
(Sudut Pandang : Yuna)
Sudah sekitar 3 hari Tuan Gen tidak terlihat semenjak dia sering ke perpustakaan. Setahuku dia melakukan ekspedisi ke Kepulauan Assassin untuk mendapatkan kekuatan mereka dalam mencari anggota Apocalypse yang tersisa. Sudah 3 bulan ini aku mengandung anaknya. Aku berharap tuan Gen ada ketika anak ini lahir nanti.
Aku mencoba untuk mencari udara segar dan keluar dari kamarku.
"Anda tidak seharusnya keluar tanpa pengawasan kami, tuan putri. Anda sedang mengandung anak dari Yang Mulia." Kata salah satu dayang kerajaan yang selalu menemaniku. Dia membantuku untuk berdiri.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin keluar ke taman saja." Jawabku.
Para dayang awalnya enggan tapi karena aku terus membujuknya mereka akhirnya mereka luluh dan membiarkanku untuk keluar dari kamar. Udara di luar lebih dingin dari yang kukira atau mungkin karena aku tidak pernah keluar dari kamarku selama 3 bulan ini. Saat sampai di taman, aku pergi menuju tempat dimana kami saling menyatakan cinta kami.
Suasananya juga sangat pas. Angin bertiup dengan lembut, daun-daun dan ranting tumbuhan sekitar melambai-lambai seperti tanda setuju akan hubungan kami. Begitu damai dan tenang. Tiba-tiba Kraven muncul dari wujud roh-nya di hadapanku. Aku sedikit terkejut ketika melihatnya.
"Kraven, ayolah. Jangan menggangguku ketika momen seperti ini." gerutuku. Jelaslah aku sedang ingin sendiri menikmati taman indah ini.
"Tak kusangka efeknya akan sampai sejauh ini. Kalian bahkan saling bercocok tanam setelah aku mengatakan fakta itu kepada ibu." Kata Kraven. Wajahnya memiliki seribu makna ketika aku melihatnya ketika mengatakan hal tersebut.
"Baiklah anak bandel, apa yang kau inginkan dari ibumu ini?" Tanyaku dengan nada kesal.
Kraven pun mulai berwajah serius dan berlutut dan memeluk kaki. Sudah mirip acara drama anak durhaka dengan ibunya yang bahkan memiliki wajah seumurannya. Aku sempat heran melihat kelakuan Kraven seperti ini.
__ADS_1
"Ibu, aku ingin meminta sesuatu. Dan mungkin ibu tidak akan menyukainya." Kata Kraven dengan suara perau. Kraven menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya ketika festival tahunan.
Kraven pun menceritakan segalanya tanpa ia tutup-tutupi sedikitpun layaknya seorang anak yang sedang merengek dan mengadu kepada ibunya. Aku sudah mulai percaya kalau dia adalah anakku dengan Tuan Gen di masa depan nanti.
"Kau yakin ingin melakukan ini? Sebagai seorang ibu jelas aku tidak mengizinkannya." Kataku dengan nada tegas.
"Jika ada cara yang lebih baik aku pasti sudah melakukannya. Tapi tidak cara lain lagi." Katanya dengan serius.
Aku pun mencoba untuk memutar otak dan berpikir untuk sekali lagi. Kemudian aku mengangguk. Meskipun enggan, apa yang dikatakan Kraven semuanya serba masuk akal.
"Kraven, tidak ada jalan untuk kembali setelah itu. Apakah kau yakin?" Tanyaku sekali lagi. Kraven kemudian menatapku dengan penuh keputusasaan tapi dari tatapan itu ada tekad yang kuat. Maka saat itu lah Kraven menerima konsekuensinya.
...*****...
"Apa yang kau inginkan, Kak Alice?" Tanyaku langsung to the point. Entah kenapa ketika aku melihat wajahnya sifat blak-blakanku keluar meskipun aku tahu sifat itu tidak sesuai dengan keadaannya.
