
(Sudut Pandang : Yuna)
Ok, setelah muncul Olivia yang sangat menyusahkan, sekarang wanita setengah telanjang yang lain. Wanita itu sangat santai bahkan untuk situasi didepan musuh yang menang jumlah. Tapi dilihat dari auranya sepertinya jauh lebih mengerikan dari Olivia. Kalau tidak salah tadi Kraven menyebut namanya....namanya Envy. Envy melihat ke sekitar.
"Mana Tuan Valon, Alice?" Tanya Envy dengan anggun tapi juga arogan. Alice langsung memasang wajah masam. Kalau dilihat-lihat, wanita ini juga sangat cantik dan manis. Tuan Gen, berapa banyak wanita sih yang telah kau goda?!
"Kau pikir aku akan menjawabnya. Setelah apa yang telah kau perbuat kepada istana tuanku." Ancam Alice. tatapan matanya menjadi tajam.
"Dia berada di Kepulauan Assassin kan? Kau pikir aku tidak tahu?" Envy mengangkat bahunya. Bagaimana dia bisa tahu?!
"Bagaimana kau bisa tahu?!" Tanyaku dengan paksa. Envy kemudian melirikku.
"Hoo...Jadi ini alasannya dia tidak kembali kepadaku. Seleranya menjadi sangat buruk." Secara tidak langsung sepertinya Envy menghinaku. Dan entah kenapa itu membuatku semakin marah.
"Jawab aku, Envy!" Aku mulai membentaknya. Kemarahanku akhirnya meledak juga.
"Itu karena semua ini adalah rencanaku. Apakah kalian tidak sadar, makhluk kelas rendah? Sebenarnya akulah yang mengambil segel kontrak Hassan dari Tuan Valon." Jelas Envy. Dia memperbaiki rambut pirang lurusnya. Tunggu dulu! berarti bukan Olivia yang melakukannya?! Jadi....
"Kau memberinya item magic : Scroll Phone agar dia bisa melakukan penyerangan?" Tanya Kraven. Dia masih tenang tapi wajahnya sedang menahan aura kemarahan.
__ADS_1
"Aku menggunakannya ketika Tuan Valon sedikit sentuhan kepadaku ketika dia membunuh Jaster. Cukup dengan sedikit sentuhan, Aku mengaktifkan magic Skill : greater break magic seal dengan level 100. Tentu saja aku tidak memilih karena aku tidak tahu kalau Tuan Valon memiliki banyak Slave saat ini. Tapi aku cukup beruntung mendapatkan Hassan." Jelas Envy. Caranya menjelaskan sesuatu mirip dengan Tuan Gen. Dari nada bicara, tutur kata, pemilihan kosa kata. Apakah hanya kebetulan. Tapi aku masih saja bingung. Bagaimana dia dan Olivia bisa menyusup ke istana ini? Padahal ada semacam medan penghalang sihir berbentuk setengah bola yang melingkup seluruh istana. Seharusnya alarm berbunyi.
"Cukup! Ini buang-buang waktu!" Kraven mentransmutasi tanah pijakannya menjadi pedang lalu dia jadikan sebagai anak panah. Kraven menembakkan pedang itu ke Envy. Tapi Envy menepisnya dengan tangan kosong. Panah itu pun meledak mengenai udara kosong.
"Aku bahkan tidak mengenalmu, pemanah. Apa yang membuatmu marah kepadaku?" Tanya Envy dengan tersenyum. Itu juga yang ada di dalam pikiranku.
"Alasannya mudah. Karena kau menyerang istana ini." Jawab Kraven dingin mengarahkan anak panah-pedangnya lagi ke Envy kemudian dia menembak lagi. Lagi-lagi Envy menepisnya dengan mudah. Kraven semakin kesal dan marah. Giginya bergemeletuk. Busur panahnya berubah menjadi sepasang pedang dengan panjang bilah 80 cm. Dengan secepat angin Kraven menyerang Envy. Pertarungan mereka bahkan sangat cepat. Jika ada manusia biasa melihatnya, maka meraka hanya melihat percikan api dari setiap benturan pedang mereka.
"Pedang yang bagus. Terlalu bagus untukmu malahan." Kata Envy menangkis setiap sabetan dan tebasan Kraven yang sangat super cepat.
Alice memperhatikan sekitar dan merasakan sesuatu. Aku juga merasakannya juga.
"Tentu saja." Tepat setelah Alice mengatakannya. sebuah peluru sniper melesat di antara kami. Menimbulkan cekungan besar di permukaan tanah yang berada di belakang kami. Aku bersiap berlari ke arah si penembak dan berencana mengajaknya untuk bertarung jarak dekat tapi Alice menghentikanku.
