
(Sudut Pandang : Yuna)
Dalam perjalanan kami, kami terhambat oleh tembok transparan seperti penghalang yang terbuat dari manna.
"Apa ini?" Tanya Shizuka. Mori dan Tenzin melihat ke atas untuk melihat ujung dari dinding energi itu.
"Tidak ada ujungnya." Kata Mori. Aku pun mencoba berpikir ulang. Aku mengambil batu dan melemparkannya ke arah dinding tersebut. Batu itu hancur menjadi abu dan tidak tersisa. Ini buruk. Kita semua akan mati sebelum kita sempat menembusnya.
Kulihat ke sekitar. Aku pun melihat sebuah patung raksasa di dekat bukit terdekat di dalam dinding transparan itu.
"Panthera..." gumamku. Panthera adalah salah satu dari anak Izanagi sama sepertiku. Bisa dibilang kami ini kerabat. Tunggu!!! Apa yang kupikirkan?!! Bagaimana bisa menembus tembok ini tanpa luka sedikitpun.
"Aku merasakan sesuatu manna yang aneh dari tembok ini." Kata Shizuku dengan curiga. Tenzin mencoba mengendus-endusnya.
"Kau benar. Manna nya jauh berbeda dari yang dimiliki manusia." Kata Tenzin. Itu dia!!!!
"Itu dia!" Kataku dengan keras sehingga membuat yang lain terkejut. Kupegang tangan Riza. Riza yang melihat wajahku langsung merasakan hawa negatif dariku.
"Jadilah bahan uji cobaku." Kataku dengan wajah memohon.
"Apa?" Sebelum Riza sempat bereaksi kudorong Riza ke arah dinding energi itu. Tapi tepat beberapa senti sebelum mengenai dinding kaki Riza menahan doronganku.
"Woi, tolol! Aku jauh-jauh kemari bukan untuk mati hangus!!" Katanya sambil mendorong wajahku dengan sikunya sehingga aku tidak bisa melihat apapun.
"Kau akan baik-baik saja! Percayalah! Dan singkirkan sikumu ini dari wajahku! Aku tidak bisa melihat apapun!!" Kataku mencoba terdengar meyakinkan.
"Karena itu aku melakukannya! Lepaskan!" Kata Riza.
Karena aku tidak bisa melihat apapun karena siku Riza menutupi wajahku, aku tanpa sadar menginjak sebuah batu sehingga membuat kami terdorong ke depan.
"Wuuaaaaaagghhh!!!" Teriak kami bersamaan. Aku berharap tidak ada pasukan Panthera di radius 3 km karena jika ada teriakan kami pasti sudah terdengar dari jarak 5 km.
Kami pun terjatuh ke tanah begitu keras tapi aku bersyukur mendarat di tempat empuk. Aku pun melihat ke sekitar. Riza hilang dari pandanganku. Aku bahkan sempat kalau ternyata uji cobaku gagal.
"Riza? Riza?! Rizaa!!!!" Teriakku sekencang-kencangnya.
"Menjauh dariku!" Tiba-tiba wajahku terhantam kaki naga dan membuatku salto ke belakang.
"Woi tolol! Lihatlah kita sekarang! Gara gara kau kita terkirim kembali ke alam dewata!" Hardik Riza.
"Kalau kau tadi menurutiku lebih awal, kita bisa masuk lebih awal dari dinding aneh itu, Reptil cantik! Lihat itu!" Kataku menunjuk ke arah belakangku. Yup! Kami berdua masuk tanpa ada yang kurang dari kami sedikitpun. Hening beberapa detik. Riza bahkan hanya bisa membiarkan mulutnya terbuka hingga rahang bawahnya menyentuh tanah.
"Kita....berhasil....masuk." Kata Riza melengo tak percaya. Riza kemudian menarik kerahku dengan kedua tangannya.
"Kok bisa?!!" Tanyanya.
__ADS_1
"Itu karena kita adalah ras dewata, reptil sialan!" Semburku. Kudorong Riza menjauh.
