
Ok, akan kuceritakan kuceritakan dari sudut pandangku, bagaimana bisa aku berhasil mengalahkan Alice.
"Senjata tadi adalah Enuma Elish kan? Senjata yang kuberikan 1 tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahunmu. Tak kusangka kau akan menggunakannya sebagai senjata itu untuk melawanku." Kataku dengan santai.
Tiba-tiba Alice mengeluarkan banyak lubang di mensi dalam jumlah puluhan. Di setiap dimensi setidaknya ada 3 jenis senjata berbeda di luncurkan. Dengan cepat aku berlari ke arah Alice dan menangkis semua senjata yang di luncurkan kepadaku menggunakan pedang milik Herakles. Alice dengan terus terusan menembaki dengan senjata-senjata yang di lemparkan melalui dorongan portal dimensinya.
Aku heran. Setahuku, Alice tidak memiliki senjata-senjata dan item-,item sebanyak ini. Darimana dia mendapatkannya. Lagi pula dia juga memiliki job class sebagai Magic Caster. Sedangkan Magic Caster tidak mungkin bisa menggunakan senjata selain senjata sihir. Aku juga melihat info datanya. Karena terlalu banyak senjata maka kuputuskan untuk menggunakan senjata yang Alice luncurkan tadi untuk menangkisnya secara bergantian.
"Bagaimana bisa kau memiliki semua senjata senjata ini? Dan bagaimana bisa seorang Magic Caster sepertimu menggunakan senjata-senjata ini? Aku tidak ingat kalau aku pernah memberi item cheat untuk mengubah job class-mu." Kataku. Alice pun tersenyum.
"Itu karena satu pedang yang kau berikan padaku, Sayangku. Pedang dari legenda Mesopotamia milik Raja Gilgamesh. Karena di perang Mitologi diperlukan Seorang Ousama dan Slave maka aku putuskan untuk ikut berpartisipasi dan memanggilnya. Karena pemanggilannya tidak sempurna maka aku menggunakan tubuhku sendiri untuk di jadikan wadah roh Gilgamesh. Ternyata roh Gilgamesh masih lebih lemah dariku dan kau bisa melihatnya sekarang. Kemampuan dan Senjata Sakral menjadi milikku sekarang. Aku tidak memerlukan item cheat untuk menutupi kekuranganku sebagai Magic Caster." Jelas Alice.
Kasusnya mungkin hampir sama seperti Yuna dan Clove. Menggunakan tubuh sendiri sebagai wadah Roh Legenda. Dan aku baru ingat. Dikatakan di legenda, Raja Gilgamesh adalah makhluk 3/4 dewa dan menjadi raja di Negeri Babylonia lebih tepatnya di Uruk. Dalam legenda dia memiliki semua kekayaan yang ada di dunia ini, emas, perak, permata, mutiara, perhiasan,dan tentu saja senjata yang ada di seluruh dunia. Karena menggunakan kekuatan makhluk 3/4 dewa Alice juga memungkinkan melanggar hukum perang Mitologi dengan memanggil 6 Slave menggunakan harta kekayaan milik Gilgamesh sebagai katalis untuk memanggilnya.
"Cukup pintar. Tidak heran kau selamat ketika ujian Death Match." Aku langsung disergap oleh ribuan portal dari segala arah. Baik itu bawah, atas, kiri, kanan, depan, dan belakangku dipenuhi portal senjata. Di saat yang bersamaan menembakku. Ledakan sangat besar pun terjadi. Asap dan debu pun mengepul tebal.
"Ya ampun. Tak kusangka kau bakal menyerangku seperti itu. Kau cukup kejam juga Alice." Kataku dari balik kepulan debu ledakan.
Karena semua pasukan Shadowku dan Riza sedang melawan 4 Slave milik Alice, Yuna dan Gata juga menghadapi 2 Slavenya lain maka aku terpaksa menggunakan caraku sendiri. Cara licik.
"Kau memiliki beberapa trik juga dalam perang ini. Tapi...." Aku langsung berada di depan Alice lalu mencekiknya dari belakang. Alice sangat terkejut dan kesakitan.
"Bagaimana.......bisa......" Suara Alice tersengal akibat tercekik.
__ADS_1
"Lihat siapa yang ada di depanmu." Ketika Alice melihat apa yang ada di depannya. Alice terkejut. Sangat terkejut.
"Shasa?!"
"Bagaimana bisa....." Shasa juga heran.
"Meskipun kau memiliki pedang, tombak, kapak, pisau, tongkat sihir dan semua jenis senjata yang lain tiada batas jumlahnya dan bisa menembakkannya dari arah mana saja melalui portal, Kau tetap memiliki satu kelemahan. Ketika kau sedang menembakkan senjata-senjatamu kau tetap berada di tempat di posisimu agar kau bisa membidik sasaranmu. Maka aku memanfaatkan kelemahan itu dengan menggunakan fitur switching dalam game agar bisa bertukar tempat dengan Shasa yang selama ini berada di belakangmu." Kataku mencekik leher Alice.
