
Aby berusaha untuk bersikap biasa saja saat sarapan di meja makan, bersama keluarga besarnya.
"Bagaimana apa bonekanya sudah ditemukan? tanya Ardan sambil melap mulutnya setelah menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya. Entah kenapa, dia yang dulunya anti sama nasi goreng, sekarang malah suka sama makanan itu, sedangkan pasta yang dulunya dia suka, sekarang malah pengen muntah bila melihat makanan itu.
"Belum, Mas." Sahut Amanda yang juga sudah selesai dengan makanannya yang sama persis dengan sang suami.
Sedangkan Aby yang asik menyuapkan tuna sandwich ke dalam mulutnya, pura-pura acuh, padahal dia memasang telinganya dengan baik.
"Ya udah, kalau gitu nanti habis dari dokter kandungan, kita belikan saja boneka yang sama, kamu masih ingatkan bagaimana bentuk boneka itu?" tanya Ardan.
"Tadi, Jasmine ada kirim photonya sih, Mas." sahut Amanda, dan Ardan mangut-mangut. Sedangkan Aby, merasa lega mendengar keputusan papa dan mamanya, karena sejujurnya dia merasa sedikit bersalah.
"Pa, apa benar besok Anin sudah bisa sekolah?" tanya Anin, dengan manik mata penuh harap.
"Iya, dong. Besok papa sama Mama akan mengantarkanmu dan Kak Aby ke sekolah. Tapi, Anin jangan berkecil hati ya, Anin terpaksa harus satu kelas dengan Celyn, sedangkan Kak Aby sudah duduk di kelas empat." jelas Ardan dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Tidak apa-apa, Pah, yang penting Anin bisa sekolah kembali." sahut Anin dengan binar bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.
"Dan, bisa tidak mama nanti ikut ke dokter kandungan? mama __"
"Buat apa, Ma? mama mau program hamil lagi?" Ardan menyela ucapan mamanya, tanpa berpikir panjang.
Tuk ....
sendok melayang ke kening Ardan.
"Enak aja itu mulut ngomongnya. Mama bisa ditertawain kalau begitu. Mama cuma mau ikut melihat perkembangan calon cucu mama," ucap Amara dengan sengit.
"Ma, bisa tidak kebiasan lamanya dihilangkan? kening Ardan kalau benjol bagaimana? hilang dong nanti kharisma Ardan di depan dokter," desis Ardan sambil mengusap-usap keningnya.
"Makanya kalau ngomong itu dipikir dulu! jadi boleh gak nih?"
"Boleh, Mah!" bukan Ardan yang menjawab tapi Amandalah yang buka suara, membuat raut wajah Ardan berubah lemas, karena dia yakin, habis dari rumah sakit pasti mamanya akan mengajak Amanda untuk ke salon dan dia akan disuruh menunggu kedua wanita itu, selesai melakukan treatment.
__ADS_1
"Tidak usah deh, Mah, biar mereka berdua saja yang pergi. Mama temani papa sama si kembar aja di rumah," Rudi yang mengerti kegundahan Ardan, buka suara, hingga membuat Amara mencebikkan bibirnya.
"Yes, terima kasih papa! dirimu memang paling mengerti diriku!" Sorak Ardan dalam hati.
Ardan berdiri dari kursinya dan menoleh pada Amanda. "Sayang, ayo kita berangkat sekarang!" Ucap Ardan.
Amanda berdiri dari kursinya juga dan setelah berpamitan pada kedua mertuanya, serta kedua anaknya, diapun berangkat bersama Ardan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Silahkan duduk Pak Ardan, Bu Amanda!" ucap dokter yang Amanda tahu bernama Dokter Denisa, SpOG.
"Maaf ya, Dok, kami sudah menganggu waktu liburnya ,dokter." ucap Amanda yang sebenarnya merasa kurang enak. Seharusnya Dokter Denisa, menghabiskan waktu dengan keluarganya sekarang. Tapi, Ardan suaminya seenaknya memerintahkan dokter yang cantik itu, untuk datang ke rumah sakit dan memeriksa kandungannya.
Dokter Denisa tersenyum, tahu kalau Amanda kini sedang tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Bu Amanda. Bu Amanda tidak perlu merasa tidak enak hati." ujar Dokter Denisa tanpa menanggalkan senyuman di bibirnya.
"Aku tidak terlalu punya keluhan, Dok. Jujur, kehamilan kali ini aku tidak mual-mual, hanya keseringan merasa pusing saja." Jelas Amanda.
