Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Serangan Kaiju


__ADS_3

Setelah itu kami menjadi sangat dekat. Kami sering membicarakan hal-hal yang konyol dan asyik. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu aku tidak merasakan hal seperti ini. Teman. Tapi aku juga tidak lupa untuk mengorek informasi yang Drago punya.


Katanya, Drago diselamatkan oleh pria bertudung misterius yang menemukan dirinya yang terdampar di kepulauan ini. Pria itu hanya memberinya tenda, alat-alat untuk camping, dan beberapa senjata kecil seperti machete dan pisau. Kalau aku bisa simpulkan, Drago tidak sadar kalau dirinya dikirim ke kepulauan ini sebagai mata-mata. Negara asalnya yaitu Dynasty Air Selatan sengaja membuangnya kemari untuk beberapa alasan.


"Jadi begitu, kasus seperti ini akan cukup sulit untuk di selesaikan." Kata Yukki di meja rapat. Semua orang tampak kesulitan dalam mencari solusi. Termasuk aku.


"Untuk saat ini kita tidak bisa memutuskan. Karena catatan bocah itu bersih. Kalian fokus ke pencarian mata-mata yang lain. Aku akan mengawasi bocah ini secara personal." Kataku. Setidaknya itu jalan tengahnya. Rapat pun selesai. Aku pun berjalan di lorong sendirian. Dan sekilas melihat ada bayangan zirah Obsidian Gydra dari pantulan kaca yang menghiasi lorong.


"Jika ada yang ingin kau sampaikan katakan saja." Kataku melihat ke arah pantulan kaca. Zirah Obsidian Gydra langsung berlutut.


"Tuanku, bocah yang anda temui tadi. Aku rasa dia cukup berbahaya." Kata Gydra.


"Hoo...kau bisa merasakannya juga?" Tanyaku.


"Iya tuanku. Di dalam tubuh bocah itu, terdapat energi Manna yang sangat besar. Dan Manna yang dia miliki sangat liar dan ganas. Saya bisa merasakannya ketika paduka berjabat tangan dengannya." Kata Gydra. Dia nampak mengkhawatirkanku.


"Manna-nya bahkan sangat besar dibandingkan kapasitas milik pribumi pada umumnya. Mirip seperti seorang slave. Apakah dia slave kiriman dari Ousama Dynasty Air Selatan?" Tanyaku. Riza kemudian menampakkan wujudnya dan bersandar di samping jendela lorong.


"Tidak. Jika dia seorang slave seharusnya dia bisa merasakan hawa keberadaan kami. Begitu juga dengan kami. Tapi aku tidak merasakannya." Jelas Riza. Aku pun mencoba berpikir sekali lagi.


"Justru yang menurutku aneh adalah Naava." Kata Riza dengan nada tajam. Wajahnya akhir-akhir ini menampilkan ekspresi tidak suka. Entah karena cemburu atau memang sedang bad mood. Dan aku tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.


"Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Aku bisa merasakan hawa kehadirannya sebagai seorang slave. Tapi hawanya sebagai roh legenda sangatlah tipis sehingga hawanya sebagai manusia lebih terasa dibandingkan hawa roh legendanya." Jelas Riza. Riza kemudian melihat ke belakangku dan mengeluarkan ekspresi tidak suka. Riza kemudian menghilang menjadi wujud roh.


"Tidak tahu sopan santun." Gumam Gydra sedikit kesal dengan sifat Riza barusan. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan berat.


"Kalau begitu tuanku saya permisi." Kata Gydra yang sosoknya hilang dari pantulan cermin. Aku pun menoleh ke belakangku. Sekarang aku paham kenapa Riza langsung pergi tanpa pamit kepadaku. Naava ternyata penyebabnya. Wajahnya tampak merah dan malu-malu. Sangat sulit membayangkan kalau dia adalah seorang slave.


"Oh, Naava. Ada apa?" Tanyaku basa-basi.


Naava makin malu-malu untuk berbicara.


"A-...anu...Gen...... Bi-bisakah kau mengantarku ke kamarku?" Pintanya dengan malu-malu. Tunggu? Dia tidak sedang berusaha mengerjaiku kan? Aku jelas tidak mau. Siapa yang mau di pukuli satu gedung asrama putri cuma gara-gara masuk ke dalamnya.