"Tepat setelah Tenzin mengatakan kalau dinding energi ini bukan berasal dari manna yang normal aku menyadarinya." Kataku mencoba menyentuh tembok energi tersebut. Tanganku tembus menembus tembok energi itu tanpa kendala.
"Manna ini adalah milik Panthera. Salah satu Dewata seperti kita. Manna sesama dewa tidak akan berdampak ketika kita bersentuhan. Karena itu kita bisa menembusnya." Kataku. Riza mengangguk pelan yang berarti dia paham. Tapi dia mencengkram kerahku lagi.
"Bagaimana kalau itu tidak sesuai dengan teorimu?!!! Aku pasti menjadi abu dan menjadi pupuk untuk tanah ini, Dasar dewi bulan sialan!!! Jangan-jangan!!...." Ya, Riza membaca pikiran dan niatku.
"Eh, Kak Yuna...." Aku mendengar suara Yukki yang tampak cemas tapi aku tidak memiliki waktu untuk meladeninya.
"KAU MEMANG BERENCANA MEMBUNUHKU DARI AWAL?!!!" Katanya mengguncap-ngguncang tubuhku dengan sangat kencang. Aku pun tersenyum jahat. Entah sejak kapan aku bisa melakukannya.
"Jika Tuan Gen memiliki banyak wanita maka akan semakin sulit untuknya mengontrol wanita-wanitanya." Kataku.
"Nyonya...." Kata Tenzin mencoba memanggilku. Tapi aku menghiraukannya. Riza kemudian mengeluarkan ekspresi jengkelnya.
"Hoo....Kalau begitu mari kita tentukan siapa saja wanita yang cocok dengannya." Katanya penuh tekad.
"Sekarang?!" Bentakku.
"Sekarang!!" Bentaknya.
"Woi, kalian dua dewi bodoh! Apakah kalian paham situasi kita sekarang!!" Bentak Jenghis dari balik dinding energi. Seketika aku melihat banyak sekali pasukan yang menggunakan pakaian zirah bermotif harimau hitam, cheetah, dan leopard disekeliling kami baik itu dari luar dan dalam dinding energi.
"Kalian berada dalam wilayah Panthera! Enyahlah! Atau akan dihancurkan!" Salah satu dari mereka mengumumkan.
"Itu karena kalian terlalu sibuk berteriak terlalu kencang sehingga mengakibatkan 5 lusin prajurit Panthera mendatangi kita dengan sambutan yang ramah!!!" Kata Jenghis mengeluarkan pedangnya. Aku dan Riza saling bertatapan lagi dengan tatapan tajam.
"Setelah ini kita perlu menyelesaikan ini." Bisiknya penuh intimidasi.
"Setuju." Balasku.
"Jangan bunuh mereka! Lumpuhkan mereka semua!" Perintahku. Semuanya segera bergerak tanpa banyak tanya. Kecuali Riza yang masih saja bersedekap.
"Lakukan Riza!" Pintaku.
"Ada apa denganmu?" Katanya dengan nada yang menjengkelkan. Dengan gerakan super cepat 7 prajurit terkapar tak berdaya.
"Jangan memerintahku. Aku tidak mentaati siapapun kecuali Ousamaku." Katanya. Wanita ini.....!!!! Jika bukan karena tuan Gen menginginkannya aku pasti sudah menjadikannya samsak tinju.
Dari balik tembok semua tetua klan dan Jenghis bisa mengatasi pasukan Panthera dengan cukup mudah.
"Tidak mungkin!!!" Kata salah satu Prajurit.
"Dasar monster!" Kata salah satu prajurit.
__ADS_1
"Keluarkan Drone-nya!" Bentak salah satu prajurit ke arah alat komunikasinya alih-alih alat bantu telepati.
Dari bawah tanah muncul sekitar 4 harimau logam yang tingginya hampir sama dengan Wrath saat menggunakan wujud harimaunya. Tidak hanya itu. Muncul beberapa turret dari bawah tanah dan mulai menembaki kami.
