Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Kami Memburu Para Badut


__ADS_3

Kami pun menuju ke gedung tua yang sudah tidak terpakai di dekat jalan utama menuju istana. Kami menggunakan gedung itu untuk menyusun rencana.


"Baiklah jika kau memang pelacak yang handal. Bagaimana dengan sepotong benda ini bisa menuntun kita ke Jester?" Tanyaku. Aku pun melemparkan kartu Jack sekop kepada Shasa yang ditinggalkan Jack ripper di pertarungan tempo hari lalu.


Shasa pun melihat lamat-lamat kartu tersebut." Jack Ripper kabur dan meninggalkan kartu ini. Jadi kemungkinan besar kartu ini adalah rune miliknya. Dan sepertinya tipenya adalah rune teleportasi. Jika masalah melacaknya kita tinggal menggunakan Magic Skill : Eagle Eyes. Agar bisa melacak jenis Manna miliknya." Jelas Shasa.


Hmm, tidak buruk. Shasa ternyata juga paham cara melacak magic Caster." Kau bisa melacaknya?" Tanyaku.


"Melacaknya mudah. Memilahnyalah yang sulit. Boss Jack Ripper tahu betul cara kerja rune ini. Dia pasti meletakkan kartu rune ini di segala tempat di kerajaan ini. Akan cukup lama jika kita harus mengecek disetiap tempat yang di tempeli rune." Jelas Shasa. Ternyata perbandingan pengetahuan makhluk pribumi dengan pemain sangat berbeda. Mereka pribumi rata-rata hanya paham kulit nya saja. Tapi justru itulah yang membuat para pemain tidak kepikiran menggunakan cara seperti itu.


"Tidak masalah. Kita gunakan cara itu saja." Kataku.


"Yang Mulia yakin? Ini justru trik paling sederhana. Semua assassin bisa melakukannya. Dan mungkin alasan kenapa dia meninggalkan benda ini untuk menjebak kita." Katanya tidak yakin.


Tapi aku sangat yakin. Jester adalah pemain yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa di Jerman. Seorang Psikopat akut. Dia justru akan senang jika seseorang yang ingin dia bunuh menemukannya dengan mudah.


"Sekarang aku tanya kembali kepadamu. Bukankah tempat kalian bertemu Jack Ripper terlalu terbuka? Hanya berjarak sekitar 10 meter saja dari jalan utama. Kau tahu alasannya?" Tanyaku.


Shasa sangat heran mendengarkan teoriku. "Teror. Menyebarkan teror. Seorang Psikopat menyukai raut wajah orang ketakutan dan tersiksa tapi tidak menyukai keramaian. Maka dari itu Jester melakukannya di pinggir jalan utama." Jelasku.


"Tapi jika tujuannya seperti itu kenapa orang- orang tidak melihat kami? Padahal hanya 10 meter." Shasa masih belum yakin dengan teoriku tapi aku tahu betul motif Jester yang sudah kuperhatikan selama 2 tahun bermain di TSO.


"Kartu lemparan Jack Ripper terbakar ketika mengenai sesuatu di belakang kita. Itu karena dia menggabungkan rune api dan rune inviciblity. Karena itu semua orang seolah tidak melihat apapun di gang itu. Maka ketika efek rune itu hilang maka korban yang dibunuh dan dijadikan mainan akan terlihat langsung di gang itu. Itu motif mereka." Aku pun mengeluarkan 2 lembar kertas rune yang kupungut sebelum aku di bawa ke istana. Shasa melihatku heran ditambah dengan takjub.


"Baiklah. Mari kita gunakan cara itu." Kata Shasa mulai berkonsentrasi merapal katalis. Peta hologram pun muncul di lantai sekitar kami. Ternyata benar. Ribuan rune telah di pasang hampir di segala tempat dan rata-rata di pinggir jalan utama.


"Terlalu banyak. Akan sulit jika sebanyak ini." Shasa pun mengeluh. Aku pun melihat ke arah bagian tengah kota.

__ADS_1


"Tidak. Kita sudah menemukannya. Ayo." Aku pun pergi keluar gedung.


"Tunggu aku." Kata Shasa mengikutiku.


Kami pun sampai di gang daerah tengah Tapi entah kenapa dari tadi digedung hingga sampai kesini aku merasa ada yang mengikuti kami. Shasa menatapku lamat-lamat.


"Yang Mulia yakin disini?" Tanya Shasa tidak percaya. tidak ada suara, tidak ada hawa keberadaan, tapi kami langsung merasakan hawa membunuh yang luar biasa. Aku pun mendorong Shasa agar terhindar dari serangan menukik dari Jack Ripper. Asap pun mengepul akibat benturan tombak Jack ke tanah.