"Oh, hal seperti itu biasa, Bu Manda kalau sedang hamil muda. Pusing saat hamil salah satunya selain karena anemia, kurang energi juga bisa karena perubahan hormon. Karena hormon kehamilan yang diproduksi membuat pembuluh darah Anda melebar," terang Dokter Denisa, dengan lugas.
"Tapi itu tidak berbahaya kan, Dok?" Ardan buka suara, karena belum mengerti sama sekali.
"Tentu saja tidak,Pak Ardan. Di satu sisi, pelebaran pembuluh darah ini diperlukan untuk meningkatkan aliran darah yang menuju ke janin. Namun memang di sisi lain, hal itu membuat suplai darah ke otak Anda menjadi berkurang, sehingga menimbulkan rasa pusing. Tapi kalau pusing yang sudah disertai dengan gejala lain seperti pingsan, nyeri perut parah, kejang, demam, kelemahan anggota gerak tubuh, pandangan kabur, hingga perdarahan ******, baru berbahaya, dan butuh penanganan dokter segera."
Amanda dan Ardan mangut-mangut mendengar penjelasan dokter itu.
"Sekarang, Ibu Amanda baring dulu yuk! kita mau lihat perkembangan janinnya. Berkembang dengan baik atau tidak."
Amanda menurut dan berbaring di atas brankar dengan dibantu oleh Ardan.
Setelah Amanda berbaring dengan sempurna, Dokter Denisa, menyingkapkan pakaian Amanda, hingga perut Amanda yang masih rata terlihat jelas. Setelah memberikan cream di bawah perut Amanda, dokter itu pun mulai menggerakkan probe dengan mata yang fokus ke layar monitor.
__ADS_1
"Hmm, janinnya baik-baik saja, bentuknya masih belum jelas terlihat, karena masih usia 7 minggu. Detak jantungnya juga normal sesuai usianya yaitu 90-110 denyut per menit." terang Dokter itu dengan jelas dan detail.
"Jenis kelaminnya apa Dok?" tanya Ardan tidak sabar.
"Masih 7 Minggu, Pak. Jadi belum bisa diketahui. Jenis kelamin bisa dilihat di usia kandungan 4 hampir mendekati 5 bulan.Jadi , Pak Ardan mohon bersabar ya!"
"Oh, ya Dok. Aku mau tanya lagi, dan ini sangat penting. Apa benar selama hamil tidak bisa melakukan itu?"
Amanda menutup wajahnya, merasa malu mendengar pertanyaan suaminya, sedangkan Dokter Denisa hanya tersenyum simpul, mengerti apa maksud pertanyaan Ardan.
"Tentu saja boleh, Pak. kecuali kalau kehamilannya bermasalah, baru dianjurkan untuk tidak melakukannya dulu. Kehamilan, ibu Amanda tidak bermasalah jadi bisa saja, tapi tetap hati-hati dan jangan berlebihan. Pak Ardan bisa melakukannya tiap hari kalau sudah dekat waktu melahirkan, untuk membantu membuka jalan lahirnya."
"Yes!" sorak Ardan tanpa sadar, hingga membuat wajah Amanda kembali memerah, menahan malu.
"Kata istri saya ini, tidak boleh melakukan hal seperti itu, selama hamil, dan sampai masa nifas selesai. Makanya aku tanya dokter untuk memastikan kebenarannya." ujar Ardan dengan ekor mata yang melirik ke arah Amanda.
"Dok, Anda sudah bisa pulang kembali! terima kasih sudah mau memenuhi panggilanku!Ardan mengulurkan tangannya, untuk menjabat dokter itu.
"Nanti saya akan pulang, Pak. Karena saya masih ada janji dengan Pak Rio yang memeriksakan kandungan istrinya."
"Hmm, baiklah kalau seperti itu! kami keluar dulu, Dok!"
"Silahkan Pak, Ardan. Jangan lupa buat nebus vitamin Ibu Amanda." ucap Dokter itu mengingatkan dan Ardan menganggukkan kepala, mengiyakan.
Ketika Ardan baru saja membuka pintu, tampak Rio dengan Jasmine yang sudah menunggu di depan ruangan.
"Kamu, ambil kesempatan juga ya! ikut-ikutan mau memeriksa kandungan hari ini." Celetuk Ardan, menyindir Rio.
"Iya, dong! kamu tunggu kami di luar ya!" sahut Rio dengan santai, sambil menutup pintu sebelum Ardan melontarkan makiannya.
"What? beraninya dia memerintahku?" umpat Ardan tidak senang. Tapi anehnya dia tetap mengajak Amanda untuk duduk di kursi besi depan ruangan Dokter Denisa, menunggu Rio dan Jasmine, selesai dengan urusan mereka di dalam sana.
Tbc
__ADS_1