
"Tapi apakah mungkin memanggil roh dari masa lalu atau pun masa depan untuk digunakan sebagai pasukan?" Tanyaku lagi.
"Jika ada, itu pasti bukan manusia yang bisa melakukannya. Bisa jadi ranahnya melebihi ranah dewata." Ujar Miyuki.
"Lalu bagaimana tentang pemanggilan Slave? Hampir semua orang random bisa memanggilnya, roh legenda yang ada di masa lalu untuk diperbudak dalam perang mitologi bisa mereka panggil bahkan tanpa syarat dari manipulasi jiwa yang ibu baru sebutkan tadi." Semakin banyak aku tahu semakin aku banyak yang tidak ku ketahui.
"Kecuali roh ilahi. Semua roh legenda itu hanyalah bongkahan manna dari Ousama mereka. Mereka sebenarnya tidak berjiwa. Dan alasannya para Slave bisa tahu legenda mereka yang asli itu karena memory yang berasal dari relic katalis yang digunakan untuk memanggil mereka. Karena itu banyak roh legenda yang jenis kelaminnya tidak sesuai dengan sejarah aslinya, ukuran tubuhnya, fisiknya, dan juga kemampuannya. Mereka semua terbentuk sesuai dengan kondisi manna dari si pemanggil dan Ousama mereka." Jelas Miyuki.
Pantas saja Jenghis Khan di dunia ini bisa berkelamin wanita, begitu juga dengan Enkidu. Bahkan penampilan Gata atau Gathotkaca juga terlihat beda dari versi legendanya. Jadi sebenarnya mereka itu tidak berjiwa dan tercipta dari manna Ousama mereka.
"Aku bahkan tidak tahu itu." Ujarku memegangi kepalaku karena banyaknya informasi yang mengejutkan hari ini.
"Baiklah-baiklah..." Ujarku tidak bertenaga.
"Eh maaf mengganggu kelas singkatmu, Miyuki. Tapi kita ke datangan tamu." Ibu Hisao memberitahu dengan menunjuk ke arah langit.
Aku, Shasa, dan Ibu Miyuki pun melihat ke atas. Ada dua kereta kuda perang yang terbang melayang mengitari langit di atas kami. Yang satu kereta dengan cahaya mirip seperti api yang satu lagi berupa kereta dengan cahaya biru langit dan ditarik oleh 3 rusa putih besar yang bertanduk besar juga.
"Wah-wah penantang kali ini cukup ramai." gumamku dengan semangat. Aku mengambil kembali pedang Mandau dari inventory. Mandau atau Parang Ilang atau Malat adalah senjata tajam sejenis pedang yang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan.
Kusarungkan Pedang Mandau ku di bagian belakang pinggangku lalu aku mengambil satu senjata lagi yaitu tombak pendek Papua dengan mata tombak yang bergerigi.
Aku baru sadar kalau ternyata di masing-masing kereta perang mereka terdapat 2 penunggang.
"Kukira kalian berdua saja yang akan melawanku. Ternyata kalian membawa 2 pendahulu kalian. Apollo, Artemis." Kataku dengan sombong. Tanpa basa-basi mereka menembakkan panah api dan cahaya biru ke arahku. Apollo dan Artemis hanya sebagai kusir di kereta itu. Penunggang aslinya adalah Helios untuk yang di atas kereta Apollo dan Selene untuk di atas kereta Artemis.
__ADS_1
Kukibaskan tombakku dan gelombangnya membuat panah mereka terpental mengenai tebing gunung Olympus. Mereka menembakkan panah lagi. Tapi kali ini Shasa dan Ibu Hisao yang menangkisnya untukku. Lagi-lagi anak panah mereka mengenai sisi tebing gunung yang lain.
Shasa dengan cepat beradaptasi dengan kekuatan Poseidon dengan membuatkan jalur untukku berupa jalan dari air laut yang menjulang dan menuntun ke arah kereta mereka.
Dengan senang hati aku menerima bantuan itu dan berlari di atasnya. Karena aku bisa mengendalikan kondisi air juga, aku pun memanipulasi air pijakan ku sehingga aku tidak terjatuh.
Mereka menembaki ku dengan ribuan anak panah. Ku keluarkan portal Babylon Treasure dan membalas tembakan panah mereka. Terjadi banyak sekali ledakan di langit akibat anak panah dari Helios dan Selene beradu dengan ratusan senjata yang ku lontarkan dari portal Babylon Treasure.
