Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
The Son Heist (Bagian II)


__ADS_3

(Sudut pandang :Tatsumaki Miyuki)


"Menyerahlah dan serahkan dirimu!" Seru salah satu prajurit penjaga. Para penjaga mulai mendekatiku secara perlahan-lahan. Dari pijakan kakiku dengan diameter 3 meter muncul lingkaran sihir berwarna merah darah disertai jilatan api yang sangat panas dan sangat terang. Tato di bawah mataku juga mulai bersinar terang.


"**Wahai, satu jiwa yang ada di dalam diriku bangkitlah....


Salah satu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Bangun lah....


Tercipta dari api yang membara dan memiliki kerajaan di tempat-tempat tersembunyi, keluar lah....


Kesombonganmu tidak terduga...


Keirianmu sangat terasa....


Dari berbagai zaman engkau bersumpah untuk menjadi musuh manusia.....


Waktunya untuk bangkit, bangun, dan keluar. Iblis Laknat, Ifrit**...."


Setelah merapal bait-bait itu. Bait-bait itu seperti katalis untuk memanggil roh kegelapan yang pernah di segel ke dalam diriku. Bisa dibilang seperti "penambalan jiwa". Dari dalam diriku muncul sosok mengerikan dengan tinggi hampir 7 meter merusak salah satu kubah di istana yang tepat ada di atasku.


Berkepala kambing berbulu hitam dan bertaring, Memiliki 4 tanduk yang melengkung, jenggotnya berupa kobaran api yang sangat panas, matanya semerah api, bertubuh besar dan berotot dengan warna hitam pekat, memakai zirah berwarna obsidian, memiliki 4 lengan, masing-masing lengan membawa pedang, kapak, tombak, dan tongkat sihir yang warna senjatanya seperti besi yang berwarna merah karena sehabis dilahap api, rambut dan bulu yang ada di punggungnya berupa kobaran api, Dari bagian pinggang ke bawah terhubung langsung kepadaku. Yup roh yang kupanggil adalah ifrit.


"Saranku kepada kalian adalah menghindarinya daripada tetap di sini." Aku memberi saran kepada prajurit-prajurit yang mengepung ku.


"Dasar monster!" Ujar salah satu prajurit. Semua prajurit tetap kokoh pendirian dan tidak mau meninggalkan tempat yang sudah di lalap api ini.


"Kalian yakin tidak menyayangi nyawa kalian? Masih ada keluarga yang menunggu kalian di rumah kalian." Ujarku kepada mereka. Beberapa prajurit mulai goyah.


"Jika aku jadi kalian aku sudah jelas pergi dari sini. Karena aku juga sama-sama memiliki anak dan saudari yang menungguku. Tapi itu kembali kepada diri kalian sendiri. Mati terpanggang karena tidak mengetahui batasan diri kalian atau menyerah dan mundur sehingga aku tidak perlu membuat kalian menjadi seperti barbeque. Pilihlah." Kataku. Para prajurit akhirnya menurunkan tombak dan pedang mereka.


"Pilihan bagus, anak-anak." ifrit kemudian membuka mulutnya lebar-lebar sehingga seluruh taringnya bisa kalian hitung dan kalian lihat. Di dalamnya mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan sangat menyilaukan. Cahaya itu membuat semua prajurit menutupi mata mereka karena terlalu silau. dalam sepuluh detik cahaya itu meredup.

__ADS_1


Api-api di sekitar lorong juga ikut padam dan para prajurit tidak menjumpai sosok ku maupun ifrit disana. Kami kabur selama jeda waktu cahaya silau itu bersinar selama 10 detik tadi.


"Ya ampun jika aku tidak mengeluarkan ifrit sudah jelas akan memakan lebih banyak waktu untuk mengulur waktu... " gumamku ngedumel berlari di lorong. Kugunakan garis cahaya dari api ifrit untuk bisa menemukan Hisao dan Gen.


"Ke sini ya." Dengan melihat hanya ada satu cahaya yang mengarah ke belakang istana berarti keberadaan mereka berdua ada di sana. Tiba-tiba entah kenapa semakin mencoba mendekati tempat Hisao semakin banyak juga prajurit yang terkapar di lantai lorong istana.


Aku mencoba memriksa salah satu dari mereka yang ternyata adalah seorang wanita dengan mengecek denyut nadi yang ada di lehernya.


"Syukurlah, masih hidup. Tapi.... " Aku menoleh ke arah sekitar memperhatikan tubuh-tubuh prajurit yang terkapar dan beberapa dari mereka berlumuran darah.


