
(Sudut pandang : Naava)
Setelah kenampakan alam yang tidak masuk akal itu terjadi, banyak sekali pesawat-pesawat ringan dari unit kesehatan lalu lalang untuk mengangkut warga-warga sipil yang terluka. Benar-benar diluar nalar. Jika tidak ada barrier yang diciptakan untuk melindungi kerajaan aku yakin kerajaan sudah hancur 1/4 nya.
15 rumah roboh, 7 gedung mengalami kerusakan ringan. Bukan karena bukitnya yang menabraknya tapi karena gempa yang dihasilkan dari benturan Barrier yang menghadang laju bukit yang bergeser dengan kecepatan tinggi. Padahal jarak antara barrier dengan benteng adalah 2 km.
Aku yakin kalau kerusakan itu bukan karena pergeseran lempeng. Pasti ada sesuatu dibalik bukit itu. Tapi terlihat disana sebuah siluet patung raksasa dari balik bukit yang bergeser. Aku mengenali patung itu. Patung dari kuil Tsukuyomi. Jaraknya padahal 5 km dari Panthera. Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu... Gen. Ya, satu-satunya yang bisa membuat kehancuran dan bencana sebesar ini hanyalah Gen. Dia bahkan mengeringkan laut dan membuat kawah ditengahnya tanpa menggerakan satu jari pun.
Aku pun segera keluar dari penginapan dan berlari menuju arah kuil Tsukuyomi.
"Kau pikir kau mau kemana, adik sialan?!!" Bentak seseorang dari belakangku, Chad.
"Aku sudah bermurah hati untuk tidak membunuhmu sampai Veg ritueel. Jangan sampai aku melihat rohmu keluar dari jasadmu disini. Atau kau jangan-jangan berniat melarikan diri setelah berani mempermalukanku tadi? Aku ingin membalas penghinaan itu tapi dia ada benarnya. Membiarkanku bisa tidur dimana aku suka sudah termasuk pengampunan.
"Kau pikir aku tidak cukup lelah melarikan diri, bodoh?" Untuk menghormatinya aku berbalik untuk menuju penginapan lagi.
Hisao dan Miyuki tampak begitu serius melihat bukit yang bergeser tersebut. Mereka juga menyadari hal yang ganjil dari bencana itu. Aku pun berjalan mendekati mereka. Barrier pun terbuka. Para pasukan, prajurit, dan beberapa ilmuwan dikerahkan ke tempat bencana.
"Kami akan kesana. Bagaimana denganmu?" Kata Hisao.
__ADS_1
"Aku tidak bisa. Jika kalian ingin memeriksanya maka pergi saja." Kataku membenahi barang-barang penginapan yang berantakan. Ketika aku melihat ke arah balkon, Hisao dan Miyuki sudah tidak ada di balkon.
...****************...
Seminggu kemudian.
Sudah seminggu semenjak kejadian bukit bergeser itu. Para peneliti dan prajurit sudah kembali dari ekspedisi mereka. Mereka menyiarkan bahwa bukit yang bergeser itu akibat energi manna yang ada didekat kuil Izanami meledak tiba-tiba. Hisao dan Miyuki juga tidak pernah terlihat lagi semenjak pertama kami bertemu.
Saat ini aku sedang menaiki pesawat ringan menuju arena untuk melakukan Veg ritueel. Letak arena ada di daerah dataran tinggi ysng di selimuti es bagian selatan Panthera. Arenanya tidak bisa di bilang besar tapi cukup luas jika digunakan untuk duel satu lawan satu. Pesawat ringan menurunkanku tepat di tepi arena. Aku disambut beberapa prajurit dan mereka membawaku ke sebuah ruangan berisi dengan senjata dan perlengkapan yang biasa digunakan Veg ritueel.
Setelah persiapanku selesai aku segera di kawal lagi menuju arena. Para penonton menyorakiku dengan penuh antusias. Meskipun diarena cukup dingin sampai terdapat salju para petarung diwajibkan menggunakan pakaian hitam ketat. Aku hanya menggunakannya untuk menutupi dadaku, perut hingga atas lututku, dan lengan kananku. Dari ujung arena Chad juga sudah selesai dari persiapannya. Dia membawa 2 tombak di kedua tangannya. Musik adat Panthera mulai terdengar.
