
(Sudut pandang : Yuna)
Dengan bergegas ku lemparkan tombak ku seperti kincir untuk menyingkirkan Gog Magog yang menusukkan senjata-senjata mereka ke tubuh Olivia. Tubuh mereka pun terpotong seperti buah yang diiris. Tombak ku pun berputar kembali ke genggamanku.
Olivia ambruk ke tanah karena luka yang ia dapat juga sangat fatal. 2 pedang menancap di perut hingga tembus, dan satu tombak menmbus dada tengahnya, satu pedang menancap di bagian tulang belakangnya. Darah merah segar mengalir begitu deras dari sela-sela lukanya hingga membasahi pakaian tidak senonoh nya yang berwarna putih menjadi berwarna merah darah.
Kubuat perisai untuk melingkupi diriku dan Olivia sehingga para pasukan Gog Magog tidak ada yang bisa menyerang. Olivia benar-benar diujung tanduk. Meskipun kami baru bertemu dan menjalin kerja sama beberapa saat yang lalu tapi entah kenapa di dalam lubuk hatiku terdapat luka sayatan yang sangat dalam.
Aku berlutut di depan Olivia yang sedang sekarat.
"Maaf,..... a-.... aku....... mengacau." Kata Olivia dengan terbata-bata dan memuntahkan darah dari mulutnya.
Kulepaskan cadar putih yang menutupi separuh wajahku. Aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata dengan menggigit bibir bawah ku. Olivia sebenarnya tahu yang kurasakan saat ini tapi dia tidak ingin membuat lelucon disaat malaikat maut menarik roh dari jasadnya.
"Kau berpihak kepada tuan Gen.... Itu sudah bagus...... Kerjamu bagus." Kataku dengan suara parau. Tapi tak kusangka kalau Olivia yang bakal menangis duluan. Itu terlihat jelas ketika kedua matanya meneteskan air mata cukup deras. Aku segera memeluknya meskipun itu membuat gaun kayangan ku menjadi kotor karena darah Olivia.
"A-aku..... aku..... ingin..... pulang!.... Aku ingin.... bertemu dengan mereka!...... Anak-anak pantiku!..... Aku masih belum.... ingin.... mati!
.......... A-aku..... ma..... " Setelah itu Olivia tidak bersuara lagi. Bahkan malaikat mau tidak membiarkan Olivia menyelesaikan kalimat terakhirnya. Dunia serasa melambat diluar pelindungku. Kucabut setiap senjata yang menancap di tubuh Olivia dengan perlahan. Kututup kedua kelopak matanya yang terbelalak. Aku melihat ke arah sekitar pelindungku. Banyak sekali Gog Magog yang mencoba menghancurkan pelindungku menggunakan senjata mereka.
__ADS_1
Ku perluas pelindungku dengan tambahan gelombang kejut sehingga para Gog Magog yang ada didekat terpental dan menjauh. Aku mulai mengangkat tubuh Olivia yang kini sudah menjadi mayat dan menggendongnya. Kulihat ke arah Envy yang masih menggunakan bentuk Regila. Kutatap Envy dengan tatapan segalak-galak yang ku bisa.
Envy hanya membalas tatapan paling galak ku dengan senyum jahat dan liciknya. Dia tahu kalau ini pasti terjadi di pihak kami.
Aku pun meluncur terbang menuju barisan garis belakang dimana Alice dan Shizuka ditempatkan. Aku juga sempat melihat Naava yang sudah dirawat oleh Neema dan tim medisnya secara serius. Aku mendarat secara perlahan tepat di depan Alice. Mata Alice sempat terbuka lebar melihat kenyataan yang sedang ku gendong saat ini tapi wajahnya kembali tenang. Alice kemudian menatap wajahku yang dipenuhi rasa keputusasaan dan kebencian.
"Kau marah, Yuna?" Tanya Alice tapi dengan wajahnya yang serius. Tidak ada nada bercanda.
"Ya." Kujawab dengan sangat mantap. Itu memang benar. Aku benar-benar marah. Aku pun menoleh ke medan perang. Suara drone menembak secara bersamaan pun juga terdengar memekakan di telingaku. Meskipun aku sudah sering melihat banyak peperangan melalui ingatan dari Dewi Tsukuyomi tidak ada yang lebih mengerikan daripada ini.
"Bahkan ketika para dewata mencoba membunuh OVERLORD pertama Ryomen Sukuna saja tidak semeriah ini dulu." Kataku. Kuletakkan mayat Olivia di samping Shizuka yang masih membantu penyembuhan dan pemulihan Naava dengan sihir penyembuhan.
