Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Panthera vs Apocalypse (Bagian I)


__ADS_3

(Sudut pandang : Tenzin)


"Apa itu tadi?!!" Tanyaku melihat ke arah balkon. Di langit Panthera, aku melihat bekas ledakan yang cukup besar. Belum sempat di tanggapi, terdengar suara ledakan dari luar kubah pelindung Panthera. Tepatnya di daerah dataran tinggi dan hutan.


Aku melihat terdapat semacam 6 objek raksasa yang mendarat di sana yang mengakibatkan kebakaran hutan. Semua tetua dan nona Yukki juga, akhirnya mengintip ke arah balkon.


"Benda apa itu?" Tanya Mori dengan wajah orang penasaran.


"Aku tidak tahu. Tapi entah kenapa aku punya firasat buruk tentang benda-benda yang sama seperti totem raksasa itu." Jawab Yukki.


Setelah memandangi pemandangan yang membawa firasat buruk itu, terdengar sebuah peringatan.


Bagi seluruh Rakyat Panthera, diharapkan segera mengungsi ke ruang pengungsian dibawah istana. Kami ulangi, bagi seluruh Rakyat Panthera, diharapkan segera mengungsi ke ruang pengungsian dibawah istana. Diharapkan tetap tenang dan ikuti arahan dari para prajurit.


"Sepertinya dari pihak istana cukup cepat juga dalam menanggapi situasi seperti ini." Kata Nona Yukki melihat ke arah Istana Panthera.


Tak lama setelah mendengar pengumuman dari Panthera. Tiba-tiba terdengar suara wanita yang sepertinya adalah dalang dibalik totem-totem raksasa itu jatuh dari langit.


Untuk perwakilan Panthera, kami meminta kalian untuk membuka barriernya. Jika tidak maka darah penduduk kalian yang akan menjadi bayarannya.


"Itu yang sebenarnya yang ingin kami bahas bersama dengan kalian." Kata seorang wanita berambut pirang yang duduk di samping Ikaris.


"Apa maksudnya?" Tanya Nishimiya.


"Kami awalnya berasal dari kubu pencarian yang dipimpin oleh wanita pemimpin Dynasty Air itu. Ratu Alice, yang barusan memberikan ancaman kepada Panthera barusan. Wanita itu juga adalah istri dari tuan kalian, kalau tidak salah nama beliau, Tatsumaki Gen." Kata wanita tersebut.


"Jadi kalian Dynasty Air mencoba menyatakan perang kepada Panthera. Lalu kenapa kalian malah disini?" Tanya Nona Yukki.

__ADS_1


"Ratu Alice menghianati kami dan menyeberang ke pihak musuh bebuyutan Tuan kita, yaitu Apocalypse. Kami yang sangat loyal kepada tuan kami jelas menentangnya. Karena itu kami kemari. Selama tuan kami berada di Panthera maka kami juga akan melindungi Panthera." Kata Ikaris tanpa menutup-nutupi apapun.


Semua orang terkesima mendengarnya.


"Jadi begitu. Kalau begi...!" Tiba-tiba Nona Yuna menghubungi kami menggunakan magic skill telepati nya kepada kami, para tetua assassin.


Kalian sudah melihat kejadian barusan kan? Bersiap-siaplah.


Kata Yuna melalui telepati.


Meminta konfirmasi, Kak. Berperang melawan siapa? Tanya Yukki.


Para Apocalypse dan wanita ****** itu. Kita buat dia menyesal akan perbuatannya dengan memilih pihak Apocalypse ! Tunggu kami di dekat padang rumput yang berhadapan dengan bangunan-bangunan kuno itu. Yuna mengkonfirmasi. Mendengar dari nada suaranya di telepati, sepertinya Yuna sedang naik pitam. Kami pun mengurungkan niat kami untuk bertanya tentang kondisi Tuan kami.


Baik, kami akan segera ke sana. Sesuai dengan perintah anda. Kata kami berlima bersamaan. Pesan telepati kami pun berakhir.


"Iya... Baiklah Ikaris. Kami percaya kepadamu. Dengan kata lain kalian kemari untuk membantu kami kan. Maka bersiaplah untuk berperang." Kata Yukki. Ikaris menjawab dengan senyuman apresiasi.


"Kalau begitu, manfaatkan kami sebaik mungkin dalam perang ini. Dengan nama baik tuan kami, maka kami akan membantu kalian dalam perang ini." Tiba-tiba di belakang Ikaris dan Olivia muncul beberapa Slave. Dengan ini peluang kami dalam berperang Apocalypse setidaknya meningkat.


