
(Sudut Pandang : Envy)
"Overwatch, katamu?" Tanya salah satu anggota Apocalypse bernama Shred. Berpenampilan seperti samurai. Menggunakan armor berwarna hitam dengan 2 bendera yang terpasang di pundaknya, senjata yang digunakan adalah Sword Of Takemikazuchi. Pedang yang di tempa oleh Smith dengan material yang sangat sulit dicari. Bahkan demi mendapat material yang berada di dungeon break, Shred rela menunggu sampai berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bisa memasukinya.
"Dari semua roh legenda, aku bahkan tidak pernah tahu ada legenda tentang Overwatch." Kata Shred berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju ke Overwatch.
"Siapa yang memberi izin untuk kemari, Shred? Turunlah." Kataku menatapnya dengan tajam. Tapi Shred tidak mempedulikannya. Shred langsung mencekram kerah jubah Overwatch dengan sangat kencang.
"SHRED KALAU KAU MASIH SAJA TIDAK MENURUTIKU AKU AKAN MENGHUKUMMU!" bentakku.
"LAKUKAN KALAU KAU BISA, ELF SIALAN!!!! KAU PIKIR SETELAH MENGALAHKAN KAMI SELURUH ANGGOTA APOCALYPSE AKAN MEMBUATKU TAKUT?!!!!" Shred membentakku kembali. Aku pun dengan marah merubah wujud menjadi Paduka Valon dan bersiaga untuk menyerangnya.
Kraven bahkan tidak merasa seperti terjadi sesuatu. Yang dia lakukan hanya melihat kami dengan bersedekap dan bersandar di sisi singgasana. Benar-benar tidak berguna. Tapi kejadian diluar dugaan terjadi.
Shred menjadi tidak bisa bergerak. Tubuhnya menjadi kaku dan tak bisa ia gerakkan. Perlahan tubuhnya ambruk ke lantai. Apa yang sebenarnya terjadi??
"Kenapa ini?!...." Semua anggota Apocalypse dan para NPC menjadi panik dan terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Begitu juga denganku. Dengan cepat 3 anggota lainnya maju untuk menahan Overwatch. Tapi sama seperti Shred. Lockdown si penembak jitu, Rachet si tanker dengan ras Singa, Lance si pengguna tombak juga menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.
"Nona, hukuman apa yang cocok untuk si tuan sok tahu dan tukang menyela ini?" Kini keadaan terbalik. Overwatch mencekik Shred dan mengangkatnya dengan satu tangan.
"Ap-a-Apa....yang......kau lakukan......pada...kami?!" Shred bahkan masih berusaha untuk menggerakkan tangannya untuk meraih pedangnya. Beberapa NPC terbawa suasana karena pencipta dan tuan mereka diserang dan disakiti sehingga mereka mencoba menyerang Overwatch.
Dengan sangat cepat dan enteng, Overwatch melumpuhkan mereka dengan sekali gerakan. Overwatch pun menginjak salah satu NPC yang ada di dekatnya untuk ia jadikan sandaran kaki. Untuk pertama kalinya aku melihat kami para Apocalypse bisa dikalahkan dengan mudah dan hina. Siapa sebenarnya si Overwatch. Anggota Apocalypse yang lainnya bersiap untuk menyerang Overwatch. Aku pun mengerahkan seluruh kemampuan dan mentalku untuk berteriak.
"Hentikan!!!!!!" Semua segera menempatkan perhatian mereka ke arahku. Bahkan Kraven dan Overwatch juga menoleh ke arahku memperhatikan. Hening beberapa detik kemudian.
"Overwatch, kemarilah." Perintahku kepada Overwatch. Sang Overwatch pun mundur ke arahku dengan keadaan berlutut.
"Jika kau gunakan kekerasan seperti ini lagi aku memutuskan aliran manna ku sehingga kau mati secara perlahan."
__ADS_1
"Maafkan aku, nona." Aku berjalan menuju ke arah Shred, Lockdown, Lance, dan Rachet yang terbaring tak bisa bergerak.
"Aku harap kalian menerima kekalahan kalian." Aku menyuruh Overwatch untuk membebaskan mereka dari kondisi kaku. Cukup dengan menjentikkan jarinya Semuanya kembali seperti normal.
"Tidak ada efek stunt? Apa maksudnya ini?" Lockdown begitu heran dengan apa yang terjadi.
"Kau hanya menggunakan perantara lirikan mata untuk membuat kami tidak bisa bergerak. Siapa kau sebenarnya? Dan mata apa itu?!" Tanya Shred. Overwatch melipat kedua tangannya.
"Sudah kubilang aku adalah Overwatch, generasi pertama. Di perang mitologi aku adalah sumber dari segala sumber penyebab terjadinya perang. Anak hasil dari hubungan seorang Asura bernama Ryoumen Sukuna dengan seorang demigod wanita (setengah dewa) pahlawan wanita pertama yaitu Ash." Jelas Overwatch. Semua orang tidak berani bergerak atau breaksi sedikitpun. Hawa dan aura sang Overwatch begitu mengerikan seolah dia adalah kematian itu sendiri. Begitu juga denganku.
