
(Sudut pandang : Naava)
Setelah 5 menit di dalam kereta bersama mantan pembunuh yang dibayar oleh kakakku sendiri untuk membunuhku akhirnya kami sampai di markas pelatihan militer bawah tanah. Terdapat banyak sekali senjata yang tersusun rapi di dinding. Drone-drone yang dalam masa perbaikan juga tidak sedikit. Tidak ada satu orang pun. Tentu saja, itu karena seluruh pasukan dikerahkan menuju medan perang sekarang ini.
Melihat isi ruangan ini Killhunger bersiul nyaring. Aku tahu dia tampak kagum.
"Wow. Kalian bahkan memiliki camp militer di bawah tanah." Gumam Killhunger. Kedua matanya menyisir seluruh ruangan.
"Ruang bawah tanah ini kalau tidak salah memiliki luas sekitar 2km x 3 km. Terdiri dari ruang latihan, montir, dan gudang senjata. Tapi karena aku telah memberi perintah untuk semua pasukan untuk bersiap berperang jadi tempat ini kosong." Kataku bersamaan dengan jariku sibuk menekan tombol di panel.
"Berapa jumlah personel yang kalian miliki?" Tanya Killhunger dengan masih kagum melihat senjata-senjata yang ada.
"Yang kukerahkan menuju medan pertempuran ada sekitar 5000 pasukan dengan 2000 drone tempur." Jawabku tanpa menoleh.
"Itu masih kurang." Jawab cepat Killhunger. Dari nada suaranya tampak tegang dan serius. Aku pun menoleh ke arah Killhunger.
"Kau sepertinya tidak mengerti. Meskipun kalian para pem-yn.... " Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Killhunger menggebrak dinding di belakangku dengan kedua tangannya. Aku bahkan sampai lupa kalau dia adalah pembunuh bayaran.
"Tidak, kau yang justru tidak mengerti. Kau tahu siksaan apa yang telah Valon the Dragnel lakukan kepadaku sebelum akhirnya kau membebaskanku dari siksaan itu di dalam penjara ranah 4 sudut itu?! Mereka para Apocalypse tidak pernah ragu jika sudah menyangkut keputusan dan tujuan yang menguntungkan mereka." Katanya dengan nada tajam. Aura membunuh Killhunger keluar sekarang. Tapi dia pun menangkan diri kembali.
"Eh maafkan aku." Katanya menarik diri. Aku bahkan sampai lupa caranya bernapas dalam beberapa detik yang lalu. Jika pembunuh mengerikan ini saja sampai setegang itu sudah jelas lawan yang kami hadapi berada di level yang berbeda.
"Tidak. Aku juga salah. Mungkin aku juga terlalu meremehkan Apocalypse dan terlalu percaya diri akan teknologi kami." Kataku. Dinding yang di gebrak oleh Killhunger pun terbuka menjadi dua dan memperlihatkan isinya. Terdapat Sniper, senjata tombak, bahkan baju zirah ayahku yang sudah lama tidak terpakai, sepasang cakram energi, golok tradisional khas Panthera yang sudah dimodifikasi, dan juga sebuah helm bermotif harimau. Dan tentu saja semua itu terbuat dari batu Ooverloed. Di bagian bawahnya terdapat banyak sekali stok peluru sniper dan magazine nya.
"Tapi aku tidak berniat untuk mengalah kepada mereka. Entah itu untuk Kerajaan ini maupun untuk tunanganku dan keluarganya. Bagaimana pun caranya." Kataku dengan mantap. Kuambil sniper yang terpajang di dinding lalu kulemparkan kepada Killhunger kemudian dia menerimanya.
"Lalu solusinya? Bagaimana " caranya" kau dan negara kecilmu ini bisa menang melawan kiamat yang terjadwal ini?" Tanya Killhunger.
"Karena itu aku membutuhkanmu. Jika kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan maka kita kalahkan mereka dengan kepintaran." Jawabku dengan penuh harap dan yakin.
...****************...
__ADS_1
(Sudut pandang : Yuna)
Sementara itu di medan perang. Aku dan yang lainnya mulai bergabung dalam barisan dalam pasukan. Baru beberapa detik menghampiri barisan, aku segera bertemu dengan para tetua klan dari Kepulauan Assassin. Aku segera menghampiri mereka.
Yukki yang menyadari bahwa aku sudah tiba di barisan segera menyapaku. Seperti dugaanku, Yukki menyadari bahwa aku sudah berganti pakaian.
"Wow, kak. Kau tampak.... sexy.. " Kata Yukki memujiku.Tapi entah kenapa dia ragu dalam mengatakannya seolah kata-kata nya dengan hatinya tidak sejalan.
"Woo, cocok sekali Nyonya." Kata Tenzin dengan antusias. Tapi ke-antusiasannya hilang ketika mata Tenzin diketahui oleh Nishimiya.
"Beliau tidak meminta pujianmu, Tenzin." Kata Nishimiya dengan sebal.
