
(Sudut Pandang : Naava)
"Tatsumaki Naomi ya. Itu indah sekali Tuan putri." Mahari memujiku. Jujur saja, aslinya aku tidak pandai memberi nama ataupun mengarang nama. Berbeda dengan Gen yang bisa memikirkannya dengan mudah. Kenapa bisa begitu? Karena Gen bisa dengan cepat memberi nama Qirin yaitu Ikaris. Dan ketika aku melihat di buku tentang para pahlawan Yunani nama Icarus beberapa kali disinggung disana. Seorang anak dari Ilmuwan jenius bernama Daedalus yang menciptakan sepasang sayap untuk terbang. Tapi Icarus mati karena sayap lilinnya yang mencair disebabkan terlalu sombong dan terbang terlalu tinggi dan mengabaikan perintah ayahnya yaitu Daedalus. Sangat cocok nama Icarus disandingkan kepada Qirin yang kalah karena mengabaikan peringatan dari Gen dan terlalu sombong terhadapnya.
"Aku sudah memikirkannya jika dia memenuhi janjinya." Jawabku. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku begitu terkejut siapa yang membukanya. Miyuki dan Hisao.
"Sudah lama sekali ya kalian tidak menampakkan diri. Kalian darimana saja?" Tanyaku basa-basi kepada mereka berdua. Tapi mereka tidak merespon sedikitpun. Anehnya lagi ketika aku berbicara mata mereka malah menyorot ke arah Gen.
"Lupakan itu. Darimana kami itu tidak penting. Aku mendengarmu ketika nama bocah ini kau sebutkan. Coba ulangi lagi." Kata Hisao. Nadanya begitu dingin dan sedikit galak. Aku sempat berpikir kalau wanita ini tidak pernah menstruasi sebelumnya. Sekali menstruasi langsung meledak emosinya. Tapi aku mencoba mengacuhkan sifatnya yang tiba-tiba menjadi dingin dan galak.
"Memang kenapa?" Tanyaku mencoba mencari kejelasan. Mendengarku berbicara seperti itu membuat kengerian diwajah Hisao makin menjadi-jadi. Bahkan Mahari menjadi sedikit was-was. Auranya menjadi jauh berbeda. Gelap dan dingin. Itu yang kurasakan dari Hisao. Tapi dengan sekejap Miyuki menyentuh bahu Hisao sehingga membuat Hisao sedikit tersentak. Suasana menjadi cair kembali.
"Ah maaf Naava. Woi begitukah caramu berbicara kepada Ratu Panthera, Hisao?" Tanya Miyuki dengan polosnya. Aku sempat berpikir kalau Miyuki bakal di tampar telak oleh Hisao tapi tebakanku salah. Hisao kemudian memalingkan wajahnya dari Miyuki yang masih tersenyum lembut kepadanya.
"Tidak Naava. Kami hanya ingin bertanya saja. Selama 4 tahun ini kami masih melakukan pencarian anak kami dan hasilnya masih nihil sehingga kami memutuskan untuk kembali kemari. Sebenarnya ini termasuk basa-basi tapi juga penting. Aku hanya ingin tahu saja siapa nama lengkap dari anak itu." Jelas Miyuki. Aku pun bernapas lega. Oh jadi begitu. Tapi aku penasaran. Mereka bisa keluar masuk lewat mana menuju dunia luar? Sekalipun mereka meminta penjaga untuk membukakan pintu itu tetap hal yang tidak masuk akal.
"Oh ternyata begitu. Namanya Tatsumaki Gen." Jawabku. Miyuki dan Hisao pun saking menatap seolah sedang berbicara menggunakan isyarat yang menurutku terkesan aneh.
Dengan cepat, Miyuki memukul perut Mahari menggunakan gagang pedangnya dengan sangat keras sehingga membuat Mahari tidak sadarkan diri. Ada apa ini?!! Belum sempat otakku memproses apa yang sedang terjadi. Hisao mendorongku hingga ke tembok terdekat dan mencekikku dengan sangat keras. Aku hampir tidak bisa bernapas. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pun mencoba melepaskan cekikan dari Hisao tapi cengkeramannya sangat kuat. Ternyata yang kusentuh bukanlah tangan wanita tapi tangan monster yang besarnya 3 kali lebih besar dari ukuran tangan pada umumnya.
"Ke-ke-kenapa?..........." Akhirnya suaraku bisa keluar meskipun membuat air liurku menetas deras. Aku juga bisa merasakan air mataku yang menetes karena sesaknya cekikan dari Hisao.
__ADS_1
"Dengan begini, kontrak dari Afar berakhir. Kami sudah menemukan apa yang kami cari." Kata Hisao.