"Kalau kau berani kau menembakan senjata ke arahku. Maka di saat itu lah kau menembakkan senjata ke arah dirimu sendiri juga." lanjut kataku.
"Kau.....tega ingin membunuhku......?" Tanya Alice, air matanya mulai keluar.
"Tanpa ragu. Tapi......." Tanpa sadar aku melihat ke arah Yuna. Dia juga hampir ingin membunuh slave yang ada di depannya.
Aku pun memerintahkan semuanya untuk berhenti. Semua orang menoleh ke arah kami. Aku pun melepaskan cekikanku dari Alice.
"Mulai saat ini, seluruh Kekaisaran Blizzard akan di pegang oleh anak ini, Valon the Dragnel." Alice mengumumkan.
...********...
(Sudut pandang : Yuna)
Tuan Gen pun mendapatkan seluruh kekaisaran Blizzard. Ini meningkatkan keefisienan dalam memburu seluruh anggota Apocalypse dan meningkatkan kekuatan tempurnya dalam Perang Mitologi. Tuan Gen juga menambah jumlah Slave-nya.
__ADS_1
Abimanyu dengan Job class : Assaulter, Atalanta dengan Job class : Shooter, Hassan bin Sabbah dengan J**ob class : Hunter, Jenhis Khan dengan Job class : Chariot, Toyotomi Hideyoshi dengan Job class : Juggernaut, dan Kraven dengan Job class : Shooter. Aku belum pernah legenda yang menceritakan tokoh bernama Kraven.
Sudah 3 hari. Hati semakin sesak ketika melihat Tuanku mesra dengan Alice. Dia bahkan membelai rambut Alice, dan bahkan lebih parahnya lagi aku tidak sengaja melihatnya berciuman ketika mereka sedang berduaan. Tuanku menyadari keberadaan ku dan melihatku. Aku tahu aku tidak ada tempat di hubungan mereka yang sudah sangat dekat dan bahkan sudah memiliki ikatan suci pernikahan.
Aku sangat ketakutan saat itu. Ketakutan yang satu- satunya paling kutakuti. Sebelum tuanku berucap aku sudah menghilang menggunakan wujud roh. Aku pun berteleport ke taman bunga kerajaan. Aku selalu nyaman dan tenang ketika di sana. Tapi kali ini tidak. Air mata pun mengalir deras.
Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Aku ingin mereka berpisah?! seharusnya aku bahagia ketika tuanku bertemu istrinya, aku seharusnya bahagia bisa menemaninya demi menemui belahan hati nya. Tapi Kenapa?! jauh di dalam hatiku yang sangat sakit ini menginginkan kalau akulah yang berciuman dengan tuanku di sana.
Di saat itu aku baru sadar. Sejak kapan aku jatuh cinta dengan tuanku? Aku pun tersenyum dengan melihat wajahku yang penuh dengan kecemburuan dibalik pantulan cermin di air sungai kecil yang ada di taman. Sejak kapan aku menjadi wanita pencemburu?
Ada seseorang yang mendekatiku di taman itu. Aku sangat berharap itu tuanku tapi ternyata bukan. Itu Kraven. Dia datang dengan senyumnya yang cerah. Tapi saat ini aku tidak ingin berbicara dengan siapapun. "Kenapa anda menangis? Wajah cantik anda akan hilang Lo." Kata Kraven mencoba menghiburku.
"Pergilah Kraven. Aku tidak ingin bertemu siapapun. Suasana hatiku sedang buruk." Jawabku ketus menyembunyikan suara Isak tangisku.
"Ayolah, semangat lah sedikit dalam memperjuangkan cintamu. Jauh di dalam hati Tuan Gen dia sangat mencintaimu." Kata Kraven.
Sudah cukup. Suasana hatiku sangat hancur dan tidak ingin di temui oleh siapapun. Ku tendang Kraven hingga jatuh dan kuarahkan mata tombakku ke batang lehernya.
"Aku menyesal tidak menggorokmu saat itu. Kau tahu apa soal beliau?!!" Cercaku. ujung mata tombakku sudah menempel dengan batang lehernya. darah keluar dari lehernya. Kraven dengan mudah tersenyum.
"Jika bukan karena cinta kalian. Aku tidak mungkin lahir, Ibu. Jangan bilang ibu lupa dengan anak ibu sendiri." Jawab Kraven. Jawabannya sangat tidak masuk akal. Aku bahkan hampir mengeluarkan kedua bola mataku.
"Aku adalah slave yang dipanggil dari masa depan dengan nama Kraven." Jelas Kraven sekali lagi.
__ADS_1