
(Sudut pandang : Naava)
Perang mulai memanas. Kami saling tabrak dan menerjang dengan pihak musuh yaitu Gog Magog. Dari kedua pihak banyak sekali korban berjatuhan.
Ada salah satu prajurit Panthera yang diterjang oleh dua Gog Magog sehingga kehilangan kedua lengannya. Darah membanjiri seluruh pakaian perang dan zirah nya sampai ada Gog Magog menusuknya seperti sate dan melemparkan mayatnya ke udara.
Ada juga salah satu Gog Magog yang mati diterjang oleh pasukan ku dibagian lehernya sehingga kepalanya terpisah dengan tubuhnya. Kami tahu resikonya dimana kita sudah berperang. Maka kami tidak boleh berhenti begitu saja melihat rekan-rekan kami mati.
Karena zirahku sudah menyimpan banyak sekali manna mentah dari energi kinetik berupa tebasan dan hantaman dari Gog Magog, aku bisa meledakkan gelombang kejut. Ku ledakkan gelombang kejut ke kerumunan mereka. Seketika 14 Gog Magog terlempar. Kugunakan sepasang tameng cakar ku juga sebagai pertahanan dan senjata untuk menyerang mereka.
Tiba-tiba aku terhantar sesuatu dengan sangat cepat dan sangat keras sehingga aku terlempar ke udara. Tidak sampai disitu, Aku melayang dan meluncur menabrak salah satu drone di garis belakang hingga meledak. Bagaimana bisa?! Kobaran api membakar segalanya disekitarku bahkan juga tubuhku.
Semua terlihat melambat seakan waktu menjadi sangat lama berjalan. Aku melihat Yuna yang meneriaki ku meskipun telingaku mendengarnya dengan samar-samar, Alice yang lebih dekat denganku segera berlari menuju ke arahku bersama gadis dengan kendaraan kadal itu. Aku kemudian menoleh ke arah dimana aku mulai terpental dan terpelanting. Disana ada sosok golem teman Regila yang membawa palu perang raksasa yang tinggi dan besarnya hampir sama dengan si golem. Dia lah yang membuatku terpental sampai sini dengan memukulku dengan palu perangnya.
Setelah mengetahui si golem itu yang memukulku tiba-tiba aku kehilangan kesadaranku ditengah kobaran api.
...****************...
(Sudut pandang : Yuna)
Melihat Naava terpental dan menabrak drone hingga meledak membuatku ingin menghajar siapa pelakunya. Hanya satu orang yang bisa melakukannya. Smith.
"Ya ampun Naava! Baru menit pertama woi!" Kataku menusukkan tombak ku ke batang leher salah satu Gog Magog. Kugunakan magic skill untuk ber telepati dengan Alice.
"Woi Alice, cepat bantu dia!" Bentak ku yang tertuju ke Alice melalui telepati.
"Sedang kuusahakan! Rekanmu sedang mengusahakannya." Balasnya. Mungkin yang dimaksud Alice "rekan" adalah Shizuka.
__ADS_1
Smith mulai membuat kedudukan yang dimana kami seimbang menjadi Apocalypse lebih unggul. Benar-benar merepotkan. Smith membantai seluruh pasukan Panthera yang ada didekatnya layaknya seseorang yang membersihkan semut di jalan. Jika begini maka peperangan akan berat sebelah. Aku berinisiatif untuk menyerangnya. Saat aku ingin menyerbu nya tiba-tiba aku juga tertabrak sesuatu.
"Hai cantik. Kau merindukanku?" Kata seseorang yang sangat familiar. Seorang laki-laki berambut cepak berwarna hitam dengan mata berwarna hitam, memakai pakaian tanpa lengan dengan warna yang sama seperti milik Envy dengan jaket hitam dengan resliting terbuka, memakai celana hitam taktikal dan memakai sepatu boot hitam. tangan kanannya terbungkus berlian hitam membentuk sebuah cakar menindihiku.
"Wrath?!" Kataku dengan terkejut. Dengan cepat ku tendang perutnya hingga dia terlempar sekitar 7 meter. Aku mencoba berdiri. Ku lirik Regila palsu itu yang mengambang di udara. Aku tahu kalau dia adalah Envy yang menyamar. Envy men teleport saudaranya kemari menggunakan kemampuan Regila. Jadi itu alasannya kenapa wanita itu menggunakan wujud Regila. Untuk bisa menggunakan kekuatannya. Dia menatapku dengan senyum jahatnya seolah peperangan ini adalah hiburan untuknya. Kutatap kembali Wrath yang sudah memasang kuda-kuda.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita adakan pertarungan ulang. Akan kubalas apa yang kau lakukan kepadaku saat di Ibu kota Blizzard." Kataku menarik kembali pedang dan tombak ku. Wrath menyeringai mendengarnya. dia kemudian melepaskan jaket tanpa lengannya.
Tubuhnya mulai diselimuti oleh berlian hitam yang mengkilat.
