
(Sudut pandang : Yuna)
Di kuil Izanami.
Dengan gerakan secepat kilat, Yukki menyerbu ke arah Regila. Yukki menyerang Regila dengan ribuan hunusan pedang.
"Magic skill : Iron Fist." Kedua lengan Regila dengan cepat dilapisi baja. Ribuan hunusan pedang Yukki tidak menghasilkan apapun kecuali ribuan percikan bunga api. Riza dengan cepwt mengambil tindakan dengan berteleport ke belakang Regila.
"Shizuku, maju!" Kata Shizuka menjulurkan tangannya ke arah Shizuku. Shizuku dengan cepat merubah wujudnya menjadi iblis kuda putih. Shizuka tiba-tiba terteleport ke belakang Regila. Itu karena magic skill yang Shizuku beri tadi ketika menjulurkan tangannya. Shizuka dan Riza kemudian menebas dengan tebasan vertikal secara bersamaan ke arah Regila. Efek tebasan itu mengakibatkan ledakan debu yang begitu dahsyat. Asap mengepul begitu tebal.
Asap mulai menghilang dan mulai terlihat siluet mereka berempat. Cakar Riza dan pedang Shizuku tertahan oleh sesuatu. Violet Barrier. Magic skill yang biasa digunakan oleh Tuan Gen dalam bertahan.
"Maaf gadis kecil. Tidak ada yang boleh menyerangku dari belakang." Violet Barrier meluas dengan ganas membuat Yukki dan Shizuka terpental. Kulempar tombakku yang sudah kualiri dengan manna. Shizuka juga menembakkan fire ball yang cukup besar. Tapi Itu tidak membuat Violet Barrier retak sedikit pun. Tombakku terpental dan kembali kepadaku.
"Sudah selesai?" Tanya Regila dengan nada menghina. Kami pun bersiaga.
"Magic Skill : Black Hole." Setelah Regila merapal kalimat itu, Keluar sebiah bola hitam raksasa tepat diatas kepala Regila. Bola itu menjadi seperti angin topan. Angin begitu kuat sehingga kami harus menahan tubuh kami agar tidak tersedot ke dalam bola hitam itu.
"Cih! Sialan!" Tenzin mengumpat dengan posisi kaki sudah melayang. Kedua tangannya sudah mencengkram sebongkahan batu.
"Ada yang punya ide bagus selain mengumpat?" Tanya Mori menyindir Tenzin. Sekarang bagaimana?! Lawan kami adalah salah satu anggota Apocalypse. Jika Tuan Gen....Tanpa kusadari segel kutukan Tuan Gen yang melekat dileherku bereaksi.
"Hoo.....jadi begitu." Kataku dengan bersemangat. Ku keluarkan campuk cahayaku. Cambukku dengan sangat cepat terulur dan terhisap oleh bola hitam raksasa itu. Cambuk cahaya itu terus berputar-putar mengelilingi bola raksasa itu.
"Apapun yang kau lakukan tidak akan ada artinya." Kata Regila. Cambuk cahaya sudah mencapai batasnya. Kubiarkan diriku tertarik oleh angin topan dari bola hitam itu. Aku berputar-putar di udara mengikuti pusaran topan. Aku teringat sesuatu. Aku adalah seorang dewi. Jika aku kalah dengan magic skill seperti ini mana mungkin aku dipuja selama ribuan tahun oleh para manusia dan kalah dari gadis bau kencur seperti Regila. Bodohnya aku.
__ADS_1
Dengan perlahan aku mulai berlari di bibir lembah mengikuti arah putaran angin. Makin lama makin kencang. Dan akhirnya kecepatan lariku lebih duluan dibandingkan dengan kecepatan pusaran angin tersebut. Dengan mudah kutarik bola hitam itu ke langit menggunakan cambuk cahaya yang mengikatnya.
"Mus-mus-mustahil!!!" Bentak Regila. Aku melihat Regila sudah mempersiapkan berbagai lingkaran sihir untuk menembakku ysng masih diudara.
"Semuanya! Sekarang!" Karena angin topan dari bola hitam ini sudah kuangkat bersamaku, maka daya hisapnya tidak akan mengganggu Yukki dan yang lainnya.
Yukki, Tenzin, Riza, Jenghis dan Mori segera berlari dan menyerang Regila yang sedang fokus denganku. Tenzin memperpanjang cakarnya, Mori segera menggunakan zirah Hanoman miliknya, Yukki juga siap dengan pedangnya. Regila yang mengetahui akan rencanaku segera melindungi dirinya dengan Violet Barrier.