"Kalian mungkin tidak mengetahui legenda itu karena kalian adalah para Alter yang dipindahkan secara paksa ke dunia ini. Jelas beberapa sejarah dan legenda di dunia asal kalian ada yang berbeda dengan yang dimiliki dunia ini. Karena itu aku meminta Ousama-ku untuk memperkenalkanku kepada kalian para Alter." Jelas sang Overwatch. Meskipun memiliki hawa dan aura yang sangat mengerikan ada satu pemain yang berhasil bertanya dan aku pikir dia akan diperlakukan lebih buruk dari Shred.
"A-a-apa itu....Alter?" Tanya si pemain tersebut. Sebenarnya aku penasaran juga tapi akutm terlalu takut untuk mengangkat suaraku.
"Alter adalah orang dipindahkan dari dunia satu kedua yang lain. Contohnya adalah kalian, melalui perangkat yang kalian sebut game kalian bisa ke dunia ini. Kalian bukanlah satu-satunya yang terkirim ke dunia."
Karena terlalu penasaran akhirnya aku bertanya.
"Iya, itu benar nona. Kalau lebih mudahnya, Multiverse."
Jelas sang Overwatch. Shred yang awalnya takut juga bertanya.
"Apa alasan kami dipilih sebagai Alter?" Overwatch pun menatapku. Dari lubang topengnya aku bisa melihat mata merah darahnya yang bersinar dan aku juga melihat pola matanya seperti pola pada roda. Overwatch kemudian memalingkan wajahnya ke arah Shred kembali.
"Berperang." Jawab sang Overwatch.
...****************...
(Sudut pandang : Yuna)
__ADS_1
Setelah mendengar cerita dan laporan Kraven, aku merasa sedikit bingung. Bukankah OVERLORD yang menjadi sumber penyebab perang ini. Bukan Overwatch. Aku bahkan tidak tahu ada istilah Overwatch. Diingatanku sebagai Dewi Tsukuyomi juga tidak ada satu pun yang berkaitan dengan Overwatch.
"Ini buruk. Bahkan dengan keberadaan tuan Gen sendiri saja sudah membuat siklus perang ini menjadi kacau. Jika yang dia katakan adalah benar Tuan Gen akan terancam." Kataku yang tanpa sadar menggigiti kuku ibu jariku.
"Aku juga merasa begitu. Rencana yang kita susun juga akan berantakan." Kata Kraven dengan nada menyesal.
Tapi ditengah-tengah itu aku terpikirkan sesuatu.
"Kraven, adakah kerajaan atau wilayah berpenghuni di didekat Kuil Izanami tempat kalian bertarung?" Tanyaku penasaran.
"Hanya ada negeri tropis yang menjadi wilayah netral. Kerajaan Panthera. Eh, Ibu...." penjelasan Kraven terpotong.
"Kenapa?"
"Tidak....aku harus pergi. Mengawasi orang-orang Apocalypse secara bergilir benar-benar menguras tenaga. Aku akan mengabari ibu jika ada sesuatu. Sampai jumpa." Hawa keberadaan Kraven pun hilang sepenuhnya. Dia sungguh-sungguh pergi.
Waktunya juga tepat ketika sudah malam hari. Aku melihat Mira tertidur di gendongan Riza. Riza segera memberikan Mira kepadaku. Para tetua juga memberi salam kepada kami untuk pamit. Hanya tersisa Yukki dan Riza.
"Apa yang kau lamunkan tadi? Aku melihatmu hanya diam menatap lautan." Tanya Riza penasaran. Ternyata dia memperhatikanku ketika aku berbicara dengan Kraven.
"Ah, tidak aku hanya rindu dengan Tuan Gen dan sepertinya rasa rindu itu akan terbayarkan." Kataku.
"Apa itu? Kau ada petunjuk dilamunanmu?" Tanya Riza penasaran.
"Riza, Fakta tentang hubungan pertunangan Tuan Gen dengan seorang wanita yang adalah seorang putri di negeri Panthera yang pernah kau ceritakan dengan fakta letak Geografis Kerajaan Panthera yang dekat dengan Kuil Izanami tempat Kraven dengan Tuan Gen adalah jawabannya." Kataku sedikit jengkel tapi aku menahannya karena aku sedang menggendong Mira yang sedang tertidur. Riza dan Yukki yang mengetahuinya sedikit menjaga jarak. Mereka mengira aku adalah bom yang siap meledak.
"Jadi selama ini....?!" Yukki pun paham maksudku.
"Selama 4 tahun ini. Tuan Gen berada di negeri Netral, Panthera."
__ADS_1
(Ilustrasi : Yuna dengan wujud dewatanya setelah time skip 4 tahun)