
"Kenapa kakak lama sekali?" Tanya Yukki dengan wajah yang sedikit bingung. Sebenarnya aku lama tadi karena sedang mengelola status dan item-item milik pasukan Shadow dan para slave.
"Aku ada alasan tersendiri." Jawabku singkat. Sepertinya Yukki tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya tapi dia juga pasti mencoba berpikiran positif terhadapku.
"Baiklah, lupakan saja. Jadi sudahkah kau melihat laporannya?" Tanya Yukki kembali serius.
"Sudah. Nishimiya yang memberikan." Kusodorkan laporan pemberian Nishimiya ketika tadi pagi di ruangannya. Aku pun mulai membuka isinya dan mulai menata kertasnya satu persatu.
"Siapa yang akan jadi target pertama kita?" Tanya Yukki. Aku malah terbayang Naava ketika Yukki mengatakan hal itu. Aku pun mulai menimbang-nimbang. Aku ingin memastikan kebenaran saja. Karena kulihat kalau wajah Naava mirip dengan orang negara Timur tengah. Maka aku mencari mata-mata yang memiliki wajah yang sejenis.
"Sepertinya orang ini akan cocok jadi target pertama kita." Kataku menunjuk salah satu kertas yang berisi data mata-mata yang kumaksud. Yukki melihatku dengan penuh tanda tanya.
"Alasannya?" tanya Yukki kurang yakin. Aku jelas tidak memberitahunya tentang Naava kenapa aku memilih orang ini.
"Wajahnya sangat berbeda dengan penduduk di kepulauan yang ada di sini. Daripada tersebar rumor kalau pihak pemerintah salah menuduh warga sipil sebagai mata-mata, maka dari itu aku memilihnya. Jika sampai itu terjadi maka mata-mata yang lain akan semakin sulit ditangkap karena situasi itu." Jawabku. Yukki pun berpikir dalam-dalam.
"Baiklah. Kakak boleh menggunakan siapapun dari 5 tetua atau dari anggota pembunuh senyap. Kalau bisa kita tangkap hidup-hidup agar bisa mengorek informasi darinya. Tapi daripada kita mendapat ruginya jangan ragu untuk membunuhnya." Jelas Yukki. Aku mengangguk meng-iyakan.
Malam itu juga aku pergi ke menara tertinggi yang ada di kota. Kulihat kertas tentang mata-mata itu lagi. Aku usap kedua telinga anjingku dengan selembar kain.
"Setidaknya tidak salah untuk dicoba." gumamku. Kupanggil 5 Hellhound dan 3 blue vulture.
"Temukan pemilik bau ini. Jangan menyerangnya dan apabila kalian menemukannya maka segera laporkan kepadaku." Perintahku. Mereka langsung menggunakan wujud menyamar dan menyebar.
"Kenapa anda menggunakan aroma telinga anda sebagai kuncinya?" Tanya Nishimiya yang ada di belakangku.
__ADS_1
"Kau akan tahu nantinya. Apakah pasukan pembunuh senyap sudah memeriksa tempat yang kutandai?" Tanyaku.
"Sudah tuan." Jawab Nishimiya. Tiba-tiba Ada salah satu pembunuh senyap menyampaikan sesuatu kepada Nishimiya. wajah Nishimiya langsung menegang setelah mendengar laporan yang baru saja dia dapat. Pembunuh senyap itu pun langsung pergi dengan cepat.
"Tuan, sejauh mana rencana anda?" Wajahnya memucat. Jelas lah dia syok.
"Jangan terlalu tegang dulu. Kita masih belum pasti apakah dia rekannya atau bukan." kataku mencoba menenangkan Nishimiya. Karena aku juga sempat curiga juga terhadap apa yang kubaca sebelum aku ke kepulauan Assassin.
Tak lama kemudian ada satu Hellhound yang kembali kepadaku. Dia membawa satu gulungan yang ada di mulutnya. Kuambil gulungan itu dari mulutnya.
"Mirror Monitor." Kuaktifkan gulungannya sehingga sebuah cermin muncul dan memperlihatkan sesuatu. Terdapat Naava dan orang yang sama dengan yang dikertas laporan. Tiba-tiba semuanya menjadi buram seperti televisi yang tersambar petir.
"Sampai sejauh itukah tuan membuat rencana ini?" Sepertinya Nishimiya begitu terpukau melihat bagaimana aku bisa menemukan target dalam waktu satu malam. Sebenarnya ada satu pemain yang mengajariku cara menjadi assassin dan informan yang handal. Dia juga tercatat sebagai assassin terbaik setelah Jester dalam hal umum menjadi assassin.
Ini juga membuktikan kalau pribumi memiliki tingkat menganalisa yang rendah dibandingkan para pemain TSO. terutama pemain di atas level 50.
