
(Sudut Pandang : Tatsumaki Miyuki)
Benar-benar apes memang. Kami cuma 2 wanita yang kebetulan punya kekuatan untuk melawan, disuruh melawan segerombolan pasukan mayat hidup veteran perang yang berasal dari zaman kuno dan mitologi terkenal yang sempat punya urusan dengan kami sebelumnya.
"Kau mau menyerah?" Tanya Hisao kepadaku dengan nada meremehkan. Kuusap bilah pedang ku dari pangkal bilah hingga ke ujung bilah dengan perlahan menggunakan telapak tanganku. Bekas usapan ku membuat bilah pedang ku terbakar oleh api biru yang sangat terang dan sangat panas.
Hisao yang melihatku melapisi pedang menggunakan api biru terkekeh.
"Itu sepertinya bukan jawaban tidak... " Ujar Hisao.
"Kita sudah sejauh ini, Hisao. Ini akan sia-sia jika kita menyerah disini." Balas ku.
"Atau mati disini dan menjadi bagian dari lumpur hitam ini." Hisao menyelimuti sepasang sepatu yang dia kenakan dengan sisik dan cangkang obsidian ke kedua kakinya dan menjadi kaki monster. berkuku tajam, sisik, dan bermotif cangkang.
Hisao kemudian memasang posisi kuda-kuda seperti orang yang ingin melakukan sprint. Dengan secepat angin Hisao memicu larinya. Bahkan sampai meninggalkan parit semu di permukaan lumpur. Perseus dengan sigap melompat dengan ketinggian yang abnormal. Itu dikarenakan sendal terbang yang dia miliki. Medusa lah yang diincar oleh Hisao. Medusa diterjang oleh Hisao dan dijadikan sebagai papan seluncur untuk berseluncur di atas lumpur hitam.
"Kemampuanmu-lah yang paling merepotkan. Jadi maaf ya." Hisao berusaha menarik kepala Medusa hingga lehernya putus. Tapi dengan sigap Medusa memegang tangan Hisao dan menendang Hisao untuk menyingkirkannya. Hisao terhempas ke udara cukup tinggi, sekitar 6 meter.
Medusa menghentakkan kedua tangannya ke permukaan lumpur sehingga membuatnya bisa bersalto ke belakang dan kembali ke posisi berdiri. Medusa kemudian melakukan gerakan seperti sedang menarik sesuatu di masing-masing tangannya. 2 rantai berlapis manna terlihat di masing-masing tangannya dan terikat ke tangan Hisao.
"Sejak kapan rantai ini...?!!" Hisao tersentak mengetahui tangannya terikat oleh rantai Medusa.
__ADS_1
Kemungkinan Medusa mengikatkannya ke tangan Hisao dengan rantai itu ketika Medusa memegangi tangan Hisao sebelum dia menendangnya ke udara. Medusa dengan sangat kuat menarik rantainya dengan sangat keras ke bawah dan itu membuat Hisao terjatuh dari udara dengan sangat kencang dan menabrak permukaan lumpur hitam dengan sangat kencang bahkan sampai menciptakan ledakan riak di permukaan lumpur yang ukurannya bisa dibilang tidaklah kecil dan itu pasti sakit.
"Buaaaah! Rasanya mengerikan jika diminum kebanyakan...!" Omel Hisao yang kepalanya keluar dari permukaan lumpur.
Aku melihat dari atas Perseus mencoba melakukan tendangan secara menukik ke arah wajah Hisao. Ini buruk. Perseus meluncur dengan kecepatan tinggi. Aku tidak akan sampai jika menghalaunya dari sini. Aku dengan segera berlari ke arah Hisao kobaran api mulai keluar dari tangan kiriku. Kumohon, semoga sampai....!! Ledakan terjadi lagi. Kali ini ledakannya disertai api.
Dalam beberapa detik terakhir sebelum kaki Perseus mengenai wajah Hisao aku sempat menghalau tendangan kaki Perseus dengan tangan Ifrit. Perseus pun mundur dengan melompat dan mendarat di samping Medusa.
"Terima kasih." Ujar Hisao mengulurkan tangannya kepadaku. Dia memintaku untuk menarik tangannya sehingga bisa terangkat dan lepas dari lumpur hitam yang menelan dari bagian leher ke bawah.
"Simpan itu baik-baik dan traktir aku nanti setelah kita berhasil keluar dari tempat mengerikan ini. Fokuslah." Ujarku.
