Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Malam Pertamaku di Panthera (Bagian I)


__ADS_3

(Sudut pandang : Tatsumaki Gen.)


Seminggu setelah perang. Ajaibnya semuanya kembali seperti semula berkat kerja sama antara pihak kami dengan pihak Panthera dalam memperbaiki medan perang, Drone, bahkan ruang latihan bawah tanah mereka yang dihancurkan oleh Jenghis ketika melawan Smith dan itu membuat Neema hampir pingsan karena kerusakannya sampai ke bagian tambang. Total kehancurannya juga sampai 70%.


Para Slave dan Para Alter dari pemain TSO memang selalu membuat kekacauan ketika mereka berpesta di peperangan. Disaat aku memeriksa semua mayat yang ada di Babylon Treasure, aku menemukan mayat Smith, Shaman Lizard, White Angel, Ghost Assassin, Tenzin, Mori dan juga satu wanita berumur sekitar 18 tahun berambut pirang yang tidak kukenal. Yuna bilang kalau wanita sebenarnya adalah hadiah hasil tangkapannya untukku yang melakukan penyerangan di Ibukota Blizzard ketika aku pergi ke Kepulauan Assassin. Yuna bilang wanita ini memiliki semacam keunikan yang bahkan juga sangat langka di TSO yaitu bisa menggunakan semua tipe sihir sehingga bisa menggunakan Scroll Phone yang aku saja tidak bisa menggunakannya.


"Apakah anda akan menerimanya?" Tanya Yuna memeluk tangan kiriku dengan sangat erat. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku menghilang selama hampir lebih dari 4 tahun dan membuatnya rindu dan cemas jadi aku membiarkannya dia memeluk tanganku selama yang dia mau.


"Iya, tapi aku akan mengubah penampilannya." Kataku melihati mayat wanita itu.


"Kenapa?" Tanya Yuna.


"Ini akan menimbulkan kehebohan besar jika pihak Panthera sampai mengetahuinya. Mereka akan memaksa kita untuk menghidupkan kembali warga-warga mereka yang menjadi korban dari peperangan ini sebagai wujud tanggung jawab kita dan aku tidak ingin menghidupkan orang-orang yang tidak perlu atau yang tidak terlalu berguna bagiku. Karena itu aku menyuruh kalian untuk menyembunyikan mayat-mayat dari pihak kita dan pihak musuh ke dalam Babylon Treasure." Jelasku. Jika kalian bingung seperti apa bentuk dan isi Babylon Treasure kalian bisa membayangkan seperti gudang penyimpanan kuno yang luasnya seluas mata memandang yang berisi emas, berlian, perhiasan, pedang, tombak, tameng, kapak, pisau, semua senjata kuno berserakan, bahkan juga ada beberapa item dengan kelas tertentu di tempat itu.


"Kau bilang pihak kita berhasil membunuh 2 anggota Apocalypse dan salah satu NPC milikku. Aku sudah melihat mayat Smith tapi mana 2 yang lain-nya?" Tanyaku penasaran sambil memulai mengecek ulang dan mengelilingi mayat-mayat bekas peperangan seminggu lalu.


"Oh benar, kalau tidak salah namanya Regila. Tubuhnya berada di dalam perut Taro. Makhluk kadal sakral yang anda berikan kepada Shizuka. Untuk yang satunya adalah NPC anda yang melakukan penyerangan ke Ibukota Blizzard, bernama Wrath." Jawab Yuna.


"Untuk Tenzin dan Mori?" Tanya Yuna, matanya mengarah ke tubuh 2 tetua Assassin itu.


"Aku berencana membangkitkan mereka sebagai Shadow Army-ku sebagai hukuman mereka karena mereka mati di peperangan ini, tapi aku mendapatkan ide yang lebih baik dari itu. Aku yakin Nishimiya akan menyukainya." Jelasku.


Yuna kemudian menatapku lamat-lamat seolah ada sesuatu di wajahku.


"Saya merasakan aura dewata di tubuh anda. Tidak hanya satu tapi banyak." Kata Yuna menyentuh pipiku dengan tangannya yang lembut.


"Akan kuceritakan nanti. Untuk saat ini aku punya janji dengan Ratu Panthera yang baru itu. Akan kutemui kau lagi nanti ketika waktu tidur." Aku pun mencium Yuna dari mulut ke mulut.

__ADS_1


Kubuka portal menuju ruangan Yuna yang disediakan Panthera untuk masing-masing kami. Kami pun keluar dari Babylon Treasure. Aku menuntun Yuna ke kasur dan menyelimuti nya.


"Beristirahatlah." Kataku. Yuna sempat menahan tanganku.


"Anak kita sudah lahir, tuanku. Dia perempuan. Saya memberikan nama Mira kepadanya. Sesuai dengan keinginan anda. " Kata Yuna. Dan setelah mendengar itu seolah rasanya seperti menginjak duri yang sangat tajam tanpa alas kaki. Rasa senang dan bahagia yang pernah kurasakan bersamanya dulu timbul kembali.