Shasa mengambil kesempatan ketika 4 Dewata itu fokus denganku dengan membuat ombak setinggi sekitar 400 meter untuk melahap mereka dan itu berhasil. Shasa kemudian membanting ombak itu ke gunung Olympus dengan sangat kencang.
Mereka berempat terdampar dengan basah kuyup.
"Jadi ini kekuatan dari dewa laut...?" Gumam Shasa dengan kagum karena mungkin dia juga sudah tahu cara menggunakan kekuatan Poseidon dari ingatan jiwa yang kutambalkan ke jiwanya.
"Mungkin berkat pekerjaanku sebagai assassin." Shasa menanggapi pujian ibu Hisao dengan malu.
Aku pun mengambil alih pijakan air yang kuinjak untuk menurunkan ku di tempat dimana Helios, Apollo, Selene, dan Artemis terdampar. Tepatnya di sebuah hall istana yang atapnya hancur karena hantaman ombak yang dikendalikan Shasa tadi. Mereka semua berantakan dan basah kuyup. Kuda-kuda Helios juga mulai memudar menjadi bara api yang menyusut begitu juga dengan kereta dan rusa penarik milik artemis yang memudar menjadi kilauan.
Kedua Ibuku dan Shasa menyusul ke tempatku dengan kekuatan Ibu Miyuki yang merubah tubuhnya ke bentuk Ifrit dan membawa Ibu Hisao dan Shasa kemari dengan memanjat.
"Pas sekali. 4 lawan 4. Pilih...." Kataku menemukan hal yang kebetulan. Tapi sebelum aku menyelesaikan kalimat ku Ibu Hisao sudah menerjang Artemis dan membawanya pergi jauh.
Ibu Miyuki memilih duel dengan Selene dengan memukulnya menggunakan tangan ifrit hingga menembus beberapa tembok. Ibu Miyuki juga langsung mengejarnya.
Shasa dan Apollo secara diam-diam langsung saling serang dan menjauh. Shasa menebas setiap Apollo menembakkan anak panah apinya ke arahnya.
__ADS_1
"Ok.... Berarti tersisa antara kau dan aku, Helios. Siapa yang menyangka kalau mereka berinisiatif untuk memilih sendiri." Komentarku setelah kejadian begitu cepat barusan.
Helios kemudian mengeluarkan 2 cambuk api dari tangannya dan memutar-mutar cambuknya dengan galak sampai-sampai lantai di sekitarnya gosong.
"Serius?! Tanpa basa-basi?" Ucapku dengan kecewa.
Helios dengan serius menebaskan cambuknya beberapa kali ke arahku tapi aku berhasil menghindarinya. Dan dengan cepat melucuti senjataku dengan mengikatkan ujung cambuknya ke tombak dan pedang ku dan menariknya. Aku pun terlucuti dan menjadi tak bersenjata.
"Mari kita lihat bagaimana kau akan bertarung tanpa mainanmu ini." Kata Helios dengan seram.
"Kau mau tahu hasilnya?" Dengan cepat aku berteleport ke samping Helios tepat dimana senjata-senjataku berasa kemudian memukul wajah Helios dengan tangan kiriku. Helios terpelanting lumayan parah hingga tubuhnya menabrak lukisannya sendiri di dinding.
"Kekuatan teleportasi?" Ujar Helios kesakitan.
"Seharusnya kau menonton pertarungan ku dengan Poseidon sehingga bisa lebih siap lagi dalam menjegalku." Kataku. Ku gigit pedang Mandau ku.
Helios pun memanggil cambuknya kembali ke tangannya.
"Baiklah, kita bisa mulai lagi dari pembukaan." Kataku dengan posisi kuda-kuda bertarung.
Aura kegelapan milikku dan aura matahari yang dimiliki oleh Helios saling meluas dan bertabrakan. Mengakibatkan hall istana hancur.
Helios memutar-mutar cambuknya dengan menggila dan berlari ke arahku untuk menyerang ku. Ku lemparkan tombak Papua ku ke arah Helios sehingga dengan cepat aku berteleport di depannya.
Duel antara Dewa Matahari melawan OVERLORD pun dimulai.
__ADS_1