
(Sudut pandang : Naava)
Baiklah, keadaan semakin gawat. Aku cukup menyesal tidak memberi verifikasi dan batasan dalam Veg ritueel yang satu ini. Entah kenapa aku bisa tahu senjata yang digunakan oleh Alice yang berupa sarung tangan tinju berlapiskan kepala singa itu, walaupun itu pertama kalinya aku melihatnya. Mungkin ingatan yang tersisa dari kehidupanku sebelumnya sebelum terinkarnasi.
Tapi aku masih memiliki keuntungan. Tidak mungkin Alice menyerang ku dengan serangan kejutan. Sarung tangan itu saja besarnya sebesar gentong..........!!!!
Tanpa ku sadari aku sudah terlempar keluar arena dengan menghantam tanah sangat keras. Meskipun sudah menggunakan zirah ini tapi rasa memar akibat hantaman tadi sangat membuatku encok. Apa yang sebenarnya terjadi?!
Aku melihat ke daerah dadaku kemudian aku paham.
"Jadi bukan hanya senjata jarak dekat tapi termasuk senjata jarak menengah-jauuuuuuhhh!!!!" Kepala singa dari sarung tangan Alice mencengkram bagian dadaku dan membantingku ke sisi seberang. Kali ini kepalaku hampir mendarat duluan. Alice kemudian menarik rantai penghubung antara pangkal sarung tangannya dengan kepala singanya kemudian menyeretku seperti seseorang yang membuat lingkaran menggunakan jangka.
Yah bisa kalian tebak kalau aku adalah media dalam membuat lingkaran itu. Bahkan aku bisa melihat Yuna mengomel karena hampir terkena rantai penghubungnya. Setelah membuat lingkaran sempurna, Alice menarik rantainya untuk menarik ku masuk ke dalam arena dengan sangat cepat. Tak akan kubiarkan ini kulewatkan. Kusiapkan tameng cakar ku sehingga aku bisa menggorok leher Alice ketika sudah dekat. Tepat beberapa senti cakar ku dari leher Alice, Alice mengeluarkan senjata aneh lagi. Sebuah bendera perang.
Alice menancapkan bendera perang itu kemudian sebuah barrier setengah bola melingkup kami berdua dan waktu terasa melambat. Gerakanku selambat siput yang berjalan tapi sepertinya Alice tidak terkena pengaruh dari efek senjata itu. Alice kemudian menonjok wajahku sehingga membuatku terpental dan menabrak barrier dengan sangat kencang sehingga aku terpental ke arah Alice. Alice mengulanginya lagi, lagi, lagi, dan lagi. Kepala singa yang mencengkram dadaku masih belum lepas. Itu membuatku terjebak dan tidak bisa lepas dari Alice. Alice memukulku sekali lagi tapi kali ini tepat tubuhku menabrak barrier, Alice menarik kembali bendera perang itu sehingga efek waktu yang melambat itu hilang dan membuatku terguling-guling keluar arena lagi sepanjang 17 meter.
Aku mencoba bangkit berdiri tapi tubuhku menginginkanku untuk berlutut dan aku tidak bisa melawannya. Tiba-tiba aku muntah darah dengan sangat hebat. Tentu saja. Aku merasakan semua hantaman dan pukulan itu di waktu yang bersamaan. Gawat, baru sekitar 6 menit kami berduel tapi Alice sudah membuatku babak belur sedangkan dia belum terluka sedikitpun.
"Kau perlu istirahat? Jika perlu bilang saja." Kata Alice menatapku dengan sangat sombong. Yah, aku bisa memaklumi nya. Aku memberinya jempol yang berarti aku butuh untuk menarik napas. Mendengar itu, Yuna berjalan mendekatiku ditempat aku berlutut. Di wajahnya tidak ada sedikit pun kekhawatiran akibat pertarungan tadi.
__ADS_1
"Bolehkah kami berbicara?" Tanya Yuna kepada Alice. Alice memberinya tanda jempol yang berarti boleh. Ok, hinaan apa yang akan kau berikan kepadaku? Yuna kemudian berjongkok di depanku.
"Kau cukup berantakan ya." Katanya tanpa ada kegetiran sedikitpun di nada dan suaranya. Kuludahkan darah ke sisi kiriku.
"Jangan buang waktu istirahatku dengan menghinaku disini." Kuusap kotoran di daerah pipi dan dahiku.
"Yang kau tantang itu adalah seorang Alter yang mendapat berkah dari roh legenda dari raja Babylonia, Gilgamesh. Apalagi dia wanita pilihan Tuan Gen. Apakah kau punya rencana akan hal itu?" Tanya Yuna. Nama Gilgamesh tampak familiar di benakku tapi aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Mengenai rencana untuk mengalahkannya.....