"Bukannya sedikit kelewatan... " Gumamku. Yah setidaknya mereka tidak mati. Sepertinya Hisao tidak memberikan mereka pilihan untuk menyerah. Aku pun melanjutkan lari ku. Aku pun menemukan Hisao tepat di depan pintu bagian belakang istana di depannya adalah seorang pria tua botak dengan wajah yang penuh dengan tato harimau, memakai jubah kain berwarna putih dengan jahitan yang terbuat dari emas dan membawa tongkat. Seka.


"Wah, wah. Kau sudah cukup tua ya Seka. Berapa umurmu saat ini?" Tanyaku dengan rasa sedikit nostalgia. Kami bertemu Seka sekitar 50 tahun yang lalu. dulunya dia hanya anak gelandangan karena kami merasa sedikit iba, kami mengajarinya salah satunya kemampuan manipulasi roh dan dia cukup berbakat dalam teknik itu. Bahkan dia sampai dipercaya menjadi guru ayah Afar yang aku tidak ingat siapa namanya, kemudian Afar, dan untuk saat ini menjadi guru untuk Chad, Naava, dan Neema. Bisa di bilang Seka ini adalah muridku.


"Sekarang hampir 60. Bagaimana kabar kalian?" Tanya Seka kembali.


"Oh tentu kami sehat." Jawab Hisao.


"Saya akan bantu apabila kalian menjawab satu pertanyaanku ini." Ujar Seka.


"Lebih baik kau percepat pak tua." Kataku dengan was-was melihat ke arah ke belakang siapa tahu para prajurit masih belum menyerah untuk menangkap kami.


"Apa yang akan kalian lakukan kepada anak yang kalian bawa itu?"


Tanya Seka.


"Dia anak kami, Seka. Kami akan membawanya pergi kemudian menyembuhkan komanya." Jawab Hisao.


"Mereka ke arah sini! Woi banyak yang tumbang disini! Cepat beri mereka pertolongan pertama!" Guru hara di belakang kami mulai terdengar semakin jelas.


"Sisanya segera cegat 2 wanita itu sebelum mereka meninggalkan istana ini!!"

__ADS_1


"Siap pak!" Para prajurit mulai berlarian menuju ke tempat mereka berempat.


"Apakah jawaban itu cukup?!" Tanyaku cepat-cepat. Tiba-tiba Seka sudah tidak ada di sana begitu juga Hisao dan Gen. Kemana mereka pergi?!


"Wah yang benar saja kalian meninggalkanku?!!" Aku berceloteh.


"Apa yang kau lakukan dengan berdiri disana?!!! Masuk!!!" Bentak Hisao yang memasuki pintu jebakan bersama dengan Gen.


"Guru... silahkan." Seka yang menahan Pintu jebakan itu tetap terbuka mempersilahkanku untuk memasuki lubang di balik pintu jebakan.


"Dengan lewat sini, Neema tidak akan bisa melacak kalian." Ujar Seka.


"Terima kasih Seka. Kami berhutang kepadamu." Imbuhku cepat-cepat dan segera melompat ke dalam lubang itu. Setelah aku memasuki lubang itu Seka menutup pintu jebakan itu.


"Lama sekali kau turun. Gunakan kekuatanmu untuk menerangi jalan ini." Kata Hisao.


"Berhenti memerintah ku dan percepat langkahmu! Disini pengap!" Bentak ku menendang pantat Hisao dengan tanganku mengeluarkan api dari telapak tanganku.


Dengan begini, jalan bisa terlihat karena cahaya dari api yang kuciptakan.


"Hisao, berikan Gen kepadaku. Biar aku yang menggendongnya." Pintaku.


"Kau yakin? Kau akan kerepotan jika satu tanganmu menjadi obor dan satu tanganmu yang lain menggendongnya." Tanya Hisao.


"Itu jauh lebih baik daripada mengundang banyak pandangan. Siapa tahu Panthera memiliki pesawat atau drone yang bisa mereka kirim untuk melacak kita." Jelasku. Tanpa banyak tanya Hisao memberikan Gen kepadaku. Ku gendong Gen lalu menyembunyikannya dibalik jubah ku.


Kami pun keluar dari jalan darurat yang Seka berikan dan melihat seekor naga china berwarna biru yang berputar-putar di atas langit istana.


"Sebaiknya kita harus segera bersembunyi." Ujarku.


"Setuju. Sebelum makhluk itu menyerang kita." Hisao sependapat.

__ADS_1


__ADS_2