"Petarung jarak jauh harus melawan petrung jarak jauh juga. Hemat tenagamu. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang dilibatkan Envy ke kekacauan ini." Alice mulai membuka sekitar 7 portal Treasure Of Babylon dan mulai menembakkan senjata-senjatanya. Kurasa Alice bisa mengatasinya. Aku melihat Kraven masih bertarung sengit dengan Envy. Aku berusaha untuk membantunya. Tapi tiba-tiba ada seseorang menyerangku dari belakangku. Aku pun segera menghindar dan bersalto ke belakang beberapa kali untuk menjaga jarak.
Seorang laki-laki berambut cepak berwarna hitam dengan mata berwarna hitam, memakai pakaian tanpa lengan dengan warna yang sama seperti milik Envy dengan jaket hitam dengan resliting terbuka, memakai celana hitam tacktikal dan memakai sepatu boot hitam. tangan kanannya terbungkus berlian hitam membentuk sebuah cakar.
"Kau ternyata bisa menghindarinya. Wah cantik-cantik juga memiliki reflek yang cepat." Kata pria itu berkacak pinggang sambil tersenyum ngeri. Kukeluarkan cambuk cahayaku untuk menebasnya dari jauh. Tapi pria itu melindungi dirinya sendiri dengan tangan berlian hitamnya. Cambuk malah terikat ditangan kanannya.
__ADS_1
"Kau ingin menari denganku? Baiklah kalau begitu. Pertama-tama penari tidak boleh terlalu jauh dengan pasangannya." Pria itu menarikku dengan sangatku sehingga membuat tubuhku terlempar ke arahnya. Aku mencabut pedangku yang tertancap di tanah tadi ketika terlempar. Pria itu bersiap mengeluarkan tangan kirinya dan membungkusnya dengan berlian hitam. Dia siap memukulku. Kutarik lebih kencang lagi sehingga membuatku meluncur lebih cepat. Kusabet persendian tangan kirinya sehingga membuat tangannya terpotong. Kedua tangannya tidak terbungkus berlian hingga pundaknya.
Aku pun segera memotong cambukku dan menjauh. Pria itu malah tersenyum kepadaku. Potongan tangannya yang terpotong hancur menjadi debu hitam.
" Kalian para Slave memang hebat. Aku terkesan. Kau orang kedua yang bisa membuatku kehilangan anggota tubuhku." Kata pria itu. Dengan cepat tangannya tumbuh kembali lagi. Dia jelas bukan manusia ataupun seorang slave. Sepertinya Perang Mitologi kali ini akan jauh lebih menyusahkan.
"Kau ini apa?" Tanyaku sampai heran.
"Oh, iya aku lupa memperkenalkan diriku. Aku Wrath. Salah satu dari 7 dosa mematikan manusia." Kata Wrath. Aku sangat terkejut setelah mendengarnya.
"7 dosa mematikan manusia?! Apakah itu mungkin..." Aku bahkan masih tidak percaya kalau yang kulawan adalah dosa itu sendiri.
Tiba-tiba dari sudut gedung istana paling pojok meledak. Ketika aku melihat puing-puingnya berjatuhan aku melihat Enkidu dan Abimanyu terlempar dan menabrak tanah sangat keras. Selevel Slave di buat seperti itu?!
"Woi Pride! Kau tidak seharusnya menghancurkan gedung itu! Apalagi lawanmu seorang wanita." Omel Wrath sambil marah-marah. Tapi orang yang disebut Wrath sebagai Pride tidak menghiraukannya sedikitpun. Pria tua dengan rambut rapi berwarna putih, dengan wajah keriput, dan badan yang sangat besar dan berotot, memakai pakaian ketat berwarna sama seperti Wrath dan Envy. memakai sarung tangan hitam, dan celana taktikal hitam sama seperti Wrath dan sepatu boot hitam. Pride membawa bilah pedang di tangannya.
Ketika Wrath ngomel dan meracau tidak jelas kumanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya. Kuincar batang lehernya. Tapi lehernya tidak terpotong. Leher Wrath sudah terbungkus berlian hitam.
"Kau memang wanita yang mengerikan ya? Kau bahkan rela menebas leher pria yang barusan berkenalan denganmu." Tiba-tiba zat-zat berlian hitam itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Wrath berubah menjadi panther berkulit berlian.
__ADS_1
"Aku tidak ingin seseorang melihatku dengan wujud ini terlalu lama karena dengan wujud ini wajahki tampak sangat buruk. Kau akan mati di sini nona muda." Kata Wrath.