Alternative/Overwatch

Alternative/Overwatch
Hasil Pertarungan Ayah dan Anak


__ADS_3

(Sudut pandang : Kraven)


Melawan ayahku sama saja dengan memanjat jurang dengan satu tangan. Berapa kali aku melemparkan senjata-senjataku, ayah selalu bisa membalasnya menggunakan senjata-senjata yang ada di dalam Babylon Treasure bahkan 2 kali lipat.


Aku bahkan sampai menggunakan kedua tanganku untuk menepis dan menangkis senjata-senjata yang tidak sempat kubalas menggunakan Infinity False.


"Bahkan semenjak aku mencoba membunuhmu kau masih saja membuatku repot." Dengus ayahku. Repot?! Ayah bahkan masih belum membuka seluruh Babylon Treasure, ditambah lagi ayah masih melipat kedua tangannya ke dada. Sedangkan aku....Lutut kananku tergores cukup dalam ketika menghindari tombak emas tadi. Pipiku tergores dengan 2 pisau, dan pundak kananku tertancap pedang. Darah tidak berhenti mengalir keluar dari tubuhku.


"Jika ayah ingin bohong seharusnya bisa lebih baik lagi. Ayah bahkan bisa memakai semua senjata di Babylon Treasure dengan maksimal. Berbeda denganku yang hanya bisa melemparkan senjata-senjataku dan tidak bisa menggunakannya hingga mencapai maksimal. Ayah seharusnya bisa membunuhku dari tadi." Aku pun mencabut salah satu pedang yang tertancap di gumpalan salju.


Aku pun berlari mendekati ayah untuk menyerangnya. Cukup sulit membidik sesuatu yang cepat seperti peluru sambil berlari menghindarinya. Beberapa lemparan senjataku berhasil mengarah ke ayah hanya saja meleset. Tersisa 3 meter untuk menebasnya.


Tetapi bilah pedangku menebas sesuatu yang ganjil. Sebuah pedang paladin raksasa berwarna emas keputihan menahan tebasanku. Aku mencoba membuatnya menggunakan Alkimia tapi apa yang terjadi?! Aku bahkan tidak bisa menganalisis strukturnya. Seperti melihat fatamorgana dan halusinasi yang hebat yang bahkan hampir membuatku muntah.


Ayah dengan sangat kuat memukul mundur diriku sejauh sepuluh meter menggunakan pedang yang ia gunakan. Tidak berhenti di situ. Ayahku memunculkan puluhan portal Babylon Treasure di atasku. Tanah serasa ditembaki oleh Helikopter. Kali ini Ayah memunculkan portal 3 kali lipat lebih banyak dan menembakkan senjata lebih kencang dari sebelumnya.


Tapi aku tidak gentar. Aku mencoba mendekati ayah lagi dengan cara yang sama. Sudah sekitar 1.457 senjataku yang hancur dan ayah masih saja santai.


Mendekati 10 meter dari ayahku. Ayah menutup kembali portal Babylon Treasure. Aku curiga kenapa beliau melakukannya? Apakah dia berencana untuk melawanku di pertarungan jarak dekat?! Jika iya bisa gawat.


Bodohnya aku! Kenapa aku tidak menyadarinya?!! Ayah tidak menutup portalnya. Ayah justru memindah portal-portal Babylon Treasure untuk memutariku seolah aku berada di dalam setengah bola penuh dengan Babylon Treasure. Ledakan besar tak terelakkan. Semua portal menembakkan senjata-senjata secara bersamaan.


...****************...


(Sudut pandang : Tatsumaki Gen)


"Dengan jarak sedekat itu kau tidak akan mungkin utuh."


"TENTU SAJA!" kata seseorang di udara sekitar 18 meter. Kraven berhasil selamat. Dengan cepat Kraven menukik ke arahku. Tapi percuma saja. Dia tidak akan bisa mentransmutasi ketika di udara. Dengan secepat kilat dan sebelum aku berkedip. Tangan kananku terpotong begitu mudah. Tidak mungkin?!!! Darahku terciprat kemana-mana. Aku pun melihat Kraven yang sudah di belakangku dengan tangan kanan yang menggenggam sesuatu. sebuah pedang dengan elemen suci. energi manna- nya berpendar terang dengan aliran listrik.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Kau seharusnya tidak bisa mentransmutasi ketika tidak berada di atas tanah." Kataku dengan wajah syok.


"Ayah pikir hanya tanah satu-satunya yang memiliki unsur sehingga bisa kuubah menjadi senjata? Sayangnya udara juga memilikinya." Jawab Kraven.


Aku pun berbalik untuk menebas Kraven yang sedang di posisi titik butanya. Tapi tanganku tiba-tiba melambat. Kraven mengambil kesempatan itu untuk menebas dadaku dengan luka tebasan sangat dalam menggunakan elemen suci. Disaat yang bersamaan, Kokina Tochi miliknya juga berakhir.