"Tak kusangka kau akan kemari? Ayo kita lanjutkan apa yang belum kita selesaikan tempo hari lalu." Kata Jack menatapku dengan senang.


Kurasa tidak. 1 anak panah dengan kencang menluncur dari kejauhan menghantam Jack dan menimbulkan ledakan dahsyat.


"Panah?!" Shasa terkejut dan menoleh arah tembakan panah tadi.


"Tak kusangka kau yang ternyata selama ini mengikuti kami, Kraven." Kataku lewat sambungan empati.


"Aku hanya curiga saja ada anak kecil keluar malam-malam dari istana. Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Ibu negara juga akan memarahiku nanti jika suami tercintanya pergi tanpa pamit." Kata Kraven Sarkas kepadaku.


Jack pun menghilangkan semua kepulan asap dengan sekali tebas tombaknya. Kemudian aku melihat sesuatu yang aneh di sekitar tanah pijakannya.


"Lumayan juga pemanah. Tapi aku tidak akan terkena untuk kedua kalinya!" Teriak Jack.


Aku memanfaatkan kesempatan itu segera masuk kedalam lorong. Kugendong Shasa dan menuruni tangga menuju underground. Jack langsung menyadarinya dan melemparkan tombaknya. Tombaknya menancap tepat didepanku.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk lewat? Kita belum selesai." Kata Jack. Luncuran anak panah Kraven pun meluncur tapi gagal karena Jack menangkapnya dengan mudah. Aku tanpa pikir panjang langsung menuruni anak tangga dengan cepat.


Kami makin jauh dari permukaan dan semakin gelap. Tangga tidak ada habisnya untuk di turuni. Aku pun menurunkan Shasa. Sepertinya Kraven sukses menahan Jack di atas sana.

__ADS_1


"Maaf aku tadi tiba- tiba menggendongmu." Kataku.


"Tidak apa-apa." Wajah nampak memerah seperti sedang demam.


Lenggang tanpa berbicara selama beberapa detik. "Oh iya, Bagaimana Yang Mulia tahu tempat mereka yang asli ada disini?" Shasa memecah keheningan.


"Kau tidak melihat sekitar ya ketika di permukaan tadi?" Tanyaku. Shasa pun berpikir. dalam hitungan detik dia pun sadar.


"Satu-satunya tempat yang tidak dekat dengan jalan utama." Katanya mantap.


"Itu aslinya hanya tebakan beruntung saja. Maka dari itu aku ingin mencoba untuk datang kesini dan ternyata benar. Meskipun aksinya blak-blakan tapi Jester juga tetap memerlukan tempat untuk bersembunyi." Kataku.


Kami pun sampai di anak tangga terakhir di bawah. Di bawah sini hanya ada penerangan obor saja dan tempatnya seperti gudang penyimpanan. Tepat di depanku terdapat 1 orang wanita cantik.


Mengenakan mahkota layaknya ratu di rambutnya yang pirang dan panjang sedikit bergelombang, Mengenakan pakaian layaknya ratu dan mengenakan stoking putih dan menggunakan rok merah transparan. Dia tidak terlihat seperti badut sama sekali.


"Sepertinya anakku meloloskan beberapa lalat disini." Kata si wanita beranjak dari tempat duduknya.


"Siapa dia?" Shasa berbisik ke arahku.


"Tak usah basa-basi lagi. Penampilanmu tidak bisa menipuku, Queen." Yah, Queen salah satu bidak Jester. Dia termasuk bidak Jester terkuat keempat. Levelnya kurang lebih 80.


"Wah wah, anak muda. Sepertinya kau mengenalku dengan baik. Siapa namamu anak muda?" Tanya Queen.


"Siapa yang peduli. Salah satu dari kita akan mati dalam pertarungan ini." Kataku tanpa basa basi.


"Wah kejamnya. Aku suka itu. Tapi jangan terlalu percaya diri, anak nakal!" Ternyata tanpa kami sadari di setiap tempat di ruangan itu banyak ratusan kartu bridge yang tertempel. Dari situ, muncul di setiap satu kartu 1 klon Queen.

__ADS_1


Aku dan Shasa terkepung oleh ruangan yang sempit bersama dengan ratusan klon milik Queen yang membuatnya tambah sempit.


"It's show time." Semua kloning milik Queen mengeluarkan beberapa kartu. kartu bridge untuk di lempar ke arah kami.


__ADS_2