
Kami pun mulai memburu target kedua kami. Naava bilang dari penampilannya dia berasal dari Dynasty Air Selatan. Aku tidak tahu kalau Dynasty Air juga memiliki kembaran lain di bagian selatan.
Kami pun mulai merencanakan pemburuannya. Setelah jam pelajaran selesai, aku dan Naava pergi menuju ke ruangan rahasia dimana yang mengetahuinya hanyalah para pejabat dan orang-orang penting di kepulauan.
"Jadi kita pindah ruangan ceritanya?" Tanyaku polos.
"Ya, mengetahui insiden kemarin maka aku mengubah lokasi rapatnya ke tempat yang lebih tersembunyi. Di ruang bawah tanah khusus." Jawab Nishimiya yang memimpin jalan. Kami pun sampai di sebuah lingkaran sihir yang terdapat di lantai di ruangan tersembunyi.
"Semuanya, silahkan berdiri dilingkupan lingkaran sihir itu." Pinta Nishimiya kepada kami untuk berada di dalam lingkup lingkaran sihir yang ada di tanah.
"Teleportation." Ucap Nishimiya. Dalam sekejap kami pun sampai ke ruangan yang kami tuju. Sangat mewah. Seperti hotel berbintang 5. Aku tidak tahu kalau dibawah sini para petinggi menggunakan ruangan ini.
"Cukup mewah untuk ruang bawah tanah." Kata Naava berkomentar.
"Ruangan ini digunakan untuk para tetua dan petinggi kerajaan untuk berlindung dari serangan dengan daya hancur yang dahsyat. Aku pun meminta izin kepada Tuan Putri agar bisa menggunakannya untuk rapat." Jelas Nishimiya. Tiba-tiba para pelayan dan dayang datang mempersiapkan meja, alas duduk, teh hangat, dan cemilan khas Jepang. Mereka melakukannya dengan cepat dan rapi. Cukup dalam 3 menit semuanya sudah siap. Tak lupa mereka membungkuk dan berjalan kembali menuju lorong dengan tenang dan rapi.
"Baiklah, di rapat kali ini kita langsung ke intinya. Setelah pasukan pembunuh senyap kita mencari lebih lanjut tentang orang ini. Seperti yang dikatakan Naava, dia benar berasal dari Dynasty Air Selatan." Jelas Nishimiya menyondorkan kami sebuah kertas mengenai target kedua kami.
"Apa motifnya?" Tanya Naava.
"Masih belum diketahui. Tapi untuk saat ini dia belum melakukan gerakan yang mencurigakan. Catatan mengenai kejahatannya masih bersih." Jelas Nishimiya.
"Kita akan mengetahuinya ketika kita bertemu dengannya langsung." Kataku.
"Kau ada rencana?" Tanya Naava. Dari wajahnya dia tampak tidak yakin kepadaku.
"Ya, ada." Kataku kepada mereka berdua.
Malam hari pun mulai tiba. Kami segera mempersiapkan rencana. Aku berani menebak kalau rencana ini termasuk rencana gila. Kami pun sudah berada di pasar bagian timur.
__ADS_1
"Kau akan menemuinya langsung?! Kau gila ya?!!" Kata Naava mencekram kerah bajuku dan mengguncangkanku seperti milkshake.
"Ini cara paling efektif, Naava. Lagipula. Di catatannya dia malah sering ramah dan membantu orang-orang di pasar. Bukankah itu cukup aneh?" Kataku megap-megap karena goncangan dari Naava.
"Maka satu-satunya cara mendekatinya adalah menggunakan motifnya itu sendiri yaitu dengan keramahan. Jika kita menggunakan cara lain memerlukan waktu lama untuk menyusunnya." Jelasku. Nishimiya yang sepertinya sedang menimbang-nimbang akhirnya mengangguk. Naava cuma bisa pasrah mendengar pendapat Nishimiya.
"Jadi siapa yang akan mendekatinya?" Tanya Naava dengan wajah tidak puas. Jari telunjukku reflek menunjuk diriku. Naava pun tepuk jidat.
"Kalau terjadi sesuatu kami akan ambil tindakan, tuanku." Kata Nishimiya.
"Aku hargai itu. Tapi sepertinya tidak perlu. Untuk malam ini cukup untuk mengawasinya saja." Kataku.
