
"Jadi begitu, sepertinya saya terlalu meremehkan anda, Kaisar Hakkuken. Aku tidak pernah menyangka kalau anda membawa pasukan sebanyak ini tanpa di ketahui oleh kami para Assassin." Aku cukup kagum melihat sifat tenang dari Yukki. Dia bahkan tidak merasa terancam sedikitpun, seperti yang diharapkan dari pemimpin Kepulauan Assassin.
"Tak perlu memujiku. Aku sangat benci basa-basi. Jadilah bagian dari kekuatanku, Yukki. Dengan begitu kau tidak akan merasakan keputusasaan dan penderitaan." Jelasku tanpa basa-basi. Jika aku bertele-tele seperti tadi maka aku yang akan terancam.
Yukki menatapku lamat-lamat sehingga lengang selama 1 menit.
"Kalau begitu, saya ingin menanyakan sesuatu. Kesetiaan saya akan kuberikan sepenuhnya kepada anda tergantung dengan jawaban anda." Kata Yukki. Kali ini wajahnya sangat serius. Jika aku tidak memiliki skill pasif dari bawaan ras Undead jelas aku pasti sudah ngompol.
"Apa alasannya anda memilih Kepulauan Assassin? Jika anda benar-benar bisa sampai ke sini dan bahkan bisa menyusupkan pasukan-pasukan anda kemari tanpa kami ketahui. Bukankah iti menunjukkan kalau kalian memiliki kekuatan militer lebih unggul dari kami? Lalu kenapa anda masih menginginkan kami?" Tanya Yukki. Dan itu sangat telak menurutku. Tapi jika aku tidak mendapatkan kepulauan Assassin maka aku akan kerepotan sendiri mencari anggota Apocalypse sendirian. Tapi itu juga membocorkan informasi musuhku kepada pihak yang masih abu-abu.
"Alasan pribadi. Lagipula jika kami meminta bantuan kepada kalian, apakah kalian akan menjawabnya? Daripada membuat aliansi yang membuat hubungan kita menjadi saling mencurigai dan berebut hasil lebih baik menakhlukkan satu pihak yang lain sehingga hasil dari kerja sama tetap utuh. Lagipula, Kepulauan ini memiliki banyak sumber daya alam. Itu bisa dilihat dari kalian memakai zirah dengan bahan langka seperti Obsidian. Sebagai seorang Kaisar jelas aku sangat menginginkannya." Jawabku langsung tanpa ragu.
Yukki kemudian tertawa kecil setelah mendengar penjelasan dan alasanku tadi. Entah itu tawa menghina atau tawa yang lain. Kemudian sedikit mendeham untuk menghentikan tawanya. Dia membuka kipasnya dan menutupi separuh wajahnya dengan kipas itu.
"Lumayan juga. Tapi saya masih belum bisa memberikan kepulauan Assassin ini kepada anda." Sudah kuduga, pasti ada kemungkinan dia akan berkata seperti itu.
"Apa alasannya?" Tanyaku.
"Kepulauan Assassin ini tidak bisa diberikan kepada orang luar, apapun alasannya." Jawab Yukki.
__ADS_1
"Kau berniat melawanku dari awal, ya?" Tanyaku dengan nada mengintimidasi.
"Itu sedikit salah. Karena agar bisa menjadi Grand Master di tempat kepulauan ini. Kau harus memiliki darah keturunan para assassin. Jika tidak, maka tanda kepemilikan ini tak bisa kaumiliki." Jelas Yukki. Jika dalam TSO, kalau para anggota guild tidak menyetujui seseorang untuk menjadi ketua guild, maka system akan menolak akses persetujuannya. Masuk akal.
Tidak, tunggu. Aku masih menyimpan kartu truf yang lain dan untuk kali ini aku bisa menggunakannya. Aku mendapatkan kartu truf ini ketika dia diperkenalkan dihadapanku.
"Sistem nepotisme ya? Maskipun aku merebut dengan paksa melalui peperangan tapi jika aku orang luar maka aku tidak bisa menjadi pemilik sah tempat ini. Sepertinya sistem dari TSO masih berlaku disini. Harus dengan persetujuan kedua belah pihak." Pikirku. Aku pun tersenyum.
"Kalau begitu aku tetap bisa memiliki tempat ini. Karena sepertinya aku memiliki hubungan kekerabatan dengan anggota pemerintahan di sini." Kataku.
