Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Tantangan Dari Olympus : Amukan Dewa Penguasa Lautan (Bagian II)


__ADS_3

(Sudut pandang : Tatsumaki Gen)


Kalahkan semua dewa dewi Olympus ya. Benar-benar merepotkan. Apalagi lawan pertamaku adalah Poseidon dan pertarungan kami berada di dekat laut.


"Sepertinya tidak ada tempat negosiasi lagi." Ujarku mengeluarkan item teleportasi ku yang wujudnya adalah pisau kujang. Senjata tajam yang berasal dari Jawa Barat.


Cetus menyapu bibir tebing dengan tangan kanannya dengan sangat brutal.


"Berpencar!" Seru Hisao menyuruh kami untuk menghindari tebasan tangan Cetus yang hampir mengenai kami. Aku melompat dan melemparkan pisau kujang ku sehingga senjata tajam itu berputar seperti baling-baling atau boomerang dan mengarah ke Poseidon.


Poseidon dengan masih berposisi bersedekah hanya menggeser posisi trisulanya sehingga pisau Kujang ku mengenai trisulanya dan terpental ke atas. Dengan cepat aku berteleport ke arah pisau itu dan memegangnya.


Dengan segera kuhunuskan pisau badik ku dari atas Poseidon. Tapi dengan mudah Poseidon menangkap tebasan pisau Kujang ku dengan sangat mudah.


"Hanya ini yang kau bisa? Aku heran saja kenapa Dewi Tsukuyomi bisa kau jadikan Slave. Menyedihkan." Dengan gerakan yang sangat cepat, Poseidon menghempasku kemudian berputar dan menendang perutku dengan sangat keras hingga aku terhempas dengan sangat kencang menabrak tebing.


Tidak berhenti di situ. Cetus menambahinya dengan memukulku dengan sangat brutal sebelum aku menyadarinya. Asap mengepul tebal akibat pukulan Cetus di tebing yang mengenai ku.


"Untuk apa kita harus takut dan repot-repot untuk waspada dengan bocah bertangan satu ini? Ini bahkan tidak sepadan dengan waktuku. Waktunya mengakhirinya. Éftyse! " Ujar Poseidon seolah aku ini sampah remeh yang bisa dia buang kapan saja. Dia memerintah Cetus menggunakan bahasa Yunani yang kalau tidak salah berarti (Sembur dia!)


Cetus berancang-ancang untuk menyemburkan sesuatu dari mulutnya. Mulutnya mulai terbuka lebar. Di dalam mulutnya mulai mengeluarkan cahaya biru. Oh tidak.


Tapi tiba-tiba mulut Cetus dibungkam dan tutup paksa dengan tangan api raksasa yang mendorong rahang bawahnya sehingga mulut Cetus tertutup dan tak jadi menyemburku.


"Jauhkan tanganmu dari anakku, makhluk berinsang!" Seru ibu Miyuki yang mendarat di atas lengan Cetus yang masih diposisi menonjokku ke arah tebing. Tangan iblis apinya kemudian mendorong rahang bawah Cetus sehingga membuatnya terhuyung menjauh dan aku pun terbebas dari tangan Cetus. Ibu Hisao dengan sigap meraih dan menggendong ku dan membawaku ke tempat yang aman.

__ADS_1


Ibu Miyuki bersalto ke belakang tepat sebelum lengan Cetus yang dia jadikan pijakan menjadi tidak stabil.


"Ibu tidak perlu repot-repot." Ucapku dengan sopan.


"Gen! Sama-sama. Naluri seorang ibu barusan. Suka maupun tidak." Ibu Hisao memberitahu dengan sedikit tersinggung. Terasa aneh bagiku kalau sampai dilindungi wanita. Seharusnya aku yang menjaga mereka.


"Baiklah. AWAS!" Dengan cepat aku menendang Ibu Hisao untuk menjauh sehingga kami tidak terkena tamparan dari monster Cetus sehingga tamparannya hanya mengenai bibir tebing saja.


"Hoo... reflek dan pengambilan tindakan yang cukup cepat. Bagaimana dengan ini. syntrípste tous! " Ujar Poseidon dengan sedikit memujiku yang kemudian menyuruh monster peliharaannya itu untuk meremukkan kami. Kedua telapak tangan Cetus mencoba menepuk kami sehingga kami terjepit. Tapi Poseidon melupakan satu lagi wanita tangguh.


"Tidak akan semudah itu! Ifrit!" Ibu Miyuki mendarat tepat di tengah-tengah diantara kedua telapak tangan Cetus. Ibu Miyuki mengeluarkan kedua telapak tangan iblis apinya untuk menghalau kedua tangan Cetus. Kedua tangan Cetus pun tertahan.


"Bodoh." Kata Poseidon seolah dia melihat kemenangannya. Cetus tanpa peringatan menembakkan semburan air dari dalam mulutnya ke arah kami bertiga. Aku kemudian memanggil Shadow Mukbang dan memerintahkannya untuk membuat semburan air itu tidak mengenai kami.


"Aku akan menahannya!" Seru ibu Miyuki karena suaranya hampir tidak terdengar karena suara air yang menyembur dari mulut Cetus. Aku dan ibu Hisao mengangguk mengerti dan melompat ke atas masing-masing lengan Cetus yang masih berusaha melawan kedua telapak tangan iblis milik ibu Miyuki.


