Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Hakuken Vs Exile


__ADS_3

"Brengsek..! Jadi selama ini kau menggunakan item diluar job class-mu....." Kata Screw You menahan batuk darahnya. Aku pun bangkit dari posisi berlututku dan berjalan melewati Screw You.


"Sejak kapan kau menjadi sebaik ini?....... Kau melewatkan kepalaku...." Kata Screw You dengan terbatuk-batuk. Mendengar hal itu pun aku berhenti berjalan. Kukeluarkan weapon item berupa pisau dengan dasar atribut elemen kegelapan. Aku memutar-mutar pisau itu dan kulemparkan ke belakangku. Tepat menancap cukup dalam mengenai kepala belakang Screw You.


Tubuh Screw You langsung terkapar ke depan. Kepalanya mengucurkan banyak darah dari lubang helmnya. HP Screw You pun menyentuh angka 0. 1 tumbang, 3 pemain lagi. Exile yang dari terjebak akhirnya bisa keluar dengan HP-nya bekurang menjadi setengah akibat efek stun dari artefak es milikku.


"Sial! Jika kalau bukan karena artefak brengsek itu...." Penyesalan Exile tergambar dari nada bicaranya. Dia lebih menjunjung tunggi kehormatan kesatria dibandingkan tata krama bermain MMORPG. Di TSO, Exile termasuk salah satu Tanker terbaik di server ini.


Aku sendiri masih perlu persiapan panjang untuk menghadapi tipe pemain sepertinya.


Kuminum beberapa potion healing untuk mempercepat pengisian ulang HP bar milikku.


"Kalian menyerangku bersamaan. Maka aku perlu memisahkan kalian. Kalau perlu terpisah selamanya. Dengan begini pertarungan "penuh kehormatan"-mu untuk melawanku menjadi kenyataan." Kataku. Aku pun segera menggunakan zirah putih dengan helm serigala putih. Dengan hiasan renda bulu di kedua bahunya dan menjulur hingga bagian paha. Zirah yang kubuat sendiri menggunakan item-item dan atribut magic sehingga aku bisa memakainya tanpa terkena pinalty.


Kukeluarkan juga 4 senjata dari Inventory-ku. 1 katana raksasa, 1 kapak bermata dua raksasa, 1 tombak panjang dengan bermata dua, dan Palu perang raksasa. Karena keempatnya memang item sihir maka aku bisa dengan mudah menggunakannya tanpa ada pembatasan buff. 4 senjata raksasa itu malayang dan mengelilingiku.


"Kau ingin pertarungan kehormatan kan? Maka akan kukabulkan keinginanmu itu. Tanker vs Tanker." Kupegang katana raksasaku yang melayang di dekat tangan kiriku.


Exile pun tertawa lepas melihat tindakanku.


"Kau yakin? Ini akan merugikanmu lo. Jika Mukbang dan Serena berhasil mengalahkan rekan-rekanmu maka akan terjadi pertarungan 3 melawan 1." Aku tahu kalau Exile berusaha untuk membuatku bingung. Dia mengetes jiwa kesatriaku.


"Aku harap diammu itu adalah tekad kuat untuk tidak lari dalam keadaan apapun. Akan kuhormati itu." Exile mengambil sesuatu dari inventory-nya. Artefak penjara 6 sudut. Tidak sekuat combine skill sih, tapi cukup membuatku kesulitan untuk keluar. Begitu juga yang dari luar yang ingin menjebolnya. Exile menggunakan artefak itu membuat ruangan hanya untuk dia dan aku sehingga tidak ada yang akan mengganggu.

__ADS_1


"Dengan begini, baik aku maupun kau tidak akan mendapat bantuan dari luar." Kataku. Exile pun membuka jendela console-nya. Dia memberiku ajakan Duel PVP. Dengan cepat aku menekan tombol Yes melalui pikiranku.


Ketika angka hitung mundur mencapai nol Exile bahkan segera mengeluarkan skill andalannya.


"*Martial art*: Buddha Will!"


Setelah mengeluarkan material art itu, muncul di belakang Exile yaitu avatar dari sang buddha. Tingginya sekitar 8 meter.


Ditangan Exile yang membawa senjata knuckle muncul cincin sihir yang berputar di pergelangannya.


"Terima ini!" Bentak Exile.