"Begitu ya. Senang mendengarnya." Ternyata teori tentang tubuh kami para pemain yang juga ikut terindah ke TSO sudah terbukti.


Aku pun keluar dari ruangan Yuna dan berjalan menuju kamar Naava. Di luar pintu aku sudah dihadang oleh Doya, kakak angkat ku.


"Apa yang kau inginkan kak?" Tanyaku to the point.


"Kau yakin dengan cara ini bisa membuatmu memenangkan perang mitologi?" Tanya Doya dengan nada dingin.


"Semakin banyak aku membentuk ikatan dengan entitas lain semakin kuat juga diriku. Semakin banyak juga yang kubagi juga semakin banyak pula koneksi ku dan jumlah pasukan dan tentara ku. Aku mengetahuinya ketika aku berpikir di dalam cairan gelap alam bawah sadarku selama 4 tahun itu." Jelasku.


"Begitu ya. Kalau begitu aku mendukungmu, adikku tersayang." Kata Doya memegang pundakku.


"Kau tidak akan menghentikanku?" Tanyaku dan bersiap meraih senjata kukri dari dimensi penyimpanan senjata dan itemku. Siapa tahu kakak-ku menyukai serangan kejutan.


"Tidak perlu, kau hanya membuang waktumu kalau hanya ingin membuatku mengeluarkan petir tegangan tinggi ke arahmu. Aku justru di pihakmu, adik kecilku. Lagipula itu juga sudah jadi misi seumur hidup kami dalam melindungimu, meskipun itu harus membantumu menciptakan vacuum decay sekalipun. Itu alasan kenapa ayah memungut, merawat, dan melatih kami para Sister Order."


Dari nadanya dia sangat lega mendengar perkataanku tadi kemudian menghilang menjadi kilauan emas layaknya para Slave yang menggunakan wujud roh mereka.


Setelah sampai di kamar Naava. Naava sedang melihat ke arah balkon kamarnya. Sepertinya dia sedang menungguku.


"Maaf membuatmu menunggu Naava." Kataku dari dekat pintu yang membuat Naava terkejut.

__ADS_1


"Astaga! Demi Dewi Panthera! Bisakah kau belajar untuk tidak mengejutkan orang?!" Kata Naava berbalik memegangi dadanya. Aku hanya memberikan tanggapan senyuman tipis.


"Maaf." Kataku.


"Kau sudah berbicara dengan kedua ibuku?" Tanyaku.


"Sudah, Aku tidak menyangka mereka berdua adalah ibumu. Dan sulit dipercaya kalau mereka juga adalah ibu kandungmu. Yah setidaknya mereka mau menjelaskan secara baik-baik dibalik penculikanmu saat itu." Kata Naava.


"Maaf membuat negerimu terlibat dengan masalahku." Kataku dengan sedikit tidak enakan.


"Setiap pilihan mengandung resiko. Ketika aku sudah memutuskan Panthera menjadi bagian dari kekaisaranmu aku juga sudah harus siap untuk memberi support sebaik yang kami bisa." Kata Naava dengan penuh kemantapan. Dia sadar kalau dirinya menjalin kontrak dengan iblis. Aku akui tekad itu. Lagipula sangat mubazir tidak memanfaatkan kerajaan dengan teknologi, SDA, dan SDM sebesar ini.


"Selain meminta perlindungan demi tambang Oorvloed tidak jatuh ke tangan yang salah. Aku juga memiliki satu permintaan lagi, dan ini juga berhubungan dengan keberlangsungan rezim Panthera." Kata Naava mulai memasuki kamarnya dan mulai melepaskan pakaiannya.


"Apa itu?" Tanyaku. Sebenarnya aku tahu arah pembicaraan ini cuma aku bertingkah bodoh saja dengan pura-pura tidak tahu seperti bocah lugu.


"Panthera memerlukan penerus yang kuat dan juga pandai. Karena itu aku memintamu kemari Gen." Kata Naava dengan tubuh telanjangnya yang sudah meliuk-liuk di atas kasur. Yang tersisa di tubuhnya hanya kalung manik-manik yang berbentuk taring dan gelang dengan manik-manik hitam yang ada ditangan kanannya. Tangannya memberiku isyarat untuk mendekatinya.


"Kita bahkan belum melakukan pengesahan akan hubungan kita sekarang ini, Naava." Ujarku mencoba mengelak.


"Apa bedanya? Lagipula aku tidak tertarik dengan yang lain. Hanya yang ku izinkan saja yang bisa memilikiku." Katanya.


Aku pun berjalan dan mendorong Naava ke kasur. Posisiku sekarang berada di atas Naava sekarang. Kupegangi kedua pergelangan tangan tangan Naava ke atas kepalanya. Ku dekatkan wajahku ke wajah Naava.


"Bagaimana denganku?" Tanyaku.


"Kuizinkan." Kata Naava dengan lembut dan pasrah dan saat itu-lah aku berhasil mengambil keperawanan dari Ratu Panthera.

__ADS_1


__ADS_2