Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Pemburuan Pertama (Bagian II)


__ADS_3

Gata kemudian menghampiriku dengan wajah sedikit gusar.


"Kontrak kita tidak seperti ini!" Bentak Gata. Tentu saja dia marah karena Karna menjadi tidak bisa bertarung karena Ousama-nya, Naava menjadi sandera.


"Aku tahu itu. Aku harap kau bisa bersabar sampai aku selesai mengintrogasi-nya. Tapi aku akan menepati janjiku." Jelasku. Meskipun masih bersungut-sungut, Gata tidak ada pilihan lain selain menuruti perintahku.


"Baiklah." Gata akhirnya bersedekap dan menghilang ke wujud rohnya. Setelah itu Riza muncul dan memborgol tangan Karna dengan bola plasma yang terbuat dari air. Nishimiya mendekatiku untuk melapor.


"Kerusakan Medan penyergapan dan pertarungan tidak terlalu besar. Kami sudah membereskannya. Setiap saksi mata sudah kami tangani." Jelas Nishimiya. Aku pun mengangguk.


"Kerja bagus. Sisanya serahkan padaku. Berisitirahatlah, kita masih mengejar mata-mata yang lain. Dan mungkin akan lebih sulit dari ini. Jadi harap di persiapkan." Aku memberi mereka instruksi.


"Baik, tuan." Mereka semua langsung membungkuk hormat. Aku pun mengangguk. Aku pun membuka gerbang portal yang kugunakan untuk menyelamatkan Shasha dari efek racun yang dia terima ketika melindungiku. Di sana waktu tidak akan memberikan pengaruh apapun dan tidak akan ada orang bisa memasukinya. Sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan cara agar bisa menyelamatkan nyawa Shasa.


Yang memasuki gerbang itu hanya aku, Naava yang kugendong, Riza, dan juga Karna. Di dalam dimensi itu adalah gurun pasir ketika malam hari yang berisi pedang, dagger, tombak, kapak, zirah, semua item-item yang kumiliki semuanya terdapat di sini. Bahkan semua NPC-ku ada di sana sebagai penjaga tempat ini ada di gurun ini. Kuletakan Naava yang masih pingsan di tanah. Tubuhnya langsung dililiti rantai surgawi dan dihadapankan kepadaku. Aku pun berjalan mendekati salah satu pedang besar yang tertancap di sana dan terdapat seorang wanita tidak sadarkan diri yang bersandar di bilahnya. Iya, wanita itu adalah Shasa.


Aku mengusap pipinya yang lembut dan membenahi rambutnya yang berantakan tertiup angin gurun malam. "Aku berjanji akan menemukan cara agar kau bisa sembuh." Gumamku kemudian aku mencium pipinya lalu meninggalkannya.


"Ternyata kau orang yang sangat peduli. Aku sempat takjub melihatnya." Kata Karna.


"Dia adalah salah satu bawahanku yang berharga dan setia. Aku tidak ingin kehilangan


dirinya." Jawabku. Dan entah kenapa Riza memasang wajah jutek seperti itu setelah aku mengatakan hal itu. Aku hanya bisa menghela napas berat.


Aku kemudian mendatangi Naava yang terikat dengan rantai surgawi. Kutepuk pipinya beberapa kali agar dia bangun. Perlahan kedua matanya terbuka.

__ADS_1


"Bangun putri tidur. Kita masih belum selesai." Kataku memasukkan tanganku kedalam saku celana.


"Dimana kita?" Katanya dengan lemas.


"Itu tidak penting. Yang jelas kau tidak akan bisa pergi dari tempat ini." Kataku. Naava jelas tidak nyaman karena posisinya terikat dengan rantai surgawi. Tapi aku sedikit heran dengan reaksi rantai surgawi. Padahal aku tidak bermaksud mengencangkannya tapi kenapa Naava terikat begitu keras?


"Dengan kita yang berada di tempat ini tidak akan ada yang bisa mendengarkan percakapan kita. Jadi kau bisa berbicara sejujur-jujurnya di sini." Jelasku.


"Apa tujuanmu menyusup ke kepulauan Assassin jika tujuanmu bukan untuk mencuri informasi. Bisakah kau jawab?" Tanyaku.


"Jika aku tidak menjawabnya..." Tiba-tiba rantai surgawi yang mengikat dan meliliti tubuh Naava langsung mengencang seperti terlilit oleh ular anconda.