Tangan buddha itu mengikuti gerakan tangan Exile dan mencoba memukulku dari atas. Dengan cepat aku menghindarinya. Aku melompat ke atas. Ketika masih di udara tangan buddha yang lain menamparku dengan telak hingga membuatku terpental dan terbanting ke kursi penonton dari artefak penjara 6 sudut. Bekas tamparan yang mengenai tubuhku membuat tubuhku berasap. Aku sudah menduganya.


"Cukup efektif untuk melawan pemain ras undead sepertimu." Kata Exile dengan bangga. Tangan buddha milik Exile pun menyapu seluruh podium agar bisa mengenaiku. Aku pun berlari untuk menghindarinya. Kalau sudah begini maka....


Kuambil 1 botol potion. kulemparkan ke arah tangan buddha itu. Botol tersebut kemudian pecah. Tangan buddha itu pun perlahan meleleh seperti terkena cairan asam.


"Zat asam sepertinya cukup efektif untuk melawan pengguna elemen suci." Kataku. Buddha itu pun meleeh dan hancur karena aku menambahkan efek penyebaran sehingga cairan asam itu merambat ke seluruh tubuhnya.


"Seperti biasa, kau sangat menyukai trik licik. Cairan asam dari darah dan bisa dari kobra di dungeon terdalam yang pernah kita masuki. Aku tidak menyangkanya kau akan menyimpannya." Kata Exile memujiku.


"Aku cukup kesulitan dalam mencari wadahnya. Aku pun menggunakan tulangnya sebagai bahan pebuatan botol penyimpanannya. Tak kusangka cukup efektif untuk menghancurkan Avatar milikmu yang berelemen suci." Jelasku.

__ADS_1


Aku pun segera melesat dan menyerang Exile dari jarak dekat. Aku penasaran sejauh apa kemampuanku sebagai tanker melawan salah satu pemain Tanker terbaik di TSO.


Untuk mengimbangi gerakan 4 tangan milik Exile aku terpaksa menggunakan rune untuk menggunakan magic skill dalam mengendalikan 4 senjataku sekaligus. Dan baru 3 menit kami bertarung, HP-ku sudah turun mendekati setengah. Sedangkan aku melihat HP milik Exile hanya berkurang 10%.


"Dalam ketahanan HP aku lebih unggul." Aku mencoba menahan tebasan horizontal milik Exile. Ternyata benar-benar berat. Bahkan aku sampai dibuat berlutut dan bergetar. Tanah yang menjadi pijakanku mulai hancur. Padahal aku sudah mendapat bantuan dari 4 senjataku untuk menahan serangannya.


Cukup satu momen saja. Tidak perlu 1 menit, tidak perlu 1 detik. Cukup 1 momen saja agar aku bisa menggunakannya. Sebagai Tanker kuakui Exile sangatlah hebat. Dia bahkan tidak menggunakan 2 lengan bawahnya untuk mendorong senjatanya. Itu dia!


Kutendang posisi kakinya yang sangat terbuka. Meskipun tidak terlalu berefek tapi Exile kehilangan sedikit keseimbangannya dan mundur beberapa langkah.


"Kau memojokkanku seperti ini.....sialan....tapi" Kuangkat sesuatu dari tangan kananku. Sebuah gulungan rune.


"Perfect Protection!" dengan cepat aku menggunakan zirah milik Screw You.


"Menggunakan drop item dari pemain yang mati. Jika Screw You menggunakan fitur PVP untuk melawanmu pasti kau tidak akan bisa memakainya." Jelas Exile tidak sebodoh Screw You. Dia paham betul permainan di TSO.


"Tentu saja. Aku memang berencana melawanmu sesuai dengan job class, tapi kurasa aku tidak bisa menjadi tanker yang hebat. Tidak sepertimu." Balasku. Exile pun tertawa pelan.


"Kenapa hanya aku, Valon? Kau bahkan sampai berbelas kasih kepadaku. Kau bahkan bisa saja membunuhku dan yang lain tanpa susah payah dan mengganti item yang bukan job class-mu." Tanyanya penasaran.


"Karena itu terlalu membosankan, bodoh!!!!!" Bentakku. Manna-ku bocor dan membanjiri udara sekitar seperti semburan air yang sangat deras. Bahkan Great Protection tidak bisa menahan jumlah manna-ku.


"Martial art : Asura Wrath." Dan akhirnya Exile mengeluarkan kartu andalannya.

__ADS_1


__ADS_2