"Biasanya kau juga ke sana sendiri setelah rapat." Kataku berbalik dan mulai berjalan menjauh. Tentu untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut. Aku sebenarnya tidak tahan melihat keimutan Naava ketika dia malu. Daripada luluh, Aku lebih baik segera pergi dari sini.


Diluar dugaan dan prediksi. Naava menarik baju dari belakang dengan tangan gemetaran. Aku tidak berani menoleh karena aku baru ingat kalau Naava memiliki sifat tsundere akut. Aku takut ditonjok ketika aku melihat wajahnya yang sedang manis-manisnya.


"Kenapa kita malah berjauhan seperti ini?!" Protes Naava.


"Agar tidak ada yang salah paham." Kataku singkat. Sudahlah! Hentikan komedi romantis ini!


Lagi-lagi diluar dugaanku lagi. Naava memeluk tangan kananku dengan lembut. Sebelum aku sempat menjauh, Naava mengencangkan pelukannya.


"Aku takut, Gen. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering ketakutan setelah melihat kejadian dimana Killhunger hampir membunuhku saat kita rapat dengan Nishimiya." Katanya mulai meneteskan air matanya. Sehebat apapun perempuan, sekuat apapun perempuan, setinggi apapun derajat perempuan, mereka tetaplah makhluk yang lemah lembut dan mudah terluka. Mungkin saat itu Naava tidak terluka secara fisik tapi dia sangat terluka secara mental setelah itu. Itu sama halnya ketika aku melakukan ujian kelulusan di akademi dulu.

__ADS_1


"Aku takut ketika sendirian dia menembakku dari arah yang tidak aku ketahui. Karena itu aku sangat takut." Suara Naava mulai perau.


"Itu tidak akan terjadi. Selama kau memiliki tekad yang kuat." Aku mencoba menghiburnya. Aku memegang salah satu telapak tangannya agar dia merasa lebih tenang.


Aku mencoba untuk melangkah tapi Naava belum ingin melepaskanku. Aku terpaksa menunggunya hingga dia mau melepaskan tangan kananku.


"Kau seorang OVERLORD. Makhluk yang diincar seluruh Ousama dan Slave di dunia, bahkan para dewa,ruler dan raja iblis. Apakah kau tidak merasa takut akan tekanan itu? Bagaimana bisa kau sekuat itu?" Tanya Naava. Aku pun menghela napas panjang.


"Kan sudah kubilang. Itu yang namanya tekad." Kataku.


"Kau bohong. Jika itu cuma tekad kau tidak mungkin bisa sekuat ini. Bagaimana caranya Gen!? Tolong beritahu aku!" Naava mulai hilang kendali. Karena memegang telapak tangannya tidak cukup, maka aku memeluknya. Seketika Naava langsung lemas dan terkejut.


"Tekadlah kuncinya. Sisanya tergantung tindakanmu." Balasku. Naava seketika menangis di pelukanku. Aku tahu beban mental dan tanggung jawab yang dia bawa sebagai seorang putri dari kerajaan Panthera. Aku tidak bisa menyalahkannya kalau dia sampai seperti ini. Dia hanyalah seorang gadis biasa pada akhirnya yang lemah lembut dan baik hati.


Aku pun mengantar Naava ke kamarnya kemudian pergi ke atas atap akademi. Tiba-tiba aku merasakan hawa kehadiran yang tidak asing. Killhunger yang sedang mengenakan mantel hitam dan berandar di pembatas besi.


"Kau sudah menemui mata-mata dari pihak Dynasty Air Selatan?" Tanya Killhunger.


"Apa untungnya bagimu menolong bocah itu?" Aku cukup penasaran tentang hal itu.


"Tentu saja banyak sekali. Salah satunya adalah ini." Tiba-tiba dari tempat pasar, muncul ledakan yang sangat dahsyat. Asap mengepul sangat tebal.


"Anak itu sebenarnya bukanlah seorang mata-mata. Tapi dia adalah alat." Kata Killhunger.

__ADS_1


Dari balik kepulan asap, terlihat sosok monster setinggi sekitar 140 meter. berwujud naga dengan taring seperti gading dan bersisik putih seperti es. Aumannya membuat daerah sekitarnya menjadi duri dan karang es raksasa.


Sekarang aku paham kenapa Gydra merasakan Manna yang sangat besar dari Drago. Karena Drago adalah seorang Kaiju Master.


__ADS_2