Achilles mulai memacu ketiga kudanya. Kereta yang ia tunggangi pun mulai berjalan. Padahal permukaan yang kami jadi pijakan adalah lumpur tapi kereta Achilles bisa bergerak dengan sangat mudah. Kuda-kuda Achilles meringkik dengan sangat seram. Achilles memutari kami menggunakan keretanya seolah mengisyaratkan kalau kami tidak bisa keluar dari lingkaran yang dia buat. Semakin lama kereta kudanya berputar maka semakin kencang juga kecepatannya bahkan aku sampai tidak bisa melihat dimana letak persis kereta kudanya. Tapi anehnya kenapa Achilles juga memasukkan Yudistira juga di dalam pusarannya?
"Akan lebih baik kita saling membelakangi lagi." Aku menyarankan.
"Ide bagus." Ujar Hisao tanpa protes.
Yudistira dengan cepat melempar tombak nya ke arah kami. Aku dan Hisao berhasil menghindarinya sehingga tombaknya meluncur ke bagian dinding pusaran. Dari samping kami lemparan tombak meluncur ke arah kami, lebih tepatnya berasal dari dinding pusaran yang di buat achilles. Aku sempat terserempet tombak tadi tapi Hisao berhasil menghindarinya.
Tombak yang meluncur tadi ditangkap oleh Yudistira. Tombaknya berbeda dari yang dilempar oleh Yudistira sebelum dia lempar tadi. Yudistira kemudian melemparkan lagi tombaknya ke arah kami. Pola sebelumnya terulang kembali dan semakin lama semakin cepat. Ini sama seperti permainan karambol hanya saja media permainannya menggunakan 2 tombak. Tubuhku dan tubuh Hisao sudah mulai lecet-lecet dan terluka karena efek pantulan karambol dari kombinasi serangan Yudistira dengan Achilles.
__ADS_1
Aku sudah cukup muak dengan serangan karambol ini. Saatnya melepaskan stress. Dari tubuhku muncul ledakan dengan sangat dahsyat berupa api biru yang sangat terang. Hisao bisa tidak terkena efek ledakan itu karena aku sudah mengatur apinya sehingga tidak melukai Hisao. Serangan beruntun itu berhenti. Achilles dan Yudistira terpental akibat gelombang ledakan yang kuciptakan tadi. Tubuh mereka mengalami luka bakar tingkat 3 walaupun tidak di seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba tubuh mereka berempat terpotong-potong sebelum mereka sempat bereaksi. Aku dan Hisao dengan sekejap tak bisa bereaksi maupun bergerak setelah melihat apa yang barusan terjadi.
"Ya-ya cukup menarik. Jujur saja aku cukup terhibur dengan permainan kalian tadi." Ujar seseorang yang ada di belakang kami yang entah bagaimana bisa dia berada di belakang kami.
Aku sempat menoleh ke arah belakangku dengan perlahan. Ternyata yang ada di belakang kami adalah Ryomen Sukuna.
"Tidak usah ketakutan begitu. Aku jelas ada di pihak kalian dari awal. Dan kebetulan mood ku jadi bagus setelah melihat kalian menari tadi." Bahkan di setiap langkah yang dibuat Sukuna terasa seperti intimidasi.
"Lalu... apa alasanmu membantu kami?" Tanyaku dengan perlahan meskipun bibirku bergetar.
"Tidak ada yang spesial dari alasanku. Lagipula aku adalah seorang Ashura terkuat dan paling bengis pada masanya, maka dari itu aku tidak memiliki empati semacam itu. Tapi melihat kalian berjuang mati-matian demi anak kalian yang ternyata juga adalah reinkarnasi dari anakku membuatku sedikit bernostalgia. Benar-benar bernostalgia. Terima kasih." Jelas Sukuna.
Sukuna kemudian meletakkan kembali keempat tangannya ke dalam yukata hitamnya. Haori yang dia lepas tiba-tiba terbang dan terpasang kembali ke pundaknya. Sukuna kemudian berjalan menjauhi kami. Setiap langkahnya membuatnya semakin tenggelam ke dalam lumpur hitam seolah dia sedang menuruni tangga yang di bawah lumpur ini. Sukuna sepenuhnya tenggelam ke dalam lumpur.
Tiba-tiba dari permukaan lumpur sukuna tenggelam keluar secara perlahan tubuh seorang bocah yang kami cari. Ciri-cirinya sama seperti kami pertama kali bertemu. Aku dengan cepat berlari ke arah bocah itu tapi suasana dia buat hancur gara-gara satu kalimat yang dia lontarkan ketika mata kami bertemu.
"Oh hai ibu." Ujar Gen dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"SERIUS?!!! TIDAK ADA DRAMA KELUARGA DULU?!!!!!!" Aku dan Hisao ngedumel.
__ADS_1