"Tidak, tidak ada rencana. Yang bisa kulakukan hanyalah menyelesaikan pertarungan ini dan menang." Kataku dengan keren mengusap darah yang ada di salah satu sudut bibirku.
"Dan jika kalau kau kalah?" Tanya Yuna. Aku pun melirik ke arah salah satu benteng yang terdapat kilauan cahaya kecil disana.
"Begitu ya. Kalau begitu berusahalah, Naava." Kata Yuna memberikan jempol ke arah Alice. Alice pun mengangguk dan mengambil ancang-ancang untuk menarik ku lagi.
"Woo tidak! tidak untuk kedua kalinya." Gerutuku. Sebelum Alice sempat menarikku, ku tarik rantai penghubung sarung tangannya lebih dahulu. Terima kasih sudah membanting-bantingku kesana kemari. Aku bisa mendapatkan tambahan manna dari situ.
Alice terlempar ke arahku. Tapi dia meluncur ke arahku dalam keadaan siap. Tangan kanannya sudah memegang pedang yang sudah di aliri manna. Alice siap untuk menebasku. Tepat beberapa meter sebelum Alice menebasku, Aku melompat setinggi-tingginya sehingga tebasan Alice hanya mengenai tanah pijakan ku saja.
Ini kesempatan ku! Kuputar-putar rantai penghubung tersebut seperti kincir sehingga membuat Alice mengalami hal yang sama sepertiku tadi. Dia berputar-putar membentuk rotasi dan menabrak tanah beberapa kali.
__ADS_1
"Magic Skill : Fly!" Alice pun merapal sebuah sihir terbang sehingga dia bisa mengabaikan hukum gravitasi. Dia mencoba menarik ku kembali ke arahnya tapi itu tidak akan kubiarkan terjadi. Ku kencangkan kuda-kudaku menggunakan manna dari energi kinetik sebagai jangkar dan ku coba menarik Alice ke bawah. Bahkan tanah pijakan ku saja sampai hancur menopang massa ku.
Tapi akhirnya Alice melepaskan kepala singa yang menggigit dadaku dan menarik ulur rantai sarung tangannya.
"Aku akui untuk pribumi sepertimu masih bisa bertahan selama ini dalam melawanku." Dari nadanya, sepertinya Alice memang benar-benar memujiku.
"Terima kasih atas pujianmu." Kataku dengan berlagak.
"Regeneration." Setelah merapal mantra itu. Aku bisa melihat tubuh Alice berpendar hijau dan luka-lukanya mulai pulih. Sialan, mantra penyembuh.
"Karena itu... " kata Alice yang berada di udara sekitar 10 meter di atas tanah melemparkan sesuatu ke arahku. 2 botol dengan warna biru dan hijau. Kutangkap dia botol itu dengan rasa bingung.
"Mari kita mulai lagi duel kita dari awal." Kata Alice. Sarung tangan Nemeannya Tiba-tiba bercahaya dan menghilang. Alice juga turun secara perlahan ke tanah.
"Magic Skill : Anti-Brain Wash, Magic Skill : Legacy Of Sarutobi, Magic Skill : Absroption, Magic Skill : Barrier For Bullet, Magic Skill : Barrier For Magic, Magic Skill : Barrier For Arrow, Magic Skill : Manna Booster, Magic Skill : Blessing, Magic Skill : Intuition Of Assassin, Magic Skill : Knock-back neutralization." Alice merapal semua itu satu persatu. Setiap sekali rapalannya memunculkan warna energi yang berbeda-beda. Benar-benar gila. Magic Caster terhebat sekalipun hanya bisa merapal 3 mantra sebagai buff dikarenakan jumlah manna-nya. Berapa banyak Manna yang Alice miliki sehingga dia bisa memberi buff pada dirinya sendiri sebanyak sepuluh mantra?! Aku langsung meminum 2 botol potion yang Alice berikan kepadaku. Keduanya memiliki efek memulihkan manna dan menghilangkan luka-lukaku.
Alice kemudian menarik sebuah pedang dari portal yang muncul dari sisi kanannya. Sebuah pedang yang bilahnya sangat bercahaya dan dipenuhi energi manna. Pedang itu mengingatkanku akan warna roh yang biasa ku panggil. Berwarna emas berkilau. Alice mengambil posisi kuda-kuda berpedang dengan gaya dua tangan.
"Sepertinya kau kesulitan mengimbangi dalam pertarungan jarak menengah-jauh. Mari kita lihat seberapa hebat kau dalam pertarungan jarak dekat." kata Alice. Tanpa menunggu lama, kutekan kembali tombol yang ada di dua pangkal telunjukku sehingga tameng dengan motif cakar harimau putih mencuat dari tanganku.
__ADS_1
"Maju." Kata kami bersamaan.