"Dasar kroco! Percuma saja!" Tapi mereka bertiga tidak menghiraukan perkataan Regila tadi.
Awalnya Violet Barrier tidak tergores sedikit pun tapi aku teringat perkataan Bad Hero ketika melawan Tuan Gen. Violet Barrier memang yang terkuat tapi cukup lemah untuk menghadapi serangan tajam beruntun.
Violet Barrier milik Regila mulai retak.
"Apa?!"
"Kalian yang notabenya hanya anjing peliharan Valon!! Jangan sombong!!!" Bentak Regila. Ketika ingin melakukan perluasan barrier saat itulah Violet Barrier hancur.
"Ini tidak akan mengubah apapun!" Bentak Regila.
"Kurasa ada!" Kulempar bola hitam milik Regila ke arahnya. Regila dengan panik mengeluarkan 6 lingkaran sihir dan menembakkan energi manna yang cukup dahsyat. Puing-puing bebatuan berhamburan dengan sangst hebat ketika bola hitam itu bertabrakan dengan semburan manna dari Regila. Bola hitam itu mulai retak karena penuhnya kapasitas dari energi manna dari Regila yang terhisap ke dalamnya.
"Gawat! Bola itu tidak akan bertahan lama." Kata Yukki.
Dengan cepat Shizuka bertindak.
__ADS_1
"Gigit dia Taro!" Dengan menggunakan magic skill : teleportation, Shizuka memindahkan Taro yaitu binatang reptilnya ke belakang Regila dan menggigit pundak kanannya . Regila melolong begitu kencang. Tapi terlambat, bola hitam itu hancur dan meledak.
"Sudah kubilang itu tidak ada gunanya!" Bentak Regila dengan puas. Darah keluar dengan sangat deras dari dada Regila. Topi penyihirnya terlepas dari kepalanya.
Regila melihat ke arah dadanya yang tersayat dan darah merah segar yang keluar dari tubuhnya tanpa henti. Regila kemudian memuntahkan darah dari mulutnya.
"Bla-Black....Hole..... itu.......hanya untuk pengalihan..... Sehingga kau.....bisa mendekatiku.....untuk menebasku?" Kata Regila.
"Kan sudah kubilang ada." kataku mengibaskan pedangku yang berlumuran darah Regila. Kusarungkan kembali tombak dan pedangku.
"Kau tadi bilang, kami hanya anjing peliharan Tuan Gen. Kurasa itu benar. Setidaknya kami tidak salah dalam memilih beliau untuk kami layani. Dan kau tidak akan mengerti apa maksudnya." Kataku. Aku berjalan menghampiri Regila yang sekarat. Kupegang dagunya yang sudah dibasahi darah.
"Kau memiliki skill yang bagus. Aku rasa Tuan Gen akan senang jika bisa memiliki dan menggunakanmu dalam koleksinya."
"Koleksi?" Regila tidak paham. Dengan cepat Taro menelan Regila bulat-bulat. Tepat setelah tubuh Regila tertelan, sesuatu jatuh dari tangannya.
"Simpan tubuhnya sampai kita bertemu dengan Tuan Gen." Kataku mengelus-elus Taro.
"Anda yakin menyimpannya di dalam perut Taro?" Tanya Tenzin.
"Dia sudah sekarat dan kehabisan manna. Dia akan mati dalam hitungan menit karena kekurangan oksigen didalam perut Taro. Lagipula jika pencarian ini memakan waktu akan sangat disayangkan kalau tubuhnya membusuk. Maka dari itu menyimpan tubuhnya di dalam perut Taro adalah pilihan yang tepat. Benarkan?" Kataku menghadap mereka. Seketika mereka terkejut melihat wajahku. Apakah wajahku terlihat lucu atau ada sesuatu?
"Pantas saja. Aku merasa janggal dengan kemampuanmu tadi. Seolah rasanya bertarung dengan Tuan Gen." Kata Riza menatapku lamat-lamat. Aku begitu terkejut dan bingung mendengar perkataan Riza tadi.
"Apa maksudmu?" Tanyaku keheranan. Riza pun mengambil pedang Shizuku dan memperlihatkan bilahnya ke wajahku. Seketika itu aku terkejut melihat pantulan wajahku di bilah pedang.
__ADS_1
"Kau baru paham sekarang?" Tanya Riza. Tanganku pun gemetaran hebat. Tentu saja aku ketakutan.Aku melihat separuh wajahku yang diselimuti tato dengan pola yang sama seperti milik Tuan Gen.