Aku berada di tangan kiri Cetus sedangkan ibuku di sisi yang lain. Kami pun berlari menyusuri panjangnya tangan Cetus. Cetus pun berhenti menyembur ke arah Mukbang dan Ibu Miyuki dan sekarang mencoba menyemburkan air bertekanan tinggi ke arahku dan ibu Hisao. Kecepatan tembakannya juga bukan main akurasi dan kencangnya. Tapi kami cukup beruntung bisa menghindarinya walaupun beberapa tembakan sempat terserempet. Poseidon mulai melirikku dan Ibu Hisao secara bergiliran. Mengamati pergerakan kami dengan cermat.


Takkan kubiarkan Poseidon berpikir. Ku lempar pisau Kujang ku ke arah Poseidon tapi Poseidon mengetahui nya. Tapi dia cukup terkejut sehingga dengan reflek, Poseidon menggunakan trisulanya untuk menangkis pisau kujang ku. Pisau ku terpental. Poseidon pun berlari ke arahku tetapi Ibu Hisao menghalanginya dengan menambakinya dengan pistol.


Poseidon pun teralihkan. Aku dengan cepat berteleportasi ke arah pisau badik ku. Mengetahui aku berteleport, Ibu Hisao terus menembaki Poseidon menggunakan pistolnya meskipun dia tahu kalau peluru tidak akan menembus tubuh dewanya. Tapi itu membuat Poseidon geram dan kesal. Posisdon melompat dari tangan kiri Cetus ke tangan kanannya untuk meladeni Ibu Hisao.


"Mainan manusia tidak akan bisa melukaiku." Geram Poseidon meremukkan pistol ibu Hisao. Ketika Poseidon ingin mencekik Ibu Hisao, Ibu Hisao merubah kedua kakinya menjadi kaki monster sehingga kecepatannya dalam berjalan dan berlari menjadi bertambah. Ibu Hisao dengan lihai menendang tangan Poseidon sambil bersalto menjauh untuk menjaga jarak. Cetus mencoba membantu Poseidon tapi kedua tangannya tidak bisa digerakkan akibat Ibu Miyuki menahannya.


Cetus kemudian mencoba menyembur ibu Hisao tapi dengan cepat aku melempar pisau ke arah bola air itu sehingga bola air itu pecah. Aku pun mendarat tepat di depan ibu Hisao. Kami berdua pun memasang posisi untuk bertarung jarak dekat.

__ADS_1


"Akhirnya untuk beberapa kesenangan." Kata Poseidon memutar-mutar tombak trisulanya kemudian memasang kuda-kuda seperti seorang ahli tombak.


Kami berdua pun beradu serangan jarak dekat. Poseidon ternyata sangat mahir memainkan senjatanya. Aku melemparkan pisau Kujang ku ke arah belakang Poseidon dan berteleport ke belakangnya. Aku mencoba menebasnya tapi Poseidon berhasil menangkisnya. Ibu Hisao tidak tinggal diam dan segera meluncur dan menggunakan teknik menggunting menggunakan kakinya untuk membuat Poseidon berlutut dan jatuh dan itu berhasil.


"Sekarang nak!" Seru Ibu Hisao.


Aku pun mencoba menusuk wajah Poseidon yang sudah tergeletak tapi Trisulanya ia gunakan untuk menepis pisau ku.


"Cukup!" Dengan luar biasa Poseidon berhasil bebas dan berdiri dari kuncian kaki ibu Hisao dan membuatnya terhempas. Aura dari manna seorang dewa memang luar biasa besar dan kuat. Aura biru laut dan biru terang menyelimuti Poseidon.


"Jangan kau pikir ini sudah berakhir." Ucap Poseidon sambil jari telunjuknya menunjukku dengan geram dan kesal. Poseidon pun melompat ke dalam laut.


"Sudahkah kalian selesai?!! Aku sudah tidak sanggup menahannya!" Seru Ibu Miyuki yang sudah kesulitan menahan kedua tangan monster Cetus. Dengan memperluas jangkauan manna yang ada di pisau ku, dengan sekejap ku potong kedua tangan Cetus sehingga membuatnya kesakitan.


Aku dan Ibu Hisao pun berteleport lagi ke bibir tebing didekat Ibu Miyuki yang kuwalahan menahan kedua tangan Cetus tadi. Kedua tangan Cetus yang terpotong pun beregenerasi lagi.


Ku ambil 2 potion healing ku dari inventory dan memberikannya kepada kedua ibuku.


"Pastikan daya kehidupan kalian untuk pulih." Ujarku. Kedua ibuku pun meminumnya hingga habis.


"Sejujurnya aku tidak ingin menggunakan cara kasar, tapi apa boleh buat. Kalau kau ingin bermain dengan cara keras. Aku akan menurutinya. Mari kita lihat apakah kau bisa bertahan dengan ini." Ku angkat tangan kiriku seolah mencoba menggenggam langit lalu di langit muncul sesuatu.


Kedua ibuku terkesima dan tak bisa berkata-kata dengan apa yang mereka lihat di langit Gunung Olympus.


"Kau pasti bercanda nak." Ujar Hisao.

__ADS_1


__ADS_2