"Sudah kubilang agar jujur saja dan kusarankan untuk tidak melunjak atau mencoba berbohong. Rantai surgawi akan membuat tubuhmu seperti di remas hingga tulangmu hancur. Apa tujuanmu yang sebenarnya?" Ulangku. Naava sempat diam sebentar dan melihat ke arah langit. Aku bisa menebak kalau dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.


"Alasan kami menyusup ke kepulauan Assassin adalah karena kami sedang mengejar seseorang." Kata Naava. Rantai Surgawi tidak bereaksi sedikitpun. Dari cara bicara Naava, dia berusaha untuk tidak berbohong dan tidak menumpahkan semuanya. Sangat pintar.


"Seorang pembunuh bayaran." Jawab Naava.


"Apa saja yang kau ketahui tentang si "pembunuh bayaran" ini? Tanyaku.


"Dia seorang yang tidak pernah terlihat ketika membunuh targetnya. Alias seorang gunslinger. Dia seperti hantu yang bisa membunuh target tanpa diketahui oleh siapapun. Banyak negara, kerajaan, bahkan Dynasty yang membayar mahal kepadanya untuk membunuh orang yang mereka tuju." Jelas Naava. Dari ciri-cirinya aku jadi teringat dengan seseorang.


"Dan kau ditugaskan untuk menangkap atau membunuh si pembunuh bayaran itu?" Tanyaku memastikan.


"Iya, itu adalah tanggung jawabku." Jawab Naava singkat.

__ADS_1


"Sejauh ini aku memahami situasimu. Jadi apa alasanmu untuk beranggapan kalau kepulauan Assassin adalah tempat bersembunyinya si pembunuh bayaran itu?" Tanyaku.


"Dari informasi yang kudapat, kepulauan Assassin adalah tempat dimana rakyat-rakyatnya dilatih menjadi seorang pembunuh senyap yang siap dikirim ke berbagai tempat untuk melakukan pembunuhan. Jadi aku segera menuju ke kepulauan Assassin sebagai seorang migrasi atau suaka politik agar bisa mencari pembunuh bayaran tersebut." Jelasnya. Aku pun mulai memutar otakku kembali.


"Jadi kau berpikiran bahwa si pembunuh bayaran ini adalah seseorang yang dikirim dari kepulauan assassin." Melihat dari rangkaian kejadian semua ini sepertinya mulai menjadi masuk akal.


"Kau punya bukti kalau pembunuh bayaran itu berada di kepulauan?" Tanyaku.


"Tidak ada." Ucapnya. Aku pun menemukan ide yang cukup bagus dalam situasi seperti ini.


"Baiklah kita buat kesepakatan, Naava. Jika kau membantuku dalam menyelesaikan masalah internal yang ada di kepulauan assassin maka penyusupanmu ke wilayah ini akan kulupakan. Sebagai gantinya aku akan membantumu mencari pembunuh bayaran itu." Aku meminta pendapatnya. Naava nampaknya sedang menimbang-nimbang keputusannya. Kemudian dia melihat Karna.


"Kalau slave-mu bisa mengalahkan slave milikku maka aku akan menerima tawaranmu." Ternyata wanita ini pintar juga bernegosiasi.


"Tentu. Gata, kita penuhi kontrak kita disini. Jika kau ingin melakukan balas dendam lakukanlah disini." Dengan cepat Gata terteleport kemari.


"Akhirnya! Riza buka borgolnya! Akan kubunuh si brengsek ini menjadi dua." Gata langsung menerjang Karna yang baru saja di lepas borgolnya. Riza kemudian berjalan mendekatiku dengan wajah lesuh.


"Kenapa kau malah menerima tawarannya? Kenapa kalian para laki-laki selalu saja menggunakan cara kasar. Aku tidak mengerti." Riza mengeluh dan bersedekap.


"Kami laki-laki memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan masalah, Riza. Lagipula aku masih punya janji kepadanya." Jawabku.


"Kau yakin tidak menanyai identitasku?" Tanya Naava tiba-tiba ditengah aku menonton pertarungan Gata dengan Karna.


"Tidak, tidak apa-apa. Apakah kau ingin aku menanyakannya?" Naava hanya terdiam dengan wajah pucat pesu.

__ADS_1


"Dari ekspresimu saja aku sudah mengetahuinya. Sudahlah. Lagi pula kita sudah sepakat cuma untuk untuk kerja sama bukan membongkar identitas. Aku tahu kau sedang mencoba melindungi negaramu. Dan kau juga seorang wanita. Aku paling tidak tega terhadap seorang wanita. Itu saja."


Yah, walaupun aku sempat membunuh Nishimiya, Shizuka, dan Shizuku sih.


__ADS_2