"Para peminjam kekuatan dewa seperti kalian...." Aku berubah wujud menjadi menggunakan sanggul dan gaun surgawiku. Kuledakkan sedikit energi mannaku sehingga membuat musuh terpental menjauh. 2 Harimau logam mereka juga hancur menjadi sampah. Turret-turret mulai menembakiku dengan energi manna.
Tapi itu tidak berguna. Kukeluarkan cambuk cahaya dari ujung jariku dan kusabetkan cambukku ke setiap Turret yang ada.
"Harus tahu diri dengan yang memberi kalian kekuatan tersebut." Kataku dengan dingin.
Semuanya hancur. Tidak ada korban baik itu dipihakku ataupun pihak lawan. Aku dan Riza kembali ke sisi luar Dinding energi tersebut.
"Mereka bahkan lebih tangguh dari yang ku duga." Kata Mori mencoba mengencangkan ikatan tali yang ada di kedua tangan salah satu prajurit.
"Aku bahkan tidak tahu kalau mereka bisa membuat senjata secanggih ini. Ini terbuat dari apa?" Tanya Shizuka.
"Cukup basa-basinya." Kata Riza dengan galak. Dia menyeret salah satu prajurit yang terikat dan mengarahkannya ke arah tembok energi.
"Kau galak seperti itu....tidak akan ada yang mau menikahimu." Ejekku.
"Berisik!" Katanya dengan ketus.
"Kau akan memberitahu kami dimana lokasi dari tunangan dari Ratu kalian sekaligus menonaktifkan dinding energi ini." Kata Riza dengan wajah intimidasi. Tapi prajurit itu cukup terlatih. Dia tahu bagaimana untuk tetap bungkam.
"Aku tidak akan memberitahu apapun." Kata peajurit itu.
"Oh begitu... Kalau begitu, mati saja kau." Kata Riza. Dengan perlahan Riza mendorong Prajurit tersebut ke dinding energi tersebut. Prajurit itu kemudian berteriak kesakitan. Cukup lama Riza menempelkannya.
Setelah dirasa cukup Riza menarik Prajurit itu kembali.
"Menyakitkan bukan? Siapa yang bilang aku akan membiarkanmu mati dengan mudah. Akan kusiksa kau sampai kau mencapai batasmu dan mati seperti anjing. Itu juga berlaku kepada kalian. Apakah kau tidak mempedulikan rekan-rekanmu? Mereka akan mengutukmu lo. Belum lagi kalau kau punya keluarga. Bukankah kau tidak ingin keluargamu terluka?" Prajurit itu pun melihat ke arah rekan-rekannya yang ada dalam pengawasan Yukki. Wajahnya dipenuhi rasa penyesalan dan air mata.
"Tunangan Ratu berada di istana. Dia dirawat disana dengan penjagaan super ketat. Dan ....." Prajurit itu menekan semacam panel di tangannya dan dinding energi pun membuka celah membentuk seperti mulut pintu.
"Terima kasih. Maaf membuatmu terluka." Aku bahkan terkejut kalau Riza mau meminta maaf kepada manusia. Aku pun mencoba menyembuhkan lukanya akibat introgasi tadi.
"Makan malam dengan siapa malam ini?" Tanyaku.
"Istri.....dan 2 orang anak." Katanya.
"Begitu ya. Pastikan untuk tidak terlambat. Akan kubebaskan kalian semua dengan satu syarat." Semua prajurit menoleh menatap rekan-rekannya dengan gelisah.
"Pasti kan apa yang terjadi hari ini tidak pernah ada." Semua prajurit begitu terpengah mendengarnya.
"Ka-kalian ini....sebenarnya siapa?" Kata salah satu dari prajurit.
__ADS_1
"Kami? Kami adalah......"
"Kepemilikan Sang OVERLORD. Tunangan Ratu kalian." Jawabku.