...****************...


(Sudut pandang : Yuna)


Sementara itu, keadaan di Istana Panthera.


Sebenarnya aku cukup heran dan marah melihat Alice bisa berada di pihak Apocalypse. Tapi marah sepertinya tidak akan menyelesaikan masalah yang ada untuk saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyiapkan pasukan yang dimana perang ini bukan peperanganku." Kata Naava. Aku sempat ingin menonjol nya tapi aku menahan diri dengan menonjok kaca jendela yang tingginya sekitar 3 meter.


"Kalau begitu buka barriernya." Kataku singkat.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Riza.


"Akan ku bunuh mereka semua." Kataku. Kemarahanku memuncak. Situasi menjadi semakin rumit bagiku. Sudah jauh-jauh kemari aku kecolongan Tuan Gen, Apocalypse sampai repot-repot kemari dengan 6 totem raksasa mereka, Dan ditambah lagi aku melihat Alice yang berada di pihak Apocalypse. Tiba-tiba aku teringat dengan Tuan Gen yang sering mengalami banyak masalah. Bahkan sepertinya memiliki masalah lebih banyak dariku tapi beliau tetap dingin. Aku sebagai slave, sebagai wanitanya, maka aku harus menyelesaikannya juga dengan dingin. Aku pun menghirup napas perlahan dan menghembuskannya beberapa kali untuk mendapat ketenangan. Aku pun berjalan mendekati Naava.


"Mereka kemari karena 2 alasan : pertama, nyawa Ousama-ku, yaitu Tuan Gen. Yang kedua adalah Kerajaan Netral ini, Panthera. Jujur saja aku tidak peduli jika negara dan Kerajaan ini hancur. Tapi itu akan membuat Tuan Gen kecewa. Aku tidak ingin itu terjadi karena beliau satu-satunya alasan bisa sampai ke titik ini. Jadi...." Kataku dan perlahan mengambil posisi yang dimana seseorang yang mengenalku akan mengira kalau aku sedang kesurupan. Yaitu posisi berlutut. Aku bisa melihat mulut Jenghis dan Riza terbuka sampai rahang bawah mereka anjlok ke lantai.


"Kumohon, sebagai wanita yang sama-sama menyukai pria yang sama. Aku memohon padamu, Naava. Aku bahkan rela memberikan Tuanku kepadamu jika beliau lebih memilihmu daripada aku. Jadi kumohon." Kataku dengan sampai menundukkan kepalaku sampai ke lantai. Tapi dengan menyakitkan Naava memberi jawaban yang mengejutkan.


"Tidak. Aku tidak akan membantumu." Katanya dengan tegas. Bahkan sampai bersujud pun aku tidak bisa mendapatkan bantuannya. Keberuntungan seperti baru saja di renggut dariku. Tidak terasa air mataku keluar begitu deras.


"Aku tidak akan membantumu jika kau sampai menyerahkan Gen kepadaku. Tidak, aku memang mencintainya. Bahkan mencintainya lebih dari apapun. Tapi aku tidak akan melangkahi wanita yang sudah jatuh cinta dengannya terlebih dahulu." Kata Naava. Dia kemudian menarikku berdiri. Kami bertatapan begitu begitu lama.


"Kirim semua pasukan elite jaguar dan pasukan elite kerajaan yang kita punya, aktifkan semua drone tempur yang masih dalam kondisi maksimal. Pastikan mereka sudah berbaris di medan perang, dan aktifkan semua turret nya. Jika mereka ingin kita kedatangan tamu tak diundang maka kita jawab keramahan mereka!!!" Perintah Naava kepada semua orang Panthera yang ada. Neema dengan tersenyum lebar memberikan perintah tersebut kepada seluruh pasukan Panthera.


Aku bahkan sampai kehabisan kata-kata.


"Jika kau ingin berterima kasih. Berterima kasihlah kepada Gen yang menyatukan takdir kita. Aku tidak tahu apa yang terjadi di kehidupanku yang sebelumnya yang bahkan aku sampai membencimu. Tapi aku berpikir akan lebih baik untuk melakukan persaingan yang sehat." Kata Naava.


"Jadi... Bagaimana?" Tanya Naava mengulurkan tangannya kepadaku.


Dengan senang aku menjabat tangannya.


"Aku tidak akan mengalah." Kataku mencoba untuk tersenyum.

__ADS_1


"Kak, semuanya. Maaf menganggu momen mengharukan ini. Tapi kalian ku undang ke labku sekarang. Mungkin ini akan membantu kalian untuk memenangkan peperangan ini." Kata Neema.


__ADS_2