Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Sang Overwatch


__ADS_3

(4 tahun kemudian)


Beberapa hari setelah perkumpulan aliansi.


(Sudut pandang : Yuna)


Saat itu aku sedang menikmati senja bersama anakku, Mira di sebuah rumah singgah dekat pantai, kami duduk di depan teras menghadap matahari tenggelam. Dia tumbuh dengan wajah yang mirip dengan Tuan Gen. Mata ungu dan rambut hitam lurus sepertiku. Tapi Mira lebih suka mengucir rambutnya menjadi ponytail.


Aku tidak sendirian di pantai. Terdapat Jenghis Khan, Riza, dan 5 tetua klan yang sedang memprediksi dimana posisi Tuan Gen menghilang.


"Ibu, ayah mana?" Tanya Mira kepadaku dengan polos.


Aku merasakan hawa kehadiran lain di belakangku dan aku tahu siapa dia.


"Ayahmu sedang melakukan perjalanan dan tersesat. Karena itu teman-teman ibu membantu ibu mencarinya."


"Aku ingin bantu." Mira begitu antusias ketika mengatakannya. Aku pun menangkup kedua pipinya dan mencium keningnya.


"Kalau Mira ingin bantu. Coba ajak paman Tenzin bermain." Kataku mencoba mengalihkan perhatian Mira.


Mira dengan cepat mengangguk dan berlari ke arah Tenzin dan menarik telinga serigalanya. Suasana ketika berkumpul pun menjadi cair setelah tegang. Mereka malah bermain. Tanpa sadar aku pun tersenyum. Tapi mengetahui ada seseorang yang mengawasiku dari belakang senyumku memudar.


"Ada apa, Kraven?" Tanyaku.


"Tidak, aku cuma terkejut kalau ibu akan memberikanku seorang adik perempuan." Aku sempat terkekeh mendengarnya.


"Aku tidak akan memberikannya kepadamu, anak pintar. Jadi bagaimana?"


"Untuk saat ini anggota Apocalypse masih belum mengambil tindakan. Bahkan dengan keenam anggota yang mati ditangan ayah mereka masih saja tidak mempedulikannya. Sepertinya keenam anggota itu hanyalah pion-pion yang sudah Envy siapkan untuk dibuang." Jelas Kraven.


"Begitu ya. Dan keberadaan ayahmu?" Tanyaku.


"Aku sungguh minta maaf ibu aku harus melakukannya."


"Tentu saja kau harus minta maaf. Jika bukan karena rencanamu yang berasal dari masa depan aku tidak perlu berakting menangis menjadi korban penculikanmu." Aku hampir saja kehilangan kontrol tapi aku kembali mengatur napasku kembali.


"Ayah masih belum ditemukan. Meskipun kita masih mendapat suplai manna darinya tapi sambungan empati kita terputus. Jadi sangat sulit untuk melacaknya." Jadi untuk empat tahun ini belum ada kemajuan. Apakah Alice mendapat kemajuan dalam melakukan pencarian?

__ADS_1


"Baiklah, kerja bagus Kraven."


"Ibu ada satu hal lagi yang hampir saja lupa. Meskipun pihak Apocalypse tidak bergerak tapi mereka memanggil 1 slave yang mengerikan."


"Slave yang mengerikan? Juggernaut class?" Aku penasaran.


"Bukan. Aku bahkan yang berasal dari masa depan tidak tahu asal-usul Slave itu."


"Apakah yang dipanggil adalah entitas dewata?" Tanyaku. Diperang Mitologi ini dengan adanya 1-2 dewa yang turut ikut serta maka para dewa lainnya juga akan mengikuti.


"Bisa jadi, karena auranya begitu berbeda dengan slave pada umumnya." Jawab Kraven.


"Apa Pusaka Relic yang digunakan untuk memanggilnya?" Tanyaku memastikan. Mungkin dengan mengetahui pusaka Relic nya aku bisa menebak Slave apa yang mereka panggil.


"Envy bahkan melakukan pemanggilannya tanpa diketahui siapapun."


...****************...


Seminggu sebelumnya.


Disebuah ruangan seperti altar ritual aku meletakkan sebuah pusaka relic. Ruangan ini hanya kami 7 dosa besar manusia dan Paduka Valon yang bisa memasukinya. Tidak akan ada yang bisa mengetahuinya. Aku pun mulai merapal mantra pemanggilan yang biasa dilakukan calon Ousama untuk memanggil Slave.


Lingkaran sihir dibawah lantai mulai bercahaya terang berwarna putih. Cahaya dari lingkaran sihir tersebut makin lama makin terang bahkan sampai cahayanya memenuhi ruangan dan menyilaukan mata. Saking silau dan terangnya aku sampai menutupi kedua mataku. Dan kejadian tak terduga terjadi. Terjadi ledakan dahsyat di tengah ruangan, tepatnya di tengah lingkaran sihirnya. Asap mengepul begitu hebat dan gelap. Lantai altar bahkan hancur dan terdapat energi listrik berwarna merah hitam yang mengalir diantara reruntuhannya.


Apakah pemanggilannya gagal? Aku bahkan tidak pernah tahu kalau setelah pemanggilan altar dan lingkaran sihirnya hancur. Tapi dari balik asap aku melihat aku melihat siluet bayangan dari seseorang. Tidak mungkin ada orang selain aku di ruangan ini.