...****************...


Kraven sepertinya sudah tidak memiliki manna untuk mempertahankannya. Dan tebakanku manna-nya sudah mencapai batas. Begitu juga denganku. Tangan kananku terpotong, dadaku tertebas cukup dalam dan hampir tewas. Kenapa aku selalu gagal ketika ada kesempatan untuk membunuhnya?!!


Jika diriku yang dulu melihatku sudah jelas akan melihatku dengan jijik. Kraven berlutut berjarak 7 meter dariku. Kupastikan kali ini untuk membunuhnya.


"Kehabisan manna adalah akhir yang menyedihkan. Kali kau menang Kraven." Kubuka 1 portal Babylon Treasure tepat di sampingku.


Tapi aku tak kunjung menembaknya. Kraven melihatku begitu terkejut. Pandanganku kabur, aku tidak sadar kalau bar HP-ku hampir menyentuh nilai nol. Aku merasakan pusing yang luar biasa. Aku juga baru ingat kalau tangan kananku terpotong dan mengeluarkan terlalu banyak darah. Bajuku makin lama juga makin basah akibat darahku yang terus keluar dari luka tebasan di dadaku. Aku pun ambruk tanpa kusadari. Pandanganku kosong. Aku nampak kebingungan.


Semua memoriku tentang masa laluku, tentang kehidupanku bersama dengannya, kebahagiaanku diputar kembali, tapi dengan sekejap terbakar habis tanpa sisa sehingga membuatku ingin menangis. Seolah ingatan itu menolakku. Aku berada di ruangan kosong, hitam, gelap, dan sunyi. Tiba-tiba tertulis sesuatu didepanku dengan warna darah


"MATI SAJA KAU!!!!!!"


"TERKUTUK!!!!!!!"


"PEMBUNUH!!!!!!!!!"


dan banyak kata-kata tuduhan lainnya. bahkan ruangan itu berubah menjadi merah darah. Tiba-tiba seseorang mendekatiku dari belakang dan memegang pundakku. Dari tubuhnya adalah Kraven tapi ketika melihat wajahnya aku melihat wajah wanita itu dengan wajah penuh luka, darah, seperti zombie. Dengan suara yang mengerikan dia mengatakan sesuatu.


"Kenapa kau membiarkanku mati!!!!! GENTAAAAAA!!!!!!"


seketika itu juga aku menjerit sekencang- kencangnya.

__ADS_1


Lalu tepat saat itu kepalaku ditebas oleh Kraven hingga terlepas dari batang leherku.


...****************...


(Sudut pandang : Envy)


Hujan mengguyur tepian lembah dengan deras. Suara air hujan tampak begitu menenangkan sehingga aku sempat menikmatinya.


"Kakak, apakah kau yakin dia bisa melakukannya?" Tanya Pride dengan ragu yang sedang duduk di akar pohon yang keluar dari tanah.


"Sekalipun Kraven terbunuh itu tidak masalah. Lagipula kita punya banyak rencana untuk mendapatkannya." Wrath dengan santai bermain-main dengan sulur dan berayun kesana-kemari.


"Itu juga memudahkan kita untuk menyingkirkannya. Kau tahu kan Paduka Valon tidak akan berbelas kasih kepada siapapun. Aku justru malah kasihan sekaligus iri kepada orang yang dibunuh oleh Beliau." Wrath melanjutkan.


Kraven berjalan mendekatiku. Wajahnya tampak murung dan sangat kelam. Ditangannya membawa sesuatu. Kraven memberikan sesuatu "itu" kepadaku.


Tubuhnya penuh luka dan sayatan pedang. Kurang percaya rasanya kalau luka itu berasal dari Paduka Valon. Karena kami tahu kalau Paduka Valon adalah seorang Magic Caster. pedang bukan salah satu keahliannya. Aku pun membuka benda yang ditutup dengan kain tersebut. Begitu melihatnya aku begitu terkejut.


"Aku harap ini asli." Kataku dengan nada serius.


"Buat apa juga aku membohongimu." Kraven menyenggolku kemudian berjalan menjauhi kami. Karena tersinggung Wrath dan Pride mencoba untuk menghentikannya. Tapi aku mencegah mereka.


"Biarkan saja." kataku kepada mereka berdua.


"Cih!" Gerutu Wrath.


"Aku yakin ini jebakan." kata Pride melihat benda yang terbungkus di tanganku dengan curiga.


"Tidak. Ini asli. Dilihat dari ekspresinya aku tahu dia memberikan ini kepadaku dengan berat hati."

__ADS_1


"Dan nampaknya mustahil juga kalau dia bisa mendapatkan tangannya tanpa membunuhnya." Wrath terkekeh. Di balik gumpalan kain itu adalah tangan kanan milik Paduka Valon


(Berlanjut di Alternative/Overwatch Season 2)


__ADS_2