Keesokan harinya aku diberikan libur lagi oleh Nishimiya untuk bisa menjalankan rencana. Aku pergi pagi-pagi ke wilayah pasar. Aku melihatnya membantu nenek mengangkat barang-barangnya dari kereta kuda menuju tempat dagangnya. Aku pun mendekatinya.
"Apakah kau yakin anakku? Tidak perlu sampai seperti ini." Kata nenek itu yang enggan.
"Tidak apa-apa nek. Lagi pula waktuku sangat senggang." Kata bocah itu yang sangat kesulitan mengangkat sebuah karung yang sepertinya berisi buah-buahan.
"Kalian berdua anak yang baik. Ini hadiah untuk kalian." Nenek itu mencoba mengeluarkan sesuatu dari kantong pinggangnya. 2 permen. Aku jadi teringat ketika wali sialanku itu membelikanku cemilan kesukaanku ketika aku masih berumur 7 tahun.
"Terima kasih nak." Kata nenek itu. Kami berdua pun membungkuk hormat. Kemudian kami berpisah dengan nenek itu.
"Kau ini.... Sekuat apa sih?" Tanya bocah itu.
Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kau memiliki tubuh yang lebih kecil dariku, tapi kau bisa mengangkat karung berat tadi dengan sangat mudah hanya dengan satu tangan." Bocah itu makin curiga melirikku. Apakah cuma sampai sini rencanaku. Tiba-tiba bocah itu menepuk pundakku dan tersenyum.
"Ayolah kawan tidak usah tegang seperti itu. Kau benar-benar membantuku tadi. Terima kasih ya." Meskipun aku cukup terkejut dari perubahan sikapnya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama." Kataku dengan senyuman.
"Kau mau makan? aku akan membuatkannya. Sebagai tanda terima kasih." Kata bocah itu. Sebenarnya aku ingin menolak permintaannya tapi karena dia sangat memaksa maka aku terpaksa mengiyakan. Ternyata bocah ini memiliki tenda sekitar 20 meter dari pasar yang berada di dalam hutan.
"Tunggu sebentar. Kau duduklah." Katanya menyuruhku duduk di kursi yang terbuat dari bekas pohon yang di tebang. Dia membakar dua burung besar yang ternyata dia awetkan di dalam buntalan daun.
"Ini." Meskipun aku enggan tapi aku tetap menerimanya. Aku pun memakannya. Setelah kami makan kami mulai berbicara.
"Namaku Tatsumaki Gen. Kau bisa memanggilku Gen. Siapa namamu?" Tanyaku.
Dari matanya sangat berbinar dan senang.
"Namaku Drago. salam kenal." Katanya dengan ceria.
"Dilihat dari tempatmu tinggal kau sepertinya bukan berasal dari sini." Aku mencoba mengambil topik sekaligus mencari informasi.
Tiba-tiba wajahnya menjadi wajah orang yang sedang bersedih. Aku sangat hafal orang yang sedang terpuruk seperti ini.
"Yah, kalau mau jujur aku memang bukan berasal dari kepulauan ini. Bisa dibilang aku ini gelandangan." Hmm orang seperti dia tidak mungkin berakting. Tapi bisa jadi dia juga berpura-pura.
"Gelandangan?" Tanyaku kurang yakin. Biasanya orang yang berakting akan gelagapan jika ditanya ulang dengan pertanyaan mengenai jawaban yang dibuat-buat.
"Iya. Sebenarnya aku dibuang dari negaraku sendiri." Kata Drago, bocah berkulit sawo matang dengan rambut hitam berantakan dengan beberapa helai rambut merah. dan berpakaian seperti pengelana.
"Oh maafkan aku." Kataku segera.
"Ah, tidak apa-apa. Oh iya selain itu, Gen. Kau juga bukan berasal dari sini. Wajahmu terlihat berbeda dengan penduduk sekitar. Apakah kau dari imigran luar kepulauan?" Tanyanya. Aku hanya bisa mengiyakan perkataannya.
"Iya bisa dibilang begitu. Orang tuaku pindah ke bagian pusat karena pekerjaan mereka. Aku cuma bosan dan ingin pergi ke pasar." Kataku. Jelas itu hanya sebuah kebohongan.
__ADS_1
"Oh....Pantas saja. Aku sempat mengira kau adalah gelandangan sama sepertiku tapi mana mungkin gelandangan sepertimu bisa sebersih itu." katanya kemudian tertawa. Nih bocah doyan banget ya ketawa...
Disaat itulah tanpa sadar aku membentuk tali pertemanan kepada Drago.