Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Penyusupan Dimulai, Takdir pun Mempertemukan


__ADS_3

(Sudut pandang : Yuna)


Menurut salah satu prajurit Panthera Tuan Gen di rawat di istana. Aku sempat khawatir dengan kata " dirawat" yang diucapkan dari prajurit tadi. Memang apa yang bisa membuat Tuan Gen sampai harus dirawat? Apakah Tuan Gen benar-benar kalah dari Kraven? Atau sengaja mengalah? Sebelum terteleport aku sempat melihat ekspresi Tuan Gen yang benar-benar seperti orang yang menyesal seolah itu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tepatnya setelah nama seseorang yang di sebut Kraven yang kemungkinan adalah nama ibu aslinya. Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?


"Yuna, ada apa?" Tiba-tiba Riza menyentuh pundakku. Dia tahu wajahku tampak cemas alih-alih pucat.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berlebihan dalam berpikir." Jawabku. Ya sebagian besar adalah bohong dan sebagian adalah benar.


"Ingat tujuan kita kemari. Tetaplah fokus. Kita sedang dalam wilayah yang berpotensi menjadi musuh. Kita membutuhkan arahanmu yang kepala dingin." Kata Riza.


"Tidak kusangka kau bakal menghiburku." Mendengarku yang berkata seperti mengajak kelahi, wajah Riza yang barusan cemas menjadi jutek dan dingin. Tapi wajahnya kembali lagi menjadi cemas lagi.


"Lagi?!.....Disaat seperti ini?!" Keluh Jenghis. Para tetua sudah mengmbil sikap kuda-kuda untuk berjaga-jaga. Mereka berpikir jika 2 dewi yang sedang berseteru akan meluluh lantahkan bangunan penginapan ini. Tapi sebuah keajaiban dunia terjadi.


"Dengar, jika berkompetisi disaat seperti ini akan memperkeruh keadaan dan membuang waktu. Ratu Panthera pasti akan memanfaatkan Tuan kita yang menjadi tawanannya." Mendengar kata "Tawanan" saja sudah membuatku ingin marah setengah mati. Jika itu sampai terjadi tidak hanya si Ratu Panthera saja yang binasa. Akan kuhabisi seluruh kerajaan ini jika itu perlu.


Aku mengangguk untuk memperlihatkan tekadku. Posisi kami sekarang berada di penginapan umum. Kami baru saja sampai dikota Panthera tadi malam dan memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan. Karena itu kami menyewa penginapan. Kami menggunakan mantel disetiap kami keluar untuk berkamuflase dan berbaur dengan warga sekitar. Secara peradaban, Panthera bisa dibilang makmur dan sejahtera. Teknologi mereka juga sangat unik dan kreatif. Baik dari transportasi umum, papan-papan jalan, struktur bangunan, dan juga tabir pelindung kota. Aku sekarang paham kenapa Panthera disebut Wilayah Kerajaan Netral. Meskipun mereka terletak di Dynasty Bumi tapi mereka menutup wilayah mereka kepada siapapun bahkan untuk penduduk Dynasty Bumi sekalipun.


Jarak kami dengan istana cukup dekat. Kami cukup berjalan beberapa blok untuk sampai ke pintu depan istana. Tapi melihat banyaknya penjaga istana yang berpatroli membuatku semakin was-was. Tadi malam aku menghitung ada sampai 20 prajurit yang berpatroli di depan pintu istana dengan beberapa binatang pelacak yaitu harimau. Ini akan membuatku semakin sulit untuk menyusup ke istana.


"Jenghis, kirim beberapa pasukanmu untuk memeriksa sekeliling istana dalam radius 1-2 km sebagai backup. Untuk lima tetua aku ingin kalian mencari rute teraman menuju istana, jika bisa masuk ke istana maka lebih bagus. Tidak perlu sampai menemukan Tuan Gen aku hanya ingin memahami strukturnya. Riza kau bisa memantau dari udara apakah senjata artileri atau tidak dan sebagai jaminan keselamatan para tetua klan." Perintahku kepada mereka. Semuanya mengangguk tanpa banyak tanya. 5 tetua menghilang tepat setelah aku selesai berbicara.


"Riza, terima kasih sudah pengertian." Kataku memujinya. Riza hanya mengangguk dengan senyuman tipis.


Riza dan Jenghis pun berubah menjadi wujud roh dan pergi.

