Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Season satu end


__ADS_3

Ardan yang mendengar kabar kalau Siska dan Sarah, mencoba untuk mendekati istrinya, dari orang suruhannya, dan bahkan hampir mencelakai Amanda, murka dan memerintahkan para bodyguard itu membawa kedua wanita itu ke kantor polisi.


"Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku akan menghancurkan kalian berdua jika sekali saja kalian mendekati Amanda? sepertinya kalian mengganggap aku hanya main-main ya?" ucap Ardan dengan rahang yang mengeras dan sorot mata tajam, ingin membunuh.


"Kami tidak melakukan apa-apa pada Amanda, kami hanya berbincang seperti biasa. Tapi kenapa kamu membawa kami ke kantor polisi? Jangan kira karena kamu punya kekuasaan, kamu bisa membeli yang namanya hukum." pekik Siska memberanikan diri menantang Ardan.


Ardan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, tersenyum miring. "Kalian tahu, kenapa kalian dibawa ke kantor polisi? karena inilah caraku menghancurkan kalian berdua. Kalian ada di sini bukan karena kasus mengganggu Amanda hari ini, tapi karena kasus kejahatan yang kalian berdua lakukan di masa lalu. Apa kalian masih ingat kejahatan-kejahatan kalian berdua?" nada ucapan Ardan terdengar mengejek.


Wajah kedua wanita itu berubah pucat, melihat Ardan yang menyeringai sinis.


"Apa yang diketahui Ardan? apa dia sudah tahu kejahatan yang kami lakukan dulu?" batin Siska yang mulai terlihat panik dan ketakutan.


"Kenapa kalian berdua terlihat pucat? apa kalian sudah mengingatnya? kalau tidak, biar aku ingatkan. Kalian tentu saja masih ingat, dengan wanita yang melahirkan Amanda kan? wanita yang kalian bunuh dan dengan liciknya, kalian buat settingan seakan almarhum ibu mertuaku itu bunuh diri. Kalian juga pasti ingat, dengan wajah sok baik kalian berdua, kalian berpura-pura merawat papa mertua saya dengan baik. Ternyata obat yang kalian berikan,bukan obat yang diresepkan oleh dokter tapi obat yang membuat papa Amanda, menjadi lumpuh dan suka berhalusinasi. Dengan kejinya kalian berdua mengatakan pada Amanda, kalau papanya meninggal karena perbuatan Amanda yang buat malu. Padahal kalian berdualah yang menyebabkan kematian papa mertuaku. Kalian melakukan itu, hanya untuk menguasai rumah peninggalan papa Amanda yang diwariskan padanya. Dengan lancang, kalian mengganti warisan itu atas namamu." papar Ardan dengan detail dan rinci tanpa menanggalkan seringaian sinis di sud bibirnya.


"Itu fitnah! hati-hati kamu kalau berbicara! aku bisa menuntutmu dengan pencemaran nama baik." pekik Sarah berusaha untuk menyangkal dengan berbalik mengancam Ardan.


"Apa kamu kira aku orang bodoh, yang berbicara dan menuduh tanpa bukti? aku sudah mengumpulkan bukti-bukti semua kejahatan kalian berdua. Kalian pasti kenal dengan Pak Jono, mantan suamimu, orang yang membantumu melakukan rekayasa bunuh diri almarhum mamanya Amanda. Dia sudah memberikan buktinya semua padaku. Dan dia juga membaberkan semua rencana licik kalian berdua terhadap papa mertuaku. Apa kalian heran, kenapa dia bisa berkhianat dan justru balik melawanmu? karena kalian berdua serakah, setelah kalian menguasai rumah dan isi serta usaha grosir milik papanya Amanda, kalian mencampakkan pak Jono."


Penjelasan Ardan membuat Siska dan Sarah tidak bisa berkata-kata apa lagi. Hal yang bisa dilakukan oleh mereka adalah merutuki Jono, mantan suami Siska dan ayah kandung Sarah.


"Sekarang, nikmatilah buah dari perbuatan kalian berdua. Aku rasa kalian pasti sudah tahu, hukuman apa bagi yang melakukan pembunuhan berencana. Kalau tidak hukuman mati, ya sekurang-kurangnya seumur hidup." Pungkas Ardan, mengakhiri pembicaraan. Kemudian Ardan melangkah keluar, meninggalkan Siska dan Sarah yang berteriak-teriak, ingin melepaskan diri dari cengraman tangan polisi yang ingin memasukkan mereka berdua ke dalam sel.


Ardan melangkah keluar dengan senyuman di bibirnya, merasa lega kabut misteri yang menimpa keluarga Amanda, bisa dia selesaikan dengan tuntas. Setidaknya dia bisa menghilangkan rasa bersalah Amanda atas kematian papanya. Hanya tinggal satu langkah lagi, yaitu memberikan kejutan buat Amanda, kalau rumah peninggalan papa Amanda, sudah dia beli kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tepatnya sudah 13 tahun berlalu. Kesibukan terjadi di kediaman keluarga Bagaskara. Bagaimana tidak, hari ini di rumah itu akan ada perayaan ,menyambut kepulangan Aby dari Inggris. Ya, Aby sudah berhasil menyelesaikan study S2 -nya dari Oxford university, England, di usianya yang masih 20 tahun.

