
Hari berganti hari, tidak terasa hari ini adalah hari di mana Aby dan Celyn akan merubah status mereka berdua menjadi suami istri.
Dari dalam gedung terdengar tepuk tangan dari para tamu undangan dan keluarga, yang menyaksikan kalau kedua insan itu sudah sah menjadi suami istri secara hukum dan agama.
Rio bahkan sampai menitikkan air mata,melihat putri kecilnya yang dia manja, dan dia lindungi selama ini, kini sudah mempunyai laki-laki lain. Dia berharap kalau Aby bisa menjadi pelindung buat Celyn mengantikan dirinya.
"Kita akhirnya jadi besanan juga, Yo." bisik Ardan yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rio. Senyuman di bibir mereka menandakan kalau mereka benar-benar bahagia sekarang. Demikian juga dengan Amanda dan Jasmine. Jemari mereka terlihat saling bertaut, bergenggaman tangan. Sesekali mata mereka saling silang pandang, dan senyum yang mengembang selalu setia bertengger di bibir kedua wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara resepsi dilakukan di gedung hotel milik keluarga Bagaskara. Semua dekorasinya terlihat indah dan mewah serta elegan.
Walaupun Celyn tidak ikut serta mengurus semua persiapan pernikahannya, karena semuanya diserahkan pada kedua mamanya, Jasmine dan Amanda, tapi dia terlihat sangat puas dengan dekorasi yang dirancang oleh kedua wanita itu.
"Apa kamu tidak capek berdiri?" tanya Aby, khawatir melihat Celyn yang sudah cukup lama berdiri.
"Capek Kak. Tapi tamu masih sangat banyak berdatangan menghampiri kita. Jadi, tidak enak kalau aku duduk menyambut mereka."
"Kenapa kamu harus memikirkan orang lain? kamu itu harusnya memikirkan anak yang kamu kandung. Kalau kamu capek, sebaiknya kamu duduk saja." suara Aby terdengar datar, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya. Sehingga Celyn cepat-cepat duduk dari pada nanti pria yang sudah menjadi suaminya itu, marah.
"Sob, selamat ya! ternyata kamu lebih dulu yang melepaskan masa lajang, di antara kita bertiga." Calvin mengulurkan tangannya dan langsung merangkul sahabatnya itu "Bahkan sebentar lagi kamu juga akan jadi seorang ayah," bisik Calvin dengan senyuman, meledek.
"Sob, jaga adik saya baik-baik! kalau kamu menyakitinya, jangan kira aku tidak bisa memukulmu, walaupun kamu sahabatku." tegas Kenjo dengan penuh penekanan.
"Apa kamu sedang mengancamku? berani sekali kamu!" Aby menghunuskan tatapannya, berpura-pura tidak suka dengan ancaman Kenjo.
"Untuk hal lain aku tidak berani mengancamku, tapi hal yang berkaitan dengan Celyn, tentu saja aku berani." Kenjo tidak gentar dan justru balik membalas tatapan tajam Aby.
"Turunkan pandanganmu, Ken! kalau tidak, aku tidak akan mau merelakan Anin untukmu, camkan itu!"
Kedua netra Kenjo membesar dengan sempurna, terkesiap kaget. Dia sontak mental ke arah Celyn untuk meminta penjelasan. Celyn terlihat menggelengkan kepalanya, pertanda kalau dia tidak pernah mengatakan apapun tentang siapa wanita yang disukai Kenjo pada Aby.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah mengatakan, turunkan pandanganmu! hal ini bukan hanya berlaku padaku saja, tapi juga pada Celyn," suara Aby terdengar, penuh intimidasi.
"Bukan Celyn yang mengatakannya, tapi aku tadi asal menebak saja. Tapi, begitu melihat reaksimu aku yakin kalau dugaanku benar. Dulu kamu mungkin bisa mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan kebenaran akan ucapan Calvin, tapi jangan harap kalau aku akan berhenti menyelidikinya." Aby tersenyum miring, sambil menatap Kenjo dengan tatapan meledek.
"Sialan! " umpat Kenjo yang membuat Aby dan yang lainnya terkekeh.
"Anin kemungkinan akan dijodohkan, jadi kalau kamu tidak mau kehilangan dia, kamu sebaiknya harus bergerak cepat!" celetuk Aby, membuat Kenjo seketika bergeming, terpaku di tempatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di lain tempat, Shasa yang menonton acara pernikahan Aby, menghamburkan semua barang-barang yang ada di rumah kecil yang kini ditempatinya bersama Ningsih mamanya.
"Ini semua karena dokter itu, kalau bukan karena dia tidak salah orang, mungkin sekarang aku sudah hamil anaknya." rahang Shasa mengeras, begitu mengingat wajah dokter dan kesalahan yang dibuatnya.
"Hmm, kenapa dia harus menikah dengan Celyn sih? kalau orang lain mungkin aku tidak akan sekesal ini. Gadis itu kenapa selalu bernasib baik, bisa dikelilingi oleh pria-pria tampan? Apa baiknya aku mendatangi Aby, dan memberitahukannya, kalau ada seorang wanita yang sedang mengandung anaknya ya? Kalau dia tahu, mungkin dia akan menceraikan Celyn dan mencari perempuan itu. Tidak apa-apa, Aby tidak menikah denganku, yang penting dia juga tidak menikah dengan Celyn. Hahahaha!" Suara tawa devil dari mulut Shasa terdengar memenuhi kamar kecilnya. Membayangkan Celyn yang menangis diceraikan oleh Aby, sudah membuat Shasa begitu bahagia.
Tiba-tiba suara tawanya surut begitu menyadari sesuatu. Akibat lain yang terjadi kalau dia berterus terang pada Aby.
"Tapi, nanti kalau aku memberitahukan pada Aby, dia akan marah dan akan menjebloskan aku ke penjara. Ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau di penjara." Shasa bergidik ngeri, membayangkan kalau dia ada di dalam penjara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Celyn masuk ke dalam kamar mandi, di kamar Aby untuk membersihkan tubuhnya, yang terasa sangat lengket. Aby memutuskan untuk pulang dan tidak menginap di hotel.
Celyn memperhatikan perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit walaupun kandungannya belum genap dua bulan, mungkin karena ada dua janin di dalam perutnya.
"Nak, walaupun mama tidak tahu, kalian berdua datang dari mana? tapi mama bersyukur, karena kehadiran kalian berdua, mama bisa bersama dengan pria yang mama cintai selama ini, dan bersedia menjadi papa kalian berdua. Baik-baik ya di dalam sana, dan semoga kalian sehat selalu." Gumam Celyn mengajak janinnya untuk berbicara.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Celyn keluar dari dalam kamar mandi, sudah lengkap dengan piyama tidurnya. Celyn langsung gugup begitu melihat kalau ternyata Aby yang sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa kamu diam berdiri di sana? apa kamu tidak capek berdiri?" tanya Aby, tanpa menatap Celyn sama sekali.
__ADS_1
"Hmm, A-aku __"
"Sini! kamu duduk di sini!" titah Aby, dengan mata yang sekarang sudah menatap Celyn.
Dengan kepala yang menunduk, Celyn melangkah dengan perlahan mendekat ke arah Aby dan duduk di tepi ranjang agak jauh dari Aby.
"Ya udah, kamu istirahat dulu ya! aku mau mandi dulu," Aby beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Celyn menghirup udara sepuasnya, merasa dadanya yang tadinya terasa sesak, sekarang lega begitu tubuh Aby menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dengan cekatan Celyn langsung beranjak, menuju lemari dan mengeluarkan pakaian Aby. Celyn meneguk ludahnya, ketika dia harus mengambil ce*la*na dalam Aby.
"Ambil tidak ya?" batin Celyn ragu-ragu.
"Kak, Aby marah gak ya, kalau aku menyentuh miliknya?" lagi-lagi Celyin berbisik pada dirinya sendiri.
"Ah, aku ambil saja lah!" Celyn akhirnya meraih satu ce*la*na dalam, Aby dan meletakkannya di atas ranjang.
10 Menit berselang, Aby keluar dari dalam kamar mandi, dengan seutas handuk yang melilit di pinggangnya.
Jantung Celyn berdetak dua kali lebih kencang melihat, tubuh Aby yang Shirtless. Sedangkan Aby tampak bersikap biasa saja dan langsung menuju ke atas ranjang, dan meraih pakaian yang telah disiapkan oleh Celyn untuknya.
Aby tersenyum samar begitu melihat Celyn juga mengambilkan pakaian dalam untuknya.
"Berani juga dia menyentuh menyentuh pakaian dalamku," bisik Aby, pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Aby sambil naik ke atas tempat tidur yang sekarang akan di tempatinya bersama dengan Celyn.
Guncangan yang diakibatkan oleh Aby, membuat jantung Celyn semakin berdetak lebih kencang, dan bahkan hampir membuatnya kesulitan untuk bernapas.
"Tidurlah! kamu tunggu apa lagi?" Aby meraih bahu Celyn dan menuntunnya untuk berbaring.
__ADS_1
"Celyn, kata Kenjo kalau kamu sudah mencintaiku dari dulu, apakah itu benar?"
Tbc