
Jarak antara pantai dengan kerajaan kutub Utara sekitar 2 jam perjalanan jika ditempuh dengan jalan kaki. Beruntungnya, tidak ada badai salju untuk saat ini sehingga kami bisa sampai lebih cepat. Kami pun menggunakan pakaian musim dingin. Bukan untuk mencegah hipotermia, tapi untuk kamuflase dan berbaur dengan masyarakat.
Meskipun kami musafir, para prajurit penjaga gerbang tidak curiga sedikitpun dan membiarkan kami lewat. Mereka juga cukup ramah dalam menanyai kami.
"Kerajaan kutub Utara cukup damai bahkan terbilang terlalu damai. Bahkan aku ketakutan sendiri karena hawa membunuh di sini tidak ada sedikitpun." Kata Riza cemas.
Slave adalah alat perang dalam Perang Mitologi yang selalu cakap dalam hal berbau pertarungan bahkan pembunuhan. Hawa damai seperti justru membuat para Slave menjadi was-was dan kurang nyaman. Wanita itu tahu persis cara menangani dan menyikapi Perang Mitologi ini terutama dalam hal strategi.
"Kalian akan terbiasa nantinya. Justru jika terlalu tegang seperti itu malah membuat orang-orang menjadi takut dan mengundang perhatian. Santai saja." Kataku untuk menenangkan Riza.
"Sebaiknya kita segera mencari tempat istirahat. Berbicara di tempat ramai seperti ini membuat saya menjadi tidak nyaman." Kata Yuna melihat kesana kemari.
Kami pun memesan 1 kamar untuk 2 orang. Riza dan Gata lebih suka menjadi tidak terlihat atau dalam wujud roh. Kami pun meminta kamar terbaik dan VIP di penginapan
"Kamar anda di lantai 3." Kata penjaga penginapan dan memberikan kunci kamar. Harganya 3 koin emas untuk seminggu.
Ternyata tidak salah kami memilih kamar VIP. ruangannya cukup luas dan vasilitas nya cukup lengkap dan mewah. Yuna merebah ke kasur yang panjangnya hampir 2 meter. Orang yang baru sehat dari keracunan ternyata belum bisa fit sepenuhnya.
"Aku akan pergi jalan-jalan. Kalian bertiga tunggu di sini. Aku tidak akan lama." Kataku.
"Tunggu tuan! Saya...." Bahkan sebelum menyelesaikan Yuna terjatuh. Aku pun menangkapnya. Yuna memegangi bekas gigitanku dan dia cukup kesakitan. Yuna kesakitan bukan karena efek racun Hydra, tapi karena racun dariku. Tato cakar itu berubah menjadi bercak hitam berbentuk kobaran api dan sudah menyebar hingga leher atas.
"Jangan paksakan dirimu. Istirahatlah." Kataku.
"Tapi..." Katanya. Dia masih ingin menyangkalnya. Aku pun terpaksa menggunakan 1 kata ini.
__ADS_1
"Kumohon." Kataku, meskipun aku mengatakannya dengan sangat memohon tapi tetap saja wajahku se-kaku papan kayu yang dipoles. Tapi Yuna menurut kepadaku.
Akupun keluar dari apartemen dan berkeliling ke sekitar. Meskipun kota ini damai, ketika aku berjalan ke gang-gang aku masih melihat adanya menemukan kejahatan asusila. Ada seorang laki-laki berpakaian badut ingin memperkosa wanita berumur 17 tahun. Wanita itu berambut panjang cokelat muda, bermata biru muda dan wajahnya cukup manis. Di sampingnya ada wanita berambut hijau bensin yang sudah tidak bernyawa, seperti nya dia baru saja di jadikan mainan badut itu lalu dibunuh. Tapi aku tidak peduli. Aku bukan pahlawan yang bisa menyelamatkan semua orang di setiap tempatnya.
Tapi tunggu dulu!.....Ketika aku melihat tanda emblem di sarung tangan badut itu aku langsung berubah pikiran. Emblem Apocalypse.
" Aku sudah tidak sabar untuk menikmatimu."Kata sang badut, aku bisa melihat air liurnya yang berbusa menetes deras dari sudut mulutnya.
Sang wanita itu masih berusaha melawan tapi usahanya sia-sia. matanya sudah meneteskan air mata tapi dari wajahnya masih ada tekad untuk melawan.
"Masih siang sudah melakukan hal seperti ini. 2 wanita pula. Lebih baik kau lakukan pada malam hari." Ku pegang bahu kanannya. wajahnya langsung menengok ke arahku.
Wajahnya seperti badut di serial film horror. Dan aku jijik melihatnya.
"Jika kau tadi berjalan melewati gang ini tanpa menggangguku aku pasti membiarkanmu lewat, bocah." Katanya. Kampret gara-gara wujud Avatar ini dia menghinaku.
"Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menyelamatkannya. Aku hanya tertarik dengan emblem sarung tanganmu itu." Kataku sudah menggendong wanita itu menjauh sekitar 3 langkah dari badut itu. Sang badut pun menengokku dengan tatapan mengerikan dan bingung. Dia dari tadi memegangi boneka jerami.
"Bagaimana bisa? Padahal...." Kata sang badut memelototiku dengan bingung. Dia pun berbalik sepenuhnya menghadapku. Sang badut pun tertawa sangat terbahak-nahak seperti kesetanan. Sekarang aku ingat badut ini. Salah satu NPC milik anggota Apocalypse. Jack Ripper. berlevel 75.
"Pertama kalinya aku diremehkan ditambah lagi seorang bocah yang meremehkanku. Aku jadi lebih ***** kepadamu bocah." Kata sang badut sambil berteriak-teriak. Air liurnya menetes kemana-mana.
Kuturunkan wanita yang ku gendong tadi kemudian berusaha lari menjauh. "Jika kau ingin mati larilah menjauh lebih dari situ." Kataku memperingatinya.
"Apa maksudmu?" Tanya nya kebingungan. Sang badut langsung menyerangku dengan melempar kartu remi-nya. Kartu tersebut terbakar habis mengenai rune yang tidak terlihat terletak tepat satu langkah dari wanita itu.
__ADS_1
"Mampus!!!!!! Ya ini adalah rune milikku. Kau tidak akan bisa kabur dari sini. Di tambah lagi....." Kata Jack menjentikkan jarinya. Tiba-tiba kartu kartu Remi di belakang kami dan mengeluarkan para Minion badut dari kartu Remi itu. level Minion badut itu sekitar 30-an.
"Kau akan mati di sini..." Kata Jack Ripper. Tiba-tiba ada bayangan besar di belakang para Minion badut. Bayangan itu berasal dari luar rune. Tiba-tiba bayangan itu memakan semua Minion badut itu hingga tidak tersisa satupun dan menghancurkan rune itu dengan mudah. Itu adalah bayangan salah satu kepala Shadow Hydra. Dan wanita itu hampir tergigit oleh mulut Shadow Hydra.
"Kan sudah ku bilang." Kataku menarik tangan wanita itu. Jack langsung tertawa kesetanan lagi. dia pun mengeluarkan tombaknya dari bayangannya sendiri.
" Bagus! Luar biasa! Akhirnya ada yang bisa membuatku terhibur. Hibur aku! Hibur aku lebih dari ini!" Jerit Jack meluncur menyerangku dengan tombaknya. Kukeluarkan pedangku untuk menangkisnya. Kami pun beradu senjata dengan kecepatan abnormal. Bahkan sepertinya wanita yang kulindungi ini tak bisa melihat gerakan kami, sedikitpun.
"Lagi! lagi! lagi! lagi! Tunjukanku kepadaku kehebatanmu!" Jack sangat kegirangan menyerangku secara brutal. Kami saling menangkis, menebas, satu sama lain bahakn kami tidak sadar kalau kami juga memotong jalan dan bangunan sekitar seperti kue. Kami pun saling terkunci dan saling mendorong dengan senjata kami. tanah yang kami jadikan pijakan langsung hancur.
"Mana Jester? Mana pantat Boss mu?" Tanyaku kepada Jack.
Jack tidak menjawabku. Dia langsung menyerang ku lagi dengan brutal. Tapi kubaca gerakannya dan melihat celah. Kupotong kedua tangannya di saat celah itu terlihat. Tombaknya langsung tergeletak. Darah pun bersimpah dimana-mana.
"Cih! Aku masih ingin bersenang-senang denganmu. Kita lanjutkan lain kali. Akan kubuat hiasan dari kepalamu." Kata Jester menghilang dan meninggalkan kartu di situ. Aku pun memungutnya. Tenyata itu kartu Jack dengan lambang Sekop.
Wanita itu pun berjalan mendatangi yang sepertinya temannya yang sudah tidak bernyawa di pinggir jalan, wanita berambut biru bensin. Aku pun mencoba untuk tidak ikut campur masalah seperti ini, aku pun berbalik menjauh.
"Terima kasih. Kau sudah menyelamatkanku." Kata wanita itu dengan tersiak-siak karena menangisi temannya yang tidak terselamatkan. Aku berencana untuk mengikuti Jack Ripper. Siapa tahu masih bisa terkejar.
"Aku tidak berencana menyelamatkanmu. Kebetulan saja kau mendapat masalah dengan orang yang kuincar. Itu saja." Kataku. Aku mencoba untuk tidak terbawa alur.
"Tapi aku tetap ingin berterima kasih." Katanya melihatku dengan tatapan penuh tekad. Tekad balas dendam. Karena sudah terlanjur terselamatkan ya sudah aku memintanya tebusan.
"Ini tidak cuma-cuma. Sebagai gantinya, jawab semua pertanyaanku." Kataku.
__ADS_1
"Baik." Jawabnya.