibalut kain menutupi lengan bawah, dan kedua kakinya. Menggunakan boot yang terbuat dari bulu dan kulit binatang. Rambut Gen juga menjadi lebih panjang sekarang seperti rambut singa jantan.
Aku pun menggendong Gen dan meletakkannya ke atas kursi roda melayang dan membawanya untuk pemeriksaan rutin.
"Ayo Gen kita pergi ke unit kesehatan untuk mengecek kesehatanmu." Aku mengelus rambut singa Gen. Aku tahu Gen tidak bisa merespon perkataanku tadi tapi aku masih percaya kalau dia akan kembali menjadi normal kembali.
"Ah, Putriku Yang Mulia Naava. Sedang mencarikan udara untuk tunangan anda?" Baru beberapa langkah aku mendekati guru Seka dia sudah mengetahui kalau aku berada dibelakangnya. Dia adalah orang pertama yang mencemooh Gen ketika aku mengumumkan pertunanganku dengannya. Karena itu aku membencinya.
"Iya. Apakah anda akan menghinanya lagi? Kalau iya kami akan mencari tempat lain." Guru Seka melihat Gen lamat-lamat dengan mata butanya. Ya, karena itu dia bisa mengetahuiku ketika aku ke taman ini. Guru Seka menggunakan pendengaran dan getaran dari tanah sebagai ganti penglihatannya. Aku pun bersiap mengeluarkan karambitku.
__ADS_1
"Apakah belum ada perkembangan?" Tanyanya. Aku sudah mengambil posisi bertarung. Meskipun dia adalah mentorku aku tidak akan takut mati jika demi melindungi Gen.
Tiba-tiba sebuah suara dentingan besi yang luar biasa kerasnya terdengar. Aku juga sempat melihat sebuah gelombang kejut diantara Gen dan Guru Seka. Seketika beberapa daun dan kelopak bunga terjatuh karena gelombang kejut itu.
"Apakah engkau melihatnya Naava?" Tanya Guru Seka. Seketika aku melihat roh gelap berzirah raksasa yang berdiri diantara Guru Seka dan Gen. Auranya begitu gelap dan penuh tekanan. Tiba-tiba roh hitam berzirah itu lenyap masuk ke dalam bayangan Gen.
"A-a-a-apa yang barusan anda lakukan Guru?!!!" Aku pun dengan cepat Meletakkan bilah karambitku di leher Guru Seka. Tapi guru Seka tidak menghiraukanku sedikitpun.
"Aku menggunakan talentku untuk menguji anak ini. Dan sekarang aku paham kenapa anda memilihnya sebagai tunangan." Kata Guru Seka kemudian berlutut ke arah Gen.
"Saya minta maaf jika saya sempat meragukan anda. Tapi sekarang aku bisa tenang dengan adanya anda sebagai tunangan Putri Naava." Kata Guru Seka dengan penuh penyesalan.
"Apa yang Guru katakan? Aku tidak mengerti?" Kataku begitu kebingungan.
"Aku awalnya sempat tidak suka dimana anda mengabarkan kalau anda memiliki tunangan dengan orang luar. Jadi sebagai gurumu aku selalu mengawasimu dari kejauhan agar anda tetap aman. Aku selalu melihat roh-roh gelap itu mengelilinginya dan disekitarmu. Karena itu aku tidak berani mengetesnya selama 4 tahun ini. Tapi hari ini akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetes apakah anak ini cocok menjadi tunangan atau bahkan memberikan penerus Panthera. Dan kini sudah terjawab. Aku awalnya melemparkan 2 pisau batin ke arahmu dan ke arahnya. Tapi siapa sangka dia masih bisa melindungimu dan dirinya sendiri bahkan dalam keadaan seperti itu. Jadi mohon maaf kalau selama ini saya berbuat tidak baik kepadanya." Jelas Guru Seka. Aku tahu alasannya dia melakukan semua itu adalah untuk melindungiku tapi aku bukanlah diriku yang dulu. Aku bukan lagi gadis kecil yang harus berlindung di balik punggung seseorang.
__ADS_1
"Anda juga sudah berubah Putri Naava. Lebih liar, lebih berpendirian, lebih dingin, bahkan kau tidak ragu mengacungkan senjata kepada gurumu ini. Dengan diri anda yang sekarang saya bisa melayani anda dan Rajamu ini dengan segenap jiwa ragaku." Kata Guru Seka. Aku pun menarik kembali kursi melayang Gen dan mendorongnya keluar dari taman. Tapi melihat Guru Seka masih berlutut aku setidaknya memberinya beberapa kata sebelum pergi ke unit kesehatan.
"Jika guru ingin membuktikan kesetiaan kepada Panthera, bukan....Maksudku kepada kami. Jangan hanya sekedar bersumpah. Itu tidak membuktikan apapun. Berikan aku sebuah bukti berupa tindakkan." Aku dan Gen pun meninggalkan Guru Seka dan menuju ke unit kesehatan.