"Sepertinya perjanjian aliansinya berjalan lancar ya?" Tanya Yukki mengulurkan tangannya. Aku segera menjabat tangannya dengan penuh antusias.
"Yah, walaupun..... " Kata-kataku terpotong karena melihat ke arah luar pelindung Panthera. Tepatnya menatap Alicia dan rombongan Apocalypse-nya.
"Kita juga mendapatkan masalah baru." Lanjut ku. Aku pun juga menyadari keberadaan beberapa Roh legenda selain dari aku, Riza, dan Jenghis.
"Kalian dibuang ya, Ikaris? Oleh wanita itu?" Tanyaku dengan nada sarkastik.
Melihat reaksiku, Jenghis, Riza, Ikaris, dan Enkidu menahanku. Sayangnya mereka tepat waktu sehingga mata tombakku tidak dapat menjangkau batang lehernya.
"Kenapa kau ada disini?" Tanyaku dengan nada tajam.
"Tentu saja kakak cantik ini datang untuk membantu kalian." Jawabnya dengan nada merayu. Aku pun menatap mata Ikaris. Ikaris pun mengangguk. Aku tidak tahu apa nasibnya setelah dia tertangkap di insiden Ibukota Blizzard tapi dengan Ikaris menghentikan pergerakanku sepertinya wanita ini tidak berbohong.
"Aku akan menanyai detailnya nanti. Sampai saat itu, pastikan dirimu untuk tidak membuatku membakarmu seperti terakhir kalinya." Bagus sekarang aku tahu caranya mengancam dan menghina seseorang didepan umum.
"Akan kulakukan yang terbaik, Dewi." Jawab Olivia dengan enteng seolah itu bukan sebuah hinaan.
"Baiklah aku mulai penasaran, apakah Naava benar-benar sudah mengeluarkan seluruh pasukannya? Berapa totalnya?" Tanya Riza penasaran melihat ke sekitarnya.
__ADS_1
"5000 personel dan 2000 drone tempur dan seperti dugaan kalian mungkin itu tidak akan cukup untuk melawan Apocalypse." Kata seseorang yang ada di belakang kami. Yes, Ratu Panthera yang telat datang ke peperangannya sendiri.
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Riza.
"Ah, aku ada beberapa kendala di zirah ku ini. Aku meminta Neema untuk memperbaikinya." Jawabnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Jadi ini rombonganmu Yuna? Grup kalian cukup berisik juga ya. Pantas saja aku tidak perlu memeriksa ke setiap barisan pasukan." Tanya Naava melihat ke arah Enkidu, Abimanyu, Ikaris, Olivia dan 5 tetua Assassin.
"Sebaiknya kau jaga bicaramu, nona. Kami disini datang untuk membantumu." Kata Abimanyu yang sepertinya terpancing.
"Kebalikannya, justru kami yang membantu kalian. Perang kalianlah yang membuat kami terlibat secara tidak langsung. Jadi bersyukurlah Panthera mau membantu." Jawab Naava. Yah, dia pantas menjawabnya seperti itu.
"Baiklah, cukup basa basinya. Jadi sekarang apa?" Kata Jenghis sambil bertanya.
"Ikaris, bisakah kau membantuku dan Yuna untuk mengantar kami ke dekat Barrier?" Tanya Naava. Aku cukup terkejut begitu namaku juga disebut olehnya.
"Kuharap kau punya rencana." Sergahku sebelum berteleport.
"Aku memang punya." Jawabnya. Dengan cepat Ikaris membawaku dan Naava ke dekat Barrier. lebih tepatnya di depan Alice dan komplotan barunya.
"Aku meminta hanya beberapa orang saja untuk perwakilan. Kalian ini bodoh atau tuli sih? Sampai membawa pasukan sebanyak itu." Kata Alice. Benar-benar bermulut pedas dan ******.
"Yah itu sambutan kami. Meriah, bukan Alice? Kata Ikaris.
" Lumayan. Tapi kalian tidak akan dapat apa-apa dari kami dari sambutan ini. Kecuali darah dan debu sebagai keramahan dari kami." Kata Alice berjalan mendekati barrier.
"Tidak. Jika kau menginginkan hak atas Panthera maka kau harus mengalahkan Panthera di dalam permainannya sendiri." Sergah Naava. Hah?! Apa yang dia bicarakan?! Lalu kau mengumpulkan pasukan untuk apa?!!
Alice sedikit terkekeh mendengarnya.
"Hmm, sepertinya aku sedikit paham kenapa Gen ada minat terhadapmu. Baiklah, sebutkan! Apa yang perlu dilakukan agar kami bisa memiliki hak untuk meratakan kerajaan sehingga sejajar dengan tanah?" Tanya Alice.
__ADS_1
"Demi mendapatkan hak tahta Panthera. Kau harus melakukan Veg ritueel denganku. Jika kau bisa melangkahi mayatku maka kau dapat hakmu atas Panthera dan jika aku menang dan berhasil membunuhmu aku ingin Apocalypse untuk mundur." Jelas Naava.
Yang membuat kedua kubu terkejutnya bukan main.