__ADS_1


"Kuserahkan kepada kalian." Kataku bergumam.


...****************...


(Sudut Pandang : Hisao)


"Baiklah, waktunya kau tidur, Gen." Kata Naava meletakkan anak bernama Gen ke kasurnya.


Aku mendengar suara langkah kaki di sampingku, Miyuki lah yang berjalan mendekat dari sampingku.


"Masih mengawasi putri dari Afar?" Tanya Miyuki.


"Iya. Sudah sekitar 4 tahun ini kita mengawasinya dan anak itu." Kataku dengan curiga.


"Karena itu aku tidak berani menyerangnya. Setelah menyuruh Seka untuk menyerangnya....aku menjadi ragu." Kataku memegangi lenganku sendiri.


"Oh jadi kau yang menyuruhnya." Sepertinya Miyuki tidak tahu kalau kejadian dimana Seka menyerang bocah bernama Gen itu adalah perbuatanku.


"Ya sudahlah. Waktunya gantian dalam menjaga, Miyuki." kataku turun dari bibir pembatas balkon. Kami saat ini berada di tower yang tidak jauh dari kamar Naava. Kami selama ini mengawasinya dari sana.


"Baik, baik." Kata Miyuki menepuk pelan bahu Hisao.


"Jika tunangan anda sudah bangun. Maka apa hal yang pertama anda lakukan?" Tanya Mahari, pelayan setia Naava.


"Tentu saja memintanya untuk menikahiku. Itu janjinya kepadaku sebelum kami berpisah di Kepulauan Assassin." Jawab Naava.

__ADS_1


"Masa muda memang enak ya. Dimana hasrat dan perasaan berkembang." Gumam Miyuki seolah dia bernostalgia di masa lalunya.


"Kau juga pernah mengalaminya kan? Dengan Kenji.." Celetukku. Miyuki terkekeh lembut.


"Iya. Karena kita harus mencari anak kita. Anak kita lah satu-satunya warisan yang telah ia berikan kepada kita." Kata Miyuki memandang langit.


"Jangan khawatir. Kita pasti bertemu dengannya. Dan aku yakin anak kita akan baik-baik saja. Theressa telah berjanji kepada Emiya untuk menjaganya untuk kita jika kita terpisah saat itu." Kataku. Kami pun mendengarkan percakapan antara Mahari dan Naava.


"Lalu jika kalian menikah dan memiliki anak maka marga anak anda akan ikut ke siapa?" Tanya Mahari penasaran. Aku milhat Naava yang begitu senang walaupun setelah masa pengusirannya selama 2 tahun.


"Tentu saja, marganya akan mengikuti Gen. Jika aku berhasil mengandung anaknya, akan kuberi nama Tatsumaki Naomi jika perempuan." Kata Naava. Aku dan Miyuki serasa terbangun dari tidur panjang kami. Mata kami pelototkan seolah sedang melihat sesuatu yang horor. Kami terkejutnya bukan main. Kami pun saling bertukar pandang dengan kaku.


"Kau barusan mendengarnya kan?" Tanya Miyuki.


"Aku tidak tuli! Bodoh!" Aku bahkan hampir tidak bisa mengendalikan diri dan ucapanku. Entah karena saking senangnya, atau marahnya, atau saking rindunya. Sudah lama aku tidak mendengar marga itu di sebut.


"Naava bilang marga anaknya akan mengikuti nama dari tunangannya itu. Dan nama marganya adalah Tatsumaki...." Kataku memperjelas. Miyuki seketika memelukku dengan sangat kencang sehingga kami terjatuh ke lantai.


"ITU DIA, HISAO!!!! ANAK KITA!!!!! TATSUMAKI GENTA!!!! AKHIRNYA PENCARIAN KITA MEKBUAHKAN HASIL!!!! SYUKURLAH!!!!" Kata Miyuki mengguncang tubuhku begitu kencang. Kedua mata Miyuki berlinangan air mata bahagia.


"Iya.....Iya, akhirnya..." Kataku dengan suara pecah. Ini pertama kalinya aku menangis setelah sekian lama. Air mata memenuhi pipi kami. Aku dan Miyuki pun berdiri dan mengusap air mata kami hingga tidak berbekas.


"Kalau begitu.....Kontrak kita dengannya sudah selesai." Kataku.


"Iya." Kata Miyuki.

__ADS_1


__ADS_2