
(Sudut pandang : Tatsumaki Miyuki)
Benar-benar aura yang sangat mengerikan. Berapa banyak pembantaian serta pembunuhan yang dia lakukan sampai punya aura se mengerikan ini?! Seperti yang diharapkan dari sosok mengerikan dari cerita Nihon Shoki. Tanganku bahkan tidak bisa berhenti bergetar.
"Santai saja. Mari kita berbincang sebentar. Aku tidak suka melawan wanita. Aku lebih suka memakannya." Ujar Sukuna mengusap-usap rambutnya dengan santai.
"Dimana anak kami?!" Tanyaku sekali lagi. Tanganku sudah meraih gagang pedang yang kubawa. Sukuna hanya bisa menghembuskan napas beratnya melihat sikap tidak ramah kami.
"Baik kalian maupun Ash sama-sama tidak sabaran ya. Begini saja, kalian cobalah untuk menghiburku kemudian akan ku pertimbangkan kembali untuk reuni kecil kalian dengan anakku. Tawaran yang bagus, bukan?" Ujar Sukuna.
Siapa yang mau menjual tubuh untuk pria aneh berlengan 4 demi untuk menemui anakku sendiri?!!
"Yang kuinginkan cuma anakku saja. Maaf." Kataku berjalan melewati. Aku berusaha mengambil jalan damai saja. Aku tidak ingin membuang tenaga dan manna ku untuk pertarungan yang tidak berarti.
Tepat setelah melewati Sukuna beberapa meter, cengkraman yang sangat kuat meremas kepalaku. Bahkan sampai mengangkatku sehingga kakiku tidak bisa menyentuh pijakan.
"Miyuki!" Seru Hisao berlari untuk menyelamatkanku. Dengan sangat brutal tangan itu melemparku ke arah Hisao sehingga kami terlempar cukup jauh sekitar 10 meter.
Kepalaku sangat pusing setelah diremas tadi seperti jeruk nipis. Tidak salah lagi yang membuat kami terlempar seperti ini adalah Sukuna.
Sukuna tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Senyum gilanya membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Terakhir kali aku mendapatkan penghinaan seperti itu adalah ketika kayangan turun tangan langsung untuk membunuh kami bertiga karena kami memiliki hubungan pamali. Aku tidak menyangka akan merasakannya lagi setelah sekian lama dari kalian." Ujar Sukuna masih sambil terkekeh.
"Kau tidak ingin membuat ini menjadi lebih mudah ya... " Kata Hisao mencoba untuk berdiri dan membantuku untuk bangun.
"Aku cukup bosan sampai-sampai tidak ingin menggunakan cara yang mudah. Hibur aku selama beberapa menit saja kemudian akan ku pertemukan kalian dengan anak kalian." Kata Sukuna yang dimana disetiap harinya mengeluarkan otot dan kuku-kukunya mulai memanjang.
"Melalui cara yang sulit berarti!" Tangan Hisao berubah menjadi tangan monster. Begitu juga dengan kakinya. Ku tarik pedang ku dari sarungnya.
Sukuna mengangkat bahunya.
"Kau menginginkannya maka datanglah dan ambillah sendiri." Ujarnya dengan nada menantang kami.
__ADS_1
Hisao melesat dengan cepat secara langsung. Dalam hitungan detik dia sudah berada di depan Sukuna. Hisao mulai melancarkan serangan dengan melakukan tendangan salto ke belakang sehingga membuat Sukuna menyilangkan 2 lengan atasnya untuk memblokir serangan.
Hisao mulai melakukan pukulan jab bergiliran ke arah wajah Sukuna. Tapi dengan mudah Sukuna menghindarinya dan menangkap beberapa serangan Hisao. Cukup wajar karena dia punya 4 lengan. Setiap pukulan Hisao diblokir, lumpur disekitar mereka langsung beriak.
"Tidak buruk. tapi..." Ujar Sukuna dengan senang. Sukuna menangkap kedua lengan Hisao dan dengan cepat menggunakan satu lengan atasnya untuk memukul wajah Hisao. Satu pukulannya saja sangat keras sampai-sampai membuat Hisao terhuyung ke belakang.
"... Sangat monoton." Ujar Sukuna. Hisao melompat dan menarik kembali tangannya dengan menendang wajah Sukuna sehingga genggamannya terlepas. Hisao bersalto ke belakang. Hisao kemudian melakukan tendangan menukik di udara.
Tapi dengan cepat Sukuna menangkapnya, Hisao belum berhenti. Hisao melancarkan pukulan tajam ke arah mata Sukuna tapi dengan mudah Sukuna menangkapnya lagi.
"Cobalah untuk mengubah pola seranganmu. Baru lah kau coba serang aku lagi." Kata Sukuna menasehati.
"Tentu." Hisao menendang Sukuna menggunakan kaki nya yang masih bebas dengan tendangan tajam. Serangan itu membuat Sukuna bergerak dengan cepat untuk menghindarinya sehingga membuat Sukuna melepaskan tangan dan kaki Hisao.
"Itu yang kumaksud.... " Ujar Sukuna. Ini kesempatanku! Aku melompat setinggi-tingginya kemudian menukik dengan kencang untuk melakukan tebasan vertikal ke Sukuna. Tidak lupa juga pedang ku kulapisi dengan api ifrit. Sukuna yang menyadarinya menendang gagang pedang ku tepat ketika aku mengencangkan tebasan ku sehingga membuat pedang ku lepas dari genggamanku.