Sosok siluet hitam itu berjalan mendekatiku perlahan. Aku bahkan sempat mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Sosok siluet itu pun keluar dari kepulan asap.


Sosok pria berambut panjang berantakan seperti bulu landak berwarna putih dengan topeng serigala hitam dengan motif merah darah, memakai jubah hitam dengan lengan 3/4 yang memperlihatkan kedua tangannya yang diperban menggunakan kain putih sehingga hanya jari-jarinya saja yang terlihat, disetiap jarinya menumbuhkan cakar yang tajam, menggunakan pengencang pinggang berwarna abu-abu dan membawa semacam tongkat di kedua pinggangnya, bahkan tidak hanya tangan yang ia perban tetapi juga kedua kakinya, dan mengenakan sepasang sendal anyaman.


"Apakah anda Ousama-ku?" Didengar dari suaranya begitu berat. Aku bahkan hampir tidak memperhatikan apakah dia berbicara padaku.


"Iya, aku Ousama-mu." Jawabku.


"Begitu ya. Kontrak sudah disetujui. Nona, apa perintahmu?" Tanya sang Slave.


"Tunggu sebentar." Kataku mencegah sang Slave melangkah.

__ADS_1


"Aku bahkan menggunakan pusaka relic secara acak. Aku sampai tidak tahu Roh legenda apa kau ini? Siapa namamu?" Tanyaku curiga ditambah penasaran. Sang slave bertopeng itu melihat benda pusaka relic yang ada di depan altar.


"Nona memanggilku dengan itu?" Tanyanya.


"I-iya."


"apakah itu milik reinkarnasi kali ini?" Tanyanya sekali lagi. Meskipun pria bertopeng ini banyak bertanya entah kenapa hawa intimidasinya begitu kuat sehingga aku tidak berani memarahinya.


"Iya, meskipun cukup sulit untuk mendapatkannya. Jadi kembali ke pertanyaanku. Siapa kau?" Tanyaku sekali lagi.


"Saya akan memberitahu anda ketika semua bawahan anda ada ketika saya memperkenalkan diri." Bagaimana dia bisa tahu?! Aku bahkan memblokir hubungan empatinya karena aku masih belum mempercayainya.


"Ba-ba- gaimana kau bisa tahu?" Tanyaku sedikit bergetar. Sang slave menatap mataku dari balik lubang topengnya.


"Kita berada di benua raksasa dengan populasi 501.678 pasukan, hanya ada 25 orang yang benar-benar kuat dan pandai menari. Beberapa yang lainnya juga lumayan." Aku bahkan sampai tidak habis pikir. Bagaimana slave ini bisa mengetahui total pasukan milik Guild Apocalypse. Dan jumlahnya sangat akurat. Siapa sebenarnya yang kupanggil?!!!


"Baiklah. Kita pindah dari sini." Aku menteleport diriku dengan slave-ku ke ruang singgasana Guild. Karena sekarang aku memegang kendali maka aku bisa menteleport diriku dan orang lain sesuka hati selama ada di benua ini. Aku pun berjalan menuju singgasana Paduka Valin dan mendudukinya. Aku pun memaksa yang lain untuk berteleport ke ruang singgasana. Di ruang singgasana adalah ruangan paling luas di Apocalypse. Terdapat 33 singgasana dengan 1 patung dengan tinggi 10 meter dibelakang singgasana yang terbuat dari emas.


Semua anggota Apocalypse datang kecuali yang sudah tewas, Regila, Smith, Alice, dan Paduka Valon. Sedangkan semua NPC sepertiku ciptaan dari anggota Apocalypse yang lain juga berkumpul di tengah ruangan. Semua orang bertanya-tanya apa yang sedsng terjadi.


"Envy! Berani-beraninya kau menduduki singgasana itu! Yang berhak hanyalah Valon! Dan berani-beraninya kau menteleport kami dengan tiba-tiba!" Kata salah satu NPC gulid Apocalypse.


"Kau masih mengibaskan ekormu kepada orang yang berkhianat kepada Apocalypse?!"


"Dia penciptamu, Lacur!!!" sahut NPC yang lain.


"Tidak jadi soal! Penghianat tetap penghianat. Itu berlaku untuk semuanya, bahkan untuk Paduka Valon. Kalau kalian masih sayang nyawa lebih baik diam dan tutup mulutmu!" Bentakku.


"Cukup. Jadi, apa yang ingin kau katakan, Envy. Kita semua sudah berkumpul." Salah satu pemain guild Apocalypse mencoba menengahiku.


"Kematian dari keenam anggota kita membuat kita kekurangan anggota. Jadi aku menambah 2 anggota. Dan Slaveku ingin diperkenalkan kepada seluruh Apocalypse."


Semua orang seketika memperhatikan.


"Yang pertama adalah Kraven, dia adalah Slave yang berasal masa depan dan satu lagi yang bertopeng dia adalah...." Belum selesai aku menjelaskan Slave bertopeng itu menyela penjelasanku tapi kalimatnya membuatku terkejut dan jantungku berhenti berdetak.


"Sang Overwatch." Kata sang Slave bertopeng.

__ADS_1


__ADS_2