"Cukup jauh. Nishimiya, pastikan para pembunuh senyap mengikuti mereka. Jangan lakukan penyerangan. Aku tidak ingin adanya korban yang tidak berarti di pemburuan pertama ini." Kami pun melompat dari menara dan meluncur ke bawah. Di bawah terdapat gerobak jerami yang sangat besar sehingga pendaratan kami tidak berdampak sedikitpun.
Kami pun mulai berlari dan melompat ke atas gedung dan bangunan yang ada.
Sudah sekitar 70 meter kami berlari, akhirnya kami menemukan mereka yang sedang berlari juga. Aku melihat para pembunuh senyap terlalu dekat dengan mereka berdua. Banyak dari mereka yang terbakar hebat secara tiba-tiba.
"Sudah kubilang untuk menjaga jarak! Mundur!" Aku langsung melesat diantara gedung dan menerjang ke arah mereka berdua.
Kukeluarkan pedangku dan mencoba menyerang mereka dengan serangan kejutan. Aku langsung menikam leher mata-mata yang berlari di depan Naava. Tapi Naava cukup terlatih, dia bahkan sempat menangkis beberapa tebasan pedangku dan menjaga jarak. Karena aku menggunakan tudung, Naava tidak akan mengenaliku.
__ADS_1
"Kau bahkan bisa bertarung dengan jarak dekat ya. Sebagai seorang assassin, tangan kosong adalah senjata utama mereka." Kataku mencoba membuatnya berbicara. Aku pun mencoba menebasnya lagi. Tapi bilah pedangku berhasil dia tangkap dan mencoba membuang pedangku.
"Aku tidak punya waktu untuk ini." Kata Naava yang sepertinya mencoba melarikan diri. Para pasukan senyap pun mulai mengerubungi kami, Naava benar-benar terkepung sekarang.
"Menyerahlah. Dengan begitu semuanya akan lebih mudah." Kutodongkan pedangku ke arah Naava.
"Agni!" Ucap seseorang yang sepertinya ada di belakang Naava. Seketika sebagian pasukan senyap yang terlalu dekat dengan Naava langsung terbakar hebat. Naava seperti kehabisan napas di seberangku.
"Kau tidak perlu menutupinya, Gen. Aku tahu itu kau. Kau bekerja untuk Grand Master." Jelas Naava membuka kedokku yang sesungguhnya. Tak ada gunanya kalau terus menyembunyikan wajah ini.
Aku pun membuka tudungku. Di dalam mata Naava, terdapat kekecewaan kepadaku.
"Hoo, telingamu tajam juga. Aku tidak akan menyangkal itu. Aku akan langsung pada intinya. Kau akan membayar apa yang telah kau perbuat di sini sebagai mata-mata." Kataku dengan tegas.
"Dengan membunuh 5 tetua di tempat terbuka seperti itu, benar-benar menarik perhatian para Intel. Tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan hal semacam itu. Jadi bisakah kita bernegosiasi?" Kata Naava. Ada gumpalan api berkobar diantara aku dan Naava. Terlihat sebuah kereta kuda dengan dua kuda besar berambut api berwarna hitam dengan kereta emas yang dihiasi sebuah bara api. Diatasnya terdapat seorang laki-laki berambut abu-abu dengan kucir kuda dan dengan zirah emas, dan memiliki sebuah tameng berbentuk matahari di belakangnya untuk melindungi punggungnya. Membawa pedang berbilah ganda dan memakai mantel seperti yang setengah hangus terbakar berwarna putih. Aku yakin bahwa dia adalah slave milik Naava.
"Sepertinya malam ini tidak semulus sebelumnya, nona Naava." Kata pria itu melirikku. Aku pun membalas tatapannya.
"Hoo...baru pertama kali ini aku menemui bocah yang memiliki mata penuh tekad sepertimu. Sepertinya kau memiliki ambisi yang sangat besar untuk di kejar." Kata pria itu dan mulai turun dari kereta kudanya.
Pria itu langsung melancarkan serangan dengan tebasan pedang yang bilahnya terdapat api. Tapi semua itu tidak terjadi. Ada seseorang yang menangkisnya untukku.
"Yah, seperti itu. Tak kusangka kita akan bertemu di keadaan seperti ini." Kata Gata dengan geram. pria yang tadinya menyerang langsung mundur beberapa langkah.
"Aku tidak menyangka di kehidupan keduaku aku akan bertemu kembali denganmu, Gathotkaca." Kata pria itu dengan logat sok kenal dengan Gata.
__ADS_1
"Kalau begitu kita lakukan reuni yang meriah, Karna." Balas Gata mengeluarkan pedang memutar-mutar pedang dayungnya dan memasang kuda-kuda.