__ADS_1


Aby sebenarnya tidak menginginkan perayaan ini. Akan tetapi, dia tidak punya kuasa untuk menolak keinginan sang ratu, siapa lagi kalau bukan Amanda mamanya.


Salah satu hal yang membuat Aby tidak menyukai perayaan ini adalah kehadiran Celyn. Aby yakin, kalau Celyn pasti akan hadir dan bertingkah berlebihan seperti dulu.


"Kak Aby, kenapa terlihat tidak semangat? kata Adrian, adik laki-lakinya yang dilahirkan 12 tahun yang lalu.


"Siapa bilang, Kakak semangat kok?" Aby menerbitkan seulas senyuman di bibirnya, pada adik bungsunya itu.


"Riaaan! ada Rico di bawah, Nak! Cepetan turun!" suara siapa lagi yang berteriak kencang seperti itu kalau bukan sang mama Amanda.


"Iya, Ma! sebentar!" Adrian balas berteriak.


"Kak, aku ke bawah dulu ya, bye." Adrian keluar dari kamar Aby, setelah sang kakak menganggukkan kepalanya.


"Hmm, kalau Rico sudah datang, berarti Celyn pun sudah datang," batin Aby dengan wajah malas.


Ya, Jerico atau yang sering dipanggil Rico itu adik laki-laki dari Jocelyn yang lahir sebulan lebih dulu dari Adrian.


"Cantika, jangan berisik, Sayang!" benar dugaan Aby, kalau yang baru datang itu Om Bagas dan keluarganya. Karena Cantika adalah nama Putri pertama Bagas dan Clara sedangkan yang kedua bernama Brian.


Dengan wajah ditekuk akhirnya, Aby mengayunkan langkahnya turun ke bawah.


"Akhirnya bintang kita turun juga, selamat ya, By." ucap Rio sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Aby.


"Terimakasih,Om!" Sahut Aby, menyambut uluran tangan Rio. Setelah itu, semua orang yang ada di sana, bergantian mengulurkan tangan mengucapkan selamat pada Aby.


Satu yang membuat kening Aby berkerut, ternyata tidak ada terlihat gadis yang selalu bertingkah berlebihan itu di rumahnya.

__ADS_1


"Kemana dia?" bisik Aby pada dirinya sendiri, dengan mata yang mengedar, mencari keberadaan Celyn.


"Ngapain aku mencarinya? harusnya aku senang dia tidak ada." Aby kembali mengajak hatinya bercengkrama.


"Hayo, nyariin Celyn ya?" celetuk Anin, mengangetkan Aby.


"Siapa yang nyariin dia? aku justru senang sahabatmu, itu tidak datang. Aku merasa aman dari tingkah dia yang selalu membuatku kesal." sangkal Aby tanpa mau melihat Anin.


Anin berdecih, yakin kalau kakaknya itu, sedanng berbohong.


"Celyn, nggak bisa hadir hari ini. Karena dia lagi ada study tour ke Bali dari kampusnya. Minggu depan baru pulang," jelas Anin tanpa menunggu kakaknya itu bertanya.


"Aku tidak bertanya, jadi tidak perlu memberitahuku apa-apa." ucap Aby ketus.


"Cih, Kakak nggak usah ___"


"Udah, nggak usah dilanjutkan! Kakak mau ke papa dulu ya," Aby menyela ucapan Anin, sebelum ucapan adiknya itu merembes kemana-kemana. Kemudian dia beranjak meninggalkan Anin yang mengerucutkan bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kepulangan Aby dari luar negri, membawa keceriaan kembali di mansion mewah keluarga Bagaskara.


Aby benar-benar duplikat dari Ardan.Dia dingin pada orang-orang, tapi akan selalu hangat pada orang-orang terdekat. Tidak ada yang mengira, di balik sikap dinginnya, Aby itu sosok yang sangat penyayang pada kedua adiknya. Dan bahkan Aby juga bisa menjadi sosok yang suka menjahili kedua adiknya


"Mas, Terima kasih ya, sudah mau menerima kami dulu, mencintaiku dan bahkan menambahkan kebahagiaan buatku. Kamu juga membuat rasa bersalahku, hilang atas kematian Papa, dan membuat mama tenang di atas sana," ucap, Amanda dengan manik mata yang berbinar bahagia menatap ketiga anaknya yang sedang tertawa bahagia saling siram-siraman di pekarangan mansion mewah mereka.


"Kenapa kamu yang berterima kasih? justru aku yang harus berterima kasih, karena kehadiranmu lah, yang memberikan warna baru di rumah ini." Ardan meraih pundak Amanda, dan merangkulnya dengan erat seraya mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.

__ADS_1


Dari balik tirai ada dua pasang mata juga yang menatap bahagia pemandangan yang ada di luar. Siapa lagi mereka kalau bukan Rudi dan Amara. Mereka merasa, kalaupun mereka dipanggil oleh Sang Maha Kuasa, mereka sudah bisa pergi dengan bahagia.


Tamat


__ADS_2