"Aku kira kau adalah wanita yang tidak berperasaan kepada mantan musuhnya sehingga meninggalkan mayatnya di tengah medan peperangan." Kata Alice mencoba untuk menghinaku.
"Dia sudah berpihak di pihak tuan Gen. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan kebaikan dan penghormatan dariku." Kataku. Jujur saja aku sedang tidak mood untuk membalas Alice dengan ejekan juga.
"Pasukan Panthera sudah mulai berkurang cukup banyak. Ada rencana?" Tanyaku menghilangkan seluruh luka lecetku dan bercak darah yang menempel di tubuhku. Ku pasang kembali cadar putihku untuk menutupi wajahku. Meskipun pasukan drone sudah menembaki mereka para Gog Magog sebelum mencapai barisan depan tapi tetap saja jumlah mereka tidak juga bertambah sedikit. Alice juga terpaksa berhenti menembakkan Babylon Treasure karena harus membantu merawat Naava yang sekarat.
Alice kemudian menoleh ke arah Neema dan memberi isyarat berupa anggukan. Neema pun juga setuju dan membalas isyarat Alice dengan anggukan juga.
__ADS_1
"Aan die hele voorhoede! Trek terug totdat dit reg voor die lyn van hommeltuie is." Ucap Neema memberi perintah kepada pasukannya menggunakan bahasa Panthera yang berarti (Kepada seluruh pasukan barisan depan! Mundur hingga tepat di barisan didepan barisan drone.)
Dengan segera banyak pasukan Panthera yang akhirnya berbondong-bondong dan kocar-kacir berlarian mundur. Sedikit sekali yang bisa selamat dari kejaran pasukan Gog Magog. Tapi aku tidak bisa menemukan rombongan dari tetua assassin mau pun para slave. Apakah mereka semua telah gugur atau masih bertarung di tempat lain? Aku harap mereka baik-baik saja atau setidaknya masih hidup.
Kali ini Alice menggunakan magic skill telepati nya untuk menghubungi seseorang dan aku tidak tahu siapa yang dia hubungi.
"Kiiro, perintahkan seluruh penyihir kerajaan untuk membuka portal tepat 50 meter didepanku. keluarkan 20.000 pasukan kemari. " Puluhan portal kemudian terbuka di depan kami.
"8.000 tentara penunggang serigala putih raksasa, 3.000 pasukan penyihir tipe bombardir, dan 9.000 tentara infantri. Semuanya berlevel diatas 70. Dan 2 slave yang sengaja kutinggal untuk berjaga-jaga di Ibukota Blizzard." Jelas Alice. 2 slave yang dimaksud adalah Toyotomi Hideyoshi dan Atalanta. Aku bahkan tidak menyangka kalau Alice punya rencana seperti ini. Bahkan para pasukan Panthera yang sudah berputus asa menjadi kembali bersemangat karena jumlah bala bantuan dua kali lipat dari total jumlah awal mereka.
"Lakukan, Atalanta!" Perintah Alice kepada Atalanta. Atalanta kemudian menarik tali busurnya yang awalnya kosong muncul percikan cahaya yang menyilaukan membentuk seperti busur panah walaupun samar.
"Catastrophe arrows!!!! " Setelah merapalnya, Atalanta melepaskan anak panahnya ke langit. Panah itu bisa melewati barrier karena Atalanta menggunakan kekuatan berkat dari para dewa Olympus seperti Apollo dan Artemis. Langit menjadi gelap dan mendung. Para Gog Magog menjadi berhenti menyerbu dan melihat ke atas mereka. Mereka yang memiliki senjata panah dan tombak segera melemparkan tombak dan anak-anak panah mereka ke langit.
Dengan secepat kilat, jutaan anak panah cahaya menghujani pasukan Gog Magog dengan sangat deras. Banyak sekali Gog Magog yang mati terkena serangan itu. Para pasukan Panthera pun bersorak dengan sangat bersemangat melihat pemandangan itu.
Setelah hujan panah cahaya itu reda, pasukan Gog Magog menjadi berkurang sangat banyak sehingga tersisa segelintir saja.
Alice kemudian menggunakan magic skill telepati nya.
__ADS_1
"Ini peluang terakhir kita. Siapapun yang mendengar ini maka terpilih dalam bagian rencanaku. Trobos seluruh pasukan Gog Magog di barisan depan dan hancurkan dinding Zulkarnaen! Itu satu-satunya cara agar Gog Magog berhenti bertambah banyak!" Kata Alice lewat telepati.