"Saya tidak pernah tahu kalau para tetua 5 klan memiliki cucu atau keluarga yang tinggal diluar kepulauan. Kami hidup terisolasi." Yukki sempat heran dari pernyataanku tadi.
Aku melihat wajah Yukki mulai kaku dan meneteskan keringat.
"Oh benar juga. Karena anda datang kemari sebagai orang luar maka saya seharusnya menanyai nama anda. Ini bisa mencoreng reputasiku sebagai Grand Master. Siapa nama anda?" Tanya Yukki. Inilah yang kutunggu-tunggu. Pertanyaan ini yang kutunggu.
"Tatsumaki Gen. Sepertinya kita memiliki hubungan kekerabatan, Tatsumaki Yukki." Jawabku. Serasa memenangkan lomba lari estafet internasional. Aku merasa di atas angin sekarang. Tapi reaksi Yukki kali ini benar-benar diluar perkiraanku. Yukki hanya memasang wajah biasa. Kampret! Setidaknya ada drama lah! Lengang selama 10 detik. Tapi senyuman muncul dari bibir Yukki.
"Aku tidak menyangka kakak sekarang sudah besar, dulu aku melihat kakak masih dalam gendongan ibu." Tunggu aku tidak paham. Jika dia memanggilku kakak, kenapa dia berbicara seolah melihatku ketika masih kecil? Kan kau adikku sialan?! Kenapa aku yang terlihat seperti seorang adik di situasi seperti ini?!
__ADS_1
"Tunggu dulu. Kau percaya begitu saja?!" Aku sempat heran. Untuk tipe orang pintar berargumen dan mencari alasan seharusnya dia menyangkalnya. Kenapa dia malah mempercayainya?
"Aku percaya bukan karena nama marga kita sama. Tapi karena nama depan kakak. Nama itu yang membuatku langsung percaya. Karena tadi nama lengkapku di sebutkan lebih dulu. Aku berpikir kakak akan menggunakan sebagai kedok. Tapi setelah mendengar nama depan kakak, aku langsung mempercayainya." Jelas Yukki. Logat ratu Yukki berubah menjadi seperti logat adik perempuan yang sopan kepada kakak laki-lakinya. Entah kenapa itu begitu menggemaskan.
"Jenghis, hentikan pengepungan! Riza, kembalilah ke wujud Sally, Keadaan sudah terkendali." Perintahku. Semua pasukan Jenghis Khan berubah menjadi kilauan emas. Riza pun masuk ke dalam ruangan dengan berubah menjadi wujud roh. Riza akhirnya menampakkan wujudnya didepan Yukki.
"Cantik sekali..." Gumam Riza yang mungkin itu terucap ketika melihat Yukki. Tapi ketika aku melihat wajah Yukki, tidak ada satu detail pun wajahnya yang mirip denganku.
"Wah, terima kasih banyak atas pujiannya." Jelas Yukki mendengar pujian tak langsung dari Riza saat itu.
"Jadi kembali ke topik awal, Yukki. Apakah sekarang aku bisa memiliki tempat ini dan juga isinya?" Tanyaku kepada Yukki. Yukki pun tersenyum manis kepadaku.
"Bisa. Tapi kak, untuk mendapatkan wilayah ini otomatis kakak mendapatkan seluruh Dynasty Angin juga. Jadi mungkin kakak akan menghadapi beberapa ujian dari para tetua 5 klan." Jawab Yukki. Benar-benar melelahkan. Kenapa harus ujiannya sih?! Tapi aku sudah sejauh ini. Setidaknya ini langkahku agar bisa mencapai ambisiku daripada tidak sama sekali.
"Baiklah. Aku akan menerimanya." Lagi pula aku juga masih punya urusan dengan World Boss Qirin. Waktuku yang tersisa adalah satu bulan. Jika developer game ini bisa menyebabkan kekacauan ini. Maka menyingkirkanku pun tidak sulit baginya.
"Baiklah. Oh iya, setelah makan siang nanti. Aku ingin bicara empat mata dengan kakak. Kakak ada waktu?" Tanya Yukki.
Tapi entah kenapa dari raut wajah Riza dan Jenghis mengeluarkan aura membunuh yang bocor dari wajah mereka. Aku harap Yukki mengabaikannya. Satu langkah pun selesai dalam menkhlukkan Kepulauan Assassin.
__ADS_1