Pedang ku terlempar dan berputar-putar seperti kincir yang ditiup angin. Aku mendarat dengan terhuyung-huyung. Hisao dengan sigap melompat ke pundakku untuk ia jadikan pijakan untuk melompat dan meraih pedang ku. Hisao melakukan trik yang sama dengan ku.
Ketika tebasan sudah semakin mendekat Sukuna siap untuk menangkap tebasan Hisao menggunakan tangannya. Tak akan kubiarkan itu terjadi. Kugunakan kedua tanganku untuk menyangga tubuhku sehingga aku bisa menendang menggunakan kedua kakiku untuk menahan keempat tangan Sukuna. Sukuna sempat terkejut tetapi masih bisa menghindari tebasan dari Hisao seperti orang yang melakukan kayang melakukan kayang. Sukuna bersalto satu kali ke belakang dan tebasan Hisao hanya mengenai udara kosong.
Aku dan Hisao pun mundur untuk menjaga jarak. Hisao melemparkan pedang ku kembali kepadaku.
"Hoo, tidak buruk. kombinasi yang luar biasa. Kalian bahkan hampir berhasil menempatkan serangan ke kepalaku 2 kali. Kalian tidak semahir Ash tapi lumayan. Jarang-jarang ada yang bisa membuatku terkejut seperti tadi. Sekarang giliranku." Kata Sukuna.
Tepat ketika Sukuna melangkahkan kakinya dengan sekejap dia menghilang. Aku dan Hisao dengan segera saling membelakangi untuk saling menjaga. Siapa tahu Sukuna akan menyerang kami dari sisi buta kami.
"Taktik yang bagus!" Seru Sukuna yang tiba-tiba muncul di depanku. Dengan sangat keras Sukuna memukul wajahku sehingga membuatku berlutut kemudian menghilang lagi. Di belakangku giliran Hisao yang terkena serangan secara tiba-tiba juga sama sepertiku tadi. Hisao mencoba mencekiknya tapi Sukuna dengan cepat menghilang kembali.
"Kau kesulitan? Perlu tukar posisi?" Tanya Hisao mengelap sudut mulutnya yang berdarah.
"Daripada itu lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri untuk menjaga belakangku. Aku baik-baik saja." Sukuna terlihat di depanku berjalan kemari kemudian dengan cepat menghilang lagi.
"Kudapatkan dia!" Seruku.
__ADS_1
"Bukan kau yang dia incar." Sahut Hisao yang sepertinya giliran melihat Sukuna di depannya. Hening beberapa saat. Kami mulai mempertajam semua indra kami. Kiri.... kanan..... depan..... bawah..... Hisao juga tidak bereaksi itu berarti juga tidak ada di belakang..... lalu dimana?
Aku melihat ke lumpur yang kami pijak terdapat pantulan bayangan lain selain kami berdua.
"Reflek yang bagus!" Seru Sukuna yang ternyata sedang terjun dari atas ke arah kami. Aku dan Hisao juga kebetulan saling mendorong supaya kami tidak terkena terjangan dari Sukuna. Tapi Sukuna menghilang lagi sebelum menyentuh lumpur. Aku dan Hisao segera berlari untuk saling mendekati tetapi terlambat.
"Itu cuma gertakan." ujar Sukuna yang tepat berada di belakangku. Dengan cepat Sukuna menendang punggungku sehingga membuatku terdorong. Dengan cepat Sukuna berada di belakang Hisao. Hisao yang melihat Sukuna berpindah dari belakangku dengan sigap berbalik ke arah belakangnya tapi terlambat Sukuna dengan cepat menendang Hisao juga sehingga membuatku dan Hisao saling menabrak.
Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Kami dengan segera berdiri dan saling membelakangi kembali. Sukuna menyerang kami secara bergiliran dengan sangat cepat. Setiap satu serangan selesai dilancarkan Sukuna berganti posisi.
Meskipun cepat tapi......
Tepat setelah Sukuna menyerang ku, ku tarik lengan Hisao untuk berganti dan ternyata benar. Tiba saat Sukuna berteleport ke bagian Hisao aku menendangnya dengan gerakan tendangan tajam. Sukuna sedikit terhempas 2 meter ke belakang.
"Tidak buruk, nyonya-nyonya. Kau ternyata berhasil membaca polaku." Ujar Sukuna membersihkan bekas tendangan ku tadi.
"Polamu adalah sekali serang kemudian berganti tempat." Ujarku dengan percaya diri.
"Sesuai janji, kami sudah meladenimu untuk bermain. Sekarang dimana anak kami?" tanya Hisao dengan memaksa. Sukuna yang wajahnya sudah bersemangat kembali mengeluarkan wajah lusuhnya.
Tiba-tiba lumpur pijakan kami bergetar seolah sedang terjadi gempa.
"Sekarang apalagi?!!" Keluhku.
"Sepertinya pertarungan kita menarik banyak perhatian dari kesadaran lumpur ini. Baguslah, semakin ramai semakin bagus." ujar Sukuna dengan senang.
Tiba-tiba muncul dari bawah permukaan lumpur, pasukan-pasukan yang tidak asing bagi kami.
"Achilles, Medusa, Perseus, Yudhistira.... Perlukah kita meng absen siapa saja yang punya dendam dengan kita di dunia parallel sebelumnya?" Tanya Hisao.
"Kurasa tidak perlu, karena semuanya ada disini untuk mengadakan reuni kecil dengan kita." Jawabku.
SUSAH BANGET YA MAU JEMPUT ANAK??!!!!!! YA AMPUN....
__ADS_1