"Kau sepertinya terlalu berlebihan. Kau bisa memukul leher atau perutnya agar dia pingsan." Kata Miyuki samar-samar.
"Itu tidak penting lagi. Itu tidak ada apa-apanya dengan menemukan anak kita. Ayo kita harus pergi sebelum para penjaga kemari. Kita sudah membuat keributan." Kata Hisao yang berusaha menggendong Gen pergi. Alarm peringatan pun berbunyi.
"Iya....itu karenamu, dasar!" Keluh Miyuki.
Tepat saat itulah aku memejamkan mataku sepenuhnya aku kehilangan kesadaranku.
...****************...
(Sudut pandang : Miyuki)
"Bagus, alarm peringatan berbunyi." Keluhku.
"Kata-katamu tidak membantu sama sekali." Di ujung lorong kami sudah di kepung oleh para Prajurit Panthera. Baik ujung lorong belakang maupun ujung lorong depan semuanya dipenuhi prajurit bersenjatakan tombak dan senapan canggih.
"Bagus sekali." Sekarang giliran Hisao yang mengeluh.
"Kalian sudah terkepung. Serahkan diri kalian dan kembalikan tunangan Ratu." Kata salah prajurit yang mungkin adalah pemimpinnya.
__ADS_1
"Oh benarkah?" Kata Hisao. Salah satu tangannya berubah menjadi tangan monster. Kuku telunjuk dan jari tengahnya ia perpanjang sepanjang pisau dapur lalu ia arahkan ke leher Genta.
"Lebih baik kalian mendengarkan kami dan bersikaplah sopan." Ancam Hisao. Dia menjadikan anak kami sebagai sandera dan tameng. Semua prajurit seketika bergerak gelisah.
"Jangan kalian pikir aku tidak bersungguh-sungguh. Aku bisa saja membunuhnya saat ini juga." Ujung kuku telunjuknya sudah menggores kulit di bagian leher depan Genta. Wah benar-benar..... Untuk berjaga-jaga, tanganku sudah menggenggam gagang pedangku.
Setelah cukup lama akhirnya si pemimpin penyergapan memberi isyarat kepada prajurit yang lain untuk memberi kami. Kami pun mulai berjalan perlahan dan sangat was-was melewati para prajurit yang siap menyerang kami. Kalau dipikir-pikir ini terlalu mudah.
Setelah kami hampir sampai di belokan lorong ada satu prajurit yang mencoba menyerangku diam-diam menggunakan pisau. Tanganku sempat tergores akibat serang tersebut. Sebenarnya jika mereka menurut maka aku tidak perlu meggunakan kekerasan tapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Kucabut pedangku dan menebaskannya ke udara kosong. Gesekan antara pedang dan udara disekitar menciptakan gelombang api. Tapi para Prajurit di istana juga tidak bisa dianggap remeh. Sang pemimpin penyergapan dengan sigap menembak gelombang api tersebut menggunakan senapannya sehingga menciptakan gelombang ledakan yang memisahkan kami dengan mereka.
"Ini kesempatan untuk kabur. Pergilah. Akan kubuat mereka sibuk. Nanti aku menyusul." Kataku kepada Hisao. Hisao tanpa ragu berlari sambil menggendong Genta dengan tergopoh-gopoh. Para prajurit pun segera menyergap dan menyerangku.
"Tembak wanita itu!" Perintah dari si pemimpin. aku merasakan banyak sekali manna yang ditembakkan ke arahku. Waktu seakan melambat disekitarku. kugesekan bilah pedangku dengan mulut sarung pedangku sehingga menciptakan api yang menyelimuti bilah pedangku.
"Datanglah, Ifrit." Setelah mengatakan itu. Dari belakangku muncul sosok iblis bertanduk seperti antelop berwajah serigala dengan zirah berwarna hitam obsidian yang berhisakan ribuan jilatan api. Para prajurit bahkan sampai mengcover wajah mereka karena panasnya api dari zirah Ifrit.
"Seharusnya kalian membiarkan kami lewat begitu saja sehingga kita tidak perlu menggunakan kekerasan. Tapi mau bagaimana lagi." Aku mengumpulkan gumpalan api kecil berwarna ungu ditelapak tanganku.
"Jadi janganlah kalian menyesalinya." Kulemparkan gumpalan api itu seperti melempar bola kasti dan bum!
Api hitam dan merah meledakkan para prajurit di depanku bahkan mereka sampai menguap hingga ketulang-tulang mereka. Danvsku juga tanpa sengaja membuat ledakan dan menghancurkan atap berupa lubang raksasa. Aku tidak menyangka bakal seberlebihan itu.
__ADS_1
"Eh, maaf Naava." Kataku dengan menyesal sambil berlari menyusul Hisao dan Genta.