"Ini kesempatan terakhirmu. Menyerahlah dan mati tanpa rasa sakit. Jadi aku tidak perlu membuatmu menderita." Kata Chad mengacungkan ujung mata tombaknya ke arahku.
"Aku sudah menunggu momen ini seumur hidupku. Membalas semua apa yang telah kau perbuat. Aku melarikan diri, aku berbohong, aku berlatih, bahkan membunuh. Semua itu kulakukan.....Hanya supaya kau bisa turun dari tahta." Kataku. Chad kemudian mengetukkan batang tombaknya. Pelindung pun aktif seperti yang digunakan untuk melindungi kerajaan.
"gevegsritueel begin." sang juri mengumumkan.
Dengan cepat Chad menerjangku menggunakan tombaknya. Aku menangkisnya dengan tangan kosong dengan sangat mudah. Kugenggam tombak Chad dan sangat kuat lalu menendang Chad dengan tendangan tajam. Tapi tombak adalah keahlian Chad, dia menggunakan batang tombak satunya untuk menahan tendanganku. Aku pun menjaga jarak dari jangkauan tombaknya. Chad memutar-mutar kedua tombaknya dan menyerangku dengan serangan berputar seperti gasing.
__ADS_1
Awalnya aku bisa menghindarinya tapi gerakan Chad makin menggila. 2 goresan di lengan kanan atasku, 1 goresan di lengan kiri atasku, dan 3 goresan di lengan kiri bawahku. Dilihat dari aura tombaknya sepertinya dialiri manna. Melihat sedikit celah dan jeda ketika Chad memutar-mutar tombaknya aku berhasil memukul salah satu ujung tombaknya sehingga mata tombaknya terpisah dari batang tombaknya.
Mata tombak itu pun berputar-putar di udara. Dengan cepat kutendang mata tombak tersebut ke arah Chad. Wajah dibagian kiri Chad tergores lumayan dalam karena lesatan mata tombak yang kutendang tadi. Chad pun mengusap darah yang ada di pipinya. Para penonton pun bersorak.
"Lumayan juga. Jadi ini yang kau dapat selama 2 tahun di dunia luar." ini pertama kalinya Chad memujiku yang bahkan aku tidak ingat kapan dia terakhir memujiku.
"Berbeda denganmu yang setiap harinya duduk diatas singgasana. Selama 2 tahun ini aku berada di dunia luar yang penuh bahaya." Balasku.
"Begitu ya. Bagaimana dengan yang ini?!!" Tombak yang sudah kehilangan mata tombaknya pun diluncurkan oleh Chad. Dengan mudah kutangkis. Tapi dalam sepersekian detik Chad sudah ada tepat 2 meter didepanku. Dia menusukkan tombaknya ke bahu kananku. Darahku mengalir deras. Aku merasa ada tulangku yang retak karena tusukan itu yang membuatku meringis dan berlutut. Para pendukung Chad kali ini yang memberi sorakan meriah.
"Kau sengaja membuatku menjadi penuh celah dengan membuatku menangkis batang tombakmu dan bisa menghancurkan pertahananku dengan mudah." Aku mencoba menganalisa kejadian tadi.
"Itu benar. Meskipun kau sudah mengembara 2 tahun diluar sana kau masih kalah dalam hal pengalaman dariku, gadis bau kencur." Chad menendang wajahku dengan sangat kencang sampai membuatku terjungkal ke belakang dan mata tombak yang menancap di pundakku tercabut. Aku merasakan perih dan nyeri yang luar biasa sampai-sampai tidak bisa berdiri. Chad mendekatiku sambil memutar-mutar tombaknya dengan sangat angkuh.
"Ada apa, adik kecilku?" Tanya Chad dengan nada menghina. Darahku masih belum berhenti dan terus keluar. Jika seperti ini aku akan kalah karena mati kehabisan darah. Aku harus mengakhiri Chad sebelum aku kehilangan kesadaran. Aku juga perlahan mundur untuk menjauhi Chad. Rasa takut, sakit, dan penyesalan tercampur aduk di dalam hatiku.
Dan tanpa sadar aku sudah diujung tebing. Dibawah tebing adalah ngarai yang sangat dalam. Dan didepanku Chad sudah menodongkan ujung tombaknya untuk menusuk tenggorokanku.
"Ini untukmu, saudariku." Kata Chad dengan tersenyum. Tombak pun meluncur menusuk ke batang leherku.
__ADS_1
"Aaaaghh!!!!!"