"Menarik. Kalau begitu ayo kita rayakan reuni ini." Kata Wrath yang sudah dalam bentuk harimau berwarna hitam raksasa. Kami pun saling tebas dan baku hantam.
...****************...
(Sudut pandang : Alice)
Keadaan di medan peperangan semakin runyam. Dengan para pasukan Panthera melihat Naava di bogem oleh Smith membuat semangat perjuangan para prajurit menurun. Itu pasti alasannya kenapa Smith menghantam nya terlebih dahulu. Sementara itu Naava mengalami patah tulang. 3 tukang iga nya patah, wajahnya mengalami luka bakar tingkat 3 karena terkena ledakan dan api dari drone yang ia hantam tadi.
"Halo? Siapapun?! Kami perlu medis disini!" Kataku melalui alat komunikasi itu. Tiba-tiba seorang wanita menanggapinya.
"Disini Neema. Ada apa?" Sahut seorang wanita yang mengaku bernama Neema.
"Neema, Ratu Panthera sekarat. Kirimkan medis Sekarang! Dia mengalami luka bakar tingkat tiga diwajahnya dan mengalami patah tulang di 3 tukang iganya." Kataku mengkonfirmasi.
"Baik, koordinat nya dimana?" Kata Neema.
"Barisan belakang, Drone Barisan timur, dekat dengan kobaran api." Kataku.
__ADS_1
"Baiklah. Pastikan kakakku tetap hidup. Kami akan ke sana!" Jawab Neema dan dari kedengarannya dia sambil berlari dengan tergesa-gesa.
...****************...
(Sudut pandang : Yuna)
Wrath menyerangku menggunakan ujung ekornya yang berbentuk seperti galah hitam yang cara menyerangnya sama seperti kalajengking. Kecepatan ekornya juga lumayan cepat. Tapi....
Tepat ekor kalajengking itu menancap meleset ke tanah ku tebas barang ekornya dengan sekuat tenagaku. Tapi sayangnya ekor itu tidak mengalami kerusakan.
Seingatku kelemahannya adalah api.
"Kau akan kalah lagi di peperangan ini! Dan kupastikan kau kali ini kujadikan mainanku di ranjang!" Katanya dengan senang. Kugesekkan ujung tombak ku dengan bilah pedang ku sehingga terpercik lah api sehingga membakar mata tombak ku dan juga bilah pedang ku.
Aku pun melangkah maju dan mencoba menyerangnya sekali lagi. Ekor kalajengking nya pun meluncur menyerangku melalui bawah dan antara kakinya. Aku pun melompat untuk menghindarinya. Tepat di wajahnya ku tebas wajahnya secara horizontal secara telak. Hidung Wrath terbakar hebat.
"AAAAAAAAGGGHHH!!!!! Dasar wanita sialan!!! kau mengenai wajahku!!" Gerang Wrath memegangi hidungnya yang terbakar.
"Sebaiknya kau mundur selagi aku masih ingin mengabaikanmu." Aku pun berjalan perlahan meninggalkan Wrath yang masih melolong dan kesakitan.
"Kau!..... Kau!!..... CUMA DEMI-SLAVE SEHARUSNYA TIDAK USAH BELAGU!!!!!" Tiba-tiba ledakan energi manna terjadi kepada Wrath. Ledakannya sangat dahsyat sampai-sampai aku terhempas 7 meter karena ledakan manna yang diakibatkan kemarahannya.
"Sepertinya kekuatan dari namamu itu menyelamatkanmu." Ucapku. Seharusnya aku tidak menguji kesabarannya sehingga dia marah. Karena Wrath berarti kemarahan. Mungkin kekuatannya meningkat akibat kemarahaannya yang memuncak.
Tubuh Wrath menjadi kembali ke bentuk manusia tapi tubuhnya masih dilapisi berlian hitam dengan kepalanya yang berubah menjadi monster harimau, punggungnya terdapat banyak sekali duri-duri berlian yang menjulang, Tangannya menjadi lebih besar dari yang biasanya ketika dia melapisinya dengan berlian, Kakinya membentuk sudut yang ganjil mirip seperti kaki belakang harimau, dan memiliki ekor yang panjang seperti kadal hanya saja dengan ujung ekor berbentuk trisula.
"Aku berubah pikiran. Akan kupastikan kau menjadi mainanku di ranjang dalam keadaan sudah menjadi mayat dan itu mutlak." Kata Wrath dengan penuh kebencian di nada bicaranya.
__ADS_1
Api yang ada di bilah tombak dan pedang ku juga ku naikkan suhunya sehingga apinya berubah menjadi biru terang.
"Maka kupastikan kau jadi logam muliaku sebagai tropi dan hadiah untuk Tuan Gen." Balasku. Kuambil kuda-kuda bertarung ku. Seketika kami saling menerjang sehingga ledakan energi manna ungu gelap dengan biru terang terjadi ditengah peperangan.