Alice pun menatapku dengan dingin. Kobaran api putih di tiang terpantul dari dua mata kelabunya. "Apakah kau benar-benar mencintai Gen atau tidak?" Tanyanya juga langsung to the point.
"Tentu saja." Kataku dan aku reflek menyentuh perutku yang berisi anakku dengan Tuan Gen.
"Yah, sebenarnya sebagai istrinya yang kedua aku tidak berhak menanyakannya. Hubungan seperti apa yang kalian jalin selama Gen bisa bahagia itu sudah cukup." Katanya. Tunggu dulu apakah seorang Alice yang dingin dan angkuh itu mengatakan kalau dirinya bukan istri pertamanya? Siapa yang menjadi istri pertama dari Tuan Gen?
__ADS_1
"Kau sudah mendengar apa yang ingin kau dengar, kan? Maka menjauhlah dari pintu. Kau menghalangi." Kataku menarik Alice untuk menyingkir dari pintu kamarku.
Tiba-tiba di depanku terdapat 1 portal Treasure Of Babylon berisi pedang. Dengan reflek kutebas portal tersebut dengan pedangku lalu kutangkap pedang yang kutebas tadi dan menodongkan ke leher Alice.
"Aku padahal sudah meluangkan waktuku untuk wanita sepertimu. Aku ke sini hanya ingin memberitahumu." Kata Alice. Dari wajahnya memang tidak cocok menjadi wanita yang sabar dan lembut.
"Memberitahuku soal apa?" Tanyaku dengan nada tinggi.
"Cerita yang cukup panjang tentang Tatsumaki Gen." Katanya. Lengang cukup lama. Aku pun mulai menurunkan pedangku.
Aku pun menyuruh Alice masuk. Alice langsung memerintahkan para dayang untuk pergi dan mengosongkan siapa saja yang berada di dalam kamarku. Kami pun duduk di depan kasurku yang sudah tersedia sofa dan meja ala kerajaan. Di atas meja juga sudah terdapat 2 cangkir teh untuk kami.
"Sebelum kau bercerita. Kenapa kau ingin menceritakan ini? Apa tujuanmu?" Tanyaku memajukan tanganku.
"Kepastian. Mungkin Gen sangat jatuh cinta padamu sehingga sifatnya berubah menjadi seperti itu. Tapi apakah kau masih bisa mengatakan cinta kepadanya setelah mendengar latar belakangnya." Jawab Alice.
"Apakah aku bisa mempercayai ceritamu itu?" Tanyaku lagi.
"Kau percaya atau tidak itu terserah padamu. Tapi kau sebagai salah satu wanitanya wajib mengetahuinya." Jawabnya.
"Gen bahkan belum pernah seperti itu selama 3 tahun pernikahan kami. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan sifat aslinya kepadaku. Tapi semenjak aku melihatmu bersama dengannya. Meskipun cuma sedikit sifatnya yang dulu mulai terlihat." Kata Alice.
__ADS_1
Alice pun mulai bercerita tentang Gen. Nama orang tuanya, latar belakangnya, semuanya dia ceritakan tanpa ia sembunyikan. Tanpa ku sadari di tengah cerita itu aku meneteskan air mataku. Air mata yang sudah tak kuat kubendung. Bagaimana bisa manusia diperlakukan seperti itu? Bagaimana bisa ada orang-orang di cerita itu melakukan hal yang begitu kejam dan keji. Bahkan Alice juga menceritakan beberapa bagian yang seharusnya tidak diceritakan dengan detail tapi malah ia detailkan dan diperinci. Jika aku ada di posisi Tuan Gen saat itu mungkin aku lebih mati dan menyerah. Dan yang paling membuatku terkejut adalah bagian terakhir dari ceritanya. Maka aku tidak menyalahkan Tuan Gen jika sifatnya berubah menjadi seperti jika masa lalunya sangat lah kelam dan sangat tidak berperikemanusiaaan.
"Dan sekarang. Aku ingin bertanya sekali lagi, Yuna. Apakah kau masih mencintainya? atau malah membencinya?" Tanya Alice sekali lagi.