Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Proses Pencarian


__ADS_3

(Sudut pandang : Yuna)


Tato yang memenuhi separuh wajahku kembali ke segel kutukan yang tertanam di daerah leher belakangku. Perasaan apa ini? Ketika tadi aku tanpa sengaja menggunakan segel kutukan ada kekuatan yang menggebu-gebu di dalam diriku, pikiranku menjadi fokus dan lebih tenang, bahkan aku bisa mempertimbangkan semua langkahku ketika menghadapi Regila.


"Segelnya kembali ke semula." Kata Riza mengamatiku.


"Eh...iya. Untuk saat ini." Kataku kembali dari lamunanku.


"Segel kutukan itu merespon ketika kau berada di situasi genting. Tuan memang hebat. Dia bahkan mempertimbangkan solusi untuk yang terjadi jika kau terpisah darinya." Kata Riza bersedekap.


"Tapi aneh. Kenapa ketika aku sedang bertarung sengit melawan Wrath segel ini tidak meresponnya?" Tanyaku. Semuanya saling memandang dengan kebingungan.


"Siapa Wrath?" Tanya Jenghis Khan mewakili.


Oh iya aku lupa menceritakan kepada mereka apa yang terjadi di Ibukota Blizzard. Aku akhirnya menceritakan apa yang kutahu ketika Envy, Wrath, dan Pride menginvasi Ibukota Blizzard. Aku juga menceritakan kalau dari situ Kraven berkhianat dan membelot Tuan Gen. Tapi aku tidak memberitahu mereka tentang status Kraven yang adalah anakku.


"Jadi mereka makhluk ciptaan Tuan...Jika mereka bisa melebihi para Slave dan para Dewata maka itu akan menyebabkan Perang Mitologi semakin rumit." Kata Riza. Membayangkan mereka membantai kami dengan mudah jelas membuatku tidak berdaya dan merasa kecil. Jika mereka saja sudah sekuat itu, maka bagaimana dengan Tuan Gen dengan kekuatan penuhnya.


"Apakah ketika penyerangan itu Kak Yuna sedang mengandung Mira?" Semua orang langsung mematahkan leher mereka dan menengok ke arah Yukki, termasuk aku.


"Eh...iya. Kalau tidak salah masih sekitar 3 bulan." Kataku.


"Ini mungkin hanya tebakanku. Mungkin sama seperti para Kaiju Master wanita ketika sedang hamil. Mereka menjadi lebih rentan dan hampir tidak bisa menggunakan kekuatan Kaiju yang ada di dalam diri mereka ketika mereka sedang mengandung." Kata Yukki.


"Baiklah aku akan mengingatnya." Balasku. Aku pun menatap langit yang sangat cerah hari ini.


"Aku yakin Alice baik-baik saja. Dengan Tuan Gen yang menyusulku ke Kuil Izanami pasti beliau ke Ibukota Blizzard terlebih dahulu sebelum menyusulku. Mungkin Alice sedang dalam perjalanan ke Panthera juga." Kataku memprediksi.


"Setidaknya itu memberi tambahan peluang untuk menemukan Kak Gen." Kata Yukki mencairkan suasana. Aku ingin terlihat optimis di depan mereka tapi aku cukup yakin kalau Alice sampai bergerak dalam pencarian ini pasti dia tidak hanya bertujuan mencari Tuan Gen saja.


"Aku harap begitu. Tenzin kau sudah menemukannya?" Tanyaku. Tenzin yang masih fokus akhirnya menjawabku.


"Aku dapat menciumnya. 5 km dari sini. Tapi aku juga mendengar sesuatu." Kata Tenzin. Kami semua dengan sigap memasang kuda-kuda.


"Apakah itu musuh?" Tanya Mori.


"Hmm sepertinya bukan, jarak bau dan suara tersebut sama dan juga kemungkinan juga berletak di tempat yang sama. Suaranya cukup aneh, seperti suara dengung dan tidak berjeda." Kata Tenzin.

__ADS_1


"Baiklah, tuntun kami ke sana." Dengan cepat kami melompat diantara batu ke batu dan berlari ke dalam hutan.


...****************...


(Sudut pandang : ???)


Tepat di atas dahan pohon terdekat, kami mengawasi rombongan dari Si dewi bulan menuju ke Panthera.


"Jadi Regila gugur? Dengan begini 7 anggota. Tapi kenapa? Apakah dia menahan diri ketika penyerangan itu? Dewi itu bahkan tidak berkutik sedikitpun melawan Wrath." Kataku berbisik. Dari belakang ada suara langkah kaki yang membuatku menarik pedangku. Tapi dengan cepat aku menyadari siapa yang datang.


"Over? kenapa kau kemari?" Tanyaku. Overwatch melompat ke dahan pohonku.


"Bagaimana hasil pertarungannya?" Tanyanya.


"Dewi bulan itu yang membunuhnya. Mereka sekarang dalam perjalanan menuju Panthera." Jawabku.


"Sekarang kita bisa mengukur kemampuan tempur mereka. Mereka lumayan tangguh. Bahkan pemain level 100 seperti Regila dapat dikalahkan dengan begitu cepat." Kata Overwatch bersedekap.


"Mengukur kemampuan? Jadi itu alasanmu memisah Regila dan Smith. Ingin mencari standar yang akurat." Kataku dengan nada menyindir.


"Tidak masalah membuang semua pion sekalipun selama pada akhirnya mendapat kemenangan." Kata Overwatch.


...****************...


(Sudut pandang : Alice)


Dengan skill yang dimiliki oleh Ikaris kami bisa sampai kemari dalam hitungan menit. Di depan kami terdapat tembok energi berwarna biru. Tingginya bisa tidak bisa kuprediksi. karena aku tidak menemukan ujungnya mungkin ini bukan dinding melainkan sebuah kubah energi raksasa.


Enkidu melemparkan kerikil kecil ke dinding energi tersebut. Batu itu hancur tak tersisa ketika menyentuh permukaan dinding energi tersebut.


"Baiklah, siapa yang ingin mencoba duluan?" Tanya Enkidu. Semuanya langsung memasang wajah tegang karena efek dinding energi di depan kami.


"Tunggu." Ucapku. Ku keluarkan pisau kecil dari Babylon Treasure. Kualiri pisau tersebut dengan manna lalu kulempar ke arah dinding. Pisau itu juga hancur menjadi uap setelah menabrak dinding. Ini bahkan jauh lebih hebat dari Combine Skill. Aku berpikir cukup lama dan akhirnya mendapat semacam petunjuk.


"Ikut aku." Aku memerintahkan rombonganku untuk berjalan memutari tembok. Sampai aku melihat sebuah bangunan hitam mengkilat yang dibangun di lereng pegunungan.


"Hoo... jadi begitu." Kataku terpuaskan.

__ADS_1


"Mau sehebat dan secanggih apapun mereka membuat tembok mematikan ini yang namanya tembok jelas memerlukan pondasi, iya kan?" Kata Abimanyu.


Dilihat dari desain bangunan itu seperti gedung yang ada di film bertema masa depan. Tapi di dindingnya banyak sekali gambar-gambar kuno yang apabila terkena cahaya akan bercahaya.


"Kita ke atas sana." Kataku. Untuk mencapai ke gedung hitam itu kami perlu mendaki selama setengah jam untuk sampai.


" Ternyata lebih tinggi dari yang kukira daripada dilihat dari bawah pegunungan tadi." Ikaris begitu terkagum melihat gedung dari atas hingga ke bawah.


"Mana pintunya?" Tanyaku penasaran mengamati permukaan dinding gedung.


"Jika kau tidak menemukan pintu....." Enkidu menggunakan tinjunya untuk memukul dinding gedung tersebut. Bahkan aku bisa melihat kalau gedung tersebut terlihat bergoyang. Seberapa kencang Enkidu memukul gedung ini?!!


"Kau ini dulunya iblis ya?! Kau membuat gedung ini bergoyang seperti kertas! Kalau roboh bagaimana?!" Kata Abimanyu dengan panik.


"......Kau cukup membuatnya." Kata Enkidu mempersilahkanku masuk.


"Jangan mengacuhkanku!" Bentak Abimanyu.


"Iya, iya....lain kali akan kuutamakan untuk mencari bukan membuat." Kata Enkidu melambaikan tangan ke arah Abimanyu. Semenjak pertarungan melawan 7 dosa besar Abimanyu dan Enkidu menjadi lebih akrab. Ketika kami memasuki gedung terdapat banyak sekali panel, kabel, dan hologram dengan tulisan berkaksara aneh yang tidak kuketahui.


Kami menyisir seisi gedung selama 2 jam dan akhirnya kami menemukan ruang panel kontrolnya. Pintu terbuka otomatis ketika kami mendekatinya. Tapi apa yang kami temukan? Ruangan hancur lebur, banyak mayat-mayat yang pakaian mereka seperti ilmuan tergeletak bersimpah darah yang masih segar, Kabel-kabel terlepas dan memercikkan bunga api tanpa henti. Kami segera waspada ketika memasuki ruangan.


Aku memeriksa salah satu mayat di ruangan tersebut. Terdapat luka sayatan yang sangat dalam dan sangat lebar. Aku juga sempat melihat organnya berceceran.


"Ada yang mendahului kita ke sini." Kataku memperingati.


"Apakah ini ulah dari Yuna?" Tanya Enkidu.


"Mungkin dia juga melakukan pencarian tapi aku cukup yakin dia tidak akan menciptakan pesta semeriah ini."


"Itu benar, Karena mungkin si Dewi bulan itu sudah dihabisi oleh Regila." Terdengar suara berat seperti monster yang kelaparan.


"Saling membelakangi!" Pekik Ikaris. Kami melakukannya tanpa protes sedikitpun. Aku melihat ke arah map ku. Tidak ada keberadaan siapapun kecuali kami. Tiba-tiba api berwarna biru terang terlihat membakar sebuah gulungan di depanku. Magic Skill : Invisibility. Aku kemudian melihat sosok setinggi 2,5 meter didepanku. Seorang pemain dengan ras golem tanah yang ahli membuat senjata dengan skill crafting tertinggi di Apocalypse.


"Smith." sosoknya tertutupi gelapnya ruangan. Tapi disetiap percikan api terjadi aku bisa melihat sosoknya yang berjarak 1 meter denganku.


"Aku tahu kau akan mencari suamimu kemari, Alice." Dengan secepat kilat Smith mengayunkan Palu perak raksasanya ke arah kami seolah kami adalah bola golf.

__ADS_1


"Aaagggghhh!!!!"


__ADS_2