Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Jangan sombong


__ADS_3

Sekumpulan ibu-ibu sosialita sedang berkumpul di depan Sky High International School(SHI School), sambil menunggu anak-anak masing-masing keluar dari dalam sekolah.


Para wanita itu terlihat berpenampilan mentereng, dengan perhiasan yang menggantung di mana-mana. Pakaian yang menempel, tas yang ada di tangan, bahkan alas kaki yang dipakai, semuanya memiliki harga yang fantastis. Semua wanita itu terlihat sedang berlomba, bukan berlomba mengumpulkan amal, tetapi berlomba exis dengan memamerkan segala yang mereka miliki dan tentu saja tidak ada yang mau kalah. Mereka tidak perduli, darimana atau cara suami mereka bisa menghasilkan uang.


Apa saja obrolan mereka tiap hari? ya pasti tidak jauh dari harga berlian, liburan ke luar negri dan banyak lagi yang berbau-bau kemewahan.Yang pasti tidak ada yang membicarakan sambal terasi dan ikan asin dan pengapnya naik angkutan umum dan sebagainya.


"Jeng, kalian ingat anak yang bernama Aby itu kan? mamanya tidak pernah terlihat ya? pernah sih, tapi tidak mau gabung dengan kita-kita." ucap seorang wanita dengan dandanan super menor memulai gibah setelah selesai membahas arisan berliannya.


"Baguslah! itu berarti dia sadar diri, tidak layak bergabung dengan kita-kita. Dia dan kita kan beda kelas. Dia hanya beruntung saja punya anak pintar, sehingga orang besar seperti keluarga Bagaskara mau membiayai sekolah anak-anaknya di sini." sahut wanita yang tidak kalah menornya. Ucapan wanita itu disambut tawa gelak dari para wanita itu.


"Dengar ya, jeng - jeng semua, walaupun nantinya ... siapa namanya tadi?"


"Aby," sebut salah satu dari mereka, mengingatkan.


"Ha iya itu. Mulutku kayanya juga gak level nyebut nama tuh anak," gelak tawa kembali pecah.


"Seandainya nanti dia punya pekerjaan bagus, dan tampan atau apalah itu, aku tidak akan pernah mengizinkan my beautifull princess, Shasa sama dia. Soalnya dia anak yang tidak jelas." Ucap wanita muda yang masih terlihat cantik dan merupakan mamanya Shasa.


"Dan apakah anda berpikir, Aby mau sama putri anda itu? Karena dia juga bukan level putra saya. " Celetuk suara seorang laki-laki tiba-tiba.


Semua mata para wanita itu, sontak menoleh ke arah asal suara. Dan wajah mereka seketika berubah pucat, melihat sosok Ardan yang menatap mereka dengan tatapan dingin dan tajam serta tangan yang terkepal.


"P-Pak Ardan! a-anda kok bisa ada di sini?" tanya mamanya Shasa dengan suara yang gemetar.


"Kenapa? apa aku juga tidak pantas ada di sini?" sindir Ardan, sinis.


"B-bukan seperti itu Tuan. Ka-kami cuma kaget saja, karena kami tidak pernah melihat anda datang ke sini."


"Aku beruntung bisa datang ke sini, sehingga aku bisa dengar jelas kalian telah menghina Amanda istriku, dan Aby putraku."


Semua wanita itu, terdiam sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap wajah Ardan. Tapi ekor mata mereka saling melirik dengan alis yang bertaut. Kebingungan tercetak jelas ada di wajah masing-masing, bertanya-tanya, sejak kapan seorang Ardan menikah. Kenapa tidak ada media yang memberitakan pernikahan orang besar itu.

__ADS_1


"Apa anda pernah membaca sebuah Qoute dari 'Widassatyo' yang mengatakan kalau 'Orang yang beneran baik tidak akan menghakimi yang belum baik. Orang yang beneran ikhlas tidak akan mengungkit-ungkit yang sudah lewat. Orang yang beneran kaya tidak akan merendahkan yang masih miskin. Jadi, kesimpulannya, anda-anda semua, sebenarnya tidak benar-benar kaya, hanya berpura-pura kaya." sindir Ardan sarkasme, membuat para wanita itu tidak berkutik.


"Pa, kenapa Papa yang jemput? mana mama dan Pak Joko?" tiba-tiba Aby sudah berdiri di samping Ardan.


Semua orang yang mendengar Aby memanggil Ardan, papa semakin terkaget-kaget dengan mulut yang terbuka.


"Mama, di rumah. Papa memang sengaja minta mama agar di rumah saja, dan papa yang jemput kamu, karena hari ini papa mau pulang cepat. Celyn mana?" Ardan mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan Celyn.


"Mungkin Celyn masih ada di kelasnya, Pah. Ngapain nanyain Celyn? dia kan nanti dijemput sama tante Jasmine." Aby mengrenyitkan keningnya.


"Oh, hari ini tante Jasmine dan om Rio lagi sibuk, jadi papa yang jemput sekalian. Ayo temani papa ke kelasnya!" jelas Ardan.


"Oh ya, sebelum kita ke kelas Celyn, apa kamu kenal yang namanya Shasa?"


Aby menganggukkan kepalanya, diiringi dengan manik mata yang mengandung tanda tanya, kenapa papanya menanyakan Shasa.


"Oh, kalau begitu jangan mau dekat-dekat sama dia, apalagi bergaul dengan anak itu." sindir Ardan dengan ekor mata yang melirik sinis ke arah mamahnya Shasa, yang wajahnya terlihat merah padam menahan malu. Apalagi ketika mendengar jawaban Aby, "Tanpa papa larang, aku juga tidak mau dekat-dekat dengan dia, Pah. Anaknya nggak punya sopan santun, dan sombong." sahut Aby yang tidak tahu kalau di sekitar mereka ada mamanya anak kecil yang mereka bicarakan.


"Bagus! Tapi bagaimana sikap si anak biasanya adalah cerminan orang tuanya. Ayo kita jemput Celyn!" sindir Ardan kembali. Kemudian dia menarik tangan Aby yang menurut saja ketika ditarik papahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sampai di rumah, Ardan disambut oleh Amanda yang langsung meraih tas kerja suaminya itu. Kemudian Amanda menyuruh Aby untuk langsung masuk ke dalam kamar dan mengganti seragamnya. Dia juga naik ke atas untuk menyimpan tas kerja suaminya, Sementara Ardan langsung bergabung dengan kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Ma, Pa, aku mau segera mengurus kembali akte kelahiran Aby dan Anin. Aku mau menyematkan nama Bagaskara di belakang nama mereka." ucap Bagas sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Kan memang seharusnya begitu," sahut Amara santai dengan mulut yang asik mengunyah cemilan.


"Aku juga mau segera mengumumkan pada publik, kalau Amanda adalah istriku, Aby dan Anin adalah anakku. Aku tidak mau, mereka selalu direndahkan di luaran sana." Tegas Ardan dengan kilatan yang berbinar di kedua manik matanya.


"Mama dan papa sih tidak peduli. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ingin segera mengumumkannya? bukannya kamu bilang akan mengumumkan ketika kalian berdua mengadakan resepsi?" tanya Amara, menyelidik.

__ADS_1


Ardan lalu menceritakan apa yang dia lihat dan dengar ketika menjemput Aby tadi di sekolah dengan raut wajah yang mengeras, dan intonasi yang meletup-letup.


"Sejak kapan kamu peduli degan anggapan orang-orang? bukannya biasanya kamu selalu bersikap apatis omongan orang?" Rudi buka suara.


"Tapi tidak dengan yang ini, Pah. Aku tidak mau istri dan anak-anakku, mendapat pandangan yang merendahkan dari orang-orang. Aku boleh mereka hina, tapi jangan sampai dengan istri dan anak-anakku." tegas Ardan, yang membuat Amanda yang mencuri dengar ucapan Ardan dari balik tembok menitikkan air mata.


Rudi dan Amara saling silang pandang, dan tersenyum samar.


"Ardan, Anin masih tahap pemulihan. Jadi belum bisa berada di tempat umum. Apa kamu tega menunjukkan dia di tempat umum hanya karena emosimu itu? kamu jangan gegabah, Nak." Amara memberikan nasehat, mengingatkan Ardan kondisi Anin.


Ardan terdiam dan memikirkan ucapan mamanya yang memang benar adanya. "Baiklah, tidak ada salahnya aku bersabar sampai, tubuh Anin benar-benar siap di keramaian. Toh kata Dokter Ridwan, tinggal 4 Minggu lagi, " pungkas Ardan akhirnya.


"Kalau begitu, aku mau menghancurkan karir dari suami-suami yang merendahkan istri dan putraku tadi, agar mereka bisa berhenti sombong." sambung Ardan kembali.


"Aku rasa tidak perlu, Mas. Kasihan mereka." celetuk Amanda yang memutuskan untuk bergabung, setelah berhasil meredakan rasa terharunya.


"Benar kata Amanda, Nak. Kamu tidak perlu melakukan hal itu." Amara menimpali ucapan Amanda.


"Tapi, mereka harus diberikan pelajaran, agar tidak selalu memandang rendah orang lain."


"Tidak perlu harus seperti itu, Pa!" seru Aby yang tiba-tiba muncul.


" Aku pernah baca, 'jadilah manusia hebat. Yang dihina tak tumbang, dan yang dipuji tak terbang' . Jadi, papa tenang saja, walaupun Aby dihina diluaran sana, Aby tidak akan tumbang, karena Aby yakin, pada akhirnya, mereka yang sibuk menjelek-jelekan hidup seseorang akan merasakan perasaan dihina juga nantinya." sambung Aby kembali, membuat Ardan dan yang lainnya terkesiap kaget mendengar ucapan yang bijaksana, keluar dari mulut mungil Aby.


Author: Bijak banget sih Aby. Makin chayang deh aunty sama kamu. Ummuach.


Aby: Huek! Tante makan apa sih? bau banget napasnya.


Author: 😭😭😭😭😭


Tbc.

__ADS_1


please buat tetap ninggalin jejak ya, kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong.


(Begitulah kira-kira ucapan orang yang ada